
Saat mobil yang Ana tumpangi tiba di depan rumah Valerie, pagar rumah Valerie tidak terkunci. Sebuah mobil Mercedez-Benz putih dan Alphard hitam terparkir di halaman rumah itu.
Ana yang melihat kesempatan itu segera masuk ke dalamnya tanpa menunggu seseorang mengusirnya.
Semenjak dia menginjakkan kakinya di halaman depan rumah Valerie, suara teriakan sepasang pria dan wanita sudah mulai terdengar. Ana mengenali suara Valerie. Tapi suara pria ... Ana tidak pernah mendengarnya.
"Kamu gila, Valerie! Kamu benar-benar gila! Kamu mau menghancurkan hidupku, kan? Aku sudah pernah mengatakannya, aku bukan ayah anak ini. Aku tidak akan mengakuinya!," bentak pria itu.
"Kamu tidak perlu mengakuinya sekarang, Dylan. Aku akan melakukan tes DNA. Biarkan tes itu yang akan mengatakannya sendiri padamu. Selama ini, itu kan yang mau kamu mau? Tes DNA," kata Valerie.
"Meskipun tes itu mengatakan aku adalah ayahnya, aku tetap tidak akan menikahimu, Valerie. Jangan mimpi kamu bisa menggunakan anak ini untuk mengatur hidupku."
Dylan kemudian mendekati Valerie. Suaranya cukup pelan, tapi Valerie dipastikan akan tetap bisa mendengarnya.
"Selamanya kamu hanyalah teman tidurku, tidak lebih dari itu."
Saat keduanya saling berdebat satu dengan yang lainnya, mereka bahkan tidak mempedulikan seorang gadis kecil yang sedang berdiri di antara mereka dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya.
Takut, bingung, dan rasa bersalah terlihat jelas dari raut wajahnya. Tapi dua orang dewasa yang egois itu bahkan tidak peduli, apakah semua kalimat yang mereka ucapkan akan menyakiti anak itu atau tidak.
Bahkan sedu-sedan tangisnya seperti tidak terdengar oleh telinga mereka. Yang mereka pedulikan adalah kepuasan hati mereka sendiri.
Rain, gadis kecil malang itu sudah merasa ingin menghilang dari situ. Dia ingin pergi dari tempat itu secepatnya. Saat kemudian, dia melihat sosok seseorang yang sangat dia sayangi selama ini sedang berdiri di dekat pintu.
Mereka saling beradu pandang. Tanpa berpikir panjang lagi, Rain segera berlari menuju sosok yang dilihatnya itu, saat orang itu duduk di atas kedua lututnya dan membuka lebar kedua tangannya.
"Mommy ...," panggilnya sambil berderai air mata.
"Rain ...."
Ana ... orang yang sudah Rain rindukan selama 24 jam terakhir ini, memeluk Rain dengan sangat erat. Air mata kerinduannya seakan tidak pernah bisa habis meski dia sudah mengeluarkannya semalaman.
"Mommy ... mommy ...," panggil Rain terus menerus.
"Rain ... maafkan mommy. Mommy tidak bisa menjaga kamu dengan baik," isak Ana.
Saat keduanya sedang melepaskan rindu mereka, Ana merasakan hempasan kasar yang menariknya hingga melepaskan Rain dari pelukannya.
"Lepas! Lepas!," bentak Valerie seraya menarik Rain menjauh dari Ana.
"Valerie ... jangan ... kamu menyakitinya ...," seru Ana untuk menghentikan apa yang dilakukan Valerie. Dia semakin tidak tega melihat Rain yang menangis di belakang Valerie.
__ADS_1
Ana ingin meraih kembali Rain, tapi Valerie terus menarik lengan Rain hingga menjauh darinya.
"Diam! Apa yang kamu lakukan disini?," bentak Valerie.
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar saja."
"Kamu pikir aku mengijinkannya? Keluar! Keluaarr!!"
Valerie menyerahkan Rain pada salah satu asisten rumah tangganya. Sementara dirinya kemudian menarik Ana keluar dari rumahnya. Begitu dia melihat David, Valerie langsung menghempaskannya ke arah David yang langsung dengan sigap menangkap Ana.
"Bawa majikanmu pulang! Katakan pada Marius, kurung dia agar tidak pernah kembali lagi kesini!," bentak Valerie.
Ana kembali maju dan meraih tangan Valerie. Dia tidak peduli meski Valerie mengusirnya berkali-kali.
"Tolong, Valerie. Jangan bertengkar di depan Rain. Dia bisa mengingatnya terus," pinta Ana pada Valerie.
Tapi Valerie tidak mempedulikannya. Dia menarik tangannya dari genggaman Ana, lalu menarik baju Ana untuk mendekatinya.
"Aku sudah muak kamu mengajariku terus menerus. Kuingatkan sekali lagi, Rain adalah anakku, bukan anakmu."
Pada kata terakhir yang diucapkannya, Valerie melepaskan Ana dengan mendorongnya ke belakang dengan kasar.
Saat Ana hampir jatuh ke belakang, sepasang tangan menahan tubuhnya agar tidak sampai menyentuh lantai.
"Marius ...," panggilnya saat dia menolehkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang membantunya.
"Kamu tidak apa-apa?," tanyanya khawatir sembari membantu Ana berdiri.
"Nona Valerie, pengadilan memang memberikan Anda hak untuk membawa Rain. Tapi, Anda tidak bisa melarang keluarga Hadinata untuk bertemu termasuk di dalamnya adalah Nona Ana."
Ternyata, Marius tidak sendiri. Dia membawa pengacara bersamanya.
"Jika Nona Valerie menghalangi pertemuan mereka, maka saya akan mengirimkan nota keberatan kepada pengadilan. Dan hak Anda bisa dicabut selamanya."
Valerie terlihat sangat marah. Dia menahan semuanya. Tapi raut wajahnya menggambarkan dengan jelas kemarahannya itu.
Valerie akhirnya memerintahkan asisten rumah tangganya untuk melepaskan Rain. Tepat di saat itu, Ana melihat gadis kecil itu berlari sangat kencang ke arahnya. Ana langsung berlutut, membuka kedua tangannya untuk menyambutnya.
"Rain ... Rain ...," panggilnya terus menerus sembari terus menciuminya. Air mata membasahi wajah mereka.
Tangan kecil Rain meraih wajah Ana dan menghapus air mata Ana. "Don't cry, Mommy ..."
__ADS_1
Rain meminta Ana untuk tidak menangis, tapi air matanya sendiri tidak berhenti mengalir sedari tadi. Ana kembali memeluk gadis kecil itu. Hatinya tidak kuat melihat Rain yang seperti itu.
"Rain tunggu Daddy, ya. Daddy akan segera mengeluarkanmu dari sini," bisik Marius pada Rain saat Rain memeluk Marius. Rain menjawabnya dengan anggukkan kepala.
"Sudah, kan?," bentak Valerie saat dia melihat Rain sudah menjauh dari Ana dan juga Marius.
"Sudah selesai, kan? Sekarang, bawa dia pulang Marius! Jika ingin bertemu dengannya lagi, pastikan untuk menelpon dulu. Aku tidak suka kunjungan mendadak seperti ini."
"Menelpon ataupun tidak, kamu akan tetap membiarkan mereka bertemu, Val. Dengan alasan apapun yang akan kamu berikan, kamu tahu aku akan tetap bisa menemukanmu. Jadi, pastikan saja kamu tidak melakukan hal tadi lagi. Kamu juga tahu apa yang bisa aku lakukan," kata Marius menjawab semua pertanyaan Valerie.
Valerie tidak memberikan tanggapan apapun atas semua tanggapan Marius. Dia hanya terlihat kesal lalu pergi membawa Rain.
Ana masih memandangi Rain yang sesekali menoleh ke arah Ana saat dia dibawa pergi oleh Valerie. Tapi, Rain sudah tidak lagi menangis seperti tadi. Mungkin kata-kata Marius menguatkannya, sehingga dia memiliki harapan bahwa daddy nya itu akan benar-benar membawanya pergi dari menjauh dari Valerie.
"Kita kembali sekarang, ya," ajak Marius setelah Rain sudah tidak lagi terlihat.
Ana baru akan melangkah kemudian rasa sakit pada kakinya kembali lagi. Dia teringat kembali kakinya yang terkilir.
Dan tanpa bertanya lagi, Marius menggendongnya.
"Aku akan membawa Ana ke rumah sakit. Kamu kembalilah lebih dulu. Terima kasih untuk kerja bagusmu hari ini, David."
Marius masih mengucapkan terima kasihnya pada pengacaranya, sebelum akhirnya membawa Ana ke mobilnya.
"Marius ... kita pulang saja, ya ...," pinta Ana pada Marius sembari menyandarkan kepalanya pada dada bidang Marius.
"Tapi kita harus ke rumah sakit dulu. Kakimu butuh diobati, Ana."
Ana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin tidur, Marius ..."
Marius memandangi Ana yang ada dalam gendongannya. Kedua mata Ana tertutup, tapi air mata masih mengalir dari keduanya. Dia menjadi tidak berdaya dengan permintaan Ana.
"Baiklah ... kita pulang, Ana. Kita pulang ..."
Dalam gendongan Marius, Ana benar-benar tertidur. Dirinya sudah terlalu lelah dengan semua yang dia lewati hari itu. Bahkan ketika Marius menurunkannya dari mobil dan membawanya ke kamar, Ana tetap terlelap.
Ana hanya terbangun sekali, mungkin.
Saat Marius kembali ke kamar Ana di malam hari untuk memeriksa keadaannya, dia tidak dapat menemukan Ana di kamarnya. Marius menemukan Ana sedang tertidur di atas tempat tidur Rain sambil memeluk boneka kesayangan Rain.
Marius tidak berpikiran untuk memindahkannya. Dia biarkan Ana tetap seperti itu. Dia bahkan menemaninya di sana, tertidur di sampingnya, bersama, di tempat tidur Rain, hingga pagi menjelang.
__ADS_1