Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Penerimaan Andi


__ADS_3

Andi sebenarnya ingin mengatakan ia telah menjalin hubungan dengan Lea pada Tuan Haris dan Nyonya Shofia. Tapi, Lea melarang, karena saat ini Nyonya Shofia baru saja shock akibat mendengar berita tentang status Tari.


Mereka salah, mengapa tidak mengatakan pada security untuk melarang Adelia masuk. Karena ulah Adelia hampir saja resepsi pernikahan Fadly dan Tari batal.


Menurut Andi, hari ini adalah moment yang bagus untuk berkata jujur. Karena Nyonya Shofia dan Tuan Haris sedang berbahagia, sehingga kabar apapun akan diterima bauk oleh Nyonya Shofia dan Tuan Haris. Terbukti, Nyonya Shofia dan Tuan Haris telah menerima status Tari yang seorang jada bukan?


Tapi Lea tahu betul, papanya lebih bisa diajak kompromi dibanding mamanya. Jadi Lea memutuskan Andi bicara saja terlebih dahulu pada papanya. Baiklah, Andi menyetujuinya. Disaat Nyonya Shofia sedang berada di kamar pengantin bersama Fadly dan Tari, Andi menemui Tuan Haris untuk mengatakan yang sebenarnya tentang hubungannya dengan Lea.


Sore tadi Tuan Haris sedang duduk di taman hotel. Tuan Haris menunggu Nyonya Shofia yang sedang memberi pelajaran pada Fadly dan Tari karena tidak mengatakan yang sebenarnya tentang status Tari.


Perlahan Andi mendekat ke Tuan Haris, "Ehemmm.. Selamat sore Tuan," Andi menyapa Tuan Haris. Ia sudah biasa berbincang ringan dengan bos besar itu. Tapi kali ini rasanya sungguh berbeda.


Tuan Haris yang disapa langsung menoleh menatap Andi, "Oh, Andi. Sore! Ada apa? Tumben?" tanya Tuan Haris. Andi memang jarang sekali membuka percakapan terlebih dahulu. Membuat Tuan Haris jadi bertanya-tanya dalam hati apa yang akan dibicarakan oleh Andi.


Andi masih berdiri di depan majikannya, ia menunduk dan sedikit menatap Tuan Haris.


"Silahkan duduk Andi, ada apa? Apa kamu mau berhenti bekerja lagi?" tanya Tuan Haris. Memang Andi tidak pernah berbicara empat mata pada majikannya itu kecuali saat ia akan izin untuk berhenti bekerja waktu itu.


"Oh tidak, Tuan. Sebelumnya maaf jika saya mengganggu anda yang sedang bersantai," ucap Andi. Saat ini jantungnya sangat bergemuruh.


"Ah iya-iya tidak apa! Saya tidak keberatan. Jika kamu mau menemani saya mengobrol lebih lama lagi juga saya akan senang," tutur Tuan Haris sambil tertawa renyah.


Andi juga menanggapi dengan tertawa, "Tentu saya dengan senang hati akan menemani tuan mengobrol tapi mungkin bukan hari ini, karena hari ini ada banyak tamu yang akan tuan sapa."


"Ya, Andi. Tentu saja hahaha," balas Tuan Haris.


Suasana hati Tuan Haris hari ini benar-benar sangat bagus., karena sedikit berbicara pasti ada tawa yang terselip. Andi memang tidak salah jika mengatakan hal itu sekarang.


"Tuan!" Andi harus terhenti. Ia mengatur napas dan detak jantungnya yang berkejar-kejaran.


Tuan Haris tidak sabar menantikan apa yang sebenarnya ingin diucapkan supir pribadi anaknya itu. Ia sampai mengerutkan keningnya.


Bahkan belum memulainya saja Andi sudah berkeringat, Ia sedikit menghapus keringat yang ada dikeningnya. "Tuan... Sebenarnya, saya..." kembali Andi terhenti.


Andi menelan salivanya dan berdeham untuk melancarkan tenggorokannya. "Saya ingin mengatakan kalau saya mencintai nona Lea, Tuan. Saya dan nona Lea sudah berpacaran selama satu tahun belakangan," jelas Andi. Mungkin ia mengucapkan itu dengan satu tarikan napas.


Penjelasan Andi barusan cukup singkat. Sangat-sangat membuat Tuan Haris paham. Namun Tuan Haris berpura-pura tidak paham. Keningnya semakin mengerut lebih dalam lagi. Andi menjadi gusar melihatnya. Harus bagaimana lagi ia menjelaskan?

__ADS_1


Lea tiba-tiba datang, "Pa! Lea duluan yang mencintai Andi. Bahkan Lea yang memaksa Andi untuk mencintai Lea, Pa!" ucap Lea memperjelas apa yang dikatakan Andi tadi.


Lea ternyata sejak tadi mengintip dan menguping pembicaraan papa dan pacarnya itu. Ia tidak bisa hanya menunggu seperti intruksi dari Andi tadi. Andi memejamkan mata, ia sedikit kecewa pada Lea. Mengapa tidak membiarkan dirinya saja yang membicarakan ini pada Tuan Haris. Tuan Haris pasti akan menganggap Andi tidak berani, masih mengatakan hal seperti itu saja harus ditemani Lea. Duh! Lea.


"Tidak tuan! Saya tidak dipaksa untuk mencintai nona Lea. Perlahan tapi pasti perasaan cinta pada nona Lea datang dihati saya. Maaf tuan, jika saya lancang mencintai anak tuan, yang mana tidak lain adalah majikan saya sendiri."


Andi kembali menelan salivanya, melancarkan tenggorokannya yang agak kering. Dan melanjutkan lagi apa yang harus ia katakan. "Saya juga minta maaf, Tuan. Karena menjalin hubungan dibelakang Tuan Haris dan Nyonya Shofia diam-diam. Sekali lagi, mohon maafkan saya jika saya lancang."


Tuan Haris bangkit dari duduknya. Tidak mengatakan apa-apa pada Lea dan Andi. Ia langsung berjalan meninggalkan mereka berdua yang bertanya-tanya. Andi dan Lea saling berpandangan, mereka saling melempar pertanyaan lewat tatapan mata.


Dengan cepat Lea berlari menghampiri papanya, diikuti Andi dibelakangnya "Pa!" panggil Lea pada Tuan Haris.


Tuan Haris berhenti dan menoleh kebelakang menatap keduanya secara bergantian. Jawaban singkat dari Tuan Haris, "Apa?" dengan nada datar.


"Ck! Kok apa sih pa!" seru Lea.


"Terus papa harus apa Lea?"


"Saya harus apa Andi?"


Entah! Andi dan Lea tidak paham maksud Tuan Haris.


"Papa... Papa ng-nggak ngelarang kan?" tanya Lea, ia heran dengan papanya.


"Kamu mau papa larang?" tanya Tuan Haris.


"Seperti Fadly?" tambah Tuan Haris.


"Gak pa! No! No! No!" ucap Lea sembari menyilangkan kedua tangannya.


Tuan Haris kembali pergi meninggalkan Andi dan Lea. Tuan Haris berjalan, sepertinya kearah kamar pengantin. Lea dengan cepat mengejar Tuan Haris.


"Papa!" panggil Lea.


"Papa jangan bilang sama mama dulu, ya! Nanti biar aku sama Andi saja yang bilang ke mama."


"Terserah kamu!" seru Tuan Haris.

__ADS_1


Namun saat sudah dikamar pengantin Tuan Haris tidak mengindahkan kata-kata Lea saat diluar tadi. Dengan seenaknya dia mengatakan, "Ma! Sepertinya beberapa bulan kedepan mama bakal sibuk lagi menyiapkan pesta pernikahan Lea." Sembari duduk santai di sofa yang sudah tersedia dikamar itu.


Padahal dikamar itu sangat ramai. Selain ada Nyonya Shofia, Fadly dan Tari. Disana juga ada Handoko bersama tim riasnya. Namun Handoko dan para tim riasnya cukup tahu diri. Mereka memang mendengar, tapi tidak terlalu menanggapi, mereka hanya melanjutkan tugas mereka.


"Oh ya? Wah! Mama senang banget. Secepatnya kenalin sama mama ya sayang," Nyonya Shofia menanggapi.


Lea hanya mengangguk dan tersenyum kaku. Ia memberi kode pada papanya agar tidak melanjutkan lagi berita tentang dirinya. Namun Tuan Haris tidak ingin Lea pusing memikirkan lagi bagaimana cara mengatakan yang sejujurnya tentang hubungannya dengan Andi pada mamanya. Jika mamanya akan menolak, ataupun tidak menyetujui. Tuan Haris akan siap membantu anak gadisnya itu, ia siap menjadi tameng bagi anak perempuannya.


"Mama sudah kenal kok! Orangnya baik, kalau Lea mengenalkan sama mama pasti nanti mama langsung suka sama calon menantu laki-laki mama," tutur Tuan Haris menjelaskan.


Jelas saja membuat Lea melotot, "Papa!" teriak Lea, namun ada sedikit nada manjanya di teriakan tersebut.


"Papa apaan sih! Tadikan sudah janji," ucap Lea merengek dan menarik-narik lengan baju Tuan Haris.


"Papa kan tidak janji, Lea. Papa cuma bilang terserah!" ucap Tuan Haris memperagakan gayanya saat diluar kamar pengantin tadi, dengan kedua tangan terangkat keatas dan telapak tangannya juga menghadap keatas. 🤷‍♂️


"Siapa sih! Pa?" tanya Nyonya Shofia.


"Iya, siapa sih! Pa?" ucap Fadly membeo.


"Fadly tidak tahu juga kamu? Padahal kamu dekat loh sama dia," tutur Tuan Haris dengan sedikit memberikan clue.


Fadly mengerutkan keningnya, bibirnya monyong dan matanya menatap langit-langit kamar. Lalu ia menggeleng.


"Udah deh! Pa! Tidak usah pakai tebak-tebakan segala, mama penasaran. Siapa pa?"


"Andi, Ma!" jawab Tuan Haris singkat.


"Ha?" Fadly melongo.


Sedangkan Nyonya Shofia memasang wajah ingin menangis, lalu berjalan kearah Tuan Haris dan duduk di sofa sebelah Tuan Haris.


"Kenapa anak kita dapat janda dan duda ya pa?" ucap Nyonya Shofia sambil menenggelamkan wajahnya diceruk leher suaminya.


.


.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2