
"Daddy ..."
Rain terlihat senang sekali bertemu dengan Marius. Ana mengajaknya bertemu dengan Marius setelah dia bersih-bersih diri sepulangnya dari sekolah. Rain terlihat sangat antusias saat Ana mengajaknya.
Marius menciumi satu persatu pipi Rain setelah gadis kecil itu naik ke atas tempat tidur dan memeluknya.
"How's your day at school?," tanya Marius.
"Fun ...," teriak Rain dengan cerianya, sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"What were you doing at school today?"
"Singiiing ..."
Akhir-akhir ini Rain sangat suka bernyanyi. Dimanapun dia berada, dia pasti sedang bernyanyi. Ana cukup bangga juga dengan perubahan Rain yang satu ini. Karena ternyata Rain punya suara yang bagus.
"Are you okay, Daddy?," Rain tiba-tiba bertanya mengenai keadaan Marius. Mungkin dia khawatir melihat wajah Marius yang tidak biasa dari biasanya. Karena sekarang tangan kecilnya sedang menyentuh pipi Marius.
Ana merasa Rain adalah gadis kecil dengan kepekaan yang cukup tinggi. Dia bisa merasakan ada hal yang berbeda saat melihat sesuatu. Dia terkadang juga melakukan itu pada Ana saat dirinya sedang memikirkan sesuatu. Raut wajah Ana yang berubah bisa jadi perhatiannya.
Mungkin juga karena selama ini Rain selalu menjadi penonton di saat orang-orang di sekitarnya sedang membicarakannya. Mereka merasa Rain tidak akan mendengarkan, tapi nyatanya Rain memikirkan semuanya.
"I"m good. Don't worry," kata Marius sambil menciumi gadis kecil itu dan memberikannya sedikit rasa geli padanya dengan menggosokkan wajahnya pada pipi Rain. Anak itu tertawa cekikikan karenanya, dan Ana tersenyum melihat apa yang mereka lakukan.
"Kamu mau pergi lagi?," tanya Marius dengan wajah sedihnya pada Ana yang berbalik menuju pintu kamarnya.
"Aku mau ambilkan makan siang dan juga obat untukmu."
"Biarkan pelayan yang akan mengambilkannya. Kamu tetaplah disini," kata Marius lagi dengan tatapan penuh harap.
Ana jadi teringat ucapan Lucas tadi pagi sebelum dia berangkat ke kantor.
"Marius kalau lagi sakit manjanya minta ampun. Dia cuma mau diperhatiin.," kata Lucas.
"Ada yang seperti itu, ya? Biasanya kalau Marius sakit, kamu yang jagain?," tanya Ana.
"Tidak, tidak. Aku merinding kalau dia melakukan itu padaku. Tentu saja Eli yang melakukannya."
"Eli? Apakah Eli benar-benar melakukan itu? Aku tidak bisa membayangkannya," Ana bergidik geli membayangkannya. Dia membayangkan Eli yang berwajah galak sedang duduk di sebelah Marius yang sedang berbaring, lalu menggosok punggungnya.
__ADS_1
"Pokoknya jangan kaget kalau tiba-tiba Marius jadi clingy sama kamu," ucap Lucas lagi seraya masuk ke dalam mobil dan berangkat ke kantor dengan mobilnya itu.
Dan sekarang, melihat Marius yang seperti ini, Ana jadi bertanya-tanya, " Apakah ini yang dimaksud Lucas tadi?"
Tapi, yang Ana tidak tahu adalah ...
"Jangan lupa kirimi aku bonus, karena aku sudah membantumu agar kamu bisa bermanja-manja dengan Ana hari ini "
Lucas tiba-tiba mengirimkan pesan yang seperti itu pada Marius. Tentu saja, Marius tidak memahami maksud pesan itu.
"Apa maksudmu?"
"Aku bilang kamu butuh banyak perhatian selama kamu sakit."
Marius ingin marah membaca pesan balasan dari Lucas. Tapi ... mengapa ide itu tidak terdengar buruk?, pikirnya.
"Tidak ada bonus. Kerjakan saja perintahku tadi."
"Siap, Bos"
Dan nyatanya, Marius menikmatinya. Dia tidak keberatan melakukan ini sepanjang hari hanya agar bisa bersama Ana. Marius mengakui, semakin lama dia melihat Ana, semakin besar rasa cintanya, semakin penuh dan sesak rasanya di dalam dadanya, dan semakin dia ingin Ana segera mengetahuinya. "Seandainya semua ingatanmu kembali pulih," harap Marius dalam hatinya.
Malamnya, saat Ana mengantarkan makan malam dan obatnya untuk Marius, dia mendengar Marius sedang berbicara dengan seseorang di teleponnya.
Sepertinya sangat penting, karena Marius terlalu fokus pada obrolan itu hingga dia tidak menyadari kedatangan Ana. Saat dia berbalik melihat Ana yang sedang meletakkan tray di atas meja, Marius hampir terkejut. Dia segera mengakhiri percakapannya dengan orang yang ada di balik telepon itu.
Ana bisa melihat kegugupan Marius. Dia mencoba untuk menahan senyumnya. Marius pasti mengira Ana akan marah lagi padanya.
"Mengapa tersenyum?," tanya Marius.
Ana terkejut tiba-tiba Marius bertanya seperti itu. Apakah terlihat?, pikirnya.
"Tidak, aku tidak tersenyum," kata Ana mengelak.
"Kamu tersenyum. Ujung bibirmu bergerak ke atas," kata Marius sambil menyantap makanannya.
"Astaga, kamu menyimpan teropong di dalam sana?," tanya Ana.
"Mikroskop," jawab Marius singkat.
__ADS_1
Ana tertawa mendengar jawaban Marius. Sedangkan Marius terus menyantap makanannya tanpa mempedulikan Ana. Walaupun sebenarnya, sebaliknya.
"Ana ...," panggil Marius saat Ana sedang membereskan piring kotor miliknya.
"Hmm ...," Ana menjawab dengan terus membereskan meja Marius.
"Lain kali, kalau Valerie datang ... biarkan saja. Dia keras kepala. Dia bisa melukaimu dengan sengaja."
"Marius ..."
"Hmm ..."
"Sebenarnya ... aku ada disana ... saat kalian sedang berbicara."
Kali ini, Ana berhenti mengurusi piring-piring kotor itu. Dia menatap piring-piring kotor yang ada di hadapannya.
"Aku tidak sengaja melakukannya. Aku ingin mengantarkan sarapan untukmu, tapi ternyata ..."
Marius terdiam tanpa tahu harus mengatakan apa. Dia tidak marah meskipun seandainya Ana ada di sana sekalipun. Dia hanya memikirkan saat itu, gadis yang ada di hadapannya ini pasti berusaha bersembunyi agar tidak ada yang tahu dia disana, yang mana kenyataannya memang benar.
"Aku mengatakan ini hanya ingin kamu tahu ... aku tidak sepintar dirimu untuk mencari jalan keluar. Tapi ... aku akan mendengarkan. Katakan padaku, aku akan mendengarkan semua yang ingin kamu katakan."
Ana menatap kedua mata Marius dalam-dalam. Dia ingin menunjukkan kesungguhannya. Dia ingin Marius tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi ini. Dia siap membantu Marius kapanpun pria itu memintanya.
Berbeda dengan Marius yang menatap kedua manik mata Ana yang indah itu. Dia tahu maksud yang dikatakan Ana. Hanya saja, ketika Marius menatap Ana, dadanya terlalu sesak untuknya bernapas. Dia berusaha sekuat tenaganya untuk menahan keinginannya mencium Ana saat itu juga.
"Dadddyy ..."
Rain tiba-tiba masuk dengan berlari dan berteriak memanggil Marius. Ana dan Marius langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah lain dengan tingkah gugup mereka.
Ana kembali sibuk memberesi piring-piring kotor lalu membawanya pergi.
Sedangkan Marius memeluk gadis kecil itu. Lalu, memegangi wajahnya dengan kedua tangannya, dan memainkan pipinya dengan telapak tangannya. "Thank you, Rain. Thank you ...," bisik Marius, lalu memainkan hidung Rain dengan hidung miliknya.
Rain hanya menatap Marius dengan tatapan polosnya. Dia tidak memahami maksud daddy nya itu mengucapkan terima kasih padanya. Tapi saat Marius memainkan hidungnya, dia merasakan geli. Rain tertawa cekikikan jadinya.
Setengah jam kemudian, Ana kembali ke kamar Marius. Dia melihat Marius sedang bermain dengan Rain.
"Aku lupa mengatakan sesuatu. Aku minta ijin untuk libur dua hari minggu depan. Aku harus keluar kota, ada yang harus aku lakukan," kata Ana.
__ADS_1
Marius menatap Ana sambil mengingat sesuatu. Sepertinya aku tahu mengapa, pikir Marius.