
Sejak hari itu, kata-kata yang diucapkan Rain jadi semakin banyak. Setiap pertanyaan yang Ana berikan selalu diberikan jawaban yang cukup panjang. Meski tidak terlalu banyak kalimat, tapi kemajuan ini termasuk menggembirakan bagi Ana.
Hampir setiap hari Ana mengajaknya mengobrol, membuatnya bercerita, atau bahkan membuatnya bernyanyi. Ana melakukan apapun untuk membuat Rain berbicara.
"Jadi, hari ini kita mau ngapain?," tanya Ana di suatu pagi saat Rain sedang libur sekolah.
"Bikin cupcake ...," jawab Rain penuh semangat.
"Yaay ... Rain mau rasa apa?"
"Rain suka coklat. Rain boleh minta rasa cheese?"
"Tentu saja boleh ...," jawab Ana sambil memeluk dan menciuminya.
Baik Ana maupun Rain, mereka sama-sama menikmati waktu kebersamaan mereka. Kediaman Marius yang biasanya sepi dari tawa anak-anak, kini terasa begitu hidup saat Ana dan Rain sedang bersenang-senang.
"Aku nggak pernah melihat rumah seramai ini sejak ... Kak Adam pergi," kata Lucas pada Marius yang sedang melihat Ana dan Rain sedang sibuk memasak di dapur.
Marius tidak memberikan komentar apapun pada pernyataan Lucas. Perhatiannya hanya terfokus pada Ana dan juga Rain yang sedang tertawa karena Ana memberikan krim di hidung Rain. Sesekali dia ikut tertawa kecil saat mendengar tawa mungil Rain. Marius sangat menyukai pemandangan yang dia lihat saat ini.
......................
Saat Rain sedang tidur siang, Ana turun ke lantai bawah untuk menyiapkan camilan sore hari untuk Rain. Terkadang Rain meminta secara khusus pada Ana untuk dibuatkan sesuatu, meskipun sebenarnya para koki di dapur bisa membuatkannya lebih baik dari Ana.
Seperti chocochip cookies yang saat ini Ana bawa untuknya, dengan segelas susu kesukaan Rain. "Sekarang tinggal tunggu Rain bangun dan selesai mandi," batin Ana.
Saat Ana menaiki tangga, dia berpapasan dengan seorang pelayan. Ana belum pernah melihat pelayan yang bekerja di rumah Marius yang parasnya secantik itu. Dari cara berjalannya juga terlihat sangat anggun, tidak seperti pelayan lainnya. Ana merasakan sesuatu yang aneh dari pelayan itu.
__ADS_1
"Hmm, maaf ... apakah kamu pelayan baru?," tanya Ana sesaat setelah Ana melewati pelayan itu.
Cukup lama pelayan itu berbalik setelah Ana selesai bertanya, Ana hampir akan mengulangi pertanyaannya karena ragu jika pelayan itu mendengarnya.
"Tidak, Nona Ana. Saya sudah lama bekerja disini. Saya baru-baru ini ditugaskan untuk melayani Nona Rain," jawabnya dengan senyumnya yang indah.
Ana menurunkan pandangannya ke nametag yang dikenakan pelayan itu.
"Namamu ... Nora?," tanya Ana.
"Benar, Nona. Nama saya Nora."
Ana berniat untuk bertanya lagi, saat suara Eli tiba-tiba membuat pembicaraan mereka terputus.
"Apa yang kamu lakukan disini? Apakah pekerjaanmu sudah selesai?"
Nora membungkukkan tubuhnya menghadap Eli. "Maafkan saya, Miss Eli. Saya sudah menyelesaikan tugas saya. Nona Ana sedang mengajak saya berbincang sebelum saya turun," jawab Nora.
"Tidak, tidak. Maafkan saya karena menghentikannya. Saya hanya ... mengajaknya berkenalan, karena ini pertama kalinya saya bertemu dengannya."
"Kalau begitu, saya minta maaf, saya akan menyuruhnya untuk segera ke bawah. Pekerjaan yang harus dilakukannya masih banyak. Mohon pengertiannya, Nona Ana."
"Ah, iya. Saya yang seharusnya minta maaf."
Sekali lagi, Nora membungkukkan tubuhnya sebelum dia pergi meninggalkan Ana dan juga Eli. Ana masih memperhatikan perginya Nora hingga dia benar-benar hilang dari pandangannya
"Jika Nona Ana membutuhkan sesuatu, Nona bisa langsung bicara dengan saya. Mohon agar tidak mengganggu tugas para pelayan."
__ADS_1
"M-maafkan saya."
Ana merasa bersalah saat Eli mengatakan itu padanya. Sebenarnya, bukan hanya dengan Nora saja, Eli juga melarang Ana untuk bicara dengan pelayan lainnya.
Ana pernah mencoba berbaur dengan pelayan lainnya, agar dia tidak kesepian saat butuh teman mengobrol. Tapi, saat Eli melihatnya, Eli melakukan hal yang sama seperti yang terjadi pada Nora tadi.
Ana tidak paham, mengapa dia tidak diperbolehkan mengobrol dengan para pelayan? Padahal jika dilihat dari posisinya seharusnya Ana berada di tingkat yang sama dengan para pelayan itu. Tapi, entah mengapa, Eli sepertinya tidak menyukainya ketika Ana berbincang dengan mereka. Kadang karena itu juga, Ana merasa kesepian tinggal di rumah Marius.
Ana akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju kamar Rain setelah Eli pergi meninggalkannya. Dengan membawa camilan untuk Rain, Ana melihat jam di tangannya yang memberitahunya bahwa sudah saatnya Rain untuk bangun.
Saat Ana masuk ke kamar Rain, dia melihat tempat tidur Rain yang kosong. Ana juga tidak melihat Rain ada di sudut manapun di kamarnya.
Ana mengira anak itu ada di kamar mandi, tapi dia juga tidak menemukannya saat dia mengeceknya. Lalu, "Dimana Rain?," pikir Ana.
Saat Ana akan keluar dari kamar Rain untuk mencarinya di luar, samar-samar Ana mendengar suara tangisan.
"Rain?," panggil Ana.
Ana mencari asal suara itu, dan semakin jelas terdengar saat Ana mendekati tumpukan plush toys Rain yang ada di kumpulan mainannya. Ana segera menyingkirkan satu-persatu plush toys, dan mendapat Rain sedang bersembunyi di belakang plush toys nya yang paling besar.
Rain terlihat sedang memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya itu. Tangisnya sesenggukan, sepertinya dia sudah lama menangis.
"Rain! Ada apa, sayang?," tanya Ana khawatir. Dia menggendong Rain dan meletakkannya di pangkuannya. Ana memeluk gadis kecil itu dan mengusap punggungnya. Rain masih saja terus menangis dalam pelukan Ana.
"Rain ... ada apa? Mengapa kamu menangis, sayang? Apakah kamu mimpi buruk?," tanya Ana lagi.
Ana masih terus berusaha menenangkan Rain. Sesekali dia membuat Rain mengangkat wajahnya, agar Ana bisa melihat wajahnya. Ana dapat melihat mata Rain yang hampir merah dan membengkak. "Sudah berapa lama dia menangis seperti ini?," pikir Ana cemas.
__ADS_1
Hampir 30 menit setelah Rain ditemukan, dia masih tetap tidak mau bicara. Rain masih terus menangis meski Ana terus bertanya. Ana hanya bisa berusaha menenangkannya, agar gadis kecil itu bisa berhenti menangis.
Ana tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Rain. Sepanjang siang, Rain masih baik-baik saja. Mereka bahkan tertawa bersama. Ana hanya meninggalkannya sebentar saat Rain sedang tidur siang. Lalu, mengapa saat Ana kembali dia malah menemukan Rain sedang menangis seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi?