Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Pingsan


__ADS_3

Ketika Tari dan Bu Rosita berada di dapur, tiba-tiba.


Brakkkk


Brugghh


Terdengar seperti orang mendobrak pintu. Mereka berdua saling berpandangan. Suara itu terdengar cukup keras.


"Bapak... " desis Tari.


Dan keduanya pun tersadar kalau datangnya suara bukan dari arah kamar dimana Pak Syabani sedang beristirahat. Tapi dari arah samping rumah mereka.


Keduanya pun keluar dan memandang ke arah pintu belakang rumah tetangga mereka. Suara tadi terdengar sangat keras, dan setelah itu tidak ada terdengar suara apapun lagi.


Tari penasaran apa yang terjadi di dalam rumah tetangga tampannya itu.


"Sepertinya dari arah dalam bu suaranya," ucap Tari lirih.


"Ada apa ya?" tanya Bu Rosita yang ternyata juga tak kalah penasaran.


Tari mencoba membuka handle pintu belakang rumah itu. Dan pintu terbuka, ternyata pintu tidak dikunci.


Mereka berdua mengintip, kosong, tidak ada orang. Keadaannya rumah itu juga senyap.


Bu Rosita yang pertama kali melangkah masuk ke dalam rumah tetangganya itu dan Tari mengikuti di belakang tampak ragu-ragu. Karena mereka memasuki rumah orang tanpa izin sehingga membuat Tari tak nyaman.


Bentuk rumah itu sama persis dengan rumah yang Tari dan keluarganya tempati sekarang ini. Letak kamar mandinya, kemudian ada meja kompor dan tempat westafel untuk mencuci piring berada di sebelah kamar mandi, lalu kamar tidurnya juga ada dua, dan hanya terdapat ruang tamu.


Namun isi dalamnya jauh berbeda. Rumah yang Tari tempati kini warna cat dindingnya sudah usang, karena mereka tidak pernah lagi mengecat dinding rumah itu.


Dapur mereka hanya terdapat kompor gas dua tungku peninggalan ibu kandung Tari yang sudah berkarat dibagian-bagian kiri dan kanannya. Kulkas yang mereka punya hanya satu pintu, rak untuk meletakkan piring dan peralatan masak dan meja makan yang sudah usang untuk meletakkan ceret tempat minum dan juga makanan yang hanya ditutupi dengan tudung saji.


Sedangkan rumah yang Tari dan Bu Rosita lihat sekarang ini. Catnya masih terang berwarna abu muda. Begitu mereka masuk dari pintu belakang tadi tampak kulkas dua pintu yang lebih tinggi dari badan mereka.


Disebelah kulkas terdapat meja makan berwarna hitam dengan cat mengkilap berukuran kecil namun tampak mewah dan sepasang dengan dua kursinya yang berjajar rapi.


Diatas meja makan tadi ada sebuah lemari gantung dua pintu berukuran kecil, berwarna hitam. Sepertinya sang penghuni rumah menyukai warna hitam.


Di atas meja kompornya, nangkring sebuah kompor satu tungku masih dengan warna hitam yang sepertinya masih baru. Masih di atas meja kompor, disana terdapat dispenser air juga berukuran kecil.


Setelah puas Tari menyapu seluruh isi dapur dengan pandangan matanya, kini pandangan Tari tertuju ke kamar mandi, yang pintunya tertutup rapat.


Segera Tari mendorong pintu itu, terkunci. Lagi, Tari dan Bu Rosita berpandangan.


"Ada orang, Bu," ucap tari pelan, memberitahukan ibu tirinya itu.


"Ketuk, Tari," suruh Bu Rosita pada Tari.

__ADS_1


Taripun mengetuk pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam itu.


Tok! tok! tok!


"Mas..." Tari memanggil


Tidak ada jawaban dari dalam.


Kembali Tari mengetuk.


Nihil. Tetap tidak ada yang menjawab.


"Bu, kalau pintu terkunci dari dalam berarti ada orang di dalam. Apa mungkin ada orang yang terkunci di dalam?" tanya Tari pada Bu Rosita, dengan suara masih pelan seperti orang berbisik.


Mereka saling terdiam sesaat melihat ke arah kamar mandi. Tiba-tiba mereka saling berpandangan lagi, pikiran mereka sama.


"Dobrak pintunya, Tari," suruh Bu Rosita pada Tari.


"Gak ah, Bu, 'ntar pintunya rusak lagi," ucap Tari.


"Ih.. kamu ini, namanya juga nolong orang, kita gak tahu keadaan orang yang di dalam bagaimana, yaudah ibu aja yang dobrak."


Setelah mengatakan itu Bu Rosita mengarah kan badannya kearah samping dan dengan menghentakkan badannya kepintu kamar mandi sambil mendorongnya.


Brrruakkk brruakkk


Pintu tidak bisa terbuka.


Brruakkk brruakkk


Dan akhirnya.


Greghhh


Pintu terbuka, ada yang patah karena pintu terbuat dari plastik melamin tipis.


Setelah pintu terbuka, mereka melihat sang tetangga pingsan tergeletak di lantai kamar mandi dengan wajah pucat.


"Astaghfirullah..." Tari menjerit dan menutup mulutnya.


Ia tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya didepan mata.


"Ayo angkat, Tari. Jangan bengong begitu," usul Bu Rosita.


"Tunggu, Bu," ucap Tari sembari berjongkok.


Ia mendekatkan tangannya kearah hidung Fadly, masih bernafas. Diraba dada bidang tetangga tampannya itu, jantungnya masih berdetak. Tari lega, setelah itu dengan sigap mereka berdua mengangkat laki-laki bertubuh tinggi itu. Namun tidak terangkat karena tenaga mereka tidak cukup kuat. Mereka hanya memapah Fadly itu pun kaki Fadly terseret di lantai.

__ADS_1


Mereka bingung akan membaringakan Fadly dimana, karena di rumah itu terdapat dua kamar tidur. Setelah sampai di ruang tamu, disana terdapat sofa santai panjang lalu di sanalah mereka membaringkan Fadly.


Tari meletakkan bantal di bawah leher Fadly agar jalan nafasnya lancar. Karena baju Fadly sudah basah terkena air dari kamar mandi sewaktu terjatuh tadi. Tari berinisiatif mengganti bajunya.


Ia berjalan kearah kamar, dibukanya pintu kamar depan, hanya terdapat kasur, meja kecil bertingkat dan beberapa buah jaket hoodie tergantung disebelah kaca besar. Tapi tidak ia temukan baju kaos yang bisa dipakai untuk ganti Fadly sekarang ini.


Lalu ia melangkah ke kamar sebelahnya, disana terdapat lemari. Tari membukanya, disanalah tersusun rapi baju-baju kaos, celana jeans, celana pendek maupun boxer.


Diambilnya baju kaos dari rak paling atas, kemudian celana pendek yang juga berbahan kaos dan ia ambil boxer karet yang ia rasa itu adalah pa *ka*ia *n d*lam.


Setelah keluar kamar, ia tidak melihat keberadaan ibu tirinya. Namun ia abaikan. Segera ia membuka kaos yang dipakai Fadly dan menggantikan dengan yang bersih.


Setelah selesai menggantikan baju, Bu Rosita datang dari arah belakang.


"Tari, ini ibu bawa minyak telon, ini cukup panas dan aromanya bisa membangunkan orang yang pingsan," ucap Bu Rosita sembari memberikan minyak telon yang diambilnya dari rumah.


Lalu Bu Rosita kembali beranjak pergi, namun Tari dengan cepat menghentikannya.


"Eh eh, Bu, mau kemana? bantu Tari gantiin celananya, Tari malu," ucap Tari.


"Udah gak usah diganti deh, gak basah banget kok," jawab Bu Rosita.


"Bapak kamu udah bangun tidur, dia lapar mau makan katanya," sambung Bu Rosita.


"Oh, yaudah, Bu. Temani bapak aja," jawab Tari.


Akhirnya Tari hanya mengganti bajunya saja, setelah itu ia mengolesi minyak telon ke hidung Fadly. Kemudian ia menepuk-nepuk pipi tetangga tampannya itu, sambil memanggil-manggilnya. Fadly tidak juga sadarkan diri.


Ketika ia berniat akan mengolesi minyak telon lagi, tiba-tiba ada seseorang di luar yang mengetuk pintu.


Tari beranjak, dan mengintip lewat jendela. Dilihatnya ada beberapa orang yang berbadan besar memakai baju serba hitam. Ternyata tamu itu adalah tamu Fadly. Ia membukakan pintu.


"Apakah benar ini rumah tuan Fadly?" tanya si tamu.


Tari yang berdiri diambang pintu bingung, karena sudah dua minggu lebih tetangganya itu menempati rumah ini, namun ia belum mengetahui nama tetangganya itu.


Padahal Fadly juga sudah membantu Tari dan menemani Tari waktu bapaknya di rumah sakit. Tapi entah mengapa Tari tidak menanyakan siapa nama tetangga tampannya itu, begitupun sebaliknya. Fadly pun juga tidak pernah menanyakan siapa namanya.


Lama Tari tidak menjawab pertanyaan pria berbaju serba hitam itu. Lalu pria tadi pun mengulang pertanyaannya.


"Eee.. saya gak tau nama penghuni rumah ini. Tapi benar dia laki-laki," jawab Tari gugup.


Sedangkan di dalam rumah, tepatnya diruang tamu. Fadly sudah sadarkan diri, namun karena mendengar ada orang yang mencarinya ia tidak mau bangun dan pura-pura pingsan, sepertinya Fadly mengetahui siapa yang sedang mencarinya saat ini.


#####


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca..


semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊


__ADS_2