
Hari itu adalah hari minggu, Nyonya Shofia, Tuan Haris dan juga Lea, mereka sudah pergi pagi-pagi sekali menuju rumah Tari di desa Kemangi. Andi yang menjadi supir mereka, karena Andi memang sering ke desa itu nengingat dulu juga ia diajak kabur oleh Fadly.
Nyonya Shofia juga mengikut sertakan beberapa pelayannya di rumah untuk membantu membawa bingkisan seserahan lamaran. Bingkisan itu sudah disiapkannya sejak kemarin, total semuanya mencapai hampir dua puluh kotak. Bingkisan itu sendiri berisi perhiasan, seperangkat alat sholat, make up, pakaian, tas, sepatu yang masing-masing dari brand ternama. Kemudian ada juga buah-buahan, lalu berbagai macam kue dan roti-roti.
Semua itu Nyonya Shofia lah yang menyiapkan sendiri. Ia belanja sendiri, memilih sendiri perhiasannya, baju-bajunya, tas dan yang lainnya. Tentunya dengan harga yang fantastis. Ia tidak mau memberikan barang-barang yang biasa, semuanya harus yang serba luar biasa, harus yang terbaik.
Setelah empat jam lebih perjalanan, akhirnya rombongan keluarga Dewantara sampai ke desa Kemangi dan disinilah mereka sekarang, tepat berada di depan rumah Tari. Nyonya Shofia menatap rumah Tari, rumah yang mungkin baginya tidak besar dibandingkan dengan rumahnya.
Tapi bagi Tari dan sebagian orang lainnya tentu rumah Tari sudah terbilang bagus dan besar. Apalagi rumah itu terdapat di desa. Tentunya bagi orang desa rumah Tari sudah termasuk besar. Rumah itu bergaya minimalis. Dibagian samping rumah Tari itu di buat untuk rumah produksi topi dan kain pantai dari brand milik Tari sendiri yaitu Lestari Collection.
Rombongan keluarga Fadly sampai ke rumah Tari pukul 11.30 WIB. Para pekerja Lestari Collection saat itu sedang bersiap-siap untuk beristirahat, karena sebentar lagi akan memasuki jam istirahat mereka. Yang rumahnya dekat dengan rumah Tari mereka memilih pulang ke rumah untuk makan siang, dan sebagian lagi yang memang rumahnya jauh mereka sudah membawa bekal dan memakan bekal mereka di rumah produksi.
Salah satu pekerja Lestari Collection heran melihat ada empat mobil yang berjajar dan berhenti di depan rumah Tari. Pekerja itu yang tidak lain adalah Rian, Rian melihat ada seorang wanita paruh baya turun dari mobil dan memperhatikan rumah Tari. Kemudian disusul dengan wanita yang lebih muda. Lama mereka memperhatikan rumah Tari.
Rian pun tidak tinggal diam, ia curiga dengan gerak gerik dua wanita yang dilihatnya itu. Ia berlari masuk ke dalam rumah dan segera memberitahukan Tari. Namun Tari sedang tidak ada di ruang yang biasa ia pakai untuk bekerja merancang berbagai macam topi dan kain pantai.
"Kak Tari! Kaaak!" Rian berteriak memanggil Tari.
Karena teriakan Rian sangat keras, Tari segera keluar dari kamarnya. Tadi ia sedang beristirahat di kamarnya, sudah banyak rancangan yang ia buat sehingga otaknya butuh diistirahatkan sejenak. Bukan hanya Tari, Bu Rosita juga datang menghampiri Rian.
"Kenapa sih kamu teriak-teriak begitu?" tanya Bu Rosita keheranan dengan tingkah Rian.
"Kak Tari, itu diluar ada tiga atau empat mobil gitu, berhenti di depan rumah kak Tari. Terus ada ibu-ibu cantik sama kakak-kakak yang cantik juga, sepertinya orang dari kota deh!" terang Rian dengan semangat.
Tari berpikir sejenak, "siapa ya?" Ucapnya dalam hati.
Bu Rosita memegang bahu Tari, "Siapa Tari?"
Tari menggeleng, "Gak tahu, Bu."
__ADS_1
Sementara itu dari luar Nyonya Shofia sudah mengetuk pintu rumah Tari.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi!" ucap Nyonya Shofia mengeraskan suaranya.
"Ma! Assalamu'alaikum," Tuan Haris menginterupsi istrinya dengan berbisik.
Nyonya Shofia menoleh sekilas melihat suaminya, "Oh, iya," katanya.
"Assalamu'alaikum!" ucap Nyonya Shofia sambil mengetuk pintu kembali.
"Wa'alaikumsalam!" ucap Tari dan Bu Rosita bersamaan dari dalam. Kemudian mereka bersama-sama ke depan untuk membukakan pintu bagi tamu mereka.
Tari membukakan pintu, sesaat setelah pintu terbuka terlihatlah olehnya wajah ayu Nyonya Shofia yang sedang tersenyum.
"Tari!" sapa Nyonya Shofia ramah pada Tari.
Bu Rosita yang berdiri dibelakang Tari menatap tak kalah terkejut, ia juga terpana. Namun Bu Rosita cepat mengenali wajah-wajah keluarga Fadly itu, otaknya juga langsung bekerja. Ia tahu dengan pasti jika Tari akan dilamar oleh keluarga Fadly untuk menjadi menantu di kelaurga Dewantara. Dalam hati Bu Rosita bersyukur, akhirnya Tari dilamar juga dengan orang yang tepat, orang yang mengharapkannya dan diharapkannya.
"Tari, kamu apa kabar?" tanya Nyonya Shofia.
Tari masih termangu dan membisu dengan apa yang dilihatnya, Bu Rosita menyenggol tubuh Tari dengan bahunya. Sehingga Tari tersadar.
"Ah! Iya, ma-maaf," ucapnya terbata-bata sambil tersenyum kaku.
"Kamu apa kabar, sayang," tanya Nyonya Shofia yang menatap lembut kearah Tari.
"Ba-baik, baik, saya baik," kembali Tari berucap dengan terbata-bata. Ia canggung berhadapan langsung dengan Nyonya besar dari keluarga Dewantara itu.
Melihat Tari yang seperti itu Bu Rosita tahu apa yang harus ia lakukan. "Silahkan Nyonya, Tuan, dan Nona muda. Mari silahkan masuk," Bu Rosita mempersilahkan mereka semua untuk masuk.
__ADS_1
"Iniii.. Siapanya Tari, maaf!" kali ini Tuan Haris yang bertanya.
"Saya ibunya Tari," terang Bu Rosita ramah.
"Mari Tuan silahkan masuk," ucap Bu Rosita lagi.
"Terimakasih, Bu," ucap mereka bersamaan. Mereka masuk, begitu juga dengan para pelayan yang mereka bawa. Pelayan itu masuk satu persatu.
Saat mereka semua sudah duduk, Bu Rosita hendak pamit ke belakang, "Kalau begitu saya pamit ke belakang dulu ya, Tuan, Nyonya. Biar saya buatkan minum."
"Tidak usah, Bu. Tidak usah repot-repot. Ibu inikan orang tua Tari, jadi ibu duduk saja disini. Biar pelayan kami saja yang membuatkan kita minuman," tukas Tuan Haris.
Kemudian Tuan Haris menginterupsikan dengan berbisik kesalah satu pelayannya dan beberapa pelayan itu keluar. Lalu pelayan-pelayan tadi tidak lama kembali lagi dengan membawa nampan berisi minuman segar lengkap dengan jamuan makanan ringannya.
Tari dan Bu Rosita lagi-lagi dibuat terpana dengan keluarga Dewantara. Padahal mereka yang tuan rumah disini, tapi merekalah yang dilayani dengan sepenuh hati oleh keluarga Dewantara.
"Sebelumnya, saya, istri saya dan anak saya, Lea. Ingin meminta maaf pada Tari perihal masalah yang dulu, saat perkenalan dirumah dan kejadian setelah kecelakaan Fadly dan Tari. Mungkin kata-kata kami terlalu kasar. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya," sambung Tuan Haris.
"Apa kamu mau memaafkan kami?" tanya Nyonya Shofia.
"I-iya, saya sudah memaafkannya," jawab Tari.
Tari memang canggung sekali berhadapan dengan Papa dan Mama Fadly. Kecanggungan itu berawal dari masa lalu, dimana Tari ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tua Fadly lalu dicaci dan direndahkan, kemudian diusir. Meskipun Tari sudah memaafkannya jauh sebelum kedua orang tua Fadly meminta maaf hari ini. Tetapi dampaknya kini Tari jadi tidak bisa luwes jika berbicara dengan Bos Dewantara Corp. itu.
"Nah! Ini semua sudah kami siapkan dari rumah. Kami tidak mau kedatangan kami kesini merepotkan. Kami juga membawa beberapa bingkisan seserahan, dengan tujuan kami ingin melamar Tari untuk anak kami, Fadly. Tentu nak Tari sudah mengenal Fadly kan?" jelas Tuan Haris.
Tari mengangguk menjawab pertanyaan Tuan Haris. Mengapa Mas Fadly tidak mengatakan jika keluarganya akan datang? Tentu pertanyaan itu hanya berani ia lontarkan dalam hatinya saja.
.
.
__ADS_1
To Be Continued...