Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Fadly Menyatakan Perasaannya


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...


...❤❤❤...


Perlahan Tari mengangkat wajahnya, "Maaf kan saya ya mas, karena udah bilangin kamu tega sama wanita yang mencintai kamu, seharusnya saya gak berkata begitu."


"Iya gak apa-apa kok, gak perlu minta maaf. Karena kamu gak tahu rasanya dijodohkan dengan orang yang tidak kamu cintai. Kamu mau putus, tapi kamu harus mikirin gimana perasaan banyak orang."


Tari kembali tertunduk, ia merasa tidak enak hati pada Fadly.


Fadly menatap Tari yang sedang menunduk, ia bingung bagaimana cara menyatakan perasaan cintanya. Dirinya sudah mengatakan pada kedua orang tuanya akan membawa dan mengenalkan Tari ke keluarga Dewantara hari ini atau besok. Tapi Fadly belum menyatakan perasaan pada gadis cantik itu.


"Tari..."


Tari mengangkat kepalanya menatap Fadly yang memanggilnya.


"Kamu..."


Hanya dua kata itu yang berhasil lolos dari tenggorokannya. Selanjutnya ia tidak tahu mau mengatakan apa. Sesulit ini ternyata menyatakan perasaan cinta pada seorang wanita, pikir Fadly. Karena pasalnya, meskipun tidak pernah menjadi jomblo, Fadly hanya diam mendengarkan bagaimana para gadis-gadis itu menyatakan perasaan padanya. Bila dia suka maka dia akan menerimanya, bila tidak suka dia menolaknya. Segampang itu.


Kemudian Fadly dan Tari terdiam, lagi dan hanya saling pandang. Entah untuk yang keberapa kalinya Fadly memegang tangan Tari. Fadly mengelus lembut jari jemari Tari.


"Ehem.. kamu.. masih cinta gak sama aku?"


Ah, rasanya Fadly ingin memaki dirinya sendiri yang kini seperti kekanakan. Mengapa ia melontarkan pertanyaan itu lagi?


Tari hanya menatap Fadly dengan datar, tidak ada wajah keheranan, sedih atau apapun yang ia tunjukkan.


"Saya masih cinta kok sama mas Fadly, memangnya perasaan cinta bisa cepat hilangnya ya?"


Fadly memalingkan wajahnya dari Tari dan menoleh kearah lain, ia menahan tawanya dan merapatkan kedua bibirnya. Fadly berpikir, jika Tari terlalu polos sehingga jawabannya seperti itu.


"Gak Tari, gak cepat hilang kok rasanya. Apalagi kalau kamu pupuk terus rasa cinta itu. Rasa cinta itu akan terus berkembang dan membesar."


"Tapi sepertinya pupuknya kurang mas."


Fadly jadi heran apa maksud dari perkataan Tari. Ia mengerutkan keningnya. Dan tidak mencoba membalas ucapan Tari.


"Kurang, karena tidak berbalas," lanjut Tari. Sehingga sekarang Fadly jadi paham.


"Berbalas kok," desis Fadly.


Fadly mengucapkannya pelan, tapi masih tertangkap di telinga Tari. Tari yang mendengar itu jantungnya terpompa kencang tidak seperti biasa. Mungkinkah? pikirnya.


"Iya, berbalas. Aku juga cinta sama kamu, Lestari. Karena aku cinta sama kamu, makanya aku mau bawa kamu, mengenalkan kamu sama keluargaku."


Tari menelan ludahnya perlahan. Matanya terus tertuju pada Fadly. Ia tersenyum simpul, "Serius, mas?"


"Serius Tari, Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu."


Fadly terlihat sangat tulus ketika mengatakannya. Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Tari. Kata-kata itulah yang di nantikan Tari, semenjak Tari mengungkapkan perasaan cintanya pada Fadly beberapa bulan yang lalu di cafe ini juga.


Tari terisak mengeluarkan air mata bahagianya, tangannya yang di pegang Fadly sejak tadi kini ia balas dengan menggenggam tangan besar milik Fadly. Ia menangis tapi di bibirnya tersungging senyum bahagia. Ia merasa amat sangat bahagia, karena cintanya benar-benar berbalas.

__ADS_1


Fadly merasa hatinya lega karena telah berhasil mengungkapkan perasaannya pada wanita yang benar-benar ia cintai dan sayangi. Entah kapan perasaan itu muncul, Fadly tidak mengetahuinya. Yang pasti sekarang ini ia sangat menginginkan wanita di depannya menjadi miliknya seutuhnya.


Ia berjanji pada dirinya sendiri akan menikahi Tari dan memperistri Tari. Ia akan membawa Tari ke kehidupan yang baru. Yang lebih bahagia, tidak ada kesedihan dan tangisan seperti yang Tari rasakan selama ini.


Setahun yang lalu ketika dijodohkan oleh Adelia, ia seperti sangat enggan untuk berumah tangga. Tapi ketika ia merasakan cinta yang amat sangat besar pada Tari sekarang ini, ia jadi ingin secepatnya menikah dan memulai berumah tangga dengan Tari, wanita pilihan hatinya.


"Jadi, kamu siap kan kalau aku kenalkan kamu sama keluargaku?" tanya Fadly.


Tari yang tadinya tertunduk, kini ia mnedongak menatap Fadly.


"Sama papa, mama, dan kakakku," ucap Fadly melanjutkan kata-katanya.


Tari mengangguk beberapa kali, "Siap, mas."


"Hari ini kamu bisa gak?" tanya Fadly.


"Mmm.. Kalau besok aja bagaimana mas?" ucap Tari yang balik bertanya.


Fadly terkekeh pelan, ia melepas satu tangannya yang digenggam Tari sangat kuat.Tangannya terangkat dan mengahapus air mata Tari. "Kamu itu ya, kebiasaan banget sih, kalau ditanya, bukannya dijawab tapi selalu balik bertanya."


"Hehehe iya mas, soalnya kan hari ini sepertinya sangat terburu-buru, karena sudah sore" Tari memberikan alasan.


"Iya, yaudah besok aja, yaudah jangan nangis ya, cengeng banget sih," Fadly menggoda Tari, ia menowel sedikit pucuk hidung Tari.


"Ini tangisan bahagia mas," ucap Tari sembari tersenyum.


Dan dibalas senyum juga oleh Fadly.


"Oh iya mas, memangnya papa kamu sudah sembuh?" tanya Tari yang penasaran dengan kabar papa Fadly.


"Oh, Alhamdulillah. Jadi memangnya beliau besok ada waktu untuk bertemu saya, mas."


Fadly mengerutkan keningnya, "Tari, bisa gak sih kamu jangan menyebut diri kamu saya."


Tari sedikit terbengong dengan ucapan Fadly, "Hah! memangnya kenapa, mas?"


"Gak kenapa-kenapa sih, tapi aku dengernya kaya' resmi banget gitu."


"Hahahaha... " Tari tertawa terbahak-bahak.


Namun bagi Fadly itu semua tidak ada yang lucu yang harus ditertawakan, tapi ia senang melihat Tari tertawa seperti itu, seperti tidak ada beban. Pernah sekali ia melihat Tari tertawa terbahak-bahak seperti sekarang, ketika sedang di kiosnya bersama seorang pria dewasa, berkulit agak gelap.


Ah, ia mengingat itu. Ia akan menanyakannya nanti pada Tari, sebenarnya siapa pria itu sehingga bisa membuat Tari tertawa sebahagia itu. Ia masih penasaran, dan tentang Kemal, ia juga akan menanyakan apa hubungan Tari dengan Kemal.


Tapi itu nanti saja akan ditanyakannya, ia tidak mau merusak moment bahagia ini dengan membahas kedua pria rivalnya itu.


"Sudah selesai tertawanya?" tanya Fadly, yang melihat Tari seperti menghapus air mata diujung matanya karena tertawa.


"Hehehe sudah mas, jadi harus menyebut diri saya apa?"


"Ya, senyamannya kamu asal gak SAYA," Fadly mengucapkannya sambil menekankan kata terakhir.


"Loh, senyamannya, tapi saya nyaman pakai Saya. Karena dari awal kita bertemu juga saya menyebutkan diri saya, ya saya," ucap Tari, beberapa kali mengucapkan kata saya juga dengan penekanan.

__ADS_1


"Hhhhhhhh.. " Fadly menghela napas panjang. "Keras kepala banget sih kamu."


Tari tersenyum, ia sangat bahagia sekali sore ini, sehingga tidak masalah jika harus diatur-atur dengan hanya menyebut dirinya sendiri dengan sebutan apa pada orang lain.


"Yaudah, pakai aku aja ya mas," ucap Tari, ia memiringkan sedikit kepalanya sehingga membuatnya terlihat manja di mata Fadly.


"Iya sayang," jawab Fadly.


Mendengar itu Tari merona, "Terimakasih mas."


"Terimakasih buat apa?"


"Terimakasih sudah sayang sama aku," Tari menggigit bibir bawahnya, air matanya kembali menetes.


Fadly mengelus lembut pipi Tari, "Jangan nangis dong, aku tahu ini air mata bahagia. Tapi aku maunya kamu tertawa terus seperti tadi, jangan nangis, aku gak suka."


"Kalau tertawa terus nanti disangka orang gila, mas."


Fadly tertawa dan diikuti Tari yang juga tertawa.


"Tadi pertanyaan aku belum dijawab loh, mas."


"Pertanyaan yang mana sih?"


"Jadi besok papa kamu ada waktu bertemu sama aku?"


"Oh, pertanyaan yang itu. Ada sayang, besok kan minggu, hari libur. Sudah pasti ada waktu."


Setelah selesai membicarakan semuanya Fadly pun mengantar Tari pulang ke rumah. Besok mereka sepakat akan pergi jam sembilan pagi ke rumah Fadly, yang tentunya Fadly lah yang akan menjemput Tari terlebih dahulu ke rumahnya.


...^^^Sungguh aku mencintaimu, Lestari.. Tidak ada yang membuat hati ini gelisah selain tidak melihatmu satu hari saja.. Tidak ada yang sulit bagiku, kecuali memikirkan bagaimana menyatakan perasaan cinta padamu.. Akhirnya hati ini menemukan pilihannya ❤❤^^^...


...Fadly...


#####


Next >>>>>>>


 


Aduh mon maaf ya, gaje banget bab ini 😭


Dunia ngehalu author lagi tidak berkembang.. Tapi harus tetap up untuk menghibur readers semua..


Semoga terhibur ya..


Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik..


Tetap pantengin terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊


Mohon dukungannya


dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote nya untuk babang Fadly dan Tari..

__ADS_1


Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤


__ADS_2