Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 8


__ADS_3

Ana terbangun dari mimpi buruknya dengan perasaan yang sudah lama tidak pernah dia rasakan. Mimpi itu mengingatkannya kembali pada kejadian yang pernah dialaminya saat dia kecil dulu.


Ana tidak mengingat seluruh kejadiannya. Yang diingatnya hanyalah rasa takutnya yang sangat besar saat melihat seekor ular yang sedang berdiri dan menatapnya.


"Ular!"


Ana berteriak di dalam kepalanya. Dia teringat sesuatu sebelum dia tertidur dan mengalami mimpi buruk itu. Dengan cepat dia terbangun dari tempat tidurnya hanya untuk melempar selimutnya ke bawah. Tidak ada apapun disana.


Ana tiba-tiba menjadi lemas. Rasa takutnya membuat udara di sekitarnya terasa sangat dingin. Ana terus memeluk tubuhnya sendiri. Matanya terus memandangi sekelilingnya. Bagaimana jika ular itu datang lagi?, pikirnya.


Perlahan-lahan, Ana mendengar seseorang memanggil namanya. Awalnya terdengar sayup-sayup, tapi lama-kelamaan, suara itu terdengar menggelegar di telinganya.


"Ana!"


Mata Ana masih mengeluarkan air mata, sisa-sisa rasa takutnya dari apa yang baru saja dialaminya. Dia paksakan untuk melihat sesosok tinggi besar yang ada di hadapannya. "Marius ...," panggilnya lirih.


Saat Ana kembali pada kesadarannya, dia dapat merasakan kedua tangan Marius menggenggam erat kedua sisi bahunya.


"Ana ... kumohon, katakanlah sesuatu," pinta Marius sembari memegangi wajah Ana.


Ana mendengar permintaan Marius yang memelas itu. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi apa? Di kepalanya hanya ada kata ular, hewan yang paling dia benci, hewan yang terus menghantuinya.


Dengan air mata yang terus keluar dari kedua matanya, Ana menatap Marius dan berucap lirih, "Ular ...."


"Ular? Tidak ada ular, Ana."

__ADS_1


Ana hanya bisa menangis sebelum akhirnya dia pingsan lagi karena rasa sakit yang masih menyerang kepalanya.


......................


Beruntung, Marius cepat menangkap Ana sebelum dia terjatuh ke lantai. Dengan penuh kecemasan, dilihatnya gadis malang itu yang saat ini ada di pelukannya. Dengan tangannya yang lain, dihapusnya air mata Ana yang membasahi wajahnya. Kemudian dia menggendong Ana kembali ke tempat tidurnya.


"Apakah ada cara untuk menenangkannya?," tanya Marius pada dokter yang sedari tadi berada disana.


"Melihat dari situasinya, saya hanya bisa menyuntikkan obat penenang padanya. Besok pagi ....," jawab dokter itu.


"Lakukan."


Marius tidak butuh dokter itu melanjutkan kalimatnya. Baginya yang terpenting saat ini adalah Ana bisa membaik. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat melihat Ana histeris seperti tadi. Jika dokter itu punya solusi untuk bisa membuat Ana menjadi lebih baik, maka segera lakukanlah.


Marius terus menatap Ana yang terbaring di atas tempat tidurnya. Dia masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Lucas yang menyusul Marius segera menelpon dokter keluarga. Dia tidak hanya sibuk memanggil Eli dan juga pelayan, tapi juga harus menenangkan Rain yang masih menangis. Sedangkan Marius tetap di samping Ana, memegangi tangan Ana yang sesekali gemetar hebat, hingga dokter tiba.


"Bagaimana keadaannya?," tanya Lucas setelah dia mengantarkan dokter ke pintu depan.


"Tangannya sudah tidak gemetaran lagi," jawab Marius sambil tetap memegangi tangan Ana. "Dia terlihat jauh lebih tenang daripada tadi."


Marius terus memikirkan apa yang menyebabkan Ana bereaksi seperti ini. Dokter mengatakan ini adalah reaksi ketakutan yang berlebihan. Sedangkan yang Marius tahu, Ana hanya memiliki gangguan Ophidiophobia. Setiap dia melihat ular, Ana akan bereaksi seperti itu. Tapi, dimana dia melihatnya?


Saat Marius menemukannya tadi, Ana hanya terbaring sendirian. Tidak ada apapun di sekitarnya, kecuali ponsel dan sebuah handuk. Tidak ada ular dimanapun. Jika memang ada, bukankah seharusnya ular itu akan bergerak mencari jalan keluar?

__ADS_1


Marius juga ragu jika Ana hanya salah mengenali ular dengan sesuatu yang panjang dan mirip dengan bentuk ular. Lalu, apa yang sebenarnya dilihat Ana?


"Anggap saja ular itu memang benar ada, dan Ana benar-benar melihatnya. Kemungkinan satu-satunya sekarang adalah seseorang masuk ke kamar Ana sebelum kita datang, dan membawa ular itu pergi," kata Lucas saat dia dan Marius turun ke dapur untuk membahas masalah ini.


Tapi untuk apa?, pikir Marius. Mengapa seseorang harus repot melakukan itu?


"Apakah ini salah satu teror mereka?," tanya Lucas lagi.


"Jika mereka tahu kelemahan Ana, itu artinya mereka sudah mendapatkan informasi tentang Ana," jawab Marius.


"Sayangnya, informasi itu akan menyulitkan Ana."


Lucas benar. Dan ini akan semakin membahayakannya, pikir Marius.


"Aku akan menghubungi seseorang untuk mengecek rekaman CCTV yang ada di atas kamar Rain. Mungkin terlalu jauh, tapi siapa tau ada petunjuk," lanjut Lucas yang dijawab Marius dengan anggukan.


"Bagaimana Rain? Apa dia baik-baik saja?," tanya Marius.


"Jangan khawatir. Dia hanya mengkhawatirkan Ana. Dia sudah tertidur dari tadi," jawab Lucas sambil memegangi pundak Marius seakan sedang memberinya kekuatan. Dia tahu Marius butuh itu saat ini.


Marius kembali menenggelamkan pikirannya pada kondisi Ana saat ini saat Lucas sudah pergi. Perasaan bersalahnya terus muncul. Dia tahu rencananya ini hanya akan membahayakannya, tapi tetap saja dia lakukan. Jika sudah begini, apa yang bisa dia lakukan?


Marius tiba-tiba teringat, ada seseorang yang harus dia kabari. Segera dia mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi orang itu.


"Terjadi sesuatu dengan Ana ... Tidak, dia sekarang tidak apa-apa ... Dokter bilang dia akan baik-baik saja ... Baiklah. Sampai nanti."

__ADS_1


Kalimat terakhir mengakhiri pembicaraannya dengan orang itu di telepon. Dan Marius kembali sendirian, tenggelam dengan pikirannya sendiri.


__ADS_2