Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 42


__ADS_3

"Kak Ana, lihat ... lihat ..."


Rain berteriak cukup kencang menunjuk sebuah counter yang menjual gulali. Ditariknya tangan Ana menuju counter itu.


"Rain mau?," tanya Ana, dan Rain menganggukkan kepalanya berkali-kali.


Selepas dari counter satu, Rain dan Ana berpindah ke counter lainnya. Dari toko satu berpindah ke toko lainnya. Rain dan Ana benar-benar menikmati waktu jalan-jalan mereka di mall hari ini.


Pagi tadi, Ana meminta ijin pada Marius untuk selesai bekerja lebih cepat hari ini. Agar dia bisa menjemput Rain di sekolah lalu mengajaknya jalan-jalan. Marius mengijinkannya, hanya saja dia memberikan syarat.


"Bawa ini," kata Marius sambil memberikan kartu hitam miliknya.


"Untuk apa? Aku punya uang kok," tolak Ana.


"Bawa dan gunakan untuk membeli apa saja yang kalian sukai. Jangan khawatirkan apapun," kata Marius memaksa Ana untuk menerima kartu itu. Dia meraih tangan Ana dan meletakkan kartu itu di genggaman gadis itu.


Ana baru akan membuka mulutnya, tapi Marius tidak memberikan Ana kesempatan untuk bicara.


"Bawa, atau tidak usah pergi," kata Marius sembari meninggalkan Ana dan melanjutkan pekerjaannya.


Bibir Ana mengerucut seketika. "Jangan nyesel kalau habis uangmu," kata Ana kesal.


"Habiskan saja kalau bisa," kata Marius dengan senyum sinisnya.


"Dasar orang kaya sombong!," gumam Ana sambil pergi meninggalkan Marius.


Marius mendengar gumaman itu. Dia hanya tersenyum menanggapinya.


Dan, sudah hampir 2 jam Ana dan Rain menjelajahi mall bersama David dan 3 orang pengawal lainnya. Di saat energi Rain yang masih belum habis, Ana melihat 4 orang pengawal itu sudah mulai kecapekan. Akhirnya, Ana membujuk Rain untuk mampir beristirahat di sebuah restoran.


"Kalian pesan juga, ya. Pesan apa saja yang kalian sukai, yang mahal juga tidak apa-apa. Marius yang traktir," kata Ana. Tentu saja, David dan ketiga pengawal dengan senang hati menerimanya.


"Kan dia bilang suruh pakai. Harusnya sih tidak masalah," pikir Ana dengan senyum jahatnya.


Ana dan Rain sedang menikmati makan siang mereka saat tiba-tiba seorang pria asing datang mendekatinya. David yang selalu waspada langsung bangkit dari tempat duduknya dan menahan lengan pria itu ke belakang. Pengawal lainnya ikut berdiri dan mengerumuni David beserta pria itu.


"Aduh, aduh, sakit, sakit ...," teriak orang itu.


Ana khawatir pria itu akan melukai Rain, dia ikut berdiri membelakangi Rain.


"Tenang ... tenang ... saya hanya perlu bicara sebentar dengan nona ini," kata pria itu sambil menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Nona Ana mengenalnya?," tanya David yang dijawab Ana dengan gelengan kepalanya.


David semakin mengeratkan pergelangan tangan pria itu yang disusul dengan erangan pria itu karena rasa sakitnya.


"Aaww ... A-aku talent scout ... A-aw ... a-aku tunjukkan k-kartu namaku, ya."


Dengan tangan yang satunya, perlahan pria itu merogoh saku yang ada di balik jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu. Salah satu pengawal mengambil kartu itu dari tangan pria itu, lalu menunjukkannya pada David. Setelah David melihatnya, dia memberikan tanda pada rekannya untuk menyerahkan kartu itu pada Ana.


"ANDERS Entertainment?," kata Ana membaca isi dalam kartu nama itu.


"Be-benar! N-namaku Ted. A-aku dari ANDERS Entertainment."


David melepaskan pegangannya, dan Ted, si pria itu langsung meregangkan otot lengannya untuk menghilangkan rasa sakitnya.


"Apa maumu?," tanya David yang masih belum meninggalkan Ana dan Rain, begitu juga dengan pengawal lainnya.


"Aku melihat nona ini sangat cantik. Bagaimana jika bergabung dengan ANDERS?," kata Ted setelah dia selesai merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena aksi David tadi.


"Hah? S-saya? M-maaf, saya tidak berminat," tolak Ana.


Ted berniat maju mendekati Ana, tapi David langsung menghalanginya. David memberi isyarat pada Ted untuk mundur.


Begitu Ted pergi, Ana langsung mengecek kondisi Rain yang sedari tadi berada di belakangnya.


"Rain pasti kaget, ya? Maaf, ya," kata Ana yang sedang memeluk Rain.


Setelah kejadian itu, Rain ternyata masih mengajak Ana berjalan-jalan. Ana merasa lega, karena kejadian itu tidak mempengaruhi Rain.


Ana dan Rain sedang berjalan-jalan sambil bergandengan tangan, saat tiba-tiba, ponsel Ana berbunyi. Rain memperhatikan Ana yang sedang mengobrol dengan ponselnya yang tidak lama kemudian ditutupnya.


"Ternyata salah sambung," kata Ana tersenyum pada Rain yang sedang menatapnya.


Ketika akan melanjutkan perjalanannya kembali, tiba-tiba anak itu berhenti seketika. Genggaman tangannya menjadi sangat erat. Ana memandangi Rain yang wajahnya sekarang berubah menjadi pucat.


Ana berjongkok menatap Rain dengan wajah khawatir. "Rain, ada apa, sayang? Kamu lihat apa?," tanya Ana.


Tiba-tiba, Rain menurunkan badannya dan bersembunyi di balik tubuh Ana. Rain yang seperti itu menambah rasa khawatir Ana. Dia memeluk gadis kecil itu yang tubuhnya kini gemetaran.


Ana memutar kepalanya untuk melihat apa yang dilihat Rain sebenarnya. Dan, terlihat oleh sosok seorang wanita yang berjalan dengan diiringi beberapa pengawalnya.


"Nora?," bisik Ana.

__ADS_1


Meski dari kejauhan, Ana dapat melihat, wanita itu adalah Nora, pelayan yang pernah dia temui di rumah Marius sebelum dia menemukan Rain sedang bersembunyi dan menangis.


Nora tidak melihat mereka. Rombongan Nora terus berjalan lurus ke depan tanpa memperhatikan Ana dan rombongannya. Ana pun sebisa mungkin tidak menunjukkan wajahnya agar tidak menarik perhatian mereka.


Ana menggendong Rain dan memeluknya erat. Dia menggosok punggung Rain untuk menenangkan gadis kecil itu.


"Sshh ... sudah, sudah ... tidak ada apa-apa. Ada Kak Ana disini, ya."


Melihat situasi yang seperti itu, Ana memutuskan untuk kembali.


Di dalam mobil, Rain akhirnya tertidur di pelukan Ana. Dia mengusap kening Rain yang basah karena keringatnya sendiri, lalu menciumnya.


"Ada apa dengan Nora? Mengapa dia begitu takut melihatnya," pikir Ana khawatir.


Lalu, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Marius memintanya untuk ke Lorenzo Vins sepulangnya dari mall. Tapi melihat Rain yang seperti ini, Ana rasa mereka lebih baik pulang saja.


"David, kita langsung pulang saja, ya. Tolong pinjami aku HP mu untuk menghubungi Marius. HP ku ada di dalam tas. Susah diambil," kata Ana.


David segera melakukan perintah Ana.


................


Saat Ana dan Rain sedang berjalan-jalan di mall, seorang pria mengamatinya dari kejauhan. Dia mengikuti rombongan Ana dan Rain bersama para pengawalnya dari belakang dengan langkah kecil. Dia tidak ingin pengawal-pengawalnya itu kembali menyakiti lengannya lagi seperti tadi. Ya, pria itu adalah Ted.


"Sepertinya bakal sulit didekati," kata pria botak yang ada disebelahnya.


"Pinjam HP mu," kata Ted.


Pria botak itu memberikan ponsel miliknya. Ted mengambil dengan kasar ponsel itu. Dia lalu mengambil kertas yang ada di sakunya, dan menekan tombol angka sesuai yang tertulis di kertas itu.


"Halo, selamat siang," kata Ted seraya terus memperhatikan Ana yang juga mengangkat ponselnya.


"Apakah bisa saya berbicara dengan Ibu Fani? ... Oh, salah sambung? Maaf ya."


Ted lalu memutuskan panggilannya.


"Bener, Bos. Diangkat, Bos."


Ted memamerkan senyum sinisnya sambil terus memperhatikan Ana. Kali ini, dia tidak lagi mengikutinya. Langkahnya terhenti, karena dia sudah memastikan sendiri apa yang dia ingin tahu.


"Kita lanjutkan rencana kita."

__ADS_1


__ADS_2