
Ana sedang berdiri di depan pintu sebuah ruangan yang ada di rumah Marius. Ruangan itu sebenarnya adalah kamar tamu, tapi untuk saat ini digunakan untuk menahan seseorang di dalamnya.
Setelah menemukan sebuah kamera kecil di kamar Ana, Marius segera memerintahkan David untuk melakukan pembersihan di setiap kamar dan mencari tanda-tanda adanya penyadapan.
Hasilnya, cukup mencengangkan. Bahkan Ana belum pernah melihat Naomi sesemangat itu melihat alat-alat yang ditemukan David.
"Kita sedang berhadapan dengan orang gila," kata Naomi menyeringai yang membuat Ana merinding melihat seringainya itu.
Peralatan yang ditemukan David ternyata tidak hanya kamera kecil, tapi juga ada alat untuk menyadap suara. Dan tempat penemuannya tidak hanya di kamar Ana dan Rain tapi juga ruang kerja Marius tidak luput dari alat-alat ini.
"Entah sudah berapa lama mereka melakukan ini?," tanya Lucas.
Setelah semua ruangan selesai dibersihkan dari alat-alat itu, Marius mulai menginterogasi orang yang ditahannya di gudang penyimpanan. Dan dari interogasi itu, Marius mulai mendapatkan petunjuk yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
Orang itu adalah seorang pelayan yang sudah lama bekerja di rumah Marius. Orang itu juga yang menyebut nama Eli dalam video yang dilihat Marius, Ana, dan juga Naomi waktu itu. Dan, bukan tanpa alasan dia melakukannya.
Namanya Dara. Dia adalah keponakan Eli dari saudara jauhnya. Eli memasukkannya ke rumah keluarga Hadinata karena dia ingin Dara melakukan sesuatu untuknya. Dan, begitulah Dara bisa berada di dalam rumah Marius untuk waktu yang cukup lama.
Saat dia diinterogasi oleh Marius, Dara lagi-lagi menyebutkan nama Eli.
"Saya tidak bersalah, Tuan Marius. Saya tidak bersalah. Miss Eli yang menyuruh saya ...," teriak Dara hingga memenuhi seluruh sudut gudang penyimpanan.
Meski demikian, bukan hal mudah bagi Marius untuk menahan Eli yang sudah bekerja untuk keluarga Hadinata selama empat dekade. Marius sangat menghormatinya, karena Eli juga adalah pengasuh Adam waktu Adam masih kecil. Itulah alasan mengapa Marius menahannya di kamar tamu yang ada di hadapan Ana saat ini, bukan di gudang penyimpanan seperti yang dilakukannya pada Dara.
__ADS_1
Ana memandangi nampan berisi makan siang untuk Eli yang dia pegang saat ini. Dia teringat kembali saat meminta ijin pada Marius untuk bicara dengan Eli. Karena Marius melarang siapapun untuk menemuinya. Bahkan dia meminta David untuk menugaskan pengawal di depannya.
"Bicara dengan Eli?," tanya Marius.
Ana menganggukkan kepalanya. "Tolong beri aku ijin agar aku bisa menemuinya."
"Mengapa kamu ingin menemuinya?"
"Karena aku ingin mendengarnya sendiri, alasan dia melakukan ini semua."
Meskipun dia yang meminta pada Marius, tapi justru saat ini Ana merasa gugup saat memikirkan dia akan berbicara dengan Eli, entah mengapa.
Dengan mengumpulkan segala keberaniannya, Ana mulai memasuki ruangan itu.
"Kamu tidak perlu melakukannya," kata Eli yang sedang duduk di sebuah sofa tinggi dekat jendela.
"Aku ingin melakukannya," kata Ana.
"Aku yakin, kamu ingin menanyakan sesuatu padaku. Karena itulah alasanmu kemari," kata Eli yang hanya memandangi jendela tanpa mempedulikan Ana yang ada di dekatnya saat ini.
Ana bisa melihat kelelahan di wajah Eli saat ini. Ana tidak pernah melihatnya lelah saat mengurus rumah atau para pelayan. Tapi hari ini, semua kelelahan itu tergambar jelas di wajahnya. Apa yang membuatnya terlihat seperti itu?, pikir Ana.
"Aku hanya ingin tahu, mengapa kamu melakukannya?," tanya Ana.
__ADS_1
Eli hanya diam saat mendengar pertanyaan Ana. Dia masih memandangi langit dari jendela kamar itu. Meski demikian, Ana tahu dia sedang memikirkan jawabannya.
"Waktu pertama kali ibuku membawaku ke rumah ini saat aku berumur 19 tahun. Ibuku khawatir aku tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan bagus karena aku tidak kuliah, membawaku kemari karena dia meminta pada Tuan Besar Hadinata saat itu agar mau memperkerjakan aku."
"Setahun kemudian, aku melahirkan seorang putra. Ayahnya meninggalkan aku dan juga putranya sendiri karena menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Aku diusir oleh Tuan Besar Hadinata saat dia menemukan aku sedang menyusui putraku. Tapi Tuan Muda Hadinata melindungiku. Dia memberiku tempat tinggal sementara dan memintaku bertahan."
"Tepat setahun kemudian, saat kelahiran Tuan Adam, Tuan Muda Hadinata memintaku untuk kembali ke rumah Hadinata dan menjadi pengasuh Adam. Dia yang saat itu sudah menjadi kepala keluarga Hadinata, menggunakan haknya untuk menolongku dan juga Leo, putraku."
"Dan sejak itu, aku kembali menyerahkan jiwa dan ragaku untuk mengabdi pada keluarga Hadinata sekali lagi, hanya untuk membayarkan hutang budiku pada Tuan Muda Hadinata."
"Menjadi pengasuh Tuan Adam adalah saat-saat menyenangkan bagiku. Bersama dengan Leo, aku seperti sedang mengasuh dua orang putraku sendiri. Mereka membuat hidupku kembali memiliki tujuan. Terutama saat aku melihat Tuan Adam sangat menyayangi Leo seperti saudaranya sendiri. Bahkan, Tuan dan Nyonya Muda tidak keberatan akan itu."
"Bertahun-tahun aku menyayangi mereka dengan segenap hatiku. Aku tahu bagaimana mereka. Tapi, aku tidak pernah tahu mereka akan mencintai wanita yang sama."
"Ya, Leo dan Adam, mereka sama-sama mencintai wanita yang melahirkan Rain. Wanita ja lang itu membuat Leo dan Adam, putra-putraku saling bersaing hanya untuk memperebutkannya yang tidak pernah mencintai salah satu dari mereka."
"Wanita ja lang itu yang menyebabkan Leo mengakhiri hidupnya, karena merasa tak sanggup melihat pernikahannya dengan Adam. Tapi, malah membuat Adam harus merawat anak haramnya itu, sementara dia terus menggoda orang lain di depan mata Adam."
Eli yang memperlihatkan begitu besar kemarahannya, mendekatkan tubuhnya pada Ana yang ada di depannya.
"Sekarang katakan padaku, salahkah aku, jika aku membenci anak itu? Anak yang ibunya telah menghancurkan hidup kedua putraku?," tanya Eli dengan semua emosi kemarahannya yang terpancar jelas di kedua matanya.
Ana hanya menerima kemarahan Eli tanpa mengatakan apapun. Dia bisa merasakan kemarahan Eli. Ana juga bisa melihat betapa hancurnya hati Eli ketika dia menceritakan kemarahannya itu. Kemarahan yang wajar dilakukan oleh seorang ibu yang merasa hidup putranya diperlakukan tidak adil oleh orang lain.
__ADS_1
Sementara itu, di luar kamar itu, Marius berdiri menghadap pintu kamar itu, dengan tangannya yang tergenggam cukup keras, mendengarkan pembicaraan antara Eli dan juga Ana.