Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
Extra Story : Part 5


__ADS_3

Ana tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Selama ini dia tidak pernah menyadarinya bahwa Marius ternyata secemburu itu pada Noel. Jika bukan hari ini, Ana mungkin tidak akan pernah menyadarinya.


Beberapa hari setelah pernikahan rekayasa Marius, Ana bertemu dengan Noel di tempat dokter Aris.


Terapinya dengan dokter Aris sudah mencapai sesi terakhir. Karena masalah yang terjadi akhir-akhir ini, berulang kali Ana terpaksa membatalkan janji temunya dengan dokter Aris. Karena itu, begitu dia memiliki kesempatan lagi, Ana ingin segera menyelesaikannya.


Saat dia sedang menunggu dokter Aris di coffee shop, saat itulah Noel mengajaknya makan malam.


"M-makan malam? Maaf, tapi ..."


Sebelum Ana menyelesaikan kalimatnya, Noel mengatakan, "Apa kamu tahu? Marius mengijinkan aku untuk mengajakmu makan malam."


Kepala Ana serasa ditoyor berkali-kali. Marius mengijinkannya? Tanpa membicarakannya dengannya? Dia pikir dia apa? Agensi kontak jodoh?, pikirnya terus menerus.


Saat Ana bertanya pada pria itu, Marius akhirnya menjelaskannya secara keseluruhan. Lebih lengkap daripada versi yang didengarnya dari Noel.


Seperti yang Marius katakan padanya, Ana bisa saja menolaknya, dan Noel tidak dapat memaksanya lagi. Tapi yang Ana pikirkan lebih dari itu.


Ini sudah bukan lagi mengenai perjanjian antara Marius dan juga Noel. Ana lebih suka menganggapnya sebagai ungkapan terima kasih Ana pada semua yang sudah Noel lakukan untuknya dan juga Rain. Mengingat hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini, Ana rasa dia cukup banyak berhutang budi pada Noel.


Tapi tetap saja, Ana masih kesal dengannya. Karena itulah, dia sengaja melakukan semuanya di depan Marius. Membiarkan Marius mengira bahwa dirinya sangat menantikan acara makan malam itu. Bonusnya, dia dapat melihat sisi lain Marius yang belum pernah dilihatnya.


Mengingat kembali kejadian-kejadian yang pernah terjadi sebelumnya, lalu menghubungkannya dengan hari ini, Ana bisa memahami sikap Marius selama ini jika berada di dekat Noel. Karena itulah dia tidak dapat berhenti tersenyum saat dia berada di dalam mobil.


Ketika dia menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat kembali Marius, pria itu masih berdiri di depan pintu rumahnya, memperhatikannya pergi. Lalu, Ana kembali tersenyum.


Pada akhirnya, Ana menghapus semua make up yang sudah dia pasang sebelumnya. Dia terpaksa melakukannya, karena lipstiknya menjadi berantakan hingga area sekitarnya, karena ulah Marius. Dan Ana terlalu malas untuk memakainya kembali. Jadi, dia berangkat dengan alas bedak seadanya, dan sedikit pelembap bibir.


Tapi, satu hal yang membuatnya heran. Entah apa yang dilakukan Marius saat dia akan melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Begitu dia menyentuh knop pintu kamarnya, Marius menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.


Tak lama setelah itu, sesuatu menyengat terasa menusuk pada bagian tengkuk lehernya. Seketika itu juga, Ana merasa geli dan perasaan aneh yang tidak dapat Ana gambarkan pada sekujur tubuhnya.


Semakin lama, energi Ana seperti habis dikuras. Ana hampir tidak dapat merasakan pijakan kakinya di tanah. Dia seperti dibawa melayang.


Saat Marius melepaskannya, pria itu mengusap tengkuknya. Segera Ana berbalik menghadapnya. Dengan suara yang masih bergetar, tatapan mata yang tidak fokus, dan raut wajah yang kini kemerahan, Ana mendelik padanya.


"A-apa yang k-kamu lakukan?," teriaknya.


Dengan santainya, Marius berkata, " Tidak ada ..."


"B-bohong!"


Marius kemudian memasang raut wajah memelasnya. "Apakah wajahku ini memperlihatkan kebohongan?"


Ana semakin tidak tahan saat Marius memperlihatkan wajahnya itu. Dia menutup kedua matanya, lalu mengatur napasnya perlahan. Saat dia akan mengatakan sesuatu, Ana semakin tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat. Pada akhirnya, Ana membiarkan masalah itu, dan memilih berangkat.


Saat dia memikirkannya kembali ketika di dalam mobil, dia semakin penasaran apa yang sebenarnya dilakukan Marius padanya. Berulang kali dia berusaha melihat dengan bercermin pada kaca jendela mobil. Tapi, dia tidak dapat melihat apapun.


Dia bahkan mengeluarkan cermin dari dalam tasnya, tetap saja, bagaimana seseorang dapat melihat bagian belakang lehernya sendiri?


"Nona Ana baik-baik saja?"


Pengawal wanita yang bersamanya bahkan khawatir melihat Ana bertingkah aneh.


"Tidak. Tidak apa-apa. Hehe ... Aku baik-baik saja," jawab Ana gugup.


"Marius yang membuatku tidak baik-baik saja," pikirnya.


......................


Ana berdiri memandangi bulan purnama yang sedang bertugas menghiasi langit malam itu. Bentuknya yang bulat sempurna dengan cahaya yang menghiasi sekelilingnya menjadikannya begitu indah dipandang, hingga membuatnya betah memandanginya sepanjang malam.

__ADS_1


Ana baru saja selesai makan malam dengan Noel. Karena itu, dia sedang berdiri di depan restoran tempatnya dan Noel baru saja selesai makan malam. Dia hanya sedang menikmati keindahan bulan purnama malam itu sebelum dia kembali pulang.


Hanya makan malam biasa. Selama satu jam itu mereka hanya makan dan mengobrol. Setidaknya begitu yang terjadi hingga semua hidangan disajikan.


#


"Terima kasih kamu sudah mau menerima undangan makan malamku," kata Noel saat mereka selesai makan malam. "Kamu suka dengan makanannya?"


Ana tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya, "Ehm ... semuanya terasa lezat. Aku yang seharusnya berterima kasih karena sudah mengundangku ke tempat ini. Tempatnya juga bagus. Tadi aku lihat ada area bermain untuk anak-anak. Aku rasa aku akan membawa Rain kemari kapan-kapan."


Untuk sesaat Noel terdiam, tapi kemudian dia mengeluarkan tawanya. "Haha ... bahkan saat makan malam kita kamu pasti akan menyebut nama Rain."


"Ah ... maaf ..."


"Jangan minta maaf, Ana. Justru itu yang kusuka darimu."


Ana mendadak menjadi salah tingkah saat Noel menatapnya dengan tatapannya yang tidak biasa. Ana menangkap sedikit rasa penyesalan dalam tatapannya itu.


"Apa kamu masih ingat kapan kita bertemu pertama kali?," tanya Noel.


"Waktu di sekolah?"


Noel menggelengkan kepalanya.


Ana seketika terdiam. Kedua bola matanya bergerak kesana kemari saat kepalanya mencoba mengingat kapan sebenarnya dia pernah bertemu dengan Noel sebelum itu.


"Saat aku mendengar ada seseorang berteriak minta tolong, pada saat itu aku ingin menolongnya. Tapi kemudian, aku melihatmu melemparkan sepatunya pada penculik itu. Bukannya malah menolong, aku malah ikut terpesona dengan keberanianmu. Hahaha ..."


Ana terkesiap. Kedua matanya membulat seakan tidak percaya. Pada saat itu ada Noel disana? Benarkah?


"Setelah selesai berbicara dengan pengawal-pengawal Marius, kamu pergi, lalu berpapasan denganku. Kamu tersenyum padaku. Itulah saat pertama kalinya kita bertemu."


"Bukan salahmu kalau kamu tidak ingat. Aku cuma figuran waktu itu," kata Noel seraya tertawa seakan menertawakan dirinya sendiri.


"Lalu aku melihatmu lagi di sekolah. Aku hampir mengira kita berjodoh karena Tuhan selalu mempertemukan kita. Setelah mengetahui beberapa hal tentangmu, aku jadi semakin tahu bagaimana kamu yang sebenarnya, hingga akhirnya aku semakin menyukaimu."


Ana hampir menahan napasnya. Dia tidak berani mengatakan apapun saat Noel mengatakan itu. Jangankan keberanian, dia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Ah, haha ... jangan khawatir. Aku mengatakannya bukan karena aku menginginkan sesuatu darimu. Tapi karena memang aku ingin mengatakannya. Aku harus melakukannya agar aku bisa menyudahi perasaan ini."


Noel menunjukkan ketulusan dalam setiap kata, raut wajah, dan gestur tubuhnya. Seakan-akan tidak ada beban di sana. Mungkin memang ini cara Noel berdamai dengan dirinya sendiri, tapi Ana menjadi tidak enak dengan Noel.


"Noel ... aku ..."


"Ah, jangan ...," cegah Noel dengan telapak tangannya yang terbuka. "Jangan, Ana. Seperti yang kukatakan tadi. Jangan khawatir."


"Kamu tahu? Sangat sulit meminta Marius untuk menyetujui makan malam ini. Karena itu, ketika kamu mau melakukannya, aku senang sekali. Jadi, jangan benci acara makan malam ini, ya. Kuharap kita bisa melakukannya lagi kapan-kapan, sebagai teman. Oke?"


#


Ana menghela napasnya perlahan ketika dia mengingat semua pembicaraannya dengan Noel tadi. Kembali dia menatap bulan purnama yang masih bersinar dengan cantiknya.


Drrt ...


Ana dikagetkan dengan getaran ponselnya yang dia simpan dalam tasnya. Dia segera mengambil ponselnya itu, lalu tertawa kemudian saat dia melihat nama yang muncul dalam layarnya.


"Lihatlah pria ini. Bahkan belum ada satu jam aku pergi," kata Ana dalam tawanya.


"Aku rasa aku akan pulang terlambat, Marius. Noel masih ingin mengajakku jalan-jalan," kata Ana setelah dia terhubung dengan panggilan teleponnya.


"Benarkah? Lalu, mengapa aku melihat seseorang sedang tertawa sebelum mengangkat teleponnya?"

__ADS_1


"Eh ..."


Ana langsung menolehkan kepalanya ke kanan lalu ke kiri untuk mencari sosok Marius. Dia juga menyipitkan kedua matanya untuk mengurangi cahaya lampu yang mengenai matanya agar dia bisa menyesuaikan pandangannya dalam gelap. Tapi, dimana Marius?


Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan lobi tempatnya berdiri. Ana mengenalinya. Itu salah satu mobil Marius. Mobil yang pernah membawanya pergi ke tempat mamanya.


Saat kaca jendelanya diturunkan, dia melihat Marius sedang melambaikan tangannya. Ana segera berlari menghampirinya.


"Sudah berapa lama kamu disini?," tanya Ana.


Marius tidak menjawab pertanyaan Ana. "Ayo, naik," katanya.


Ana mengulangi kembali pertanyaannya saat dia sudah berada di dalam mobil. Bahkan mobil itu sudah melaju, Marius tetap tidak menjawabnya.


"Jangan bilang sejak aku sampai, kamu sudah di sana," tebak Ana ketimbang tidak ada jawaban yang diterimanya.


Marius menggelengkan kepalanya. "30 menit yang lalu."


"Astaga ..."


"Aku berencana masuk kalau 5 menit lagi kamu tidak keluar," lanjut Marius lagi tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Ana hanya tertawa mendengarnya. Dia sudah tidak tahu harus berkomentar apa.


"Jadi, bagaimana makan malamnya? Apakah menyenangkan?," tanya Marius.


Ana malah bertanya balik. "Hmm ... biasa saja. Hanya makan malam biasa. Kamu ingin seistimewa apa?"


"Nggak perlu istimewa. Biasa saja juga boleh."


Ana kembali tertawa.


"Noel tidak mengatakan apapun?," tanya Marius lagi.


Bilang apa? Dari semua obrolan, Ana hanya ingat kata-kata Noel di akhir makan malam mereka. Tapi, dia tidak mungkin mengatakannya pada Marius, kan? Atau ... haruskah dia mengatakannya?


"Hanya obrolan biasa. Tidak ada .... Tunggu!"


Ana tiba-tiba teringat sesuatu. Dia kemudian memegangi tengkuknya.


"Sebenarnya kamu apain leherku?," kata Ana.


Kali ini sudut bibir Marius terangkat ke atas. "Dia bilang apa?"


"Dia hanya tertawa. Saat aku tanya, dia bilang hanya ada sesuatu di leherku."


Senyum bangga Marius semakin lebar dan melebar.


"Kamu apain, ih!"


Ana mencubit lengan Marius untuk memaksanya berbicara, tapi Marius tetap tidak mau mengatakannya.


"Ah, ah ... Ana, Ana, nyetir ini, Ana. Nyetir."


Marius kemudian menghentikan mobilnya, lalu mengambil ponsel miliknya. Lalu, mengambil gambar dimana dia membuat lukisan indahnya di tubuh Ana, dan memberikannya pada Ana.


Butuh waktu lebih dari 30 detik untuk Ana menyadari apa yang sebenarnya dia lihat. Begitu dia menyadarinya, wajahnya langsung memerah.


"Marius!!!"


Marius sendiri kembali mengendarai mobilnya sambil tertawa sepanjang perjalanannya.

__ADS_1


__ADS_2