Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Keluarga Dewantara


__ADS_3

Sesungguhnya Nyonya Shofia sangat merindukan Fadly, dia ingin Fadly segera pulang. Karena selama ini dia sangat khawatir dengan keadaan Fadly di luar sana. Namun kerja bawahannya sangat lamban untuk menemukan keberadaan Fadly.


Ketika bawahannya memberikan foto-foto itu, Nyonya Shofia sangat terpukul melihat Fadly ternyata kabur dari rumah hanya karena seorang gadis kampung dekil yang sangat jauh dari type menantu yang diimpikannya, namun ia menjaga wibawanya di depan bawahannya agar tetap tegar.


Bisa saja dia menyuruh bawahannya untuk menjemput paksa Fadly, tapi dia tidak mau menyakiti Fadly. Dia juga ingin Fadly pulang sendiri karena merindukan keluarganya tanpa harus dipaksa-paksa.


Tanpa Nyonya Shofia sadari bahwa selama ini ia telah menyakiti putranya dengan memaksa semua kehendaknya untuk Fadly. Mulai dari kecil, jika memilih baju Fadly menginginkan baju ini maka Nyonya Shofia melarangnya dan memilihkan yang lain begitu seterusnya hingga dewasa.


Jika anak lain tidak diperhatikan orang tuanya yang terlalu sibuk bekerja dengan alasan untuk membahagiakan anak-anaknya. Hal itu berbeda dengan Fadly dan kakak perempuannya, justru mereka selalu diperhatikan, dimanja, dan bahkan diatur oleh mama dan papanya. Tapi terutama mamanya yang sangat otoriter terhadap mereka.


Namun sang kakak, Lea Feriskha Dewantara anak tertua dari Haris Dewantara selalu patuh dengan perintah Nyonya Shofia, Lea menjalani harinya dengan senang hati meski hidupnya selalu diatur sejak kecil.


Kini Lea sudah menyelesaikan sekolah bisnisnya di Luar Negeri, di Amerika Serikat lebih tepatnya. Membuat mama dan papanya bangga sekali padanya.


Ketika Tuan Haris dan Nyonya Shofia ingin menjodohkannya dengan salah satu rekan bisnis mereka, Lea pun menerima perjodohan itu dengan senang hati. Tidak sekalipun kata tidak untuk mama dan papanya. Ia menyetujui perjodohan itu.


Di umurnya yang masih 24 tahun, dia sudah dipercaya mengemban jabatan sebagai wakil direktur utama, jabatan tertinggi kedua di perusahaan yang dipimpin langsung oleh papanya.


Perusahaan Dewantara Corp. adalah perusahaan yang bergerak dibidang rokok, makanan dan minuman yang didirikan oleh kakek dari Haris Dewantara yang kini sudah sangat terkenal luas baik di dalam maupun di luar negeri.


Haris Dewantara sendiri adalah anak tunggal, beliau sejak muda telah dididik untuk menjalankan perusahaan besar milik sang ayah pada saat itu.


Tuan Haris Dewantara sekarang sudah berumur 60 tahun, perawakannya tinggi dan besar, memiliki rahang yang keras sehingga wajahnya tampak tegas. Tanda-tanda penuaan telah tampak di wajahnya. Beberapa uban pun juga sudah menghiasi rambutnya. Namun beliau tampak sehat.


Tuan Haris dan Nyonya Shofia terpaut usia 6 tahun. Ketika mereka menikah dulu Tuan Haris berusia 35 tahun dan Nyonya Shofia 29 tahun. Namun mereka tampak serasi. Mereka dulunya adalah anak muda pekerja keras.


Nyonya Shofia dulunya adalah bawahan Tuan Haris. Haris muda dulunya sebelum menikah menjabat sebagai Direktur Pemasaran, sedangkan Nyonya Shofia adalah wakilnya. Sering pergi menjalankan tugas bisnis bersama, membuat keduanya saling jatuh cinta.


Diumur yang sama-sama matang mereka menikah, oleh sebab itu anak-anak mereka masih muda disaat umur mereka yang sudah beranjak lansia.


Katika sebulan yang lalu Tuan Haris mengetahui jika Fadly kabur dari rumah, beliau menyerahkan sepenuhnya urusan anak kepada Nyonya Shofia.

__ADS_1


Bukan Tuan Haris tidak peduli dengan anaknya tapi mereka, Tuan Haris dan Nyonya Shofia sudah bersepakat jika masalah rumah, anak, bahkan Tuan Haris sendiri seluruhnya adalah urusan Nyonya Shofia.


Sedangkan di perusahaan adalah urusan Tuan Haris. Tapi sekarang, Tuan Haris sudah ada yang membantunya, yaitu anaknya sendiri Lea.


***


Tari menarik nafasnya dalam ketika menoleh kearah pintu kios jahitnya. Sudah beberapa hari ini Dodi penjual koran dan majalah yang memiliki kios kecil di seberang jalan depan kios jahit Tari mendatanginya.


Dodi bisa berlama-lama mengajak Tari bercerita panjang lebar. Kadang hal itu mengganggu konsentrasi Tari untuk menjahit.


Tetapi sebenarnya maksud Dodi baik, Tari tahu itu. Dia sering menawarkan majalah-majalah fashion pada Tari, agar Tari lebih mengetahui trend dan style fashion terbaru sekarang ini.


Tari tertarik, namun majalah itu cukup mahal membuat Tari berpikir dua kali untuk membelinya. Untuk biaya hidup sehari-hari Tari lah yang mengusahakan semuanya. Belum lagi ia harus menyimpan sedikit demi sedikit untuk membayar uang yang ia pinjam dari Fadly untuk biaya rumah sakit bapaknya waktu itu.


Ah.. mengingat Fadly, Tari jadi teringat kejadian malam itu, sungguh sangat tidak terduga. Waktu itu, setelah mengantar Tari hingga depan pintu rumahnya. Fadly berulang kali meminta maaf pada Tari. Fadly mengatakan jika ia khilaf.


Bahkan bukan hanya malam itu saja, ketika pagi harinya Tari sempat diantar lagi oleh Fadly ke kios jahitnya. Fadly juga berulang kali meminta maaf.


Waktu itu pada sore hari, ketika Tari akan pulang dan sudah menutup dan mengunci kiosnya. Tari melihat Fadly keluar dari gang lalu membelokkan motornya dan akan menghampiri Tari, namun pada saat itu Tari sedang duduk di depan kios bersama Dodi.


Dodi menawarkan majalah fashion bekas yang jauh lebih murah dibanding dengan majalah baru, tapi masih bagus, masih bisa dilihat-lihat tren nya agar menjadi refrensi bagi Tari dalam menjahit baju. Meskipun majalah itu sudah terbit lima tahun yang lalu, tapi Dodi mengatakan masih banyak tren yang dipakai hingga sekarang oleh orang-orang.


Waktu itu Tari menyetujuinya, ia akan membeli beberapa majalah yang cocok dan majalah itu nanti akan dipilihnya sendiri setelah Dodi membawa majalah bekas itu pada Tari.


Tapi waktu itu ketika Tari sedang berbicara pada Dodi, Fadly tidak menghentikan motornya. Ia terus melajukan motornya kembali ke jalan dan langsung tancap gas.


Hingga beberapa hari kemudian, Tari sedang duduk di bocengan belakang motor Dodi, Dodi berniat untuk mengantar Tari pulang. ketika di gang sempit, Tari yang diantar Dodi menuju rumah berpapasan dengan Fadly yang akan keluar dengan motor kesayangannya.


Semenjak saat itu, setelah berhari-hari berlalu, jika berjumpa di rumah maupun berpapasan di jalan, Fadly tidak pernah menyapa ataupun menatap Tari. Wajahnya datar dan sikapnya acuh tak acuh seperti mereka pertama kali bertemu dulu.


Setelah satu bulan berlalu semenjak malam dimana Fadly mendaratkan ciuman di bibir Tari. Tepatnya hari ini, di pagi hari sebelum berangkat ke kios jahit untuk bekerja. Tari mengetuk pintu rumah kontrakan yang di tempati Fadly.

__ADS_1


Tari berniat akan menyicil sedikit hutangnya. Setelah pintu diketuk, Tari menunggu beberapa saat dan pintupun terbuka.


"Mas, saya mau bayar cicilan hutang saya. Gak banyak mas, saya masih nyicil lima ratus ribu dulu ya," ucap Tari ketika Fadly sudah berada diambang pintu.


"Iya," jawab Fadly singkat.


Kemudian Fadly mengambil uang yang disodorkan Tari.


"Itu aja kan?" sambung Fadly, ketika uang sudah berada ditangannya.


Tari menatap dalam-dalam wajah lelaki yang dicintainya itu. Dirinya sudah menyatakan perasaannya, bahkan mereka sudah berbagi ciuman. Meskipun ciuman itu sangat tidak diinginkannya.


Tapi apa ini? wajah dan sikap Fadly sangat tidak bersahabat. Tari berpikir, apa ia sudah berbuat salah?


"Kalau gak ada yang mau dibicarakan lagi, gue masuk lagi. Mau istirahat," ucap Fadly dengan wajah datarnya.


Tari terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Fadly.


"Iya, Mas," Tari menjawab sambil tertunduk.


Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya. Pagi hari mood nya anjlok seketika disebabkan oleh orang yang ia cintai.


Tari kembali masuk ke rumah, sepertinya hari ini tubuhnya mendadak tidak enak untuk bekerja. Dan jika dipaksapun nantinya dia tidak akan fokus menjahit.


#####


Bersambung...


Terimakasih sudah membaca.. semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊


Mohon dukungannya untuk author ya readers dengan like, love/favorite, vote dan tinggalkan jejak komentarnya.. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2