
Terbangun dengan mata yang masih mengantuk membuat Ana ingin segera tidur lagi. Hanya karena menunggui telepon dari Marius, Ana bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam.
Semalam Ana berpikir untuk mencoba bicara dengan Marius melalui telepon. Tapi ternyata, dari dua kali panggilan yang dibuat Ana, tidak ada satupun yang dijawab oleh Marius.
Ana masih berpikir jika Marius sedang sibuk. Itulah sebabnya dia menunggu Marius menelponnya balik. "Mungkin saja Marius akan menghubungiku kembali ketika dia sudah tidak sibuk lagi," begitu terus pikirnya sepanjang malam. Dengan pikiran yang seperti itu, setiap jam dia pasti akan terbangun karena khawatir dia tidak menjawab panggilan dari Marius.
Jika bukan karena seseorang memencet bel pintu rumahnya, Ana mungkin masih akan terus tertidur hingga matahari benar-benar sudah menggantung di atas langit. Dan ternyata, seseorang itu adalah orang suruhan Naomi.
Siang ini, Ana akan kembali menemui dokter Aris. Naomi membantunya lagi membuatkan janji temu dengan dokter Aris siang nanti.
"Jangan lupa nanti siang, kamu ada janji temu dengan dokter Aris. Aku juga sudah menyuruh orang untuk mengambilkan mobilmu. Seharusnya kamu sudah mendapatkan kuncinya sekarang," begitu pesan Naomi di telepon tadi.
Ana memandangi kunci mobil yang baru saja dia terima dari orang suruhan Naomi itu. "Ya seharusnya begitu. Jika ingin membantu Marius, harus dimulai dari aku dulu. Menyembuhkan diri sendiri dulu baru bisa menyembuhkan orang lain," pikir Ana.
Ana baru akan meninggalkan rumah saat ponselnya berbunyi.
"Noel?," ucap Ana lirih menyebut nama yang muncul pada layar ponselnya.
"Halo ...," sapa Ana.
"Halo ... Aku dengar kamu akan ke dokter Aris hari ini. Kita pergi sama-sama, ya?," kata Noel.
"Dari mana ..."
Ana tidak menyelesaikan kalimatnya, saat dia melihat Noel sedang melambaikan tangannya di depan pagar rumahnya. Ana langsung memutuskan panggilan itu.
"Berapa lama kamu disini? Mengapa tidak masuk saja?," tanya Ana setelah dirinya menghampiri Noel.
"Aku tahu kamu pasti akan keluar. Jadi aku tunggu saja disini," jawab Noel.
"Dari mana kamu tahu aku akan ke dokter Aris?"
"Dokter Aris temanku. Masih ingat?," jawab Noel yang tersenyum bangga. "Aku bilang padanya untuk memprioritaskanmu jika kamu mendaftar lagi."
"T-tidak perlu begitu."
"Tidak apa-apa. Kamu sudah siap? Aku akan antarkan kamu. Aris juga sedang menunggumu sekarang."
__ADS_1
Prak!
Ana baru akan menjawab pertanyaan Noel, saat tiba-tiba sesuatu seperti baru saja dilemparkan ke atas kepalanya. Ana belum mengetahui benda apa yang baru saja dilemparkan padanya. Tapi yang jelas meski mengenai kepalanya, Ana tidak merasa sakit, karena benda itu terasa tidak terlalu keras.
Saat tangannya memeriksa kepalanya, sesuatu yang kental dan lengket mengenai tangannya. Dia menurunkan tangannya hanya untuk melihat apa yang ada di kepalanya itu, sesuatu yang bening bercampur kuning.
"Kamu tidak apa-apa, Ana?," tanya Noel khawatir.
"Ini telur?," tanya Ana sambil menatap tangannya.
Prak! Prak!
Ana merasakan lagi sesuatu dilemparkan kembali padanya. Kali ini dua kali benda itu dilemparkan ke bagian punggungnya.
"Awas, Ana," teriak Noel. Dengan cepat, Noel melindungi Ana dari lemparan berikutnya. Tubuh bidangnya menutupi kepala Ana, dan kedua tangannya memeluk tubuh Ana.
"Ugh." Ana mendengar suara Noel yang kesakitan. Sepertinya benda yang dilemparkan kali ini bukan telur.
"Ada apa? Apa yang mengenaimu?," tanya Ana khawatir. Tapi Noel tidak menjawab apapun.
Ana mencari jawabannya sendiri saat Noel tidak menjawab pertanyaannya. Dia memperhatikan jalanan di sekelilingnya. Dia melihat sebuah batu yang cukup besar.
"Tenang, Ana, tenang. Tidak apa-apa," jawab Noel mencoba menenangkan Ana.
"Pelakor! Dasar pelakor!"
Ana mendengar suara teriakan yang jaraknya tidak seberapa jauh dari dirinya.
"Dasar pelakor!"
Teriakan itu berulang-ulang diteriakkan. Kali ini Ana melihat, ada banyak orang yang sedang berdiri di dekat rumahnya, mengelilinginya dan juga Noel.
"Siapa mereka?," tanya Ana lirih.
"Jangan sok keganjengan jadi cewek. Gatel banget menggoda laki orang," teriak salah satu dari mereka yang diikuti keriuhan nada setuju dari yang lainnya.
"Apa ini? Mereka salah orang kah?," tanya Ana yang masih kebingungan dengan semua kehebohan ini.
__ADS_1
"Pergi sana yang jauh, pelakor! Jangan ganggu idola kami. Valerie berhak untuk bahagia."
Tidak lama kemudian, telur-telur itu kembali dilayangkan menuju Ana. Tangan Ana secara refleks diangkat untuk melindungi dirinya sendiri.
"Ayo, Ana. Lebih baik kamu masuk ke dalam. Disini sudah tidak aman."
Noel segera memapah Ana masuk ke dalam rumahnya sambil melindungi Ana dari lemparan-lemparan itu. Sementara orang-orang itu masih saja menghujaninya dengan telur, Ana tidak punya pilihan lain selain menuruti Noel.
Sesampainya di dalam, Ana memandangi pagar rumahnya yang penuh dengan orang-orangnya yang menatap rumahnya dengan tatapan kemarahan. Beberapa di antara mereka masih melempari rumahnya dengan telur.
Dua orang dari kerumunan itu bergerak dengan sebuah kain di tangan mereka. Mereka mengikatnya di sepanjang pagar rumah Ana. Meski terbalik, Ana bisa membaca tulisan merah yang dituliskan pada kain itu. "Pelakor ! Pelakor! Pelakor!"
"Kamu tidak tahu mengapa mereka melakukan itu?," tanya Noel yang juga ikut mengintip keadaan di luar rumah bersama Ana.
Ana hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak mengerti mengapa dirinya disebut pelakor oleh orang-orang itu.
Tiba-tiba ponsel Ana berdering. Dia segera meraih tasnya yang diletakkannya di atas sofa tadi.
"Ana! Kamu tidak apa-apa? Apa mereka melukaimu?"
Naomi terdengar sangat marah dan juga khawatir. Teriakannya hampir bisa terdengar oleh Noel.
"Nao ... aku tidak apa-apa. Tapi ..."
"Tunggu di rumah! Jangan kemana-mana! Aku akan kesana! Dan jangan buka HP mu, tidak usah cari tahu, tidak usah dengerin bacotan mereka. Pokoknya jangan buka! Dengar, Ana?"
Tapi, larangan Naomi justru mendorong keingintahuan Ana. Tanpa menunggu Naomi selesai bicara, Ana sudah memutuskan panggilan Naomi itu. Dia tidak peduli jika nanti Naomi memarahinya. Dia hanya ingin tahu ada apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Tangan Ana mulai mencari situs berita dunia hiburan yang biasanya menjadi langganan teman-teman kantornya dulu. Tidak butuh waktu lama bagi Ana untuk mencari tahu. Karena berita itu tepat di halaman depan situs itu, dengan ukuran font yang cukup besar, dan dengan foto dirinya yang tidak diblur sama sekali.
"Orang Ketiga dalam Hubungan Marius dan Valerie"
"Alasan Mengapa Marius dan Valerie Tidak Pernah Menikah Dikarenakan Orang Ketiga"
"Orang Ketiga Tidak Hanya Merebut Kekasih, Tapi Juga Anak Valerie"
Ana masih tidak berhenti menekan semua judul berita itu. Dia masih akan terus membacanya, jika bukan karena Noel yang menghentikannya.
__ADS_1
"Hentikan, Ana," kata Noel dengan lembut menarik ponsel Ana untuk menghentikan Ana membaca berita-berita itu. Dia lalu menarik Ana dan memeluknya.
Ana hanya terkejut membaca semua berita itu. Tapi dia tidak dapat menangis, entah mengapa. Isi kepalanya saat ini sedang kosong. Dia tidak bisa berpikir tentang apapun. Dia tidak bertanya-tanya mengapa ataupun bagaimana bisa. Ana tidak dapat memikirkan apapun.