
Ana duduk di ruang tamu dengan perasaan gelisah. Doni, papanya masih di dapur membuatkan minuman. Sedangkan Marius dan Naomi sudah pergi ke taman belakang villa untuk melakukan persiapan BBQ, hal yang biasa dilakukan saat mereka menginap di villa itu.
Dengan ditemani suara deru ombak di kejauhan, Ana mengingat kembali pesan Naomi sebelum dia pergi ke belakang. "Jangan terlalu marah, Ana. Om Doni punya alasan mengapa melakukan ini."
"Alasan apa yang begitu penting sampai harus bermain sandiwara seperti ini?," pikir Ana.
Doni datang dengan dua cangkir minuman di tangannya. Secangkir teh untuk Ana, dan secangkir kopi untuk dirinya sendiri. Dia meletakkannya di atas meja yang ada di depan Ana.
"Jadi, mengapa papa bohong sama Ana?," tanya Ana begitu papanya sudah duduk di sampingnya. Perasaannya campur aduk. Di satu sisi dia lega ternyata papanya baik-baik saja. Tapi di sisi lain, ada rasa marah karena ternyata semua itu cuma kebohongan.
"Kamu masih ingat Papa Ernest dan Mama Agnes?," tanya Doni.
Ana menganggukkan kepalanya.
"Papa Ernest dan Mama Agnes adalah orang tua Adam dan Marius," jelas Doni.
Ana terkejut mendengar hal itu. Ana memang beberapa kali pernah bertemu dengan Papa Ernest dan Mama Agnes saat Ana masih kecil. Samar masih teringat oleh Ana, tapi dia tidak menyangka kalau ternyata mereka adalah orang tua dari Marius dan juga Adam.
Dia ingat papanya sering bercerita tentang tentang Papa Ernest dan Mama Agnes. Ya, karena kedekatan itu, Ana juga memanggil mereka dengan panggilan Papa dan Mama.
Mama Alya yang mana adalah mamanya Ana dan juga Mama Agnes bersahabat sejak mereka masih kecil di Perancis.
Oma dan Opa Ana waktu itu baru pindah ke Perancis, sehingga semuanya terasa asing bagi Mama Alya yang waktu itu masih berumur 8 tahun. Hingga akhirnya Mama Alya bertemu teman sebaya di Perancis, yaitu Mama Agnes.
Sejak bertemu dengan Mama Agnes, Mama Alya dapat beradaptasi dengan sangat baik. Mereka menjadi sahabat baik sejak pertama kali bertemu.
Saat Mama Agnes berumur 18 tahun, dia dijodohkan dengan Papa Ernest yang merupakan anak seorang konglomerat Indonesia. Mereka akhirnya menikah dan menetap di Indonesia. Mama Alya juga ikut kembali ke Indonesia. Tiga tahun kemudian, Mama Alya bertemu dengan Papa Doni yang merupakan sahabat baik Papa Ernest, dan akhirnya mereka menikah.
Setelah Mama Alya meninggal, beberapa kali Ana masih bertemu dengan Mama Agnes dan Papa Ernest.
"Pantas saja, Ana tidak pernah ingat rumah yang ditempati Marius. Karena dulu waktu bertemu Mama Agnes dan Papa Ernest selalu di hotel atau villa," kata Ana mengingat-ingat kembali saat pertemuannya dengan mereka.
"Jadi, kakak yang waktu itu adalah Adam?," lanjutnya lagi.
Ana ingat saat dia berumur 6 tahun, dia pernah bertemu dengan Mama Alya yang saat itu ditemani oleh seorang laki-laki yang dikenalkannya sebagai putranya. Wajahnya memberikan kesan bahwa dia adalah orang yang sangat lembut.
"Iya, dia adalah Adam. Waktu itu umurnya 18 tahun," jawab Doni.
__ADS_1
"Tapi, Ana tidak pernah melihat Marius," kata Ana.
"Marius sudah bersekolah di Perancis sejak umurnya 9 tahun, sekitar 2 tahun sebelum kamu bertemu Adam."
"Tapi, Ana tidak pernah bertemu dengan Papa Ernest dan Mama Agnes waktu tinggal di rumah Marius. Dimana mereka sekarang?"
"Waktu kamu berumur 12 tahun, Mama Agnes meninggal dunia," kata Doni dengan wajah sendunya. Ana terkejut mendengar hal itu. Karena dia tidak pernah tahu soal ini. Selama dia tinggal di sana, Ana juga tidak pernah menanyakan apapun. Karena dia takut menyinggung Marius.
"Waktu itu kamu dirawat di rumah sakit karena peradangan pada lambung. Lalu, tiga tahun kemudian, Papa Ernest meninggal dunia. Waktu itu kamu juga tidak bisa kesana, karena kamu ada dharmawisata ke keluar kota. Setelah itu, papa lupa menceritakannya ke kamu."
"Tiga tahun lalu, saat Adam meninggal, Marius datang mencari papa, sekaligus memberitahukan kabar tentang meninggalnya Adam. Sejak itu Papa dan Marius sering berhubungan."
"Marius sering bercerita banyak hal terutama tentang Rain yang menjadi perhatiannya. Saat itu dia khawatir dengan pengasuh-pengasuh Rain yang selalu resign tepat tiga bulan yang alasannya selalu tidak masuk akal. Dia khawatir akan mempengaruhi Rain. Dia butuh seseorang yang bisa dia percayai. Tapi dia tidak mau Eli yang merekrutnya."
"Karena itu papa menawarkan Ana?," tanya Ana dengan galaknya.
"Iya. Awalnya Marius menolak, tapi papa yang memaksanya. Dia tidak mau mengganggu pekerjaanmu. Tapi bagi papa, lebih baik kamu bersama Marius daripada kamu tetap berkerja disana," jawab Doni sebal.
"Kenapa sih papa dan Naomi tidak menyukai perusaahan itu?," tanya Ana kesal.
"Kalau bukan apa?," tanya Ana heran.
"Lupakan saja ... Papa salah ngomong."
"Seharusnya Ana tahu 100 juta itu jelas tidak mungkin."
"Kalau bukan kamu, tidak akan ada yang percaya," kata Doni dengan diselingi tawa kecil. "Bahkan Naomi juga tidak tahu apakah dia harus merasa bangga atau sedih dengan pemikiran polosmu itu."
"Papa!!." Ana hampir berteriak karena kesalnya. Papanya sendiri bisa dengan santainya setelah membohonginya.
"Bukan tanpa alasan papa menawarkan kamu pada Marius, Ana," kata Doni yang berubah menjadi serius kali ini.
"Papa tahu Rain. Kami beberapa kali bertemu. Papa yakin kamu pasti akan menyukainya. Karena kamu dan Rain memiliki sifat yang sama. Papa rasa kamu yang lebih tahu daripada papa selama kalian bersama."
"Papa benar," kata Ana dalam hatinya. Setelah papanya mengatakan hal itu, Ana jadi menyadari sesuatu bahwa kedekatan mereka selama ini, karena Ana berkaca pada Rain. Dia melihat dirinya sendiri pada diri Rain.
Padahal saat bertemu dengan Rain pertama kalinya, Rain adalah anak yang pemalu dan pendiam. Bagaimana bisa Ana berpikiran dia sebenarnya memiliki hal yang besar dalam hatinya?
__ADS_1
Ana seakan tahu apa yang diinginkannya. Setiap kali Ana mencoba selalu dapat menarik perhatiannya. Ana seperti tahu apa yang ada dalam pikirannya. Jadi, karena itu mengapa selama ini Ana selalu bisa dengan mudah mengambil hati anak itu.
"Selama ini kamu punya Naomi. Dia yang melihat kamu seutuhnya, memahami kamu sepenuhnya, dan yang menyayangi kamu. Naomi juga melindungimu. Meski papa bisa melakukan semua itu, tapi Naomi melakukannya lebih baik dari papa."
"Sedangkan Rain ... dia hanya punya Marius. Dia sama seperti papa, Ana. Karena itu papa meminta Marius untuk membawamu masuk ke rumahnya. Karena papa yakin, kamu bisa menjadi Naomi bagi Rain. Dan ternyata memang benar, kan?"
Mendengar penjelasan papanya, kemarahan Ana sedikit demi sedikit mulai mereda. Mengingat kembali semua yang sudah terjadi baru-baru ini, Ana merasa seharusnya dia yang mengucapkan terima kasih pada papanya itu, karena telah memberinya kesempatan bertemu dengan Rain. Bahkan Ana tidak pernah menyesali saat dia meminta pengunduran diri saat itu.
"Kamu sudah melakukan hal yang bagus, Ana," kata Doni lagi sembari membelai lembut rambut anaknya itu. "Bahkan Marius juga tidak menyangka dengan semua temuan itu."
"Papa nggak takut ya melepaskan anak gadis papa ke rumah pria asing?," tanya Ana dengan tatapan selidik.
Doni tertawa mendengar pertanyaan Ana. "Kalau papa tidak mengenal Marius dengan baik, papa juga tidak akan menawarkan bantuan dari awal, Ana. Bahkan Naomi tidak menyeretmu keluar dari sana, itu artinya dia mempercayai Marius."
"Benar juga, Naomi tidak mengatakan apapun setelah itu," pikirnya.
"Jadi, Naomi sudah tahu dari awal?," teriak Ana.
"Naomi menemukan papa bulan lalu. Sejak itu dia tahu semuanya," kata Doni sembari tertawa.
"Memangnya papa tinggal dimana selama ini?," tanya Ana heran.
"Di rumah. Karena itu, dia mengirimkan pelayannya untuk mengurus papa di rumah. Padahal papa sudah menolaknya, tapi Marius tetap mengirimkannya. "
"Dan dia tidak mengatakan apapun padaku," kata Ana kesal.
"Urusan Rain selesai, kamu juga akhirnya keluar dari pekerjaanmu. Setidaknya, papa sudah menyelesaikan 2 pekerjaan sekaligus," kata Doni lagi dengan bangganya.
"Papa!!," teriak Ana kesal.
"Kalian masih lama ya?," teriak Naomi tiba-tiba dari pintu belakang. "Karena kalau tidak, aku akan habiskan semuanya. Aku lapar."
"Kita akan lanjutkan nanti. Kamu pasti lapar juga, kan?," tanya Doni.
Terlalu banyak hal yang harus dia terima malam ini. Ana merasa marah dan kesal pada awalnya, tapi kini perlahan berkurang. Kalau dipikir lagi, Ana belum tentu mau apabila papanya tidak memakai cara ini.
Mungkin caranya terlihat salah, tapi Ana tidak keberatan dengan hasilnya. Maka, bisa jadi caranya sudah benar.
__ADS_1