
"Apa ini?," tanya Marius keheranan karena melihat Ana meletakkan beberapa amplop coklat dan lembaran kertas lainnya di atas meja kerjanya. Marius juga melihat ada beberapa foto di antara kertas-kertas itu.
Lucas juga terlihat penasaran, lalu mengintip sedikit beberapa amplop coklat tersebut.
"Ini dari ibu-ibu di sekolahnya Rain. Mereka menitipkannya untukku. Mereka bilang, pilihlah salah satu untuk jadi istri atau istri mudamu. Jadi, segera beritahu aku jika kamu sudah memutuskannya. Mereka menunggu jawabannya dariku," jelas Ana panjang lebar yang disambut Lucas dengan tawa yang tertahan.
"Pfft ..."
Marius mendelik ke arah Lucas.
"Tak bisa kupercaya. Mereka menjadikanku agen biro jodohmu dan juga pengantar pesan," kata Ana kesal pada Marius.
"Sejak kapan kamu menerima hal-hal seperti ini?," tanya Marius yang juga tidak kalah kesalnya.
"Aku juga tidak mau melakukannya. Tapi, mereka terus memaksaku."
Marius menghirup panjang udara dari hidungnya, lalu membuangnya perlahan. Terlihat sekali dia sedang menahan amarahnya. Sedangkan, Lucas masih saja menahan tawanya.
"Kamu nggak tahu seberapa banyak fans mu disana. Aku sedang berpikir, apa perlu aku menarik biaya keanggotaan, ya?"
Lucas tidak dapat menahan tawanya. Dia tertawa dengan kerasnya.
"HAHA ..."
Marius mendelik ke arah Lucas. Tapi, Lucas tidak mempedulikannya.
"Apa maksudmu? Apakah gaji yang kuberikan masih kurang?," tanya Marius marah.
"Nggak sih. Tapi, aku rasa ini bisa jadi bisnis sampingan yang menguntungkan."
"Kamu ..."
Lucas semakin keras tertawa. Ruang kerja Marius penuh dengan suara tawa Lucas.
"Dengar, Ana. Kembalikan ini pada mereka. Katakan pada mereka, kamu tidak akan menerima hal-hal seperti ini lagi ke depannya."
"Aku sudah menolaknya, tapi mereka terus mengatakan, 'sudah kasihkan saja, nanti kamu saya kasih tips'," kata Ana sambil menirukan gaya bicara ibu-ibu itu.
"Ahaha ... Jangan khawatir. Kamu pasti akan segera mendapatkan jawabannya. Hahaha ....," kata Lucas yang masih tidak bisa berhenti tertawa.
Marius terus mendelik pada Lucas saat mendengar perkataannya. Dia terus memijat pangkal hidungnya untuk menurunkan emosinya yang saat ini sudah sampai ke ubun-ubun.
__ADS_1
......................
Menunggu Rain pulang sekolah adalah saat-saat yang menjengkelkan bagi Ana ketika dia harus meladeni pertanyaan ibu-ibu yang menanyakan perkembangan lamaran mereka.
Meski sudah berkali-kali Ana mengatakan bahwa Marius masih sedang memilihnya, mereka tetap mendesak Ana untuk mengingatkan Marius.
"Apa mereka lupa aku cuma seorang pengasuh disini? Mana ada aku hak semacam itu?," rutuk Ana dalam hatinya.
Dan, dari siang yang tenang tiba-tiba hilang begitu saja, saat para orang tua yang ada di ruang tunggu membuat kehebohan.
"Eh, eh ... Ada Pak Marius ..."
Ana terkejut ketika mereka memanggil nama Marius. Bukan hal yang biasa ketika Marius datang ke sekolah Rain pada jam-jam seperti ini.
Dari kejauhan, Ana bisa melihat Marius dan juga Lucas dikerubungi oleh para ibu-ibu. Ana juga bisa mendengar mereka mengatakan banyak hal pada Marius. Beberapa sedang menggoda Marius, beberapa lagi menanyakan lamaran mereka. Bahkan ada yang mencoba berbasa-basi dengannya.
Ana mendengus pelan dan berbalik tidak menghiraukan kerumunan yang disebabkan oleh Marius itu. Mumpung orangnya disini, biarkan saja dia yang mengurusnya sendiri, pikir Ana.
"Sayang ..."
Ana cukup terkejut mendengar Marius mengatakan sayang. Dia berbalik hanya untuk mencari tahu siapa orang yang dipanggilnya sayang itu.
Ana tidak dapat menghilangkan rasa terkejutnya itu saat dia melihat Marius terus berjalan ke arahnya.
"Sayang ..."
Saat Marius mendekatinya, dengan lancarnya Marius meraih wajah Ana dan memeganginya, lalu mencium kening Ana.
Mata Ana terus melebar seakan-akan keduanya akan keluar dari tempatnya.
"Kamu sudah gila, ya?," bisik Ana dengan keras.
Marius mendekatkan dirinya ke telinga Ana, dan berbisik, "Aku hanya membantu meringankan pekerjaanmu. Mereka tidak akan memintamu untuk melakukan pekerjaan konyol itu lagi setelah ini."
"Tapi, mereka akan membunuhku besok," bisik Ana lagi.
Ana mengintip dari balik tubuh Marius. Dia bisa melihat tatapan dingin para ibu yang langsung menusuk ke arahnya.
"Mommy ..."
Seperti kejatuhan batu bata di atas kepalanya, Ana tidak dapat berkata-kata saat Rain datang berlari dan memeluk Ana, lalu memanggilnya dengan panggilan mommy.
__ADS_1
"Ayo kita pulang, sayang ..." Marius menggendong Rain, lalu dia meraih tangan Ana dan menariknya keluar dari sekolah Rain.
Ana hanya bisa menunduk dan mengikuti Marius. Dia memilih untuk tidak bertatapan dengan para ibu yang saat ini sedang memandanginya. Ana juga sempat mengintip Lucas yang puas sekali tertawa di belakang kerumunan ibu-ibu.
"Kamu yang mengajari Rain, kan?," tanya Ana kesal, saat mereka sudah berada di dalam mobil Marius. Rain hanya duduk dan cekikikan di antara Ana dan juga Marius.
Marius sendiri hanya tersenyum sinis penuh kemenangan terutama ketika melihat Rain yang cekikikan seperti itu. Lucas yang duduk di depan juga terlihat sangat puas tertawa.
"Lagipula, tumben kamu ada disini pada jam segini?," tanya Ana.
"Ada tempat yang harus aku datangi. Kamu dan Rain akan ikut," jawab Marius yang senyumnya kini tidak selebar tadi.
Ana penasaran kemana Marius akan membawanya. Terutama ketika Marius harus seserius itu mengatakannya pada Ana.
......................
Pemakaman. Ternyata, Marius membawa Ana dan juga Rain ke sebuah area pemakaman.
Perjalanan yang tidak mudah bagi Ana, karena mereka harus berjalan ke atas cukup jauh untuk bisa ke sebuah makam yang Ana tidak ketahui siapa itu. Marius bilang makam yang akan mereka tuju ada di paling atas. Dan Ana sudah kesulitan mengambil napasnya, padahal baru setengah jalan.
Rain terlihat senang-senang saja dengan perjalanan ini. Dia terus berlarian seakan energinya masih penuh terisi. Lucas berjalan di belakang Rain, seakan sedang menjaganya.
Sedangkan Marius, entah apakah dia lelah atau tidak kuat, tapi dia berjalan cukup lambat. Kecepatan berjalannya hampir menyamai Ana. Tapi, wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Dia terlihat begitu tenang.
"Ah, masa bodoh, yang penting aku nggak ditinggal," pikir Ana.
Sesampainya di atas, Ana melihat sebuah pemandangan berbukit yang sangat indah. Tepat di tengah padang rumput yang luas, terdapat sebuah makam yang menghadap ke perbukitan itu.
Ana mendekati batu nisan itu dan membacanya.
Adam Desmond Hadinata
August 26th, 1985 - September 10th, 2019
"10 September ... Itu hari ini ...," pikir Ana.
"Dia adalah Adam, kakakku."
Ana memandangi Marius yang saat ini sedang berdiri di depan makam itu.
"Hey, it's me, mon frère. Today I come to see you, with Rain, your one and only daughter."
__ADS_1
Ana terkejut mendengar yang baru saja dikatakan Marius di depan makam kakaknya itu. Jadi, Rain bukan anak Marius?