
Hari kedua Rain bersekolah berlangsung tanpa masalah. Rain masih bersemangat untuk ke sekolah. Berbeda dengan kemarin, hari ini Rain tidak lagi terus-menerus menggandeng Ana. Dia langsung melambaikan tangannya ketika ada teman yang menjemputnya masuk kelas. Ana senang dengan perubahan itu, tapi juga terharu dibuatnya.
"Ah, seperti melepaskan anak burung belajar terbang," ucap Ana bahagia.
Kejadian kemarin ternyata cukup mengundang perhatian banyak orang yang ada di sekitar sekolah. Meskipun tidak sampai jadi pemberitaan nasional, tapi Ana bisa mendengar beberapa ibu yang sedang menunggu di ruang tunggu sekolah membahas topik yang sama mengenai kejadian kemarin.
"Aduh, kemarin kukira lagi ada syuting film."
"Lha saya malah ngiranya lagi launching product. Sekarang kan lagi viral yang aneh-aneh."
"Tapi, bodyguard nya kemarin ganteng-ganteng, lho."
"Ah, kalau itu nggak usah ditanya. Pak Marius kalau pilih bodyguard untuk putrinya selalu yang ganteng-ganteng."
Ana lebih memilih untuk tidak bergabung dalam obrolan mereka. Karena dia sendiri juga tidak tahu bagaimana harus bereaksi mendengar hal itu. Bahkan, hanya dengan mendengarnya pun, Ana sudah merasa canggung dibuatnya. Entah apa hubungannya antara Rain dengan bodyguard yang ganteng?
"Kamu nanny nya Rain, ya?"
Lamunan Ana tiba-tiba dibuyarkan oleh suara seorang wanita. Ana tidak mengenalnya, tapi Ana tahu dia adalah orang tua salah satu teman Rain yang sekelas dengannya.
"Iya, Bu? Ada apa, ya?," tanya Ana pada wanita itu.
"Aduh cantik banget. Beneran kamu cuma nanny? Bukan mommy baru?."
Kali ini datang wanita yang lain.
Ana tertawa dengan canggungnya mendapatkan pertanyaan itu. Niatnya untuk menghindar malah jadi topik pembicaraan baru.
"Saya cuma nanny kok, Bu," jawab Ana dengan senyum canggungnya.
"Berarti, Tuan Marius masih single kan, ya?," tanya wanita yang lain.
"Ahaha ... saya nggak tahu, Bu. Kan saya cuma nanny."
"Ya udah, titip ini aja buat Tuan Marius, ya," kata seorang wanita sambil menyerahkan sebuah amplop coklat.
"Maaf, ini apa ya, Bu?," tanya Ana.
Wanita itu mengeluarkan isinya yang ternyata selembar kertas yang berisi biodata dan beberapa lembar foto gadis yang sama dengan berbeda gaya dan pose.
"Ini cuma foto keponakan saya sama biodatanya juga."
Ana semakin bingung dengan maksud wanita itu.
"Kasihkan saja ke Tuan Marius, siapa tahu lagi nyari istri atau istri muda. Anaknya masih single, masih perawan ting-ting, manis lagi, sudah S2, pinter ngurus suami, termasuk, ..." Ibu itu mendekati Ana untuk membisikkan sesuatu, "... urusan ranjang ..."
Ana sontak terkejut mendengar hal itu. Dia tidak percaya kini dia menjadi agen biro jodoh untuk Marius.
"Kalau yang ini punya saya. Kalau sama saya jangan khawatir. Meskipun saya janda, saya lebih berpengalaman," kata wanita yang lain dengan gayanya yang menggoda.
__ADS_1
Dan akhirnya, dari satu menjadi banyak. Mereka semua mengerumuni Ana dengan alasan yang sama, agar Ana menyampaikan pesan mereka. Ana benar-benar dibuat tidak bisa berkata-kata dengan semua permintaan itu.
"Apakah aku perlu menarik biaya keanggotaan?," tanya Ana dalam hatinya.
"Ngomong-ngomong ..."
Seorang wanita yang lain kini mendekati kerumunan Ana dan para ibu.
"Nanny yang lama nasibnya bagaimana, ya?," tanya wanita itu.
"Saya ... kurang tahu soal itu, Bu. Saya hanya dengar dia dipecat," jawab Ana.
"Ah, ya sudah pasti dipecat. Nanny kok berani bener bawa anak orang diam-diam, padahal ada bodyguardnya disini."
"Masih mending dipecat. Kalau saya, ya sudah saya penjarakan saja dia."
"Tapi, kalau saya lihat, Rain jauh lebih ceria waktu sama kamu. Kalau sama nanny nya yang dulu, Rain bawaannya muruunng mulu."
"Murung ... bagaimana maksudnya, ya Bu?," tanya Ana yang mulai penasaran dengan arah pembicaraannya dengan para ibu itu.
"Ya, murung. Nggak seperti sekarang, senyum terus, ketawa terus, bawaannya seneng aja."
Ucapan wanita yang terakhir disetujui oleh para ibu lainnya.
"Tapi, ya gimana nggak murung. nanny yang lama itu orangnya jutek."
Pembicaraan para ibu itu masih berlanjut membahas tentang Rain. Lama-kelamaan, pembicaraan mereka sudah mengarah ke topik pembicaraan baru.
Ana hanya mendengarkan saat mereka membicarakan Rain. Dia seperti mendapatkan sebuah petunjuk baru dari permasalahan Rain. Petunjuk yang mungkin akan sulit Ana dapatkan, karena Rain sendiri sulit untuk diajak bicara.
"Mungkin aku harus lebih sering mengajaknya ngobrol," pikir Ana.
......................
Kali ini, Ana melihat Rain berlarian keluar dari sekolahnya bersama Ryu. Meski Ryu selalu menggoda Ana, tapi Ryu selalu bersikap manis saat bersama Rain. Bahkan dengan Naomi, Ryu tidak pernah semanis itu.
"Mereka terlihat menggemaskan," ucap Ana lirih.
Tiba-tiba, Ana memiliki ide.
"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan hari ini?," tanya Ana. "Ryu ikut, ya?"
"Tidak bisa, Pak Toga sudah menungguku," jawab Ryu. Seperti biasa anak itu akan jual mahal jika Ana memintanya.
Tapi saat Rain menarik lengan bajunya dan memperlihatkan wajah sendunya, Ryu berubah pikiran.
"I-Iya ... aku ikut," jawab Ryu gugup.
Ana tersenyum penuh kemenangan melihat perubahan reaksi Ryu.
__ADS_1
Setelah meminta mereka untuk menunggu, Ana segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Marius. Semoga Marius menyetujuinya, pikir Ana.
"Halo ... ehm ... bolehkah aku mengajak Rain jalan-jalan ke mall?," tanya Ana melalui ponselnya.
"Jalan-jalan?," tanya Marius.
"Ehm ... karena menurutku ... masalah penculik itu kan sudah teratasi, jadi aku rasa ... Rain mungkin butuh penyegaran ... selain di rumah."
"Baiklah ... pengawal akan bersama kalian, jangan terlalu jauh dari mereka."
Dengan semangatnya, Ana mengucapkan terima kasih pada Marius, meski dia sendiri juga bingung mengapa dia yang mengucapkan terima kasih.
"Ah, terserahlah, yang penting diijinkan," pikir Ana bahagia.
"Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kirimkan saja pesan. Aku ada pertemuan penting."
"Sekarang, Naomi," kata Ana setelah Marius memutuskan panggilan mereka.
"Halo, Naomi. Aku ajak Ryu jalan-jalan ya bareng Rain. Boleh, ya?"
"Jalan-jalan?," tanya Naomi.
"Iya. Biar Rain juga ada temennya."
"Ya sudah, nanti aku hubungi supir untuk pulang saja. Ryu bawa pulang ke tempatmu saja, nanti aku yang jemput."
"Oke, Naomi. Kamu memang yang terbaik."
"Kalau kalian butuh apa-apa, kirim pesan saja. Karena aku ada pertemuan penting."
Sesaat setelah Naomi memutuskan panggilan mereka, Ana jadi memikirkan sesuatu, "Sepertinya semua orang sedang sibuk hari ini. Hanya aku yang sibuk mengurus dua bocah," kata Ana dengan nada sendu.
Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk di ponsel Ana. Sebuah notifikasi transaksi perbankannya memberitahunya tentang adanya uang masuk.
"200 juta?!"
Ana tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi, kemudian pesan berikutnya muncul.
"Belilah apa saja yang kalian sukai. Segera telepon aku jika masih kurang. Aku akan mentransfernya lagi."
"Apakah dia menyuruhku untuk membeli seluruh isi mall?," tanya Ana yang masih tidak percaya dengan pesan Marius itu.
......................
Siang yang sama, di tempat yang berbeda, Marius sedang melakukan sebuah pertemuan penting seperti yang dikatakannya pada Ana melalui telepon.
"Jadi, ada keperluan apa Nona Naomi Winata dari WINZ Group ingin bertemu denganku?," tanya Marius yang menatap tajam ke arah Naomi yang sedang ada di depannya.
"Tentu saja untuk menyelesaikan sebuah masalah yang sangat penting yang saya yakin Tuan Marius mengetahuinya," jawab Naomi yang juga tidak memasang senyum di wajahnya.
__ADS_1