Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Perdebatan


__ADS_3

Fadly melangkah gontai meninggalkan Tari sendirian di halaman belakang menuju ke ruang kerja papanya.


Fadly mengetok pintu setelah sampai di depan ruang kerja papanya.


Tok Tok Tok


"Masuk."


Fadly membuka pintu dan masuk. Disana sudah ada mamanya juga.


Setelah Fadly sudah berada di ruangan itu. Tuan Haris berdiri menatap tajam kearah Fadly.


Tuan Haris bersedekap dada, "Maksud kamu apa dengan pergi tiba-tiba dari meja makan tadi, Tanpa pamit pula. Tidak sopan kamu!"


"Itu semua karena perempuan itu kan?" sambung Nyonya Shofia.


"Siapa yang mama maksud? Tari?" tanya Fadly.


"Iyalah, perempuan siapa lagi?" ucap Nyonya Shofia mengiyakan.


"Kenal dimana kamu dengan gadis seperti itu? Kamu selama ini cuma bilang, kamu tidak cinta dengan Adelia karena kamu sudah mencintai gadis lain. Tapi papa tidak menyangka ternyata gadis seperti itu yang membuat kamu jatuh cinta?"


"Pa, memangnya kenapa dengan Tari?. Dia gadis yang sopan, baik dan dia juga pekerja keras."


"Dia sangat jauh dari keluarga kita Fadly, kata mama dia seorang penjahit, apa benar?"


Fadly segera menoleh kearah mamanya, "Dari mana mama tahu kalau Tari penjahit?"


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan Fadly, jawab papa, dari mana kamu mengenal gadis itu?" tanya Pak Haris dengan nada tinggi.


"Kenal dari mana? Apa itu penting pa? bukannya mencari pendamping hidup itu yang terpenting adalah sifat dan sikapnya? Sudah aku bilang kan, kalau Tari itu gadis yang baik."


"Dari mana kamu tahu kalau dia gadis baik-baik? Apa kamu mengenal seluk keluarganya? sudah kamu cek semuanya? Mama sudah cek, dan para tetangganya mengatakan, kalau ibunya itu wanita yang sangat matre."


Fadly tidak menjawab, ia hanya membuang napas kasar dan menatap keluar jendela.


"Kamu mau melihat harta yang selama ini papa dan mama cari untuk keluarga kita di gerogoti oleh keluarga Tari?" lanjut Pak Haris.


Lagi-lagi Fadly tidak menjawab, ia geleng kepala dan tidak menyangka jika pikiran papanya sampai seperti itu dengan keluarga Tari.


"Sebelumnya kamu tidak pernah bersikap tidak sopan ketika berada di meja makan. Sebelumnya juga kamu tidak pernah membantah kata-kata mama dan papa. Tapi semenjak kamu mengenal dia kamu jadi seperti ini."


Fadly mengalihkan pandangan ke papanya, "Sejak mengenal dia? bahkan sebelum mengenal dia aku udah pernah minta apertement sama papa, aku pengen hidup sendiri, aku gak pengen diatur-atur seperti ini, ini yang papa bilang tidak pernah membantah?"

__ADS_1


"Memangnya kamu bisa apa hidup tanpa diatur mama papa? bisa kamu hidup tanpa mama dan papa ha!" Tuan Haris mulai meninggikan suaranya.


Nyonya Shofia mendekat pada Tuan Haris, "Pa, jangan pakai emosi, tidak baik bagi jantung papa."


"Kalau itu yang papa tanyakan, jujur aku gak bisa hidup tanpa mama dan papa. Karena aku sangat menyayangi mama papa, aku butuh dukungan dan doa dari mama papa."


"Bukan hanya hidup tanpa mama papa, tapi kamu juga tidak bisa hidup tanpa harta dari mama dan papa, ya kan?" sekarang bukan Tuan Haris yang berkata, tetapi Nyonya Shofia.


"Kalau itu yang mama bilang, salah! Aku bisa kok hidup tanpa harta dari mama dan papa. Aku laki-laki ma, aku bisa bekerja."


Nyonya Shofia tersenyum miring, "Kamu yakin, sayang?"


"Mama menyepelekan aku?"


Nyonya Shofia dan Tuan Fadly saling berpandangan.


"Mama dan papa tahu kamu sejak kecil seperti apa Fadly, kamu tidak bisa hidup tanpa harta dari mama dan papa. Sudahlah kamu akui saja," ucap Tuan Haris.


Kata-kata itu membuat Fadly sedikit tersinggung, meskipun yang mengucapkannya adalah papanya. Karena bagaimanapun Fadly tetap menjunjung tinggi harga dirinya. Ia tidak mau disepelekan, mama dan papanya sendiri saja sepele terhadap dirinya, tentu orang lain akan memikirkan hal yang sama jika ia terus-terusan meminta dan mengharapkan kedua orang tuanya.


Ia sudah membuktikan bisa hidup bebas diluar tanpa mama dan papanya selama enam bulan lamanya. Namun benar, ia masih memakai uang orang tuanya pada saat kabur dari rumah.


Fadly mengusap wajahnya dengan kasar, "Oke, aku akan buktikan sama mama dan papa, aku bisa hidup tanpa harta dari kalian! aku bisa sukses tanpa kalian!."


"Kamu mau kemana, Fadly?" ucap Nyonya Shofia gelisah.


"Sesuai dengan yang aku katakan, ma. Aku akan keluar dari rumah ini tanpa membawa apapun," ucap Fadly seraya mengeluarkan isi dompetnya. Atm, uang tunai dan kartu kredit yang semua itu di fasilitasi oleh kedua orang tuanya. Dan tak lupa kunci mobil juga dikeluarkan dari saku celana. Ia menyerahkan kunci mobil, uang, dan kartu-kartu tadi ke tangan sang mama.


Kemudian ia hendak berjalan ke halaman belakang dimana tempat tadi ia meninggalkan Tari sendiri.


Nyonya Shofia menarik tangan Fadly, "Tidak Fadly, mama tidak akan membiarkan kamu hidup susah di luar sana, mama tidak akan membiarkan kamu pergi lagi, sayang."


Ucapan Nyonya Shofia masih terdengar oleh Tuan Haris karena pintu ruang kerja Tuan Haris belum tertutup.


"Biarkan saja ma," lalu Tuan Haris melangkah dan sekarang berada diambang pintu ruang kerjanya.


"Biarkan saja anak itu pergi tanpa membawa apapun sesuai keinginannya, kita lihat, seberapa jauh dia bisa melangkah tanpa harta dari orang tuanya yang selama ini susah payah bekerja untuknya," ucap Tuan Haris marah.


"Jangan gitu dong pa," ucap Nyonya Shofia agak memelas.


Fadly yang mendengar penuturan papanya tadi segera melepaskan tangan mamanya dan melangkah ke halaman belakang. Setelah sampai di halaman belakang, di lihatnya Tari masih duduk di bangku yang sama seperti tadi. Dengan cepat Fadly mengambil tangan Tari. Tari pun langsung berdiri keheranan dan dengan langkah lebar ia mengikuti Fadly yang masih memegang tangannya.


Mereka berdua terus berjalan dan melewati Tuan Haris dan Nyonya Shofia yang masih berdiri di depan ruang kerja Tuan Haris. Tari yang masih merasa heran dengan sikap Fadly pun hanya membungkuk saat melewati Tuan Haris dan Nyonya Shofia.

__ADS_1


"Pa, jangan begitu pa, tolong jangan membiarkan Fadly pergi lagi," Nyonya Shofia bermohon pada suaminya. Namun tidak ada tanggapan apapun dari Tuan Haris.


Saat melewati tangga, kebetulan Lea yang baru turun dari tangga melihat Fadly dan Tari yang jalan dengan langkah lebar juga merasa heran. Namun dirinya tidak berkata apapun. Tari, seperti tadi, ia membungkuk tanda berpamitan saat melewati kakak dari Fadly tersebut.


Setelah mereka sampai dipintu keluar, Nyonya Shofia berlari mengejar Fadly dan Tari. Nyonya Shofia menghadang di depan mereka.


"Fadly, tolong jangan seperti ini, sayang. Maafkan mama dan papa karena sudah berbicara seperti itu tadi," ucap Nyonya Shofia dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


Fadly memegang tangan mamanya, "Mama papa gak salah apa-apa kok, gak perlu minta maaf."


Nyonya Shofia menggenggam tangan Fadly dengan erat.


"Tindakan mama papa sudah benar, dengan begitu aku bisa hidup mandiri tanpa bantuan mama papa, dan fasilitas apapun dari mama papa, aku akan berusaha dan memulai dari nol," ucap Fadly melanjutkan kata-katanya.


Fadly dengan kuat melepaskan genggaman mamanya, lalu ia melangkah dan masih tetap memegang tangan Tari.


Nyonya Shofia masih menahan Fadly, ia memegang baju belakang Fadly, "Tidak Fadly, jangan pergi, kamu juga masih sakit. Mama sayang sama kamu, nak. Jangan seperti ini, tolong turunkan sedikit ego kamu."


Fadly tidak menggubris kata-kata namanya, ia terus saja melangkah dan terus berjalan keluar. Sedangkan Nyonya Shofia juga masih terus mengejar Fadly sambil menangis.


Tari yang melihat adegan mama dan Fadly pun tidak tega melihat Nyonya Shofia yang terus menangis, ia berhenti dan menahan tangan Fadly agar ikut berhenti.


"Kasihan mama kamu, Mas. Sebenarnya kamu mau kemana?" ucap Tari yang sudah berhasil membuat Fadly berhenti.


"Aku mau hidup mandiri, Tari. Aku ingin membuktikan aku juga bisa hidup tanpa fasilitas apapun dari mama papa. Aku ingin sukses dan buktikan sama mama papa," Fadly berucap dengan sedikit gemetar menahan tangis.


"Jangan seperti itu, Mas Fadly. Lihat mama kamu, dia gak ingin pisah dari kamu."


"Halah kamu gadis miskin, ini semua karena kamu. Karena membela kamu makanya Fadly jadi begini," ucap Nyonya Shofia sinis.


"Ma," Fadly membentak mamanya.


Nyonya Shofia terkejut, begitu juga dengan Tari. Kedua wanita itu terdiam sesaat.


Fadly memejamkan matanya, mengapa sangat sulit meyakinkan kedua orang tuanya jika bukan karena Tari ia jadi anak pembangkang, bahkan sejak dulu ia ingin jadi anak pembangkang, tetapi baru sekarang ia berani. Itupun ia tidak tega menyakiti hati kedua orang tuanya.


#####


Next>>>>>>>


Semoga terhibur ya..


Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤


__ADS_2