
Dalam setiap perjanjian bisnis yang dia buat, Marius selalu memperhitungkan keuntungan serta kerugiannya. Seberapa besar yang harus dia keluarkan dan seberapa banyak yang akan dia dapatkan. Dia menghitung semuanya.
Dia tidak suka merugi, semua orang juga pastinya. Tapi, Marius sangat tidak menyukainya. Hatinya terasa sangat sakit jika dia harus mengeluarkan lebih banyak daripada yang harus dia terima. Tapi, jika itu sedang membicarakan tentang bisnis.
Tentang Ana, itu beda cerita.
Saat Marius menyetujui permintaan Noel untuk bisa makan malam dengan Ana, meski terasa berat tapi dia tetap menyetujuinya. Karena dia berpikir, itu akan dapat membantunya melindungi dirinya dari Nora dan Tuan Barnett, lalu dia juga akan mendapatkan Ana.
Jika itu Ana, maka itu artinya kemenangan besar.
Tapi yang tidak diperhitungkannya adalah perasaannya sendiri ketika dia melihat Ana begitu cantiknya saat bersiap untuk makan malam dengan Noel.
Belum lagi, Ana mengenakan salah satu gaun dari sepuluh gaun yang Ana pilih sendiri saat memilih gaun untuk pernikahan rekayasanya dengan Nora.
Itu artinya, Ana sengaja mengenakan gaun itu, gaun yang Marius beli untuk Ana, dan dikenakan untuk pergi makan malam dengan pria lain.
"Dia sengaja melakukan ini. Dia sengaja berdandan cantik sekali hari ini. Mengapa dia harus berdandan secantik itu untuk Noel? Tidak bisakah dia berpenampilan biasa saja? Maksudku, itu hanya Noel. Dia memberikan kesan seakan-akan dia bersemangat sekali pergi makan malam dengan Noel. Apakah dia memang benar-benar menyukai acara makan malam itu?"
Pikiran Marius sudah seperti rajutan benang yang sangat kusut saat dia melihat Ana sedang duduk di depan cermin sambil mendadani dirinya sendiri. Marius tidak bisa berhenti merajuk di atas tempat tidur Ana setiap kali gadis itu menyapukan kuas make up nya di atas wajah manisnya itu.
"Apakah kamu senang sekali makan malam bersamanya sampai harus berdandan lama sekali?," tanya Marius memelas di belakang Ana.
Ana menghentikan aktifitasnya lalu berputar menghadap Marius.
"Ini adalah makan malam yang kamu sendiri setujui tanpa membicarakannya denganku. Jadi meski aku tidak menyukainya, setidaknya aku harus menghargai Noel. Dia tidak tahu apa-apa tentang pendapatku," jelas Ana tanpa nada marah sedikitpun, sebelum akhirnya berbalik lagi, melanjutkan berdandannya.
Kepala Marius tertunduk sangat berat. "Dia marah," pikirnya.
Setelah beberapa saat, Ana berbalik lagi. Kali ini dia sudah benar-benar selesai berdandan. Marius kembali menengadahkan kepalanya. "Dia benar-benar cantik," pikirnya.
Marius meraih tangan Ana, menariknya hingga mendekat padanya. Dia akhirnya memeluk gadis itu.
"Nggak usah pergi, ya. Nanti aku bilang kamu sakit."
Marius merasakan sentuhan lembut di atas kepalanya. Belaian demi belaian turun perlahan lalu kembali lagi ke atas. Begitu seterusnya.
"Aku nggak akan sakit selamanya," kata Ana.
__ADS_1
"Kalau gitu, aku batalkan saja."
Ana mengeluarkan tawa kecilnya. Tapi, Marius tidak peduli. Dia tidak peduli jika Ana sekarang menertawakannya. Ini semua salahnya, seharusnya dari awal dia tidak pernah menyetujuinya.
"Kamu itu CEO DYNE. Semua orang mengagumimu. Terus sekarang kamu ingin membatalkan janji yang sudah kamu buat sendiri. Apa kata orang-orang nanti?"
Marius semakin mengeratkan pelukannya. "Menurutmu, aku peduli?," kata Marius.
"Memangnya siapa mereka berani membicarakanku," lanjut Marius dalam kepalanya sendiri.
Marius mendengar Ana kembali tertawa. "Biarkan dia menertawaiku. Dia pasti sedang membalasku sekarang. Ah, suara tawanya ... Aku semakin tidak ingin melepasnya pergi," katanya dalam hati.
"90 menit. Hanya 90 menit katamu kemarin. Setelah itu aku akan langsung pulang. Ya?"
Marius masih terus memeluknya tanpa berkata apapun untuk mengiyakan pertanyaan Ana itu. Dia tidak bisa menemukan alasan lagi yang bisa mencegahnya tetap pergi. Dan, Ana juga tidak mendesaknya untuk melepaskannya, meski waktu pertemuan mereka semakin dekat.
Perlahan, Marius merenggangkan pelukannya, sebelum akhirnya melepaskannya. Terakhir, dia menyisakan kedua tangan Ana dalam genggamannya.
"Aku sudah meminta Noel untuk tidak memberikanmu champagne ataupun wine. Jadi, minum jus saja," kata Marius dengan tegas. Dia kembali pada mode CEO nya.
"Begitu selesai, langsung pulang. Supir akan menunggumu di sana. Kalau Noel menawarkan mengantarkanmu pulang, tolak saja."
Ana kembali menganggukkan kepalanya. Bibirnya terus dilipat ke dalam untuk menahan tawanya.
"Jangan terlalu lama. Supir besok masih harus bekerja. Kalau kemalaman, besok dia pasti kelelahan."
"Pfft ..."
Ana memejamkan matanya, merutuki diri sendirinya, karena hampir melepaskan tawanya.
"Aku serius, Ana."
"Iya, iya ... Maaf ..."
"Kalau Rain telepon kamu akan langsung pulang, kan?"
"Kamu akan menggunakan Rain agar aku cepat pulang?," tanya Ana untuk memastikan dia tidak salah mengira. Matanya membelalak lebar, tapi bibirnya tidak dapat menyembunyikan senyumnya itu.
__ADS_1
"Y-yaa kalau Rain ingin melihat mommy nya, aku bisa apa?," jawab Marius tanpa berani menatap Ana yang sedang tertawa menatapnya.
"Aku sudah meminta David menyiapkan pengawal wanita untukmu. Nanti kamu akan berangkat bersamanya dan tim khususnya."
"Marius ..." Ana tertawa serasa tak percaya Marius akan melakukan hal itu. "Aku hanya pergi makan malam dengan Noel. Kamu tahu Noel, kan? Kita sedang membicarakan Noel, Marius."
"Kamu sekarang adalah calon istriku. Itu artinya kamu harus mendapatkan pengamanan khusus. Kamu tidak tahu kan bahaya apa yang mungkin saja akan muncul, meskipun itu cuma makan malam bersama seorang teman," kata Marius panjang lebar.
Mulut Ana tidak dapat terkatup. Marius yakin, Ana tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk membalasnya. Dia merasa bangga karena dapat membuat Ana terdiam.
Ana masih saja tertawa mendengar kata-kata Marius.
"Oke, oke ... aku akan berangkat sekarang. Makin cepat pergi, makin cepat balik. Oke?"
Marius menatap Ana dengan pandangan memelas. Dia semakin tidak ingin membiarkannya pergi. Genggaman tangannya pada kedua tangan Ana semakin erat. Membuat gadis itu terus tertawa.
Ana kemudian meminta kedua tangannya dari genggaman Marius. Saat Marius tidak mau melepaskannya, Ana berkata sembari tersenyum padanya, "Lepaskan dulu sebentar."
Saat Marius melepaskannya, tangan Ana langsung meraih wajah Marius. Dan kemudian memberikan satu kecupan pada bibir Marius.
Tidak sekali, tidak dua kali. Ketika yang ketiga kalinya, Marius menjadi serakah, dia ingin lebih dari itu. Seketika itu juga, dia melahap semuanya. Dia tidak peduli jika lipstik Ana belepotan karenanya.
"Siapa suruh dia berdandan cantik sekali untuk orang lain," pikirnya.
Setelah beberapa saat, Marius akhirnya melepaskan Ana. Kening Ana bersandar pada kening miliknya. Kedua mata Ana begitu dekat dengannya, menatap langsung padanya, membuatnya seakan merasa Ana tidak pernah jauh darinya. Dia selalu ada di dekatnya.
"Ini cuma makan malam. Aku akan kembali nanti," kata Ana lirih.
Ajaibnya, perasaannya kini tak segundah tadi. Dia menjadi jauh lebih tenang.
Setelah itu, Marius mengantarkannya sendiri ke pintu depan, memastikan mobil yang akan membawa Ana pergi dan melewati pagar rumahnya. Setelah benar-benar menghilang, Marius kembali masuk ke dalam.
"Satu jam dia tidak kembali, aku yang akan menyusulnya."
Tapi, sedetik kemudian ...
"Tidak. Sekarang saja."
__ADS_1