Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
Extra Story : Part 8


__ADS_3

Meski hari cukup siang, Marius pada akhirnya memenuhi janjinya pada Ana. Hanya berdua, seperti yang diinginkan Ana.


Dengan mobil, mereka mengunjungi beberapa tempat yang dulu pernah ada dalam cerita hidup Marius. Sekolah, kampus, tempat dia menghabiskan waktu sorenya, tempat belajar di tempat terbuka, tempat dia berkumpul dengan teman-temannya, dan .... tempat dia belajar memasak.


"Haha ... akhirnya kau menikah juga. Aku sudah membayangkan begitu kau kembali ke negaramu, gadis yang kau cintai sudah menikah dengan orang lain. Lalu kau tidak pernah mau menikah. Haha ..."


Pria tinggi kurus itu terus memeluknya, tapi tidak berhenti menertawakannya. Marius hanya berdiri tanpa ekspresi apapun, tapi cukup menjelaskan dia terlihat sebal dengan kata-katanya.


Bahkan saat pria itu terus menepuk-nepuk punggungnya, Marius tetap tidak membalas pelukannya.


Ana yang berdiri memandangi mereka hanya tertawa melihat keakraban itu. Meski Marius tidak memperlihatkannya, Ana tahu Marius sangat menghormatinya.


"Coba kulihat, siapa gadis yang bisa membuat seorang Marius menunggu sampai bertahun-tahun."


Pria itu berjalan menghampiri Ana, membungkukkan tubuhnya agar tinggi mereka bisa saling menyamai. Raut wajahnya yang penuh dengan penasaran, kini berubah menjadi berbunga-bunga.


"Wah, tentu saja, tentu saja, dia sangat cantik. Pantas saja, kau tidak mau gadis lain. Haha ..."


Pria itu kemudian menjulurkan tangannya. "Hugo. Panggil saja Hugo. Ah, kamu pasti kaget karena aku bisa bahasa kalian. Haha ... Marius yang mengajarkanku. Sangat membantuku, karena ada banyak turis dari negara kalian yang datang kemari."


Ana membalas uluran tangan Hugo. Begitu dia menjabatnya, Hugo langsung terlihat sangat antusias. Senyumnya semakin lebar. Jabatan tangan mereka pun terus digoyangkan.


Tapi kemudian, Marius melepaskannya. "Tidak usah lama-lama. Tamumu semakin banyak."


Marius benar, ada banyak tamu yang masuk setelah itu. Hugo langsung bergegas pergi mengerjakan pekerjaannya.


"Kamu duduklah di sana. Aku bantu dia dulu ya. Ini jam makan siang. Tempat ini selalu penuh pada jam segini," kata Marius seraya melipat lengan bajunya ke atas.


"Apa tidak apa-apa aku duduk di sana?," tanya Ana. Dia merasa tidak enak karena harus duduk di tempat yang seharusnya bisa ditempati oleh tamu yang datang.


"Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Tempat itu jarang ditempati."


Dan tak lama setelah itu, Marius sudah sibuk membuat sesuatu di dapur.


Ana memandangi sudut-sudut restoran dari tempatnya duduk. Bukan tempat yang luas ternyata, tapi cukup nyaman. Sangat berbeda dengan restoran Marius yang terkesan mewah.


Pada saat itu, tamu tidak berhenti keluar dan masuk. Pelayan restoran juga tidak berhenti bergerak membawakan menu ataupun makanan pesanan para tamu. Tempat itu benar-benar sangat sibuk.


Di belakang counter kasir terdapat sebuah pintu kecil tempat makanan yang selesai dibuat dikeluarkan agar bisa dibawa oleh pelayan. Dari sanalah, Ana melihat Marius terus bergerak di depan kompor. Dia tidak berhenti menatapnya.


Rasanya cukup berbeda dari yang biasanya Ana lihat ketika di rumah. Di sini, Ana bisa melihat bagaimana Marius sangat menyukai tempat ini. Meski dia harus memasak tanpa henti, tapi rasa lelah terasa bukan apa-apa bagi Marius. Dia masih bersemangat mengerjakan semuanya. Ana sangat menyukai pemandangan yang dilihatnya saat ini.

__ADS_1


Dari pintu dapur, pandangan Ana beralih ke counter kasir. Ada banyak makanan yang sudah siap di sana. Tapi para pelayan masih sibuk mencatat orderan dan juga mengantarkan pesanan.


"Sayang sekali jika makanan-makanan itu menjadi dingin," pikir Ana.


Ana akhirnya memutuskan untuk berdiri. Dia mencoba belajar untuk mengantarkan makanan-makanan itu.


Meski semua terasa membingungkan di awal, tapi setelah melakukannya cukup lama, Ana mulai bisa memahami semuanya. Posisi meja, nama makanan, Ana sudah hampir bisa menghafalnya.


"Untung saja hari ini aku pakai flat shoes," pikir Ana.


Dia memang sengaja memakainya karena berpikir dia akan banyak jalan hari ini. Tak disangka, ternyata sangat berguna untuknya saat bergerak di sela-sela meja yang padat orang seperti di restoran itu.


Tidak butuh waktu lama baginya, semua yang dikerjakannya terasa tidak lagi sulit. Terasa begitu menyenangkan baginya, apalagi ketika beberapa tamu mengajaknya mengobrol. Terutama ketika customer itu adalah turis lokal yang mengajaknya berbicara dengan bahasa Perancis. Semua usaha untuk mempelajarinya selama ini terasa tidak sia-sia.


"Minumlah dulu," kata Marius seraya menyodorkan Ana sebotol air minum yang sudah dibukanya. Marius akhirnya bisa berhenti memasak. Pengunjung sudah sedikit berkurang. Karena itu, Hugo yang menyelesaikan sisanya.


"Kenapa ikut mengantarkan? Biarkan mereka yang mengerjakannya. Mereka bisa mengatasinya," kata Marius setelah itu.


Sedari tadi, Ana terlalu sibuk hingga sulit baginya untuk bisa minum. Dan air dari Marius itu, terasa sangat menyegarkan di tenggorokannya. Dia bahkan mengeluarkan suara kelegaannya begitu selesai menenggaknya.


"Mereka kewalahan, Marius. Makanan sudah menumpuk belum diantar. Sayang banget kalau sampai dingin. Kalian sudah susah payah memasaknya."


Tangan Marius mengusap keringat yang turun dari kening Ana. Meski terlihat cukup lelah, tapi senyum Ana tidak pernah hilang dari wajahnya.


Ana selalu ingin tahu, apa yang membuat Marius begitu menyukai memasak. Pria yang dikenal dunia sebagai orang nomor satu dalam dunia bisnis saat ini dapat terlihat begitu berbeda saat dirinya memegang wajan penggorengan dan spatula di tangannya. Dan berada di tempat Hugo bisa jadi jawaban yang sangat Ana harapkan.


Saat Marius sedang memasak di dapur untuk rombongan tamu terakhir, Hugo duduk bersama Ana dan menceritakan sebuah kisah.


"Aku menemukan Marius saat dia berumur 18 tahun. Waktu itu dia sedang bertengkar dengan teman sekolahnya. Saat aku melerainya, lawannya hampir babak belur karenanya. Lalu aku bertanya padanya, mengapa mereka berkelahi, alasannya membuatku tertawa keras pada hari itu."


"Dia bilang, 'Karena dia menghina seseorang yang penting bagiku.' Waktu itu dia sedang memegangi foto di tangannya. Mungkin mereka saling berebut foto itu. Karena fotonya hampir rusak."


"Itu foto dirimu. Haha ... Dia sangat menjaga foto itu. Karena setelah itu yang kulihat foto itu sudah terbungkus rapi, yaa ... meskipun masih terlihat lusuh. Haha ..."


"Lalu, kuajak dia kemari. Kusuruh dia bekerja disini karena kukira dia anak-anak nakal yang biasanya berkeliaran di jalan. Sedikit demi sedikit, kuajarkan dia memasak, dan dia menyukainya. Dan, setelah sekian lama, aku baru tahu siapa keluarganya. Anak itu benar-benar membuatku malu waktu itu."


Tanpa sadar, Ana tertawa saat dia mengingat cerita Hugo. Marius yang saat ini sedang menggendong Ana di punggungnya keheranan dengan tingkah Ana yang tiba-tiba itu.


"Ada apa? Apa yang lucu?," kata Marius.


Jalan masuk menuju rumah cukup jauh. Ana yang meminta Marius untuk menghentikan mobilnya saat di gerbang. Dia ingin bisa lebih lama mengobrol sambil berjalan kaki, terutama saat pemandangan di taman sangat indah dengan lampu temaramnya. Tapi, Marius lah yang memaksa untuk menggendong Ana.

__ADS_1


"Katakan, fotoku yang mana yang kamu ambil? Dapat dari mana?," tanya Ana.


"Foto? ... Ah, dia cerita tentang itu? Harusnya aku jahit saja mulutnya."


Ana kembali tertawa. "Jadi, foto yang mana?"


"... foto waktu kamu jadi kurcaci di pementasan drama di sekolahmu ..."


Kalau seandainya saja Ana dapat melihatnya, Marius kini tengah tersipu. Untung saja, Ana sedang berada di punggungnya. Jadi, Marius dapat dengan sangat baik menyembunyikannya.


"Hah? Kok bisa?," tanya Ana lagi. Dia tidak bisa berhenti bergerak. Tapi, Marius tetap tidak mau menurunkannya, atau Ana akan dapat melihat wajahnya saat ini.


Ana ingat waktu itu dia masih kelas 7. Dia harus menggantikan temannya yang seharusnya tampil tapi tidak dapat datang karena sakit. Ana terpaksa melakukannya meski saat itu dia baru kembali ke sekolah karena baru keluar dari rumah sakit. Karena semua anak sudah punya pekerjaannya masing-masing, kecuali Ana. Meski demikian, mereka mencarikan peran dimana Ana tidak harus menghafalkan dialog yang panjang.


"Waktu itu aku disana. Adam yang mengantarkanku."


Ana lalu tertawa, lalu mengeratkan pelukannya pada leher Marius. "Ternyata kamu disana waktu itu," ucap Ana lirih.


Entah bagaimana melukiskannya. Saat itu Ana tidak mengetahuinya. Tapi sekarang ketika dia sudah tahu, rasanya sungguh sulit untuk dipercaya.


Sulit untuk membayangkan sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh kita, tapi ternyata selama ini sebenarnya tidak pernah jauh dari kita. Ana merasa begitu sangat dicintai oleh Marius.


"Bagaimana bisa aku seberuntung itu dicintai oleh pria sepertimu, Marius?," katanya dalam hati.


Dan kemudian, sebuah kecupan mendarat di pipi Marius dengan cepat. Terakhir, Ana menggigit lembut telinga Marius. Meski dalam cahaya yang minim, Ana bisa melihat telinga Marius yang kemerahan saat ini. Dia cekikikan kemudian melihat reaksi Marius itu.


Marius menghentikan langkahnya, menarik napasnya dalam-dalam, dan menahan semua gairahnya yang saat ini sudah seperti gunung berapi yang siap untuk meletus.


"Jangan memancingku, Ana. Aku tahu kamu sudah kelelahan karena di restoran tadi," kata Marius.


Ana menahan rasa geli di perutnya melihat Marius yang seperti itu. Pria yang selalu terlihat tegas dan penuh wibawa, kini terlihat begitu menggemaskan di matanya. Dia semakin ingin terus menggodanya.


Ana kemudian mendekati telinga Marius, dan berbisik, "Ah, sayang sekali. Karena tadi siang sepertinya kita terlalu terburu-buru."


Cukup sudah. Marius sudah cukup menahannya. Bisikan Ana di telinganya seperti aliran angin yang bertiup pelan-pelan di seluruh tubuhnya, mengalir sedikit demi sedikit, tapi cukup kuat mendorong hasratnya yang tertahan dan meminta untuk segera dikeluarkan.


Marius kemudian mengeratkan tangannya yang sedang memegangi kaki Ana. Sedangkan Ana, dia tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya, dia juga ikut mengeratkan pegangannya pada leher Marius.


Setelah mengambil ancang-ancang, Marius kini berlari dengan Ana di punggungnya. Ana sendiri tidak bisa berhenti tertawa dan ikut berlari dalam gendongan Marius.


Dari perjalanannya, Ana belajar sesuatu tentang Marius dan hidupnya. Dan Ana ingin terus begitu selama dia masih bersama dengan Marius. Dia hanya berharap ada banyak hal yang bisa dia ketahui dan akan membuatnya semakin mencintainya.

__ADS_1


"Semoga aku masih punya banyak cukup waktu untuk mendapatkan semua itu."


__ADS_2