Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 38


__ADS_3

Ana memandangi Marius yang sedang berdiri di sampingnya dengan tatapan heran. Dia memandanginya karena Marius mengenakan pakaian yang berbeda dari biasanya saat ini.


Bukan kemeja dengan dasi dan jasnya yang biasanya dia pakai jika akan bekerja. Bukan juga kaos slim fit V neck dengan celana panjang yang biasanya dia pakai saat santai di rumah.


Hari ini dia mengenakan kaos polo putih dengan blazer hitam yang dengan lengan ditarik di atas siku dan dipadukan dengan celana hitam dan sepatu kets putih.


Tanpa mempedulikan Ana yang sedari tadi melihatnya dari samping kirinya, dia berdiri dari atas teras rumahnya sambil mengenakan kacamata hitamnya. Lengan kanannya sedang menggantung sebuah ransel kecil hitam yang entah apa isinya.


Salah satu mobil Marius yang biasanya terparkir di garasi yang ada di bawah rumahnya, Lamborghini Urus berwarna merah tiba-tiba datang dan langsung terparkir di carport yang ada di depan mereka.


Ana masih terus memperhatikan Marius tanpa mengatakan apapun. Kini Marius menuruni tangga untuk menghampiri mobil itu, lalu dia masuk dan meletakkan ransel miliknya.


"Kamu akan berdiri disana seharian?," tanya Marius dengan lengan yang menyandar pada pintu mobilnya.


Butuh 5 detik bagi Ana untuk bisa merespon pertanyaan Marius, itupun dia masih belum memahami sepenuhnya maksud Marius.


"Kamu ngapain?," teriak Ana dari tempatnya berdiri.


"Kamu mau pergi kan? Aku antar kamu," teriak Marius juga.


Ana semakin tidak memahami maksud Marius. Dia berlari menuruni tangga menghampiri Marius. Cahaya matahari yang cukup menyilaukan di belakang Marius menyebabkan Ana masih harus menutupinya dengan telapak tangannya.


"Memangnya kamu tahu aku mau kemana?," tanya Ana.


Marius terdiam. Dia melepaskan kacamatanya dan memasangkannya ke Ana. "Tidak. Jadi kamu katakan saja, kamu mau kemana hari ini, aku antarkan."


"Tempatnya jauh."


"Iya. Kan kamu bilang di luar kota."


"Ya, kalau begitu kamu tidak perlu mengantarkanku. Ini cuma acara keluarga tahunan kok."


Marius mengambil tas ransel yang Ana pegang. "Masuklah. Aku akan mengantarkanmu."


"Tapi tempat tujuanku banyak," kata Ana lagi.


Marius yang sudah masuk ke dalam mobil setelah tadi meletakkan ransel Ana, mengeluarkan kepalanya melalui jendela mobilnya. "Ayo masuk, keburu siang." Lalu kembali memasukkannya lagi.


"Terus Rain gimana?"


Lagi, Marius mengeluarkan kepalanya. "Ada Lucas, Tian, dan para pelayan. Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja."


Ana sudah kehabisan alasan lagi yang bisa dia berikan pada Marius. Pilihannya sekarang cuma satu, naik ke mobil bersama Marius. Bahkan hingga dia masuk ke dalam mobilnya, Ana masih belum memahami ada apa dengan Marius hari ini.


Marius sudah menggantung kacamata hitamnya di kaos polonya. Ana mengembalikan kacamatanya itu begitu dia sudah duduk di dalamnya.


Marius mengamati raut wajah Ana yang masih kebingungan memikirkan keanehan hari ini. Padahal dirinya sedang menunggu Ana mengatakan padanya kemana mereka akan pergi.


"Jadi, tujuan pertama kita?," tanya Marius.

__ADS_1


"Hah? Oh ... toko kue di jalan Melati," jawab Ana.


Marius memandangi Ana lagi, menghela napas panjangnya melihat Ana yang slow loading hari ini. Dia menyampingkan tubuhnya melewati Ana untuk meraih sabuk pengaman yang ada di samping kursi duduk Ana dan memasangkannya.


Ana seketika tersipu dengan gerakan Marius yang tiba-tiba itu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela untuk menyembunyikannya.


Perjalanan hari ini sebenarnya adalah perjalanan Ana yang biasa dia lakukan setiap tahun. Karena besok adalah hari kematian mamanya. Dan setiap tahun, dia akan kesana untuk mengunjunginya.


Mamanya Ana sangat menyukai pantai. Karena itu, jenazahnya dikremasikan, lalu abunya dilepas di pantai dekat dengan villa milik papanya. Sedangkan di belakang villanya yang menghadap pantai itu, papanya meletakkan sebuah nisan kecil berbentuk persegi yang terukir nama dan juga foto mamanya.


Jadi setiap tahun, Ana akan pergi kesana sehari sebelumnya, lalu menginap di villa itu. Keesokkan harinya, Ana akan melakukan penghormatannya di batu nisan itu, dan terakhir jalan-jalan di pantai sebelum akhirnya kembali pulang.


Setiap tahun, dia selalu pergi bersama papanya. Tapi karena papanya sekarang entah kemana dan Ana juga tidak bisa menghubunginya, jadi Ana berpikir dia terpaksa akan pergi sendiri tahun ini.


Ana hanya mengatakan pada Marius bahwa dia akan menghadiri suatu acara di luar kota hari ini. Dan dia tidak menyangka, Marius tiba-tiba berinisiatif mengantarkannya tanpa tahu kemana tujuannya. Ana tidak tahu alasan Marius melakukan ini? Padahal dia tidak perlu melakukannya.


"Kamu akan memandangiku terus sepanjang perjalanan?," tanya Marius.


"Memangnya pekerjaan kamu gimana?"


"Ada Lucas."


"Apa Lucas bisa mengatasinya? Perasaan semua pekerjaanmu kamu serahkan ke dia."


"Kata siapa? Dia tidak bisa mengesahkan dokumen perusahaan tanpa tanda tanganku."


"Jadi pekerjaanmu cuma tanda tangan saja?"


Marius selalu menjawab pertanyaan Ana dengan santainya. Sedangkan Ana sudah mulai kesal karena dia merasa Marius tidak benar-benar serius menjawab pertanyaannya. Marius selalu bisa memutar-mutarkan jawaban yang ditanyakan Ana. Ini juga yang terjadi saat Ana pertama kali bertemu dengannya.


"Daripada kamu bengong. Lebih baik kamu kasih tahu kita mau kemana lagi sekarang."


Ana memutar tubuhnya untuk melihat barang apa saja yang sudah dia beli hari ini. Ada kue, bunga, makanan kesukaan mamanya dan juga papanya. Ana tidak tahu apakah papanya akan datang atau tidak. Dia terbiasa melakukan ini, karena itu tetap saja dia belikan untuk papanya.


"Semua sudah kubeli. Langsung saja ke tempat yang tadi aku berikan map location nya," jawab Ana.


"Oke." Dan mobilnya pun meluncur ke tempat yang Ana tuju.


Perjalanan ke villa memakan waktu kurang lebih empat jam. Molor satu jam karena Ana minta untuk berhenti untuk makan mie ayam kesukaannya di tempat biasanya dia makan saat perjalanan ke villa. Mereka tiba di villa jam setengah lima sore.


Marius tersenyum memandangi Ana yang sedang tertidur dengan blazer miliknya menyelimuti tubuh Ana. Marius sempatkan untuk berhenti di tengah jalan tadi untuk meletakkannya saat dia melihat Ana sudah tertidur. Perlahan dia turunkan kursi mobilnya ke belakang agar tidak membangunkannya. Agar Ana bisa dengan nyaman tidur selama perjalanan.


Mampir ke beberapa tempat ditambah perjalanan yang panjang, tentu saja gadis itu pasti kelelahan.


Melihat Ana masih tertidur, Marius turun dari mobil dan membawa beberapa barang yang ada di kursi belakang masuk ke dalam villa. Dia lakukan secara perlahan, agar Ana tidak terkejut saat bangun.


Beberapa saat kemudian, Ana mungkin menyadari bahwa mobil Marius terhenti, karena sekarang secara perlahan Ana membuka kedua matanya.


"Udah nyampe, ya?," tanya Ana yang menyipitkan matanya melihat villa yang ada di depannya saat ini. Dilihatnya kursi supir yang kosong yang mana Ana tidak tahu kemana Marius. Tapi, saat dia melihat Marius keluar dari villa, Ana segera turun dari mobil.

__ADS_1


Saat Ana turun, seorang wanita setengah baya berperawakan agak kecil menghampirinya.


"Non Ana, sudah datang?," tanya wanita itu. Ana tersenyum melihat kehadirannya yang langsung Ana peluk hangat tubuhnya.


"Bu Ayu sehat?," tanya Ana.


"Sehat, sehat. Non Ana sehat juga, kan?," tanya Bu Ayu balik.


"Iya, Bu," jawab Ana dengan senyuman.


Bu Ayu adalah warga desa setempat yang disewa papanya Ana untuk merawat villa ini. Pada hari-hari tertentu, dia dan suaminya akan datang untuk bersih-bersih. Terutama di saat-saat seperti ini, dia pasti akan datang untuk bantu-bantu seperti memasak atau membantu menyiapkan keperluan untuk nyekar.


"Naomi sudah datang, ya Bu?," tanya Ana yang melihat mobil Naomi di samping mobil milik Marius. Naomi memang selalu ikut datang setiap tahun saat Ana melakukan ini.


"Iya, sudah dari tadi," jawab Bu Ayu. "Lagi ngobrol sama Bapak."


"Bapak?," tanya Ana heran.


"Maksud Ibu, bapak Agus, suami Ibu."


Selesai berbicara dengan Bu Ayu, dengan segera Ana masuk ke dalam villa mencari Naomi.


"Nao ... Nao ...," panggil Ana melihat sekeliling ruangan tapi dia tidak menemukan Naomi.


Ana mengira Naomi mungkin ada di belakang menikmati keindahan matahari tenggelam. Segera Ana berlari ke belakang, dan ternyata memang benar.


"Nao ..."


Ana memanggil Naomi yang sedang berdiri bersama dengan seorang pria setengah baya. Meski tidak melihat wajahnya dan hanya melihat siluet tubuh bagian belakangnya, bentuk tubuh pria itu mengingatkannya pada papanya.


Panggilan Ana membuat Naomi dan pria itu berbalik menghadap Ana.


"Halo, Ana sayang ...," kata pria itu.


Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Ana berteriak.


"Papa?!?"


......................


Marius yang sedang membawa buket bunga dan juga kue yang tadi dibeli Ana bertemu dengan Bu Ayu di dalam villa. Dia meletakkan barang bawaannya di atas meja yang ada di ruang tamu.


"Sudah datang, ya? Saya bantu bawa, ya," kata Bu Ayu.


"Tidak perlu, Bu. Biar saya saja," jawab Marius dengan senyumnya yang menawan itu.


Marius akan kembali membawa sisa-sisa barang yang masih tertinggal lalu dia teringat sesuatu.


"Bu, nanti saya minta tolong, jangan bilang apa-apa kalau ibu kenal saya, ya. Jangan bilang juga kalau Om Doni ada disini."

__ADS_1


"Oh, iya ...," jawab Bu Ayu heran. "Maaf, kenapa ya?," lanjutnya lagi.


"Tidak apa-apa. Hanya kejutan," jawab Marius lagi.


__ADS_2