Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 41


__ADS_3

Siang itu laut sedang surut. Seketika pantai dipenuhi dengan pasir pantai yang sayang jika tidak dinikmati. Ana dan Naomi berlarian kesana kemari seperti dua orang wanita yang tidak mengenal umur. Doni dan Marius yang berjalan mengikuti mereka dari kejauhan bahkan bisa mendengar tawa mereka yang keras.


"Kudengar kamu sudah menemukan pelaku yang mencoba menculik Rain," tanya Doni pada Marius yang berjalan di sampingnya.


"Iya, om. Mereka hanya preman yang disewa. Yang tahu siapa yang menyewa mereka adalah bos mereka."


"Sudah ditemukan?"


"Belum. Sepertinya bersembunyi. Mereka bukan professional. Tidak lama lagi, pasti akan ditemukan."


Mereka kembali terdiam dan menikmati waktu jalan-jalan mereka.


"Om titip Ana, ya," kata Doni tiba-tiba memecah kesunyian mereka.


"Maksud Om Doni?"


"Biarkan Ana tetap di rumahmu, kamu tidak keberatan, kan?"


"Saya ... Om tahu saya tidak akan keberatan. Tapi ... saya tidak yakin Ana ..."


"Jangan khawatir ...," kata Doni sembari menepuk pelan lengan Marius. "Ana belum bisa kembali sekarang. Yang ada nanti malah semakin menjauh. Jadi gunakan kesempatan ini, ya."


Doni mengedipkan matanya pada Marius.


"Setidaknya bantu om, agar jangan sampai Alya dan Agnes menghantui om setiap malam, karena tidak membantu menyatukan kalian ."


Marius tertawa kecil mendengar ucapan Doni. Dia hampir mengira hari-harinya bersama Ana akan berakhir saat Ana bertemu dengan papanya. Tapi ternyata Doni akan membantunya membuat Ana tetap bertahan di rumahnya. Siapa yang akan menolak bantuan itu?


"Marius ....," panggil Ana yang sedang berlari ke arahnya. "Kapan-kapan boleh kan bawa Rain kesini? Dia pasti suka berlarian di pantai."


Marius tersenyum mendengarnya, lalu dia menganggukkan kepalanya. "Iya, kita akan bawa Rain kesini lain kali."


Ana berlari menghampiri Naomi, lalu menanyakan hal yang sama. "Ryu kamu bawa juga, ya. Biar mereka maen bareng."


Naomi menyetujuinya. "Lama-lama kalian terlihat seperti sepasang suami istri." Dan, Naomi tertawa saat mengatakan hal itu.


"Naomi!!!," teriak Ana kesal.


Ana mengejar Naomi yang berlari menghindari Ana. Tawa mereka pun semakin lama semakin keras. Sepanjang siang itu, mereka menghabiskan waktu di pantai hingga sore tiba hingga saatnya mereka harus kembali.

__ADS_1


......................


Sepulang dari villa, Ana kembali ke rumah Marius. Ya benar, kembali ke rumah Marius.


Meski Ana tahu bahwa hutang-hutang itu adalah bohong, tapi dia tidak bisa kembali ke rumahnya dulu. Karena papanya meminta untuk tinggal di rumah Marius.


"Kamu tahu Om Beni, kan? Dia mengajak papa mancing di Cairns, Aussie. Sekalian, papa juga ada urusan bisnis di Aussie," kata Doni sebelum mereka semua balik dari villa.


"Jadi, kamu tinggal di rumah Marius ya. Papa baru bisa tenang, daripada kamu di rumah sendirian," jelasnya lagi.


Bukan Ana tidak senang untuk tinggal di rumah Marius, tapi Ana merasa tidak enak dengan Marius. Dulu, Ana tinggal di sana kan karena masalah hutang piutang papanya. Tapi kini semuanya sudah jelas. Apakah tidak apa-apa jika dia masih tinggal disana? Ana takut Marius punya pendapat yang berbeda.


"Kamu bisa tinggal sampai kapanpun kamu mau. Kamar itu dari awal memang milikmu. Jika kamu ingin merubahnya seperti seleramu, katakan padaku," begitu kata Marius menanggapi permintaan papanya saat meminta Ana untuk tinggal di rumahnya.


Dan, sepertinya Marius seperti menegaskan apa yang diucapkannya. Karena ketika tiba di rumah, dia berkata pada Tian, "Mulai hari ini, Ana adalah tamuku. Layani dia dengan baik."


"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan."


"Padahal, selama ini aku sudah dilayani dengan baik disini. Perlukah dia melakukan itu?," gerutu Ana dalam hatinya.


Pada dasarnya, tidak ada yang berbeda dari kehidupan Ana di rumah Marius antara sebelum dia tahu tentang sandiwara itu dan setelah Ana mengetahuinya.


Yang berbeda hanyalah ... Marius itu sendiri.


Entah setan villa yang mana yang merasuki Marius. Karena Marius sekarang semakin berubah ... menjadi aneh, tidak biasanya, begitu menurut Ana.


Seperti misalnya, saat Ana sedang meregangkan ototnya karena terlalu lama duduk di ruang kerja Marius, tiba-tiba Marius yang sedang menelpon seseorang berjalan meninggalkan meja kerjanya lalu duduk di sofa yang ada di ruangannya itu.


Lalu, dia memberikan tanda pada Ana dengan lambaian tangannya agar Ana datang ke tempatnya. Meski Ana tidak memahami maksud perintah Marius itu, dia tetap saja melakukannya dengan tatapan heran.


Ditepuknya dudukan pada sofa agar Ana duduk di atasnya. Dan kemudian, mendorong lembut kepala Ana ke bawah agar bersandar pada pangkuannya yang sudah diletakkan sebuah bantal di atasnya.


Ana sangat terkejut saat Marius melakukan itu. Wajahnya mendadak kemerahan saat kepalanya sudah mendarat di pangkuan Marius.


Tak lama kemudian, telapak tangan Marius menutupi mata Ana. "Apakah dia menyuruhku untuk tidur?," pikir Ana.


Sentuhan tangan Marius seperti obat penenang bagi Ana. Suara Marius yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon seperti musik bagi telinganya. Meski hanya sebentar saja tangan Marius menutupi mata Ana, tapi Ana yang sudah kelelahan menjadi terbuai untuk benar-benar tidur.


Ana merasa Marius tidak biasanya memberikan perhatian yang seintens ini sebelumnya. Itulah mengapa dia menganggap perubahan ini adalah hal yang aneh pada Marius.

__ADS_1


Dan yang lebih aneh bagi Ana adalah isi kepalanya sendiri.


"Mengapa sepertinya semakin hari Marius terlihat semakin ... ganteng? Dia memang seperti itu atau hanya ilusi optik dari kedua mataku saja?," pikir Ana saat dia memandangi Marius yang sedang sibuk berhadapan dengan laptopnya. Kedua telapak tangannya sedang menahan kepalanya agar tetap menggantung di sana.


"Semakin lama kamu memandangiku, kamu akan jadi semakin cinta. Kamu sudah siap?," tanya Marius yang dapat merasa dirinya sedang diperhatikan. Dia tetap bekerja meskipun ucapannya ditujukan untuk Ana.


Ana yang masih terbuai dengan pemandangan yang ada di hadapannya, tanpa sadar mengatakan, "Mungkin ..."


Lalu, sedetik kemudian dia tersadar. "Aku salah ngomong," katanya gugup. Ana langsung kembali fokus dengan pekerjaannya.


Marius hanya tersenyum melihat reaksi Ana. Baginya, Ana saat itu terlihat menggemaskan. "Bener juga tidak apa-apa," gumamnya.


......................


Lucas memasuki ruang kerja Marius dengan raut wajahnya yang serius. Dia menyerahkan ipad yang sedari tadi dibawanya kepada Marius.


"Apa ini?," tanya Marius.


"Berita hari ini," jawab Lucas.


Marius memperhatikan judul artikel yang terlihat pada layar ipad itu.


"Valerie Geraldine Terlihat Dekat Dengan Seorang Konglomerat"


"Buka tab lainnya, " perintah Lucas, dan Marius pun melakukannya.


"Konglomerat berinisial M Merupakan Pacar Baru Valerie Geraldine"


Marius membuka tab yang lainnya, dan semua menampilkan berita yang serupa.


"Dan semua foto memperlihatkan saat Valerie datang kemari saat kamu sakit waktu itu. Saat dia hampir memukul Ana."


"Sejak kapan berita ini muncul?"


"Baru hari ini. Dan hanya muncul di media kecil. Beberapa bahkan mengatakan ini hanya hoaks. Padahal jika itu Val, media besar pasti tidak akan melewatkannya."


"Selidiki siapa sumbernya, dan bawa padaku. Aku ingin menanyakan sendiri siapa yang menyuruhnya."


"Oke. Aku akan segera menghubungi tim penyelidik kita."

__ADS_1


"Dan lagi ... siapkan tim strategi penanggulangan untuk persiapan menghadapi kemungkinan terburuk. Ini mungkin terlihat di bawah air, tapi sepertinya sebentar lain akan menjadi tsunami."


__ADS_2