Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 71


__ADS_3

Ana merasakan sesuatu yang berat, lembab, dan terasa panas pada kedua matanya. Air mata yang seharusnya keluar malah tertahan di dalam, mungkin itu yang menyebabkan kedua matanya kini terasa membengkak.


Dia buka perlahan kedua matanya itu. Lalu, dia mencoba untuk duduk di atas tempat tidurnya. Dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelum dirinya tidur tadi.


"Rain ...," panggilnya lirih.


Air matanya kembali mengalir turun dari kedua mata bengkaknya itu. Kini, dia semakin tidak dapat menghentikan air matanya berhenti mengalir.


"Kamu sudah sadar?," tanya Marius. Saat Ana menoleh ke arahnya, dia melihat Marius baru saja memasuki kamarnya sambil membawa senampan makanan. Mungkin itu untuknya.


"Marius ... Bagaimana Rain? Apa yang terjadi pada Rain?," tanya Ana tanpa memberikan jeda di tiap pertanyaannya.


Marius meletakkan nampan makanan di atas nakas dekat tempat tidur Ana. Tangan kanannya meraih wajah sembab Ana dan menghapus air mata yang jatuh dengan ibu jari miliknya, sedangkan tangan kirinya menggenggam lembut jemari tangan Ana.


"Ana ... tenanglah dulu," bujuk Marius dengan lembut. "Kamu makan dulu ya. Kita akan bicara setelah kamu memakan sesuatu."


Ana menggelengkan kepalanya. "Kamu dengar sendiri kan kemarin? Rain bahkan begitu takut membayangkan Valerie akan membawanya. Tapi mengapa ... mengapa sekarang ...? Rain tidak mungkin berubah pikiran secepat itu, Marius. Aku tahu dia ...."


"Aku juga mendengarnya. Aku juga sama tidak tahunya denganmu, Ana."


Sekali lagi, Marius menghapus air mata Ana. "Aku sudah memerintahkan David untuk memeriksa semua CCTV. David bahkan juga memeriksa semua pengawal, begitu juga dengan Tian. Tapi, tidak ada apapun. Mereka semua bersih."


"Apakah kamu mencurigai Nora melakukan sesuatu, sehingga kamu memeriksa semuanya?," tanya Ana.


"Pengacara yang dibawa Valerie adalah pengacara ARK. Nora pasti terlibat."


"Tapi Rain ..."


"Oke, sudah cukup. Kamu makan dulu. Kita akan memikirkannya nanti setelah kamu makan. Dokter memberikan obat. Kamu masih harus meminumnya setelah makan."


Marius mengambil nampan makanan lalu meletakkannya di atas tempat tidur. Dia menyuapi Ana, dan Ana tidak menolaknya. Marius menghela napas lega. "Setidaknya, dia masih mau makan," pikirnya.


"Karena itu dia terlihat begitu bingung tadi. Aku tidak bisa memahami apa yang sedang dipikirkannya tadi saat melihat raut wajahnya itu. Sekarang ... aku, aku bisa memahaminya ... Tapi, untuk apa ..."


Marius sekali lagi menghapus bulir air mata Ana yang kembali turun. Dia menuntun wajah Ana agar sepenuhnya memandanginya.


"Kita akan membawanya pulang kembali ke sini. Percayalah ...," kata Marius.


Setelah Marius memberinya obat penenang yang diberikan oleh dokter, Ana akhirnya tertidur kembali. Marius masih bersama Ana untuk beberapa saat. Dia masih terus memandangi wajah Ana saat gadis itu tertidur.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, Marius keluar dari kamar Ana, setelah dia mencium kening Ana. Dia berharap, perasaan Ana akan menjadi lebih baik besok pagi.


......................


Pagi hari ini terasa begitu getir bagi Ana. Terutama saat dia mengingat bahwa ini adalah hari pertama Rain tidur di tempat asing yang tidak dikenalinya.


"Entah bagaimana paginya hari ini?," pikir Ana sambil memandangi pemandangan halaman belakang rumah Marius dari jendela kamarnya.


Lamunan Ana membuatnya tidak menyadari kedatangan Marius. Dia masih menikmati pemandangan itu, saat Marius duduk di sampingnya. Ana langsung menatapnya begitu dia menyadarinya.


"Bagaimana perasaanmu? Apa kamu butuh sesuatu?," tanya Marius.


Ana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa," katanya seraya menunjukkan senyum di wajahnya untuk mengurangi rasa khawatir Marius padanya.


"Kamu yakin kamu tidak apa-apa?," tanya Marius yang dijawab Ana dengan anggukan kepalanya.


"Pergilah mandi lalu sarapan. Aku sudah memerintahkan Tian untuk menyiapkan sarapan untukmu. Mereka akan membawakannya untukmu sebentar lagi," kata Marius.


"Kamu tidak sarapan?"


"Aku akan sarapan di kantor. Aku harus ke kantor hari ini," kata Marius.


"Jangan khawatir tentang Rain. Mereka hampir menemukan jalan keluarnya. Bersabarlah sebentar, ya," kata Marius. Wajahnya masih menggambarkan rasa khawatirnya.


"Aku nggak apa-apa. Jangan khawatir. Pergilah," kata Ana yang juga melihat kekhawatiran itu di wajah Marius.


Ana menyandarkan tangannya pada wajah Marius. Dilihatnya baik-baik wajah pria itu. Lalu kemudian, Ana mengecup pipinya.


Marius pergi tak lama kemudian setelah dia berpamitan dengan Ana. Sedangkan Ana, seperti yang Marius minta. Dia bersiap untuk sarapan.


Selesai sarapan, Ana mendatangi kamar Rain. Dia ingin melihat-lihat kamar Rain saat pemiliknya tidak ada di rumah. Dengan demikian, dia berpikir mungkin bisa mengobati rasa rindunya.


Pelan-pelan dia perhatikan satu-persatu barang-barang milik Rain. Mainan, alat tulis, buku gambar, bahkan pakaiannya.


Dia memeluk pakaian milik Rain, menciumi baunya seakan-akan merasakan Rain sedang memeluknya. Lalu menangisi kembali saat dia mengingat apa yang terjadi kemarin.


Setelah meletakkan pakaian Rain, dia melihat ipad milik Rain di dalam rak buku yang menyimpan buku-buku dongeng kesukaan Rain.


Ana pernah meminta Marius sebuah ipad untuk Rain. Dia mendownload beberapa game, video, dan lagu-lagu kesukaan Rain di dalamnya. Kadang Rain akan memainkannya saat dia bosan bermain di luar atau menggambar.

__ADS_1


Ana tahu di dalamnya ada beberapa gambar Rain. Karena gadis kecil itu suka sekali mengambil gambar dan video dengan ipad miliknya itu. Karena itu, Ana ingin melihat-lihat kembali gambar-gambar itu.


Tapi ... "Ada yang aneh dengan ipad ini ...," pikir Ana setelah dia membukanya dan melihat isi di dalamnya.


Ana tahu benar aplikasi apa saja yang ada di dalamnya, karena dia sendiri yang memilih dan menyimpannya di dalam. Tapi, mengapa rasanya ada aplikasi yang tidak semestinya ada di dalam? Beberapa aplikasi juga sepertinya hilang.


Sudah jelas, Rain tidak mungkin bisa menghapus atau menambahkan aplikasi di dalamnya. Karena Ana memasang password dan menyembunyikan aplikasi pengunduhnya agar tidak terlihat oleh Rain.


Ana juga yang setiap kali Rain menggunakan ini, dia akan selalu berada di sampingnya menemaninya bermain. Jadi, dia tahu dengan jelas, bagaimana Rain saat memainkannya.


Ana berpikir untuk mengecek video yang disimpan di dalam folder penyimpanan. Ternyata kosong ...


Tapi, folder itu hanya menyimpan sebuah video. Terlihat keterangan video yang ada di sampingnya, durasinya hanyalah 30 detik. Ana menekan tombol play untuk memainkannya.


Video itu memperlihatkan beberapa potongan adegan dari judul animasi yang berbeda. Tidak ada yang dirubah dari adegan-adegan itu. Mereka hanya dipotong di bagian tertentu seperti ingin menunjukkan sesuatu.


Kemudian, potongan gambarnya kini disertai sebuah dialog. Masih sama, suara yang dipakai adalah potongan suara dari karakter animasi anak-anak yang membentuk sebuah kalimat yang sangat jelas maknanya.


"Follow me ... or ... I hurt ... your ... daddy and mommy ... Lalala ..."


Ana menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menutupi keterkejutannya. Ana tidak percaya video ini ada di dalam ipad itu. Dia yakin Rain pasti menontonnya. Karena itu dia ketakutan, akhirnya turun ke bawah dan melihat pertengkaran itu.


"Nora ... hanya Nora yang bisa memikirkan hal seperti ini ...," kata Ana.


Napasnya terus memburu. Antara rasa kaget dan juga emosi karena memikirkan Nora yang dipastikan adalah pelakunya, jantung Ana terus bekerja keras hingga dia tidak dapat mengontrol napasnya itu.


"Aku harus mengatakan ini pada Marius," kata Ana.


Tapi, sedetik kemudian ...


"Tidak ... tidak ... Marius sudah punya banyak hal yang harus dilakukannya. Aku tidak bisa mengganggunya terus."


Ana tidak punya pilihan lain selain menemui sendiri Nora. Dia ingin bertanya langsung pada wanita jahat itu.


Ana segera menuju kamarnya untuk mengambil tas dan juga ponsel miliknya. Dengan membawa ipad itu, dia segera turun dan bergegas pergi.


"Maaf, Nona Ana. Tapi, Tuan Marius melarang saya membiarkan Nona meninggalkan rumah sendirian," kata David mencegah Ana yang akan melangkah keluar dari gerbang rumah Marius.


Ana memandangi David dengan tatapan penuh kecemasan.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa pergi jika David menghalangiku? Jika Marius tahu, dia pasti akan melarangku pergi."


__ADS_2