
Tari sudah bersiap akan pergi ke kios jahitnya pagi ini. Bapak dan ibu tirinya tidak pergi ke rumah sakit, karena memang tidak ada jadwal pengobatan hari ini.
Setelah semalam Tari mengetahui kebenaran tentang Fadly, kini dirinya akan mempersiapkan hatinya untuk menjauh dari Fadly.
Lelaki tampan nan kaya yang tak mungkin mau dengannya yang hanya seorang gadis miskin. Bahkan teman sekolahnya dulu saja tidak mau lagi berteman dengannya karena ia dinilai sebagai gadis yang cupu, norak dan tidak pandai bergaul.
Tari mulai keluar dari rumah, berjalan kearah kanan dijalanan depan rumahnya yang cukup ramai kendaraan lalu lalang. Kemudian memasuki gang sempit untuk menuju kios jahitnya.
Ia teringat kembali ketika pertama kali bertemu dengan Fadly dijalanan ini. Fadly menabrak lengannya dari belakang dan hampir saja Tari terjatuh. Tapi dengan cepat, Fadly menangkap tangannya agar Tari tidak terjatuh.
Jarang sekali kendaraan lewat di gang sempit itu, kecuali motor. Itupun hanya orang-orang yang rumahnya dekat dengan gang itu saja. Selain itu, orang malas melewati gang sempit itu. Karena gang itu memang di peruntukkan bagi pejalan kaki. Tapi pagi ini sebuah mobil sedan sedang berada tepat di depannya. Tari sedikit minggir agar mobil itu bisa lewat, namun bukannya lewat mobil itu malah berhenti.
Tari sedikit kesal, pagi-pagi begini orang sedang sibuk beraktivitas termasuk dirinya. Tapi mobil di depannya malah berhenti di tengah gang yang sempit dan menghalangi jalan orang lain, yaitu dirinya sendiri.
Tari melanjutkan langkahnya, ia berjalan dari pinggir-pinggir mobil itu. Mungkin mobil itu mogok sehingga berhenti di tengah jalan, begitulah pikir Tari.
Ketika ia sudah berada tepat disamping mobil itu, pintu mobil itu terbuka. Fadly keluar dari mobil itu dengan memakai baju kemeja berwarna biru langit dan dasi bergaris dengan warna biru yang lebih tua dari bajunya. Kini Fadly berdiri menjulang di depan Tari, mereka terhalang pintu mobil yang masih terbuka.
Tari terkejut dengan kemunculan Fadly. Tari mendongak menatap wajah tampan Fadly, ia mengucek matanya memastikan jika dirinya tidak salah lihat.
Fadly terkekeh dan membuka kaca mata hitamnya. Mata mereka bertemu dan saling mengunci seolah tidak ingin beralih pandang kearah lain.
"Mas Fadly?" panggil Tari.
"Iya, ini aku," kembali Fadly tersenyum lebar.
Tari melihat wajah Fadly semakin segar ketimbang dulu ketika Fadly tinggal di rumah kontrakan.
Tiiin tiiiiiinn,,, tiiiiiiinnnn!!!
Suara klakson motor yang akan lewat mengganggu mereka yang sedang saling pandang.
"Tari, kamu ikut aku dulu ya, masuk mobil yuk! ada yang mau aku bicarakan sama kamu," ucap Fadly.
Karena motor dibelakang mereka berulang kali membunyikan klaksonnya, Fadly dengan cepat bergerak. Pertama, ia menutup pintu mobil, kemudian menarik tangan Tari dengan lembut untuk berada disampingnya, kemudian membuka pintu mobil itu kembali dan menyuruh Tari masuk dan disusul dirinya masuk kemudian.
__ADS_1
Setelah mereka berdua sudah masuk kedalam mobil di kursi penumpang, mobil pun melaju tentu dengan supir yang mengendarainya.
Setelah mobil melaju, motor dibelakang mereka pun ikut melaju dengan lambat dibelakang mereka. Karena memang gang itu sangat sempit, yang sebenarnya mobil tidak bisa lewat di gang itu.
Pengendara motor tadi yang ada di belakang mobil mereka sangat tidak sabar dengan laju mobil mereka sehingga pengendara itu masih membunyikan klakson motornya.
Fadly menoleh kebelakang melihat pengendara itu. Dan meminta supirnya agar jalan lebih cepat. Supirnya itu yang tidak lain adalah Andi yang sudah kembali bekerja setelah cutinya beberapa bulan yang lalu.
Sebenarnya mama Fadly yaitu Nyonya Shofia memerintahkan pada orang-orang suruhannya agar membuat berita di kampungnya jika Andi di kota sudah berselingkuh dengan wanita lain. Sehingga membuat istrinya nantinya akan meminta cerai. Tetapi sang istri sangat percaya pada Andi, sehingga tidak termakan berita yang belum pasti.
Tatapi yang terkejut adalah ayah Andi, sehingga ayahnya terkena serangan jantung ringan. Lalu ketika Andi pulang dan menjelaskan bahwa berita itu tidak benar kemudian juga ayahnya diberikan penanganan yang cepat sehingga ayahnya sekarang sudah sembuh dan baik-baik saja.
Hal ini dilakukan Nyonya Shofia agar Andi jera, karena ia sudah membohongi keluarga Dewantara, terkhusus Nyonya Shofia. Karena pada saat Andi mengundurkan diri dia mengatakan bahwa akan bekerja di kampungnya menjadi petani. Tetapi kenyataannya dia malah membantu Fadly kabur dari rumah dan berbohong pada Nyonya Shofia dengan mengatakan tidak mengetahui dimana keberadaan Fadly.
Sekarang, Andi bisa kembali bekerja karena permintaan Fadly pada mama dan papanya. Fadly mengaku jika Andi adalah supir yang baik, Andi tidak salah apa-apa justru Fadly lah yang menyuruh Andi untuk berbohong pada orang tuanya. Dengan segala cara Fadly memohon untuk tetap mempekerjakan Andi sebagai supir dan akhirnya permohonan Fadly pun berbuah manis. Andi masih diizinkan untuk bekerja menjadi supir Fadly, bukan supir kakaknya lagi. Tetapi dengan syarat Andi harus memberitahukan kemana saja Fadly pergi.
Tapi setelah sebulan Andi kembali bekerja, fadly kembali menyuruh Andi untuk berbohong karena Fadly ingin bertemu Tari hari ini.
Setelah keluar dari gang sempit tadi Andi mengarahkan mobilnya belok ke kanan, melewati rumah kontrakan yang di tinggali Tari. Karena di jalan itu sangat sepi, disitulah mereka saat ini. Berhenti di pinggir jalan sepi. Fadly dan Tari berada di dalam mobil sedangkan Andi menunggu di luar.
Sesaat setelah Andi keluar dari mobil, suasana di dalam mobil jadi hening.
"Baik, kamu?"
"Seperti yang mas Fadly lihat, saya baik mas," Tari berkata sambil menundukkan wajahnya.
Kembali suasana hening. Karena tidak ingin suasana terus seperti ini.
Tari mengeluarkan suaranya, "Tadi katanya ada yang ingin dibicarakan, mau bicara apa?"
Setelah sebulan lamanya tidak bertemu ada rasa canggung diantara mereka, padahal hati saling merindu.
Fadly bergerak memperbaiki duduknya, sedikit menyerong kearah Tari, "Katanya kamu baik, tapi kamu kelihatan kurus."
Tari mengangkat sedikit tanganya dan menuduk memperhatikan tubuhnya sendiri. Selama ini dirinya tidak pernah telat makan, dan selalu menjaga kesehatannya agar bisa mencari uang untuk perobatan bapaknya. Ia tidak sadar jika tubuhnya tampak kurus seperti yang dikatakan Fadly.
__ADS_1
Fadly terus memperhatikan Tari. Sungguh ia sangat merindukan gadis ini. Dengan cepat Fadly memeluk Tari.
"Aku rindu sama kamu Tari."
Tari mengerjapkan matanya. Apakah ini mimpi? Tari sekarang berada di dalam pelukan Fadly, lelaki yang ia rindukan. Ternyata bukan hanya Tari, Fadly juga merindukan dirinya.
"Maafkan aku karena pergi tanpa pamit sama kamu. Bahkan aku gak bilang apa-apa sama kamu ketika pergi waktu itu, maafkan aku Tari," ucap Fadly masih dengan memeluk tubuh Tari.
Fadly mengurai pelukannya, "Papaku sakit, sebenarnya dari dulu memang kadar kolesterol papaku tinggi ditambah papaku kurang berolahraga karena kesibukannya mengurus perusahaan. Jadi waktu itu aku dijemput karena papa masuk rumah sakit, karena serangan jantung."
"Jadi, apa benar, mas Fadly anak dari pemilik Dewantara Corp?" tanya Tari penasaran.
"Kamu tahu dari mana?"
"Dari majalah, di majalah itu ada foto mas Fadly dan keluarga mas Fadly."
"Benar Tari, papaku Haris Dewantara, pemilik perusahaan Dewantara Corp."
Tari menelan ludahnya. Seolah lehernya tercekat.
"Tari.. aku mohon sama kamu, tunggu aku ya, sebentar aja," ucap Fadly seraya memegang kedua bahu Tari.
Tari mengerutkan keningnya, ingin bertanya apa maksud Fadly berkata seperti itu.
Seolah Fadly tahu apa yang ada di pikiran Tari saat ini ia kembali melanjutkan perkataannya, "Karena papa sedang sakit, jadi aku dan kakakku di percaya mama untuk memegang perusahaan sementara waktu sampai papa sembuh. Saat ini papaku sedang menjalani perobatan di Singapura, di temani mama."
Tari tampak sedih, ia teringat akan penyakit bapaknya. Seandainya ia banyak uang, pasti akan mencari rumah sakit yang terbaik untuk bapaknya. Seperti papanya Fadly.
Ketika Fadly akan membuka mulut untuk menyambung lagi apa yang akan di sampaikan pada Tari, detik itu juga ponselnya berdering. Fadly mengambil ponselnya dari saku celananya. Ternyata mamanya menelepon ....
#####
Next >>>>>>>>>
Mohon dukungannya
__ADS_1
dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote nya untuk babang Fadly dan Tari..
Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤