Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 83


__ADS_3

(Satu jam sebelumnya)


Tok, tok ...


Pintu ruang gantinya tiba-tiba diketok oleh seseorang, membuat Marius tersadar dari lamunannya. Pria itu sedari tadi berdiri memandangi pemandangan laut dari jendela ruangan itu dengan pikiran yang sudah melayang kemana-mana.


Hari ini adalah hari dimana semuanya akan diselesaikan. Kekhawatirannya sangat besar, terutama jika semua rencananya hari ini sampai gagal. Dia tidak hanya membawa kehancuran bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi Ana.


"Apakah dia sudah berangkat?," tanya Marius pada Lucas yang baru saja masuk ke ruangan itu.


"Sudah. Dari tadi. Apa kamu tahu? Mereka bilang, dia sangat cantik dengan gaunnya. Rain juga mengenakan gaun yang sama. Ana sepertinya sengaja melakukan itu."


Marius hanya tersenyum bangga mendengar Lucas mengatakannya. Dari awal, dia tahu Ana pasti akan memilih gaun itu. Tapi, dia tidak menyangka bahwa Ana akan berani mengenakan gaun yang sama dengan Rain di hari pernikahannya dengan orang lain. Marius bisa merasakan Ana sedang marah padanya.


Dia kembali menyunggingkan senyumnya itu.


"30 menit lagi Nona Ana akan tiba, Tuan Marius," kata David yang baru saja masuk.


Marius beranjak dari tempatnya berdiri, mengambil jasnya yang tergantung di ujung ruangan, lalu berjalan menghampiri David.


"Pastikan kamu melindunginya dengan baik hari ini, David. Aku tidak akan mentolerir kesalahan apapun," kata Marius tepat di hadapan David.


"Baik, Tuan Marius."


Lalu, Marius berjalan menuju pintu.


"Ayo, kita selesaikan semuanya."


......................


Marius sedang berdiri di depan altar. Dia memandangi Nora yang sedang berdiri di depannya dengan veil pengantin yang menutupi wajahnya. Meski demikian, Marius bisa melihat aura kebahagiaannya.


Marius sangat pandai menyembunyikan perasaan muaknya di balik senyum yang dipasangkan pada wajahnya. Pengalamannya menghadapi orang-orang yang tidak dia sukai, menjadikannya sangat ahli dalam hal ini. Karena itulah Nora bisa dengan mudah percaya saat dia meminta secepatnya menikah.


"Kamu terlihat mempesona hari ini," bisik Nora menggoda Marius.


Sedangkan, Marius hanya tersenyum, lalu berkata dengan nada datarnya, "Kamu juga."

__ADS_1


Lampu blitz kamera terus berkedip mengabadikan momen palsu yang dibuat oleh Marius di depan para anggota dewan komisarisnya. Tidak hanya itu, dia juga mengundang wartawan sesungguhnya dalam rekayasa ini. Valerie setuju begitu saja saat Marius mengatakan dia akan langsung mengadakan rapat dewan komisaris setelah acara selesai.


Seseorang yang akan memimpin upacara pernikahan sudah siap di balik mimbar dan memberikan tanda yang hanya bisa dibaca oleh Marius bahwa semuanya sudah siap. Tentu saja dia mengetahuinya, orang itu adalah pengawalnya yang menyamar.


Sesaat setelah orang itu mulai membacakan doa-doanya, pintu ruangan itu dibuka dengan kasar oleh seseorang.


"Saya menolak pernikahan ini diteruskan."


Teriakan pria yang baru saja masuk itu mengalihkan perhatian orang-orang yang ada di dalamnya. Bisikan-bisikan di antara mereka mulai terdengar.


"Siapa yang mengijinkannya masuk? Dimana para pengawal?"


Teriakan Nora yang menggelegar hingga ke seluruh ruangan. Pengawal Nora yang ada di dalam ruangan sudah bersiap untuk melakukan apa yang akan diperintahkan selanjutnya.


"Sesuai dengan permintaan mendiang Nyonya Agnes de Montaigne, ibu dari Marius Edmond Hadinata dalam surat wasiatnya, saya sebagai pengacara yang ditunjuk secara resmi oleh mendiang berhak menghentikan pernikahan ini."


"Omong kosong macam apa ini?," tanya Nora yang terlihat sangat marah. Dia melihat ke arah Marius seakan-akan sedang bertanya pada pria itu apakah dia tahu tentang ini.


Tapi, Marius menunjukkan sikap ketidaktahuannya. Dia mengangkat kedua bahunya saat Nora menatap padanya.


"Keterlaluan sekali! Datang ke upacara pernikahan orang dan mengacaukannya dengan omong kosong. Apa kamu pikir ini adalah bahan bercanda?," bentak Tuan Barnett.


"Saya punya dokumen resmi yang sudah ditandatangani oleh mendiang dan ditetapkan oleh hukum sebagai keputusan yang harus disetujui oleh ahli waris. Jika kalian menganggap dokumen ini adalah palsu, saya juga memiliki rekaman video yang dibuat sendiri oleh mendiang."


Tepat di saat itu, Lucas yang berada di dekat Marius membisikkan sesuatu ke telinganya.


"Ana sudah di depan."


Marius menyembunyikan rasa bahagianya di balik raut wajahnya yang datar tanpa ekspresi. Dia hanya menganggukkan kepalanya sekali, dan Lucas pun mengerti, bahwa mereka akan melanjutkan rencana mereka selanjutnya.


"Kalau begitu, bacakan isi surat wasiat itu sekarang juga," perintah Marius dengan wibawanya yang tidak juga hilang.


"Untuk itu, ahli waris yang lain harus hadir dalam pembacaan ini, yaitu tunangan Tuan Marius yang sudah ditetapkan oleh mendiang Nyonya Agnes de Montague."


KLAK ...


Begitu bunyi pintu terbuka, para wartawan sudah siap dengan kamera mereka. Mereka menunggu dengan rasa ingin tahu yang sangat besar, siapakah tunangan seorang Marius yang bahkan tidak boleh digantikan oleh siapapun.

__ADS_1


Saat pintu terbuka semakin melebar, para wartawan tidak mau melewatkan kesempatan mereka sedikitpun untuk mendapatkan gambar terbaik mereka. Lampu blitz berkilatan tanpa henti.


Marius memandangi sosok Ana yang sekarang sedang menjadi pusat perhatian banyak orang yang ada di ruangan itu. Benar kata Lucas, Ana terlihat sangat cantik hari ini. Dia tidak tahu apakah itu karena gaun yang dikenakannya, atau karena sudah terlalu lama dia tidak bertemu dengannya, hingga rasa rindunya membuat Ana terlihat mempesona saat ini.


"Tidak. Dia memang cantik sedari dulu. Ana ...," katanya dalam hati.


Panggilan Marius seakan didengar oleh Ana, karena kini Ana sedang memandangi dirinya.


BAM !


Saat pintu ruangan tertutup kembali, suara jepretan blitz kamera masih terus bersahutan. Ana masih berdiri di sana dengan raut wajah yang masih kebingungan. Marius yakin gadis itu sedang berusaha mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.


"HAHAHA ...."


Nora tiba-tiba saja tertawa. Suara tawanya menghentikan para wartawan menjepret kameranya.


"Ini pasti permainanmu, kan? Kamu sengaja melakukan ini untuk membatalkan pernikahan ini. Benar, kan?" Kedua mata Nora terus mendelik saat berbicara dengan Marius menandakan betapa marahnya dia. Tapi puncak dari semua itu adalah saat dia berteriak lebih keras lagi.


"Seharusnya aku tahu SAAT KAMU MEMINTA UNTUK MENIKAH SECEPATNYA."


Marius tetap diam meski Nora terus memeganginya dan berteriak di depan wajahnya.


"Hahaha ... Aku tidak menyangka kamu bisa memainkan permainan kotor seperti ini, Tuan Marius," kata seorang pria yang duduk di samping Tuan Barnett.


"Mengapa harus gadis ini yang kamu bawa? Kita semua tahu dia hanyalah selingkuhanmu. Kamu bahkan membuang Valerie dan anak kamu sendiri karena gadis ini, dan sekarang kamu akan melakukan hal yang sama pada putri Tuan Barnett? Ini sangat memalukan, Tuan Marius."


Marius tidak mengatakan apapun. Dia tetap tenang di saat pria itu memojokkannya. Kewibawaannya juga tidak hilang dari caranya memandang.


"Tidakkah kamu ingin mendengar wasiat itu, Tuan Hartono dari TMN Corp? Saya juga penasaran apa isi wasiat yang ditinggalkan Agnes untuk putranya, dan saya yakin semua orang yang ada di ruangan ini juga demikian," kata Mr. Wang yang sedari tadi hanya diam menyaksikan pertunjukkan drama yang ada di depannya.


Mereka yang sependapat dengan Mr. Wang mulai berbisik satu dengan yang lainnya. Kepala mereka terus mengangguk setuju dengan ide itu.


"Saya rasa rekaman video sudah cukup kuat agar tidak ada penyangkalan dari semua orang. Bukankah tadi Tuan pengacara mengatakan ada rekaman video yang ditinggalkan Agnes?"


Pengacara itu menganggukkan kepalanya. Lalu menyerahkan sebuah CD kepada seorang pengawal yang diutus oleh Mr. Wang untuk mengambilkan CD itu.


Layar putih sudah diturunkan sedari tadi di sebelah podium tempat Marius dan Nora berdiri. Semua mata tertuju pada layar putih itu, termasuk juga Nora dan ayahnya, Tuan Barnett.

__ADS_1


__ADS_2