Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Melamar Tari


__ADS_3

"Serius kamu, Mas?" tanya Tari saat Fadly mengatakan jika kedua orang tuanya sekarang sudah mengizinkan mereka menjalin hubungan, bahkan jika mereka akan menikah kedua orang tua Fadly pun sudah memberikan restu.


"Serius, sayang. Sudah jauh-jauh aku datang menemui kamu dari Bali terus aku bohong gitu?" ucap Fadly.


Tari tersenyum girang menanggapi ucapan Fadly itu.


"Kamu... Mau kan jadi istriku?" tanya Fadly secara tiba-tiba.


Tentu saja membuat Tari terkejut, tapi ia senang bukan kepalang mendengarnya. Dan mengangguk untuk menjawab pertanyaan Fadly itu.


Fadly tersenyum, "Maaf karena tidak membawa cincin ataupun lamaran yang berkesan seperti laki-laki lain diluaran sana. Karena aku gak mau kehilangan kamu lagi untuk waktu yang lama dan tanpa status apapun."


"Aku gak butuh semua itu, Mas. Kamu sudah datang menemui aku dan menerima statusku saja aku sudah bersyukur sekali," jelas Tari.


Sore harinya, Fadly pamit akan pulang ke Bali karena Lestari Tour and Travel miliknya tidak bisa ditinggal terlalu lama. Arya yang meminta Fadly untuk cepat pulang jika sudah menyelesaikan masalah hatinya. Saat mengatakannya pada Tari, tentu Tari mengizinkan Fadly untuk pulang.


Tari juga senang ternyata namanya dijadikan nama usaha untuk Fadly. Saat itu tidak ada nama lain di hati dan pikiran Fadly selain nama Lestari. Oleh sebab itu, Fadly memberikan nama Lestari sebagai nama usahanya. Selain itu, sepengetahuan Fadly nama Lestari juga memiliki arti yang sangat bagus yaitu tahan atau bisa juga diartikan kekal. Seperti harapan dan doanya, semoga usahanya tidak surut namun tetap bertahan ditengah gempuran usaha-usaha lainnya yang bergerak dibidang yang sama.


Tidak berbeda jauh dengan saat pergi, pada saat pulang juga Fadly memakan waktu delapan jam. Enam jam waktu diperjalanan dari rumah Tari menuju Bandara dan satu jam lima puluh menit dipesawat.


Saat sudah berada dirumah, keesokan harinya, Fadly mendapat telepon dari Nyonya Shofia.


"Hallo, Ma," ucap Fadly menyapa mamanya.


"Hallo, sayang. Anak mama yang tampan. Apa kabar kamu?" sambut sang mama.


"Baik, Ma. Mama baik juga kan?" tanya Fadly.


"Iya, sayang. Mama baik. Mama juga mau kasih kabar baik nih buat kamu."


"Oh ya? Kabar apa, Ma?" tanya Fadly penasaran.


"Tadi detektif yang disewa papa sudah menemukan Tari. Nih mama sudah ada alamat rumah Tari, nomor teleponnya juga ada," ucap Nyonya Shofia sangat senang, karena ia merasa anaknya pasti akan sangat senang mendengar berita yang ia bawa.


"Gak perlu, Ma," ucap Fadly dan sukses membuat Nyonya Shofia mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kenapa sayang? Kamu sudah menemukan pengganti Tari di Bali?" tanya Nyonya Shofia.


"Tari tidak akan bisa terganti, Ma!" tukas Fadly.


"Terus?" tanya Nyonya Shofia, semakin menambah kerutan di alisnya.


Lama Fadly menjawab pertanyaan dari mamanya itu. Ia sengaja membuat Nyonya Shofia penasaran.


"Fadly!!!" panggil Nyonya Shofia yang agak meninggikan suaranya.


"Iya, Ma. Aku sudah menemui Tari kemarin. Baru saja dari rumahnya, aku menginap satu malam dirumahnya. Dia sekarang sudah memiliki bisnis konveksi topi dan kain pantai yang lumayan. Mama gak usah takut kalau dia nanti jadi menantu mama, dia gak akan malu-maluin mama karena dia sekarang sudah kaya," terang Fadly sambil cengar-cengir.


"Iya, mama sudah tahu dari detektif papa. Kalaupun Tari tidak seperti sekarang, mama dan papa tetap merestui kamu kok menikah dengan dia," jelas Nyonya Shofia.


Nyonya Shofia dan Tuan Haris sadar, kebahagiaan anak mereka adalah yang nomor satu. Dari awal sebelum mengetahui Tari sudah sukses dan tidak miskin seperti dulu pun mereka sudah ikhlas jika Fadly mencintai Tari dan ingin menikahi Tari.


"Terus, kapan rencananya kamu akan melamarnya?" sambung Nyonya Shofia.


"Sudah, Ma," ucap Fadly singkat.


"Iya, aku sudah melamarnya, Ma. Dan dia sudah terima," tukas Fadly enteng.


"Fadly, kamu kalau ngomong itu yang jelas, nak. Lamaran bagaimana? Lamaran itu bawa seserahan, bawa cincin. Kamu bawa apa kemarin?" terang Nyonya Shofia. Ia geregetan dengan tingkah anaknya yang seenak jidatnya sendiri. Mungkin jika dekat, Fadly akan dijewer telinganya olehnya.


"Ya... Gak bawa apa-apa, Ma. Aku hanya mengikat Tari dan memastikan bahwa Tari itu milikku," terang Fadly gamblang.


"Hah! Nak, kalau namanya mengikat hubungan itu dengan cincin. Yasudah kalau begitu mama yang akan melamarkan Tari untuk kamu. Berhubung kamu jauh, mama, papa dan kak Lea yang akan ke rumah Tari dan membawa bingkisan seserahan. Besok mama akan kesana, eh! Tunggu hari minggu saja mungkin ya, biar papa libur, kak Lea libur dan Tari pastinya juga libur kan hari minggu," terang Nyonya Shofia penuh semangat.


"Buat apa, Ma? Tidak perlu seperti itu. Tari tidak butuh itu semua, Ma," tukas Fadly sedikit kesal dengan mamanya.


"Sudah-sudah kamu tidak usah berisik deh! Kalau begitu mama sudahi ya teleponnya. Mama mau menyiapkan bingkisan seserahan yang mau mama bawa untuk menantu perempuan mama. Byeee."


"Ma! Hallo! Hallo! Ma!" panggil Fadly pada Nyonya Shofia.


Nyonya Shofia sudah memutuskan panggilan telepon itu. Sementara Fadly takut jika ucapan mamanya tidak sesuai dengan apa yang akan dilakukannya nanti.

__ADS_1


"Duh! Kalau mama mau melabrak Tari gimana ya?" ucapnya bermonolog.


Wajar saja kan jika Fadly berpikiran seperti itu, pasalnya awalnya kedua orang tuanya sampai rela membawanya ke Amerika untuk memisahkan dirinya dengan Tari. Mengapa sekarang dengan mudahnya merestui hubungan mereka. Fadly tidak sepenuhnya percaya dengan kata-kata kedua orang tuanya.


Ia mencoba menghubungi Nyonya Shofia kembali, namun sang Nyonya besar tidak mengangkatnya. Sekarang Nyonya Shofia memang sedang sibuk mempersiapkan bingkisan seserahan untuk Tari.


Tadinya Fadly mencoba bersikap biasa saja, ia mencoba membuang jauh-jauh pikiran kotornya itu. Ia pun kedepan dan melayani client yang datang untuk memakai jasa tour guide yang disediakannya dan banyak lagi yang dikerjakannya. Namun ia tidak bisa fokus, ia masih saja memikirkan mamanya yang akan melabrak Tari.


Fadly beranjak dari tempat duduknya, lalu menelepon Arya menyuruh Arya agar segera datang ke Lestari tour and travel untuk menghandle pekerjaannya beberapa hari, karena ia akan pergi lagi.


Hanya dalam waktu beberapa jam saja pesawat telah mendarat dari Bandara Ngurah Rai ke Bandara Soekarno Hatta. Dengan cepat Fadly menumpangi taxi menuju ke kediaman Dewantara. Sampailah ia ke rumah itu, rumah tempat ia dibesarkan. Rumah yang sangat besar, yang sudah bisa dikatakan istana bagi orang biasa.



"Ma!" panggil Fadly. Saat sudah sampai di Mansion keluarga Dewantara.


Kepala pelayan pengganti Pak Irsyad datang dihadapan Fadly, "Nyonya besar, Tuan besar dan Non Lea sudah berangkat, Tuan," ucap kepala pelayan sambil menundukkan kepalanya.


Kepala pelayan itu bernama Yunus, Yunus tadinya adalah pelayan biasa di keluarga Dewantara. Kemudian, saat Pak Irsyad mengundurkan diri, Pak Irsyad menyarankan agar Yunus yang menjadi penggantinya. Karena Yunus sangat ulet bekerja dan juga sangat jujur. Tuan Haris akhirnya mendengarkan ucapan Pak Irsyad. Maka sekarang Yunus lah yang menjadi kepala pelayan di Mansion keluarga Dewantara.


"Yunus? Sekarang kamu yang menjadi kepala pelayan?" tanya Fadly.


"Iya, Tuan. Sekarang saya yang menjadi kepala pelayan di Mansion Dewantara," terang Yunus, masih dengan kepala menunduk.


"Kamu bilang mereka semua sudah berangkat? Berangkat kemana?" tanya Fadly.


"Bukankah akan melamar calon istri Tuan Fadly," jawab Yunus, ia merasa heran. Mengapa Fadly tidak mengetahui jika keluarganya akan melamar calon istrinya?


"Ah! Mama selalu saja begitu sejak dulu," ucap Fadly bermonolog namun sangat bisa didengar oleh Yunus.


"Kalau begitu, ayo temani saya menyusul mereka," tukas Fadly sambil menggandeng tangan Yunus.


.


.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2