
(flashback on)
#
"Ana! Ana!"
Seorang anak laki-laki mencoba membangunkan seorang gadis kecil yang pingsan sedari tadi. Kedua tangan mereka terikat, begitu juga dengan kaki-kaki mereka.
"Ana!," panggil anak laki-laki itu lagi dengan bisikan yang keras. Dia terus melihat pintu ruangan tempat mereka disekap. Dia khawatir akan ada orang yang masuk.
Gadis kecil yang dipanggilnya Ana itu perlahan membuka kedua matanya. Dia mengangkat tubuh kecilnya dan melihat anak laki-laki yang ada di hadapannya.
"Kak Marius ...," panggilnya dengan suara kecilnya.
"Sstt ... jangan keras-keras. Nanti mereka dengar."
Ana baru menyadari dirinya juga terikat sama seperti Marius saat dia mencoba menggerakkan kedua tangannya.
"Kak Marius ... sakit ...," bisik Ana yang sudah hampir menangis.
Dengan kaki dan tangannya yang terikat, Marius berusaha bergerak mendekati Ana. Dia berharap dengan demikian, Ana bisa berhenti menangis.
"Jangan menangis, Ana. Kemarilah, mendekat padaku," bujuk Marius. Ana pun mengikuti perintah Marius.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka. Dan tiga orang pria memasuki ruangan itu.
Marius bergerak maju menyembunyikan Ana di belakang tubuh kecilnya. "Jangan takut, Ana. Tetaplah di belakangku."
"Kalian sudah bangun rupanya," kata salah satu pria yang mendekati Marius dan juga Ana.
"Siapa kalian? Apa mau kalian?," teriak Marius. Ana semakin mengerutkan tubuhnya agar bisa bersembunyi di balik tubuh Marius.
"Jangan khawatir. Kalian akan bebas jika orang tua kalian memberikan apa yang kami mau."
"Yang satunya itu bagaimana, Bos? Dia terus berteriak dan menendang, jadi terpaksa kita bawa tadi," tanya pria lainnya.
"Sudah kulaporkan kepada Tuan. Dia yang akan memutuskan."
Sebelum mereka pergi meninggalkan Marius dan Ana, pria itu berpesan sekali lagi pada mereka. "Tidak usah repot-repot melarikan diri atau berteriak. Karena kita berada di tengah hutan. Ada banyak monster seram dan menakutkan di luar sana. Kalau kalian mau aman, tetap diam di sini. Kalian paham?"
Marius sama sekali tidak takut dengan ancaman mereka. Tapi Ana, dia sudah mulai menangis begitu pria itu menyebut kata 'monster seram dan menakutkan'. Ana benci itu.
__ADS_1
"Jangan takut, Ana. Mereka hanya menakutimu," bujuk Marius.
"Kalau mereka benar bagaimana?," isak Ana.
"Tetaplah di dekatku. Aku akan melindungimu."
"Benarkah? Tapi kamu selalu ingin aku menjauhimu. Bagaimana kalau kamu berbohong?"
"Aku tidak bohong. Aku akan melindungimu."
#
"Ayo, Ana," teriak Marius yang terus menggandeng Ana berlari melewati banyak pohon di sekitar mereka.
Marius dan Ana telah berhasil kabur dari rumah itu. Dan kini mereka sedang berusaha menjauh dari rumah itu sebelum para penculik itu menyadari bahwa sandera mereka telah hilang.
"Kak Marius, Ana capek ...," kata Ana.
Marius mulai memperlambat langkah kaki mereka, membiarkan Ana mengambil napasnya. Dirinya adalah bocah 9 tahun yang sudah terbiasa karena dia sering melakukan latihan bersama ayahnya. Tapi Ana, gadis kecil ini baru 4 tahun. Sudah jelas dia pasti kecapekan.
"Aku gendong, ya. Ayo, kamu naik di belakang," kata Marius yang sudah bersiap.
"Nanti berat bawanya," kata Ana yang ragu.
#
"Dengar, Ana. Kamu harus tetap disini. Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Setelah aku menjauh, kamu segera lari, ya. Lari yang jauh dan kencang."
Ana menggelengkan kepalanya berulang-ulang dengan kerasnya. Dia mulai menangis. "Tidak mau ... Nanti kalau ketangkap bagaimana? Tidak mau ..."
"Jangan khawatir. Para pengawal papa akan datang sebentar lagi. Mereka akan datang menyelamatkan kita. Aku hanya mengulur waktu agar kamu bisa kabur."
"Tidak mau ... Kita kabur sama-sama," isak Ana yang masih terus menangis.
"Cepat cari mereka!"
Suara teriakan itu mengagetkan Marius dan juga Ana yang langsung menghentikan tangisnya.
"Ingat kataku, Ana," bisik Marius sambil berlari meninggalkan Ana yang terus memanggilnya.
Seperti yang dikatakannya, Marius berusaha mengalihkan perhatian orang-orang itu dengan memanggil mereka, lalu berlari menjauhi tempat Ana berada. Orang-orang itu tanpa berpikir panjang langsung mengejar Marius.
__ADS_1
Ana mengintip dari balik pohon yang sangat besar. Setelah dia rasa semuanya sudah aman, dia berbalik dan bersiap akan berlari.
Tepat di saat itu, kaki Ana tiba-tiba terasa kaku. Tidak hanya kedua kakinya, seluruh tubuhnya tiba-tiba menolak untuk digerakkan. Tepat di saat Ana sedang melihat seekor ular yang sedang berdiri menatap dirinya.
Ana mulai menangis. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia hanya memikirkan seseorang di dalam kepala kecilnya itu. "Kak Marius ..."
Kakinya yang kecil berusaha melangkah melewati ular itu dengan perlahan. Karena ular itu tetap terdiam, Ana langsung mengambil langkah seribu.
Gerakan Ana yang tiba-tiba menyebabkan ular itu menyerang Ana dan menggigit pergelangan kaki Ana. Ana berteriak kesakitan. Dia terjatuh dan kepalanya terbentur sebuah batu. Darah mengucur mengalir turun dari sisi keningnya.
Melihat ular itu masih disana dan masih berdiri menghadapnya, Ana hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya.
(flashback off)
......................
Ana tersentak kaget dari tidurnya dan langsung terduduk di atas tempat tidur. Dia menatap kedua tangannya yang saat ini sedang bergetar hebat. Perlahan, dia ingat apa yang baru saja dia mimpikan. Mungkin itu terlihat seperti mimpi, tapi Ana tahu itu bukan mimpi. Itu ingatannya.
"Ana ... Ana ..."
Sebuah tangan sedang meraih wajahnya. Suara seseorang yang memanggilnya dengan nada khawatir perlahan mulai terdengar. Dia melihat Marius sedang duduk di hadapannya.
Ana menatap Marius yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh kecemasan. Tapi, di saat itu, Ana malah melihat sebuah kilasan gambar dalam ingatannya tentang apa yang terjadi pada malam itu. Rasanya seperti baru saja terjadi.
Tanpa Ana sadari, Ana bergerak mundur menjauhi Marius. Matanya tidak berani menatap Marius. Karena semakin lama dia menatapnya, kilasan gambar itu terus muncul dalam kepalanya.
Marius menatap Ana dengan wajah cemas dan juga heran. Dia tahu, Ana baru saja menghindarinya. Tapi, dia tidak tahu alasannya. Dilihat kedua tangan gadis itu sedang gemetar. Marius tidak ingin memaksanya.
"Kamu tidak apa-apa? Apakah ada yang sakit?," tanya Marius. Bahkan nada suaranya dengan jelas menggambarkan rasa cemas pria itu.
Marius melihat Ana yang menggelengkan kepalanya tanpa menatap dirinya.
"Ana, kamu sudah sadar?"
Suara Doni tiba-tiba memecah kesunyian di antara Marius dan juga Ana.
Marius langsung mengabari Doni begitu Ana dilarikan ke rumah sakit. Doni yang tidak pernah berangkat ke Australia, dengan segera berangkat ke rumah sakit begitu Marius mengabarinya. Selama tiga hari Ana tidak sadarkan diri, dia dan juga Marius lah yang berjaga di rumah sakit.
Ana yang melihat papanya langsung tidak dapat menahan air matanya. Dia langsung memeluk papanya itu dan menangis sejadi-jadinya. Tangisnya begitu keras. Bahkan Doni tidak tega mendengarnya.
"Ana mau pulang, Pa. Ana mau pulang ke rumah ...," raung Ana.
__ADS_1
Marius dan juga Doni saling menatap satu dengan yang lainnya. Mereka memikirkan hal yang berbeda.
Doni merasa heran dengan permintaan Ana yang tiba-tiba itu. Sedangkan Marius ... dia hanya merasa bersalah, karena dia mengira karena semua kejadian itu membuat Ana merasa muak dan tidak ingin lagi melihat Marius.