
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Sandi mengguncang pelan tubuh Tari, "Kamu kenapa? kok jadi tegang begitu?"
"Gak apa-apa, ke-kenapa mereka turut hadir ke pesta pernikahan kita, Mas?" tanya Tari yang merasa heran.
"Mas kan kerja di kapal pesiar milik Dewantara Corp."
"Apa? Jadi? selama ini... Apa Mas Sandi juga mengenal Bos Dewantara Corp?" tanya Tari yang mulai gelisah dan tidak bisa menutupi keterkejutannya.
"Kenal dong, sama anak-anaknya juga mas kenal," ucap Sandi merasa bangga bisa mengenal baik keluarga Dewantara.
"Apa?" Tari panik.
"Tari, kamu kenapa sih, kok panik gitu?" tanya Sandi keheranan.
"Ng-nggak apa-apa, Mas," Tari mencoba tersenyum ditengah kepanikannya.
"Kaget ya? kalau suami kamu ini kenalannya orang-orang hebat sekelas bos Dewantara Corp. hmmm?" Sandi mulai menyombongkan diri lagi.
"Iya, Mas. Mas Sandi hebat ya!. T-tapi kenapa bisa sedekat itu, apa keluarga Dewantara selalu memperlakukan semua pekerjanya seperti ini, Mas?"
"Seperti apa maksud kamu?"
"Seperti ini, menyempatkan waktunya untuk datang ke acara pernikahan salah satu pekerjanya."
"Gak juga, karena ayah juga dulu bekerja di rumah keluarga Dewantara selama berpuluh-puluh tahun. Terus, Bang Wahyu juga sekarang masih bekerja sebagai staff di perusahaan Dewantara Corp."
Sandi tersenyum pada Tari, "Yaudah kamu siap-siap ya. Terus nanti kedepan, Mas mau kenalin istri Mas yang cantik pada mereka."
Tari sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Apakah ia harus menemui tamu-tamu dari keluarga Dewantara itu? Atau tidak usah saja?
Lantas, jika tidak menemui mereka, apa alasan Tari? Dirinya sudah tidak dianggap oleh keluarga kaya raya itu, ia juga tidak diakui sebagai pacar Fadly oleh keluarga Fadly. Bukankah tidak apa-apa jika dirinya mencari pengganti Fadly?
Apakah jika Fadly tahu kalau dirinya sudah menikah Fadly akan sakit hati? Ah, ya. Tari hampir lupa, apakah Fadly sudah sembuh?
Tiba-tiba ia penasaran, ingin melihat siapa saja yang datang ke resepsi pernikahannya. Apakah Fadly juga ikut? Ia mengendap keluar kamar, dan berniat akan mengintip. Ketika sudah sampai di ruang tamu, ia mengintip dari jendela.
Yang ia kenal hanya Lea dan supir Fadly, yaitu Andi. Selebihnya Tari tidak mengenalnya. Tapi, meskipun hanya Lea yang hadir, ia tetap tidak ingin menampakkan diri di depan mereka. Belum siap jika harus dikenal sebagai istri Sandi.
Dengan langkah cepat Tari masuk kembali ke kamarnya. Mondar mandir tidak bisa berhenti, ia berpikir dan mencari cara agar ia tidak dipaksa keluar oleh Sandi.
__ADS_1
Satu jam sudah berlalu, Sandi kembali ke kamar menemui Tari. Tapi setelah sampai kamar Tari tidak ada.
"Tari!!"
Tidak ada jawaban.
"Tari!! kamu dimana?" Sandi berjalan ke arah kamar mandi.
Ia memegang handle pintu kamar mandi. Kamar mandi dikunci dari dalam dan terdengarlah suara kran air yang berbunyi.
"Tari, kamu di dalam?"
"Iya, Mas. Perut saya tiba-tiba sembelit."
"Ini sudah malam, Tari. Mereka sudah mau pulang. Mereka mau bertemu sama kamu, mau ngucapin selamat."
'Duh! bagaimana ini ya?' Tari berbicara sendiri di dalam kamar mandi.
Hening, tidak ada jawaban apapun dari Tari. Kembali Sandi mengetok pintu.
Tok Tok Tok
"Tari!!" kali ini Sandi menguatkan suaranya.
"Saya sakit perut, Mas. Sakit sekali, minta maaf ya sama mereka, sepertinya saya gak bisa menemui mereka," ucap Tari dengan suara seperti orang sakit.
"Ckk, kamu kebanyakan makan tadi ya?!" Sandi mendengus kesal.
"Dasar perempuan rakus, kampungan, lihat makanan enak sedikit saja, langsung makan banyak," Sandi mengoceh sendiri.
Sandi mengira karena suaranya pelan jadi Tari tidak akan mendengarnya. Namun di dalam kamar mandi, Tari memegang dadanya yang terasa sesak karena ucapan suaminya itu. Pendengaran Tari masih tajam sehingga ia masih mendengar ucapan suaminya yang menghinanya meskipun dengan suara pelan.
Semua orang diluar menunggu Sandi yang sedang memanggil istrinya. Teman-teman para awak kapal pesiar, kapten Galih, maupun Lea, semua penasaran dengan istri Sandi. Yang sejak tadi ia menyebutnya dengan sebutan "istri cantikku".
Namun ketika kembali, ia hanya sendiri. Bukan hanya tamu, Bu Hanifa dan Pak Irsyad pun merasa heran. Semua bertanya dalam hati mereka, mengapa Sandi kembali sendiri dan tidak membawa istri cantiknya? kemana istri cantiknya?
"Maaf Non Lea, Kapten dan teman-teman. Istri saya sedang sakit perut, dia juga minta maaf karena tidak bisa menemui kalian," ucap Sandi dengan wajah kecewa.
Lea berdiri dan menepuk pelan bahu Sandi, "Yasudah gak apa-apa Sandi, namanya juga sakit. Kita ngerti kok."
"Maaf ya Non Lea," Sandi tersenyum terpaksa.
Lea pun tersenyum, lalu ia mengeluarkan sebuah kotak kecil segenggaman tangannya dan di berikan pada Sandi.
"Ini dari keluarga besar Dewantara Corp. untuk istri kamu ya. Maaf mama, papa dan Fadly tidak bisa hadir, karena Fadly sedang masa pengobatan di luar negeri," Lea berujar, masih dengan senyum yang sejak tadi ia perlihatkan.
"Wah! terimakasih Non, terimakasih banyak. Semoga Tuan Fadly segera pulih dan bisa kembali kesini dengan selamat," ucap Sandi dengan sedikit membungkuk tanda hormat.
Lalu Lea beralih ke Pak Irsyad dan Bu Hanifa yang sejak tadi duduk tidak jauh dari tempat duduk mereka. Lea mengucapkan selamat dan juga memberikan amplop pada Pak Irsyad.
__ADS_1
Disitu juga ada Wahyu, abang pertama Sandi yang juga salah satu staff di perusahaan Dewantara Corp. Ia juga mengucapkan terimakasih pada Lea karena telah menyempatkan hadir di acara pernikahan adiknya.
Kemudian satu-satu tamu rombongan pun ikut bersalaman pada Sandi dan mengucapkan selamat, begitu juga dengan Galih sang kapten kapal pesiar dan istrinya yang tak lain adalah tante dari Lea. Setelah itu mereka pulang.
Kini rumah dan pekarangan rumah yang disulap menjadi tempat pesta pernikahan Sandi dan Tari pun sudah sepi. Tinggallah orang-orang yang bekerja sebagai wedding organizer yang masih membenahi tempat pesta itu.
Sudah setengah jam berlalu, tapi Tari masih di dalam kamar mandi. Ia menangisi nasibnya, tak henti-henti ia menangisi nasibnya.
Di dalam kamar mandi ia terus berpikir, mengapa pria yang datang padanya adalah pria seperti Sandi. Padahal ia gadis yang baik-baik. Dan dia sudah berusaha menjadi gadis yang baik.
Bapaknya dulu pernah mengatakan, teruslah berbuat baik, jika dia gadis yang baik-baik maka nanti jodoh yang datang padanya adalah pria yang baik juga.
Karena dengan kita berbuat baik pada orang lain, sesungguhnya hal itu adalah untuk diri kita sendiri.
Tapi, nyatanya apa? Jodohnya adalah Sandi, pria yang memang sejak awal Tari mengenalnya adalah sosok yang kasar, kata-katanya, maupun perbuatannya.
Sandi kembali ke kamarnya, ia masih mendapati kamar yang kosong seperti yang ditinggalkannya tadi.
Sandi pun melangkah ke kamar mandi. Ketika hendak mengetuk pintu, dan kali ini ia berniat akan menggedor pintu itu. Namun pintu sudah terbuka. Saat pintu terbuka, Tari melihat Sandi mengepalkan tangannya diudara seolah akan memukul seseorang. Sontak Tari menghindar dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ckk, apa sih kamu? Mas mau ngetuk pintu tapi tiba-tiba kamu sudah buka pintunya," ucap Sandi dengan wajah kesal.
Tari mengintip sedikit dari celah-celah jarinya. Ketika tangan Sandi sudah turun dan tidak mengepal lagi, ia mulai beracting.
Tangan yang tadinya berada di wajah untuk melindungi wajahnya, kini Tari mengalihkan tangannya ke perutnya. Dan memasang wajah orang sakit. Lalu ia berjalan ke kasur yang berukuran king size.
Karena ia sejak tadi menangis, wajahnya pun mendukung actingnya yang seperti orang sakit.
Sandi mengernyitkan keningnya, "Masih sembelit perut kamu? seberapa banyak sih kamu makan?"
"Sssshhh... Bukan, Mas. Kali ini bukan karena sembelit," Tari meringkuk diatas kasur empuk yang diatasnya masih cantik dengan hiasan-hiasan lampu dan bunga-bunga artifisial itu.
"Lalu?" tanya Sandi. Ia yang melihat Tari kesakitan pun tidak tega.
"Saya datang bulan, Mas. Sembelitnya sudah tidak lagi. Tapi sekarang Nyeri datang bulan," ucap Tari dengan wajah pucat dengan polesan bedak bayi di bibirnya.
Sandi memejamkan matanya, sepertinya kali ini ia yang merasakan sakit itu.
.
.
#####
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤