
Menjelang maghrib Tari baru sampai dirumahnya. Banyak sekali bahan untuk membuat topi yang ia dan Bu Rosita beli. Karena memang sangat dibutuhkan.
Malam harinya, Tari berniat akan membongkar belanjaannya tadi. Namun, Bu Rosita tahu Tari sangat kelelahan sehingga Bu Rosita melarang Tari untuk mengerjakannya.
"Besok aja dikerjakan, Tari. Hari ini kan kamu sudah lelah belum ada istirahat sejak tadi, jangan sampai kesehatan kamu menurun karena kurang istirahat."
"Iya, Bu. Tari hanya memeriksa barang-barang yang di beli tadi aja kok. Nanti kalau ada yang kurang atau terselip jadi besok bisa langsung ke tokonya lagi," ucap Tari menjelaskan.
Bu Rosita pun mengerti. Perhatian-perhatian kecil yang seperti ini yang membuat hubungan keduanya menghangat. Meskipun tidak ada hubungan darah antara mereka, tapi mereka saling menyayangi. Meskipun hubungan antara keduanya pernah memanas.
***
Hari ini Fadly dan Bastian beserta rombongannya akan bertolak langsung dari bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Ngurah Rai. Fadly sudah memesankan tiket untuk sebelas orang termasuk dirinya. Karena rombongan Bastian berjumlah sepuluh orang, lebih tepatnya lima pasang. Karena mereka semua terlihat berpasangan, lima orang wanita dan lima orang pria.
Pesawat mereka siang nanti baru akan terbang. Tapi karena perjalanan dari Desa Pandanan ke Bandara memakan waktu enam jam, bahkan bisa lebih jika dijalan sedang macet. Sehingga mereka sudah bersiap sejak subuh.
Dan siang itu, Akhirnya mereka sampai di Bali. Bastian mengatakan, mereka akan berlibur di Bali selama satu minggu. Tentunya semua itu Fadly lah yang membuat jadwal liburan mereka. Tempat-tempat mana yang akan mereka kunjungi selama di Bali.
Saat pertama tiba di Bali tentu yang mereka tuju adalah hotel, Fadly sudah nemesan Resort Hotel malam sebelum berangkat ke Bali. Hotel dan Resort yang Fadly pesan itu sangatlah indah. Memiliki bangunan kamar yang sangat unik. Di Resort itu juga memiliki kolam renang dan menyajikan pemandangan lepas pantai yang sangat indah.
Perjalanan dari Desa Pandanan ke Bandara yang sangat melelahkan membuat mereka menunda untuk mengunjungi destinasi pertama mereka. Sore sampai malam nanti mereka mengatakan tidak ingin pergi kemana-mana, mereka hanya ingin beristirahat di Hotel dan Resort sambil menikmati keindahan sunset di sore hari.
Sudah lama Fadly mengetahui jika di Bali ada resort yang indah seperti itu, karena sejak kecil keluarganya memang sering berlibur kemana saja, termasuk ke Bali. Namun baru kali inilah Fadly datang bukan untuk berlibur, melainkan untuk bekerja.
Ia tahu keluarganya sekarang sedang mencari keberadaannya yang kabur dari Amerika demi Tari. Ia mengetahui hal itu dari Andi, supir mereka.
Nyonya Shofia juga berulang kali mengirimkan pesan padanya, pesan-pesan itu dikirim Nyonya Shofia ke nomor ponsel lamanya. Fadly tahu hal itu akan terjadi, sehingga ia sengaja membeli dan mengganti nomor ponselnya yang baru. Namun Fadly tidak pernah menanggapi pesan-pesan yang dikirim oleh mamanya tersebut.
__ADS_1
Bastian dan para teman-teman Bule nya sedang menikmati sunset dan keindahan alam Bali yang tersaji di resort yang dipilihkan dan dipesan oleh Fadly. Sementara Fadly masih berada di kamarnya, ia juga lelah. Lelah hati, pikiran dan juga raganya. Bukannya Bastian tidak mengajaknya bersama mereka, namun Fadly yang menolak ajakan Bastian. Ia beralasan sudah bosan menikmati resort itu, yah! Memang begitulah adanya.
Malam hari pun tiba, Fadly masih setia bergelung dibawah selimut kamar hotel. Hati dan pikirannya masih sangat ingin mencari Tari. Ia belum tenang jika belum menemukan Tari. Bagaimana keadaan Tari, apakah dirinya sehat dan baik-baik saja?
Begitu banyak pertanyaannya yang belum terjawab semenjak ia kembali dari Amerika. Pertanyaan itu akan terjawab jika dirinya sudah bertemu dengan Tari. Lama melamun dan memikirkan gadis pujaan hatinya membuat matanya lelah dan terpejam lalu pergi kealam mimpi.
Pagi hari pun menyapa, Fadly sudah menuntaskan istirahatnya satu malaman, ia sudah selesai membersihkan dirinya lalu sarapan dan kini sedang menunggu para Bule-bule itu untuk bersiap-siap memulai menjelajahi pulau Bali.
Tidak lama kemudian, Bule-Bule yang ditunggunya pun turun. Mereka semua mulai menikmati sarapan yang disajikan pihak hotel. Mereka tidak sabar ingin pergi menikmati keindahan pulau Bali, yang mereka katakan berulang kali pada Fadly.
Setelah memastikan semuanya sudah selesai, Fadly memulai perjalanan. Tempat pertama yang mereka datangi adalah Pura Ulun Danu Beratan Bedugul. Tempat itu sangat nyaman dan memiliki keindahan tersendiri. Udara disekitar Pura Ulun Danu Beratan Bedugul sangat sejuk.
Sepertinya para Bule itu sangat menikmati suasana yang ada di tempat wisata itu. Bastian dan teman-temannya pun seperti tidak bosan berswa foto disana. Mengabadikan moment mereka dan tentu memamerkannya ke sosial media mereka.
Masih di hari yang sama Fadly membawa mereka melanjutkan perjalanan ke kebun raya Bedugul Bali. Karena lokasinya berdekatan dengan tempat persinggahan pertama. Lokasi itu sangat luas dan asri.
Fadly mengatakan, melihat sunset di pantai Kuta sangat menyenangkan. Tentu Bule-Bule itu sangat antusias dengan apa yang dikatakan Fadly. Mereka menunggu hingga sore hari barulah kembali ke penginapan setelah melihat sunset di pantai Kuta.
Selama satu minggu perjalanan wisata mereka, Fadly akan menjelaskan dengan detail pada Bastian dan teman-temannya itu tentang pertanyaan yang mereka ajukan. Karena Fadly bukan hanya membawa mereka ke tempat wisata, melainkan Fadly juga memperkenalkan budaya Bali pada mereka.
Seperti pada malam hari setelah berkeliling dari Pura Uluwatu Bali. Fadly membawa mereka melanjutkan menonton tari kecak api yang paling terkenal di Bali.
Dalam satu hari mereka akan di bawa Fadly mengunjungi dua atau tiga tempat wisata, agar mereka puas berlibur di Pulau Bali.
Dihari kejutuh, saat mereka akan kembali ke penginapan. Fadly bertemu dengan Arya, Arya adalah teman Fadly saat kuliah di Jakarta.
"Fadly," sapa Arya saat melihat Fadly bersama rombongan Bule.
Fadly menoleh dan mendapati Arya dengan wajah terkejut. Karena Fadly dan Arya bertemu di area parkiran penginapan, sehingga Fadly menyuruh Bastian dan teman-temannya untuk langsung masuk saja terlebih dahulu ke penginapan tanpa harus menunggunya.
__ADS_1
"Bastian, kalian bisa masuk lebih dulu. Tidak usah menungguku. Aku ada urusan sedikit dengan temanku," ucap Fadly menjelaskan sembari menunjuk Arya.
"Sedang apa Fad? Kok banyak bawa Bule kesini?" tanya Arya pada Fadly, sepeninggal Bule-Bule itu.
"Oh, gue lagi bawa rombongan Bule Amerika, Ar. Gue jadi tour guide mereka," jawab Fadly jujur.
Arya yang sejak tadi memasang wajah heran, malah semakin dalam mengerutkan dahinya. Pasalnya, setahunya Fadly adalah anak konglomerat yang ada di Indonesia. Sewaktu kuliah saja Fadly adalah temannya yang paling kaya seantero kampus. Mengapa kini ia mau menjadi tour guide?
Arya pun enggan menanyakan hal itu, biarlah Fadly dengan pekerjaan barunya. Mungkin Bule-Bule itu temannya. Begitulah pikir Arya.
Fadly tertawa saat melihat raut wajah Arya yang terkejut, heran, dan bertanya-tanya.
"Kenapa tertawa?" tanya Arya.
"Lucu gue lihat muka lo, hahaha," Fadly semakin terkekeh.
Arya lagi-lagi enggan menanggapi gurauan Fadly, "Kalau ada job lebih kasih gue ya," ucap Arya.
Fadly tersenyum, temannya yang asli orang Bali itu memang terlalu serius dalam menanggapi sesuatu. Tapi bukan berarti Arya orang tidak bisa diajak bercanda.
Fadly menepuk bahu Arya, "Ya, Nanti gue kabari kalau dapat Bule mau tour ke Bali lagi," Jawab Fadly.
Mereka pun berpisah setelah mereka saling bertukar nomor ponsel, karena keduanya sudah mengganti nomor lama mereka dengan yang baru. Fadly berjanji akan memberi kabar Arya tentang job selanjutnya jika ada.
.
.
To Be Continued...
__ADS_1