
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Setelah menyetop angkot, mereka berdua naik. Perjalanan antara rumah sakit Setia Sehat ke rumah sakit Kasih Medica tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu lima belas sampai dua puluh menit saja.
Jalanan menuju rumah sakit Kasih Medica cukup sepi. Dikiri dan kanan jalanan hanya ada pepohonan yang rimbun dan tidak ada rumah-rumah warga.
Beberapa meter setelah angkot mereka berjalan, ada sebuah mobil berhenti didepan angkot mereka. Mobil itu menghadang angkot itu, jadi terpaksa supir angkot menghentikan laju angkotnya.
Sesaat setelah angkot berhenti, turunlah seorang pria memakai masker dan topi dari mobil yang menghadang angkot tadi. Pria itu langsung ke belakang, tempat para penumpang duduk. Pria itu menghajar semua penumpang yang ada di angkot itu termasuk Max dan supir angkot itu juga, hingga semua penumpang pingsan, kecuali Tari.
Tidak ada perlawanan apapun dari Max, ia menerima pukulan demi pukulan pria tadi.
Tari yang melihat semua orang tumbang menjerit histeris. Ketika ada sebuah mobil lewat ia berteriak meminta tolong. Namun sepertinya mobil yang lewat itupun tidak mau mengambil resiko karena pria bermasker tadi itu menunjukkan senjata tajam. Mobil yang lewat itupun tidak mau berhenti karena ketakutan.
Tari masih ada di dalam angkot itu, karena pria bermasker itu sedang tidak ada entah pergi kemana. Tari mengendap-endap keluar dari angkot.
Tapi ketika Tari sudah sampai di depan angkot itu, si pria bermasker tadi keluar dari balik mobilnya. Tari segera berlari, namun sayang si pria bermasker itu lebih cepat menangkap tangan Tari.
"Tolooong!!" Tari berteriak sekuat tenaganya.
Namun karena tempat itu memang sangat sepi sehingga tidak ada yang mendengarnya. Si pria bermasker tadi mencengkeram tangan Tari dengan sangat kuat, karena Tari meronta-ronta ingin melarikan diri dari tempat itu.
"Siapapun yang mendengar tolooong, Tolong sayaa!!" jerit Tari lagi.
Karena Tari terus menjerit-jerit meminta tolong, si pria bermasker tadi membekap mulut Tari agar orang lain tidak bisa mendengarnya. Tapi tangan pria itu digigit sangat kuat oleh Tari.
"Aaarrrghhh, kurang ajar kau gadis j*l*ng," maki si pria bermasker.
Kemudian pria itu melepaskan tangannya yang membekap Tari. Lalu pria itu tampak sangat emosi, ia pun mengambil sesuatu dari dalam saku celana jeansnya. Dengan cepat pria itu mengarahkan pisau silet ke mulut Tari. Pria itu hendak merobek mulut Tari karena Tari sudah lancang menggigit tangannya.
__ADS_1
Namun ternyata Max sudah berdiri didekat mereka, dengan cepat Max menendang tangan si pria bermasker tersebut. Tapi Tari tetap terluka, pipinya terkena silet dari si pria bermasker. Luka itu melebar hingga ke telinga, perih sekali tentunya yang dirasakan Tari.
Si Pria bermasker itu pun tidak tinggal diam, ia mendorong Max sehingga Max terjatuh, lututnya menyentuh aspal hingga celana yang di kenakannya robek.
Si pria bermasker yang sudah terlanjur emosi dengan Tari pun, kembali mengambil silet yang sudah terjatuh ke tanah akibat tendangan Max, dengan cepat ia mengarahkan silet di tangannya ke wajah Tari, hendak merobek mulut Tari lagi.
"Van!!" panggil Max pada si pria bermasker.
Namun yang dipanggil tidak perduli, ia seperti orang kesetanan. Lagi, dengan cepat si pria bermasker menggoreskan silet kearah mulut Tari sebelahnya yang belum terluka.
Sementara Tari yang sudah kesakitan akibat luka goresan silet yang pertama tidak siap untuk melawan si pria bermasker. Tari hanya bisa menghalau dengan kedua tangannya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
Kini luka itu semakin melebar, dari telinga kiri hingga ke telinga kanannya. Jadi, kalau dilihat seperti Tari mempunyai mulut yang sangat lebar. Menyeramkan tentunya bagi yang melihatnya.
Namun, tidak sampai di situ. Si Pria bermasker tadi hendak membawa Tari masuk ke dalam mobil yang ia kendarai tadi.
Dengan jalan terseok-seok karena lututnya terluka, Max mendekati Tari dan si pria bermasker. Kemudian Max menghantam punggung Tari dengan sangat kuat sehingga Tari pingsan tak sadarkan diri. Dan terkulai lemas jatuh ke tanah, dengan luka di pipi kanan dan kirinya yang terus mengeluarkan darah.
"Cukup van, cukup!!!" kali ini Max membentak Evan si pria bermasker.
Max meninju wajah Evan.
"Sadar lo, sadar!!" teriak Max pada Evan seraya mengguncang tubuh Evan.
Evan yang mendapat perlakuan seperti itu hanya terdiam. Ia tadi kalap, ketika Tari menggigit tangannya hingga hampir berdarah, ia langsung emosi, sampai Max pun mendapat serangan tiba-tiba yang mengakibatkan lututnya luka. Ia juga terduduk lemas di jalanan aspal didekat Tari jatuh pingsan.
"Gua suruh lo kerjai Tari, bawa ke mobil dan c*mb*i dia, kalau dia ngelawan lo boleh hajar dia, tampar dia. Tapi bukan buat dia jadi gini van!" ucap Max dengan sedikit emosi.
Evan tampak menjambak rambutnya sendiri, ia pun kasihan melihat Tari seperti yang sekarang dengan luka di wajah yang sangat menyeramkan.
"Terus sekarang gimana?" tanya Evan, tampak frustasi.
"Kita bawa dia ke rumah sakit tempat bapaknya di rawat. Gak tega gua biarain dia disini gini aja."
Mereka membawa Tari ke Rumah Sakit Setia Sehat dan korban para penumpang angkot yang di pukuli Evan yang masih belum sadar, diberi uang satu juta rupiah per orangnya di dalam saku mereka masing-masing. Kemudian mereka pun meluncur pergi ke Rumah Sakit.
Setelah sampai di Rumah Sakit Setia Sehat, mereka mengaku di rampok orang yang tidak di kenal. Max sendiri juga cukup bukti untuk mengatakan itu, karena lebam di wajahnya akibat bogeman dari Evan dan luka yang ada di lututnya akibat serangan tiba-tiba dari Evan membuat para perawat percaya pada mereka.
__ADS_1
Sementara Tari masih ditangani oleh para medis, Max membayar biaya administrasi rumah sakit untuk Tari sampai ia sembuh. Setelah selesai dengan administrasi kemudian mereka pergi.
Sekarang Tari masih belum sadarkan diri. Ia sudah di pindahkan di ruang rawat inap kelas VIP di lantai paling atas yaitu lantai tiga Rumah Sakit sesuai permintaan Max sebelum pergi tadi. Karena tidak ada keluarga yang menunggu Tari, para perawat pun merasa heran.
Tetapi, ada seorang perawat yang pernah melihat Tari sedang menjenguk Pak Syabani, pasien kelas tiga di lantai satu.
Sedangkan di ruang rawat inap bapaknya, Bu Rosita kini sudah menunggu Tari sejak pagi tadi. Berulang kali juga Bu Rosita menghubungi Tari melalui ponselnya namun tidak ada jawaban dari Tari. Bu Rosita jadi khawatir dengan Tari, tidak seperti biasanya Tari begini.
Datanglah perawat memberi tahu Bu Rosita bahwa Tari sedang di rawat di Rumah Sakit itu juga di ruang VIP di lantai tiga. Bu Rosita terkejut mendengarnya. Tentu hal itu ia tutupi dari bapak Tari, agar bapaknya tidak khawatir dan menjadi beban pikiran.
Biasa setelah minum obat, setengah jam kemudian Pak Syabani akan tertidur. Kemudian Bu Rosita pun beranjak untuk melihat keadaan Tari.
Setelah sampai di lantai tiga, Bu Rosita bertanya pada perawat di mana kamar rawat inap Tari. Perawat pun menunjukkannya.
Disaat Bu Rosita masuk, Tari pun sadar dan membuka matanya. Tari menatap langit-langit rumah sakit itu, sekilas ia mengingat-ingat kejadian sebelum dirinya tidak sadarkan diri. Ia pun bertanya-tanya dalam hatinya, siapa yang memukulnya hingga ia pingsan? dan siapa orang yang membawanya sampai ke rumah sakit? Banyak sekali pertanyaan yang ia ingin tanyakan, tapi pada siapa?
Bu Rosita mendekat kearah tempat pembaringan Tari. Air matanya menetes melihat keadaan Tari. Pipi kiri dan kanannya di perban hingga sampai ke telinga. Sungguh miris sekali.
"Apa yang terjadi Tari?" tanya Bu Rosita dengan berurai air mata.
Tari menatap Bu Rosita, ia pun tak kalah sedihnya. Entah bagaimana wajahnya nanti setelah sembuh, pasti jelek sekali karena ada bekas jahitan di pipinya. Hancur sudah hidupnya kini. Jangankan Fadly, Sandi saja yang sebelumnya mengejarnya sekarang belum tentu mau dengannya.
Belum lagi banyak sekali tanggungan hutang yang harus ia bayar. Biaya operasi untuk bapaknya, biaya rumah sakit untuk dirinya sendiri dan biaya rumah kontrakan yang sudah menunggak banyak.
Kenapa pria bermasker itu tidak membunuhnya saja, batinnya.
.
.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤