Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 34


__ADS_3

"... Adam ... Kak Adam ..."


Ana kembali mengganti handuk hangat yang ada di kening Marius dengan handuk hangat yang baru. Marius yang sedang berbaring, terus menerus memanggil nama Adam dalam tidurnya.


"Entah apa yang sedang dia mimpikan. Mungkin dia sangat merindukan kakaknya," batin Ana.


Dokter yang memeriksanya sudah pulang dari tadi. Dia memberinya infus, serta beberapa obat dan vitamin. Dokter itu hanya berpesan bahwa Marius membutuhkan banyak istirahat untuk sementara waktu ini.


Menurut dokter, alkohol yang Marius minum akhir-akhir ini yang menyebabkan kondisi tubuhnya terus menurun, dan kurangnya istirahat membuat tubuhnya mulai menyerah.


"Mungkinkah ini karena permasalahan yang terjadi waktu itu? Sepertinya dia terlihat lebih sering minum setelah itu," pikir Ana.


Ana memandangi wajah Marius yang semakin lembab oleh keringat yang terus menerus keluar karena pengaruh obat yang diberikan dokter itu.


Ana tidak tahu apa yang menyebabkannya terus mengkhawatirkan pria yang sedang berbaring di hadapannya ini. Setelah dia menemukan Marius dalam keadaan seperti itu, dia terus merasa gelisah.


Apakah dia akan baik-baik saja? Seberapa sakitkah dia? Apa yang bisa dia lakukan? Semua itu terus berputar di dalam kepalanya.


Cukup lama Ana terus mengganti handuk hangat Marius dengan yang baru. Perlahan, Marius terlihat mulai tenang dalam tidurnya. Tidak terdengar lagi igauan dari Marius. Sepertinya dia akan baik-baik saja, pikir Ana.


Melihat Marius yang sudah semakin tenang, Ana memutuskan untuk beristirahat sebentar. Dia masih harus memaksa Marius untuk meminum obatnya saat dia bangun nanti, jadi dia memilih untuk membaringkan kepalanya di samping Marius daripada harus kembali ke kamarnya. Lalu kemudian perlahan dia menutup kedua matanya.


......................


Ana tiba-tiba tersentak kaget dalam tidurnya. Dia teringat masih harus mengecek kondisi Marius. Kompres di dahinya masih harus diganti jika demamnya belum juga turun.


Saat itulah Ana menyadari, dia sedang berbaring di atas tempat tidur Marius. Sebuah selimut tebal milik Marius menyelimutinya.


"Apakah dia yang menggendongku? Seharusnya dia tidak melakukan itu? Dia kan lagi sakit," pikir Ana.


Tapi, Marius tidak ada di tempat tidurnya. Dia juga tidak ada di kamarnya.


Lalu, dimana dia? Apakah dia kembali bekerja? Apakah dia sudah membaik? Tapi meskipun membaik, belum saatnya dia kembali bekerja.


Dilihatnya jam meja yang ada di nakas Marius. Jam 8! Sesiang itukah?


Segera Ana berlari untuk turun menemui Marius. Ana yakin saat ini Marius pasti ada di ruang kerjanya. Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaannya saat ini. Apakah dia sudah agak membaik, atau dia sedang memaksakan dirinya?

__ADS_1


Tapi, saat Ana akan menuruni tangga menuju lantai bawah, dia mendengar suara seorang wanita yang tidak dikenalnya.


"Dimana Marius? Aku ingin bertemu dengannya," kata wanita yang terlihat tidak terlalu tua itu. Dia terlihat sangat cantik dan elegan. Tapi sepertinya Ana pernah melihat wanita itu.


"Maaf, Nona. Tuan Marius saat ini sedang membutuhkan istirahat. Saya akan memanggilkan Tuan Lucas, sekretaris pribadi Tuan Marius untuk membantu Nona," kata Tian menghalangi.


Wanita itu terdiam. Dia memandangi Tian yang ada di hadapannya.


"Kamu siapa? Aku belum pernah melihatmu. Dimana Eli? Biasanya dia ada disini."


"Saya adalah Tian, kepala pelayan yang baru, Nona. Saya khawatir Nona belum mengetahuinya, tapi Miss Eli sudah berhenti bekerja."


Wanita itu tersenyum sinis. "Pantas saja. Kamu pasti tidak tahu siapa aku. Aku adalah Valerie Geraldine. Katakan saja pada Marius untuk menemuiku."


"Valerie Geraldine? Tentu saja aku seperti pernah melihatnya. Dia artis nasional yang sering menjadi brand ambassador produk-produk ternama," kata Ana dalam hatinya. Sudah beberapa kali Ana melihatnya dalam event-event perusahaan kliennya.


"Maaf, Nona Valerie. Seperti yang saya katakan, Tuan Marius sedang butuh istirahat saat ini. Jika, Nona membutuhkan sesuatu, saya yakin Tuan Lucas sedang dalam perjalanannya kemari untuk menemui Anda."


Ana ingat saat dia turun tadi, dia melihat seorang pelayan sedang berjalan menuju kantor Marius. Tian pasti menyuruhnya untuk memanggilkan Lucas.


"Sayangnya, hanya aku yang bisa membantumu saat ini, Val."


Lucas tiba-tiba muncul dengan seorang pelayan di belakangnya. Pelayan itulah yang memanggil Lucas tadi.


"Tian benar, Marius sedang sakit. Dia butuh banyak istirahat saat ini. Katakan padaku apa yang kamu inginkan. Aku akan menyampaikannya pada Marius," kata Lucas dengan tenangnya.


Mendengar Lucas memanggil Valerie itu dengan nama pendeknya, sepertinya mereka sudah lama saling kenal.


Tapi, Valerie terlihat tidak senang melihat Lucas. "Apakah Marius sedang menghindariku? Dengar, aku hanya ingin membicarakan tentang kontrak itu, itu saja."


"Kalau begitu, sampaikan saja padaku. Kamu tahu sendiri kan, aku yang biasa menangani itu."


"Tapi Marius yang memutuskannya. Aku ingin bicara langsung dengannya agar aku bisa mendengar sendiri keputusannya."


"Kamu sudah mendengar sendiri keputusan Marius, Val."


Valerie terlihat sudah mulai kesal. Langkah demi langkah, Valerie maju menghampiri Lucas.

__ADS_1


"Dengar, Lucas. Dia masih ingat kan kalau Rain ..."


"Valerie!"


Ana terkejut mendengar Lucas memanggil nama Valerie dengan nada membentak. Belum pernah Ana mendengar Lucas semarah itu.


Tapi, yang lebih mengagetkan Ana adalah saat Valerie menyebutkan nama Rain. Siapa dia?


"Kuharap kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan saat ini," kata Lucas dengan nada tegasnya. Terlihat dengan jelas, Lucas sedang marah saat ini.


"Jangan membuatku kesal, Lucas. Aku hanya butuh menemui Marius untuk menanyakan kontrak itu. Dia tidak bisa melakukan ini padaku. Dia tahu betul siapa aku. Jadi, jangan halangi aku, Lucas."


Lucas sepertinya sudah tidak bisa lagi menghalangi Valerie. Karena sekarang, Valerie terus berjalan melewati Lucas menuju ruang kerja Marius.


Ana yang berdiri di kejauhan merasa dia harus melakukan sesuatu. Tanpa banyak pertimbangan, Ana langsung berlari menghampiri Valerie.


"Tunggu!," teriak Ana.


Ana berdiri menghalangi Valerie untuk maju lebih jauh lagi. Dia merentangkan kedua tangannya di hadapan Valerie. Di saat yang bersamaan, Ana bisa mendengar Lucas dan juga Tian memanggil namanya.


"Siapa kamu?," tanya Valerie.


Untuk kesekian kalinya, Ana baru menyadari bahwa dia lagi-lagi bertindak tanpa berpikir dulu. Tapi, penyesalan sudah terlambat datangnya. Jelas tidak mungkin dia mundur saat dia sedang berdiri menghalangi Valerie.


"Maaf, apa yang dikatakan Tian dan juga Lucas adalah benar. Marius sakit dari semalam, dan dia sangat butuh istirahat. Tolong, kembalilah lain waktu," kata Ana.


"Kamu belum memberitahuku siapa kamu? Apa hakmu melarangku?," tanya Valerie lagi dengan tatapan sinisnya.


"Aku ... aku ...," Ana kehilangan kata-katanya. Jelas tidak mungkin dia mengatakan dia cuma pengasuhnya Rain. Valerie akan semakin mengacuhkannya.


"Kamu tidak bisa menjawabku? Kalau begitu, minggir!," bentak Valerie.


Tapi, Ana lebih keras kepala darinya. Ana semakin merentangkan kedua tangannya, membuat Valerie tertahan di hadapannya.


Valerie semakin marah. Dia tidak tahu siapa gadis yang ada di hadapannya. Yang dia tahu nyali gadis ini sungguh besar hingga membuat kemarahannya terus meninggi.


"Aku bilang minggir!," teriak Valerie dengan mengangkat tangannya yang akan bersiap menampar Ana.

__ADS_1


__ADS_2