Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Mencari Tari


__ADS_3

Tari dan Bu Rosita kini tinggal di daerah pesisir pantai. Ketika pertama kali pindah Tari mencoba mencari pelanggan yang mempercayainya untuk menjahitkan baju mereka padanya. Tapi sangat susah, mengingat yang tinggal di daerah itu kebanyakan adalah orang yang menengah kebawah.


Kemudian ia berjalan-jalan ke pantai, dan akhirnya ia menemukan ide yaitu menjahit topi pantai dan kemudian topi itu ia jual sendiri.


Tari menamakan topi itu dengan nama Lestari Hat Collection. Tari meletakkan logonya dibagian dalam topi itu. Setiap topi yang ia jahit semuanya ada logo yang sudah ia desain dan ia tempel dibagian dalam topi. Topi itu memiliki desain yang berbeda-beda dan sangat unik.


Untuk penjualannya Tari di bantu Bu Rosita berkeliling di pantai Green, kadang ada juga anak-anak remaja yang menjadi reseller nya. Tari lebih sering berada di rumah untuk menjahit topi dan mendesain berbagai jenis topi pantai. Dengan menjahit dan menjual topi pantai itulah Tari dan Bu Rosita mendapatkan penghasilan yang cukup lumayan.


Biasanya jika berkeliling menjajakan topi,Tari dan Bu Rosita pulang ke rumah sore hari. Tapi hari ini mood nya sedang tidak bagus, ia pulang terlebih dahulu tidak menunggu Bu Rosita seperti biasa.


Pertama kali melihat Fadly setelah lama tidak bertemu, hatinya bimbang. Apakah ia harus menemui Fadly atau tidak. Karena sekarang statusnya sudah berbeda, ia sekarang sudah menyandang status janda. Ditambah lagi dilihatnya Fadly sangat bahagia sekarang, mungkin lebih bahagia dari pada saat bersamanya dahulu. Jadi ia memutuskan untuk bersembunyi dari Fadly. Ia tidak mau mengganggu hubungan Fadly.


Namun tidak dipungkiri hatinya sakit melihat Fadly sudah menjalin hubungan dengan wanita lain. Apalagi Fadly terlihat sangat bahagia dengan wanita itu. Tari menangis di rumah kontrakannya yang sederhana itu.


Sejak tiga bulan kepindahannya ke daerah pesisir pantai itu, Tari sudah meniatkan untuk menjadi wanita yang kuat. Ia tidak boleh lemah, ia berjanji dengan dirinya sendiri tidak boleh cengeng lagi. Karena dirinya sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, hanya tinggal Bu Rosita, itupun hanya sebatas ibu tiri yang sewaktu-waktu bisa saja meninggalkannya.


Tari pun teringat akan hal itu, ia segera menyeka air matanya. Ia berjalan ke luar kamar dan memulai menjahit topi-topi yang sudah ia desain sendiri. Ia harus kuat, ia tidak boleh cengeng, sekali lagi ia tegaskan pada dirinya sendiri.


Jika Fadly sudah menemukan pilihan hatinya, Tari bisa apa. Dirinya juga sudah mengkhianati cinta Fadly karena menikah dengan Sandi.


***


Sebelum sore Bu Rosita juga sudah pulang ke rumah, karena ia tidak melihat Tari seharian di pantai. Bu Rosita jadi khawatir takut terjadi sesuatu dengan Tari oleh karena itu ia memutuskan untuk pulang, memastikan Tari berada di rumah dan baik-baik saja.


Dan benar saja, saat Bu Rosita masuk ke dalam rumah. Ia mendapati Tari sedang menangis sambil menjahit.


"Tari, kamu kenapa? kok menangis?" tanya Bu Rosita sedikit panik.


Sejak tadi Tari memang ingin cerita dengan Bu Rosita, ia menunggu kepulangan Bu Rosita dari pantai menjajakan topi pantai. Tari yang kini hidup berdua dengan Bu Rosita jadi terbiasa mencurahkan isi hatinya pada Bu Rosita. Ia sudah menganggap Bu Rosita ibu kandungnya sendiri.


Tari menghentikan kegiatannya yang sedang menjahit. Ia memutar duduknya menghadap Bu Rosita yang tadinya duduk disampingnya.

__ADS_1


Tari pun menceritakan kalau tadi ia melihat Fadly. Fadly sepertinya sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang ini.


Bu Rosita Terdiam, entah kenapa Bu Rosita menebak hari ini akan terjadi. Ia menebak suatu hari nanti Tari dan Fadly pasti akan bertemu lagi. Dan inilah harinya.


"Jadi bagaimana reaksi Fadly saat melihat kamu?" tanya Bu Rosita.


"Mas Fadly tidak melihat Tari, Bu. Tari sengaja bersembunyi dari Mas Fadly" ucap Tari sambil mengingat kejadian tadi saat ia melihat Fadly.


"Loh! kenapa begitu? jadi kamu gak langsung menemui Fadly?"


"Gak, Bu. Dia udah bahagia dengan pacar barunya. Tari gak mau ganggu."


"Kamu tahu dari mana? itu yang kamu lihat hanya sepintas saja kan?"


"Gak tahu, Bu. Tapi sepertinya yang dari Tari lihat begitu. Mas fadly sangat bahagia tadi."


***


Lalu salah satu teman Florentina melihat seorang pemuda menjajakan topi pantai. Ia pun tertarik untuk membeli topi yang dijajakan Rian, salah satu remaja reseller Tari. Mereka membeli topi pantai yang unik-unik dari Rian. Tentunya Fadly lah yg menjadi penerjemah mereka.


Masing-masing dari bule itu membeli topi pantai yang dijajakan Rian. Mereka juga membelinya untuk mereka bawa ke negara asal mereka untuk dijadikan souvenir, karena topi itu memiliki design yang sangat unik.


Florentina juga membeli satu untuk Fadly. Karena dilihatnya sedari tadi Fadly tidak berniat untuk membeli topi itu, sehingga Florentina berinisiatif membelinya untuk Fadly dan memberikannya pada Fadly. Awalnya Fadly menolak, namun karena Florentina memaksa akhirnya Fadly pun menerima topi pemberian Florentina.


Sore itu, topi yang di bawa Rian dari rumah Tari ludes terjual oleh bule rombongan Florentina dan teman-temannya. Rian pulang dengan senyum mengembang di bibirnya.


Akhirnya waktu kebersamaan merekapun telah usai. Fadly dan rombongan Florentina berpisah di pantai itu. Florentina memberikan uang tips yang mereka janjikan untuk Fadly karena sudah mau menjadi guide mereka selama berlibur di pantai itu.


Dengan uang tips yang diberikan Florentina itu, Fadly kembali mencari keberadaan Tari. Malam itu ia mencari hotel yang murah untuk beristirahat, karena uang yang dimilikinya hanya pas-pasan.


Keesokan harinya...

__ADS_1


Fadly kembali ke desa pandanan, ia kembali ke depan kios jahit Tari yang kini sudah rata dengan tanah itu. Ia menanyakan Tari pada setiap orang yang lewat di depan kios jahit Tari.


"Bu, maaf bu mengganggu sebentar. Apa ibu pernah menjahitkan baju disini?" tanya Fadly pada seorang ibu yang kebetulan lewat kemudian ia menunjuk kios yang sudah tidak berbentuk lagi itu.


"Oh, Tari?" jawab sang ibu.


"Iya, Bu. Benar, Tari. Apa ibu pernah menjahit baju sama Tari?"


"Pernah, Mas."


"Sekarang ibu tahu gak dia tinggal dimana?"


"Wah! gak tahu saya, Mas."


"Oh! baik, Bu. Terimakasih kalau begitu."


Seperti tidak ada lelahnya, setiap ada yang lewat pasti ditanya seperti itu oleh Fadly. Tidak putus asa, ia melakukan hal itu selama dua hari.


Dodi yang melihat Fadly selama dua hari itu pun sebenarnya iba. Fadly pun sudah berulang kali bertanya padanya tentang keberadaan Tari. Ingin sekali ia memberitahukan Fadly keberadaan Tari. Tapi mengingat jajinya pada Tari sehingga Dodi pun hanya menutup mata melihat kegigihan Fadly mencari Tari. Dodi juga tidak tahu apa sebenarnya maksud dan tujuan Fadky mencari Tari.


"Benar abang gak tahu dimana Tari tinggal sekarang?" tanya Fadly pada Dodi saat Fadly sudah akan kembali ke hotel tempat ia menginap.


"Mas, ini sudah yang ke tujuh kalinya Mas tanya sama saya. Saya benar gak tahu," begitulah jawaban dari Dodi.


Dua hari pencarian Fadly hanya sia-sia. Ia pun kembali ke hotel tempatnya menginap selama dua hari ini. Tidak tahu besok akan mencari Tari kemana lagi, namun hari ini sepertinya ia sangat lelah karena tidak ada titik terang dari pencariannya.


.


.


To Be Continued..

__ADS_1


__ADS_2