
Seperti yang Marius katakan kemarin, tim pengacaranya akhirnya datang ke rumah. Marius juga memanggil Ana untuk ikut mendengarkan apa yang akan disampaikan pengacara itu.
Dari pembicaraan mereka, Ana hanya bisa menyimpulkan bahwa mereka bisa mengatasi masalah ini dengan mudah karena mereka memiliki surat pernyataan yang ditandatangani sendiri oleh Valerie.
"Surat pernyataan?," tanya Ana di sela pembicaraan mereka.
"Untuk melindungi Rain, Adam dulu pernah meminta Valerie menandatangani surat pernyataan bahwa Valerie sendiri yang menyerahkan Rain diasuh oleh Adam dan keluarga Hadinata. Tapi dia tetap diberikan kesempatan untuk bertemu. Hanya saja, dia tidak pernah menggunakan kesempatan itu sama sekali," jawab Marius menjelaskan.
Marius juga memberikan surat pernyataan itu untuk bisa dibaca oleh Ana. Terlihat jelas olehnya, Adam benar-benar memikirkan semuanya agar bisa melindungi Rain dari ibunya sendiri.
Di dalamnya bahkan tertulis pernyataan Valerie yang menyetujui tidak akan pernah membawa keluar Rain dari rumah Hadinata secara paksa, meskipun Valerie masih diperbolehkan untuk datang menemuinya. Adam seperti sudah menduga bahwa kejadian yang dia takutkan suatu saat nanti akan terjadi.
Tapi, yang menjadi pertanyaan dalam pikiran Ana bukanlah siapa yang menang ataupun siapa yang kalah.
"Kalau seandainya Valerie tetap memaksa, itu artinya kita akan melalui proses pengadilan yang cukup panjang. Karena itu dia sudah menyiapkan pengacara. Lalu, bagaimana dengan Rain? Apakah dia harus melalui itu semua?," tanya Ana cemas dalam hatinya.
Marius sepertinya tahu apa yang sedang dipikirkan Ana saat ini. Karena itu ketika mereka semua keluar dari ruang kerjanya, dia menahan Ana tetap di sana. Lalu memeluknya.
"Jangan khawatir. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka akan mengatasinya," kata Marius.
Ana menganggukkan kepalanya. "Aku hanya bisa berharap, kesedihan Rain tidak terus bertambah karena ini."
Marius semakin mengeratkan pelukannya. "Ehm ... kita semua juga berharap begitu," katanya seraya menciumi rambut Ana.
Surat peringatan yang dimaksud Valerie benar-benar datang dan sudah diterima oleh Marius. Tapi menurut tim pengacara Marius, surat itu hanya untuk memberitahu Marius sebagai wali Rain bahwa Valerie akan mengambil hak asuh Rain melalui pengadilan. Dan jika berkasnya sudah diterima oleh pengadilan, mereka yakin selanjutnya Valerie akan mengajukan permintaan pada pengadilan untuk membawa Rain.
__ADS_1
Untuk mempermudah pengajuan mereka, beberapa hari terakhir ini semenjak surat peringatan itu dikirimkan, Valerie selalu datang untuk menemui Rain. Dan dia selalu membawa sesuatu, entah itu boneka, pakaian, ataupun coklat.
Sayangnya, Rain tidak mau menemuinya sama sekali. Bahkan hadiah dari Valerie juga tidak mau dilihatnya. Rain sepertinya masih belum bisa menerima kehadiran Valerie. Meski demikian, Valerie tidak menyerah, dia tetap datang bersama pengacaranya, setiap hari.
"Rain, ada Mama Valerie disini mau ketemu," bujuk Ana pada Rain yang ada di gendongannya. Tapi, Rain selalu memeluk Ana tanpa mau melihat Valerie. Bahkan ketika Valerie mencoba melihat wajah Rain, gadis kecil itu langsung menyembunyikan wajahnya.
"Mama bawain coklat kesukaan Rain. Coba lihat sini," bujuk Valerie.
Rain tidak bergeming dan tetap memeluk Ana.
"Ya kalau seperti ini, bagaimana Valerie bisa ada kesempatan untuk bertemu putrinya sendiri. Seharusnya kalian usahakan lah dekatkan Rain dan Valerie," kata pengacara Valerie.
"Seperti yang sudah dilihat sendiri ya. Pihak kita sudah berkali-kali memfasilitasi pertemuan mereka. Kali ini bahkan Rain digendong supaya mau ketemu mamanya. Tapi memang anaknya sendiri tidak mau. Itu kemauan anaknya," bantah salah satu pengacara Marius.
"Aku akan membawanya masuk ke kamar," kata Ana.
"Ya tidak bisa begitu donk. Disini masih ada mamanya, belum pulang lho. Kok dibawa masuk. Terus bagaimana mereka bisa dekat," cegah pengacara Rain.
Ana mendadak menjadi kesal. "Dengar, Tuan pengacara. Kalau kalian ingin membela klien kalian untuk mendapatkan keadilan tentang Rain. Seharusnya kalian tidak berdebat di depannya. Apa kalian sudah memikirkan dampak psikologis yang akan diterimanya setelah ini?"
"Dia masih 4 tahun. Memaksakan semua padanya dalam waktu sesingkat ini. Bahkan jika ini terjadi pada kalian pun, saya yakin kalian tidak akan sanggup."
Ana langsung berbalik membawa Rain ke kamarnya tanpa mengatakan apapun lagi. Valerie yang maju ingin menyusul Ana malah dihalangi oleh dua orang pengawal yang sudah berjaga di sana sedari tadi.
"Dengar, Rain. Mama melakukan ini agar Rain bahagia. Mama orang tua kandungmu, tapi mereka bukan. Suatu saat nanti mereka pasti akan membuangmu jika mereka sudah bosan," teriak Valerie.
__ADS_1
"Valerie!!"
"Val!!"
Ana dan Marius berteriak memanggil nama Valerie hampir bersamaan. Ana terkejut melihat Marius yang baru saja datang dari bawah bersama Lucas. Baik Ana dan Marius, mereka sama-sama marah pada apa yang dikatakan Valerie.
"Jangan dengarkan semua itu, Rain," bisik Ana pada Rain.
Melihat Marius yang sudah datang, Ana tidak mau menunda lagi waktu berlama-lama berada di sana. Dia yakin sesaat lagi, pertengkaran antara Marius dan Valerie akan semakin memanas. Dia segera membawa Rain ke kamarnya.
"Dengar, Rain. Semua yang dikatakan Mama Valerie itu salah. Tidak ada yang namanya bosan. Daddy dan Mommy akan selalu menyayangi Rain. Karena Rain adalah anak Daddy dan Mommy juga."
Ana menyentuh kedua sisi wajah Rain. Gadis kecil itu mulai menangis sejak mereka masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak tahu, apakah Rain menangis setelah mendengar ucapan Valerie, atau karena dia ketakutan dengan semua kemarahan yang dia rasakan di luar tadi.
Rain kembali menangis sesenggukan seperti pada saat malam itu. Rasanya pasti sangat menyakitkan bagi Rain, pikir Ana.
"Rain ... hanya sayang ... daddy dan mommy," kata Rain dalam isakan tangisnya.
"Mommy dan Daddy juga sangat menyayangi Rain," kata Ana. Dia langsung memeluk Rain. Keduanya, saling menumpahkan air mata dalam pelukan mereka.
Ana seperti bisa merasakan rasa sakit yang dirasakan Rain saat ini. Dadanya terasa sesak melihat bagaimana anak itu harus melewati ini semua.
Jika seandainya Valerie bisa sedikit bersabar. "Jika saja ...," tangis Ana dalam hatinya. Perih rasanya bagi Ana mengingat kembali semua ucapan Valerie pada Rain.
Marius yang datang setelahnya, kemudian ikut bergabung bersama mereka. Dia peluk Ana dan juga Rain yang masih terus menangis. Dia ciumi mereka satu persatu sambil terus berharap dia bisa mengurangi semua rasa sakit itu.
__ADS_1