Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Cuma Kamu


__ADS_3

Para anggota pekerja Lestari Collection sedang menikmati hidangan yang dibuat oleh Bu Rosita di ruang makan di rumah Tari. Bu Rosita memasak banyak khusus untuk ulang tahun Tari. Para pekerja Lestari Collection yang notebenenya orang-orang kurang mampu sangat senang bisa menikmati hidangan spesial yang dimasak Bu Rosita.


Sementara itu Tari dan Fadly sedang duduk di sofa ruang tamu. Mereka sudah menyelesaikan makan mereka dengan cepat dan menjauh dari para pekerja Lestari Collection.


"Mas Fadly sehat kan?" tanya Tari membuka percakapan.


"Sehat Tari, kamu lihat sendiri kan dari tadi aku baik-baik aja, kenapa kamu dari tadi tanya itu?" ucap Fadly.


"Aku khawatir, Mas sama kamu. Aku dulu gak tahu kamu dirawat di rumah sakit mana. Karena dulu waktu kita kecelakaan bersamaan dengan bapak masuk rumah sakit. Jadi aku menyempatkan untuk menjenguk bapak, terus pas aku balik lagi kamu sudah dirujuk, tapi aku gak tau dirujuk dirumah sakit mana," jelas Tari dengan wajah sendu.


Fadly mengelus kepala Tari dengan rasa sayang yang begitu besar, "Iya, gak apa-apa kok. Aku paham dengan kondisi kamu saat itu. Waktu itu aku juga gak tahu ada di rumah sakit mana. Terus papaku membawaku ke Amerika untuk melanjutkan perobatan disana."


Tari mengangguk menanggapi cerita Fadly, kemudian ia teringat sesuatu, "Mas, kamu gak nanya bapak sekarang ada dimana?"


"Aku tahu, Tari. Bapak kamu sudah meninggal kan?" ucap Fadly.


Tari mengernyit, sehingga membuat alisnya jadi menyatu. Ia heran, dari mana Fadly tahu tentang bapaknya? "Mas Fadly tahu dari mana?"


"Dari Bang Dodi, penjual koran didepan kios jahit kamu itu," jawab Fadly jujur.


Tari tidak menjawab, ia tertunduk. Fadly tidak tahu apa yang dipikirkan Tari. Mungkin ia merasa sedih mengingat bapaknya. Lalu Fadly mengelus punggung Tari, "Yang sabar ya, bapak kamu sudah tenang disana. Kamu harus ikhlas."


Tari mengangkat wajahnya, lalu tersenyum pada Fadly, "Iya, Mas. Oh ya? Bang Dodi cerita apa aja sama Mas Fadly?" tanya Tari penasaran.


Fadly tidak lekas menjawab, ia tersenyum tipis, sorot matanya teduh. Tari bisa mengartikan sendiri mimik wajah tersebut, bahwa Dodi sudah banyak cerita tentang dirinya, dan juga pasti Fadly telah mengetahui jika dirinya sudah pernah menikah.


Tari menarik napas dalam, jantungnya mulai berdetak tidak beraturan, "Mas Fadly.." ia menarik napas kembali.


"Mas Fadly sudah diberitahu Bang Dodi kalau aku sudah menikah?" tanya Tari, nada suaranya mulai bergetar.

__ADS_1


"Hmm.."


"Mas Fadly sudah tahu aku menikah dengan siapa?"


"Hmm.."


Tari menghela napasnya dalam, air mata telah menetes dipipinya. Ia beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamarnya tanpa sepatah katapun diucapkannya ke Fadly. Karena ia tidak tahu harus mengatakan apa pada laki-laki tampan mantan tetangganya itu. Ya, mantan tetangga. Karena status mereka sekarang memang belum jelas.


Tari memang pernah menjadi pacar Fadly. Mereka belum pernah putus, mereka masih saling mencintai. Tapi Tari tanpa keinginannya sendiri telah menikah dengan orang lain. Kalau dibilang mantan pacar tapi mereka belum putus, jadi hubungan mereka masih menggantung.


Fadly juga sama dengan Tari, ia hanya diam saat Tari beranjak pergi, ia tidak mencoba mengejar Tari. Ia membiarkan Tari menenangkan hatinya. Besok pagi ia akan menjelaskan pada Tari. Betapa ia mencintai gadis itu. Tidak masalah Tari sudah pernah menikah, yang terpenting adalah hati Tari masih mencintainya, Tari masih mengharapkannya, hanya itu.


Tidak lama, Fadly juga beranjak dari sofa ruang tamu, ia ikut bergabung bersama para pekerja Lestari Collection. Ia duduk disalah satu bangku diantara para pekerja Lestari Collection, ia membaur bersama mereka. Saat hari semakin malam, satu persatu para pekerja Lestari Collection pamit untuk pulang kerumahnya masing-masing karena besok mereka harus kembali bekerja.


Fadly masih duduk disana, ia belum sempat bertanya pada Tari tadi dimana kamar yang akan ditempatinya untuk tidur selama ia menginap. Tetapi ia tidak masalah jika harus tidur di ruang tamu saja. Kemudian ia beranjak dan pergi ke ruang tamu. Disana ada satu buah sofa panjang dan tiga buah sofa pendek. Mungkin ia bisa tidur di sofa panjang yang ia duduki bersama Tari tadi, meskipun badannya pasti akan menekuk karena panjang sofa tak sepanjang badannya.


Kemudian Bu Rosita datang dari arah dapur, tadi ia sudah melihat Tari pergi ke kamar sambil menangis, ia tidak tahu mengapa Tari menangis. Tapi ia paham akan hal itu, masalah anak muda. Ia tidak berani mencampuri urusan Tari dan Fadly. Ia tidak ingin bertanya mengapa Tari masuk ke kamar, mengapa tidak menemani Fadly, mengapa tidak memberitahu kamar yang akan ditempati Fadly. Meskipun sebenarnya ia sangat kepo.


"Iya, Bu. Gak apa-apa disini saja," tukas Fadly.


"Yaudah, ibu antar saja kamu ke kamar tamu ya," ucap Bu Rosita.


Fadly mengangguk dan mengikuti Bu Rosita dari belakang.


"Nah, ini kamarnya. Kamar ini biasa ditempati anak-anak anggotanya Tari kalau mereka sedang lembur. Kamu tidur disini saja ya, kamarnya tidak besar, tapi semoga kamu merasa nyaman disini," jelas Bu Rosita.


"Iya, Bu. Terimakasih," jawab Fadly.


Bu Rosita berlalu meninggalkan Fadly ketika Fadly sudah masuk dan mengunci kamar itu. Fadly merebahkan dirinya diranjang yang lumayan empuk yang ada dikamar itu.

__ADS_1


"Ah! Akhirnya bisa tidur juga tanpa menekuk kaki," ucap Fadly bermonolog.


Keesokan paginya...


Fadly sudah mandi dan begitu juga dengan Tari. Mereka bertemu di meja makan.


"Maaf, Mas. Semalam aku meninggalkan kamu," ucap Tari tertunduk.


Fadly tersenyum, "Ya, gak apa-apa aku paham."


Mereka sarapan dimeja yang sama, tatapan mereka saling beradu namun mereka tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk mereka ucapkan. Mereka terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Kamu kenapa nangis semalan?" tanya Fadly.


"Takut kalau aku meninggalkan kamu setelah tahu kalau kamu sudah menikah?" tanya Fadly lagi, setelah sekian menit Tari tidak menjawab pertanyaan pertamanya.


Tidak ada jawaban lagi dari Tari, dan kembali Fadly membuka suara, "Tari, aku sudah tahu kalau kamu sudah menikah, dan itu sama sekali tidak masalah bagiku. Asal kamu masih mencintaiku dan masih mengharapkan aku untuk menjadi pendamping hidupmu."


Tari menelisik kedalam netra Fadly, apa benar yang dikatakan laki-laki itu. Semakin dalam Tari menatap mata elang mempesona milik Fadly semakin tidak ia temukan kebohongan disana.


"Asal kamu tahu, Tari. Cuma kamu yang ada dipikiranku selama tiga tahun ini. Aku lari dari Amerika untuk menemui kamu. Kamu gadis yang selama ini aku harapkan untuk hadir dikehidupanku. Cuma kamu yang bisa membuat hati ini bergetar," jelas Fadly lagi.


Kata-kata itu sukses membuat Tari menangis haru, ternyata ada laki-laki selain bapaknya yang mencintainya begitu dalam.


Dengan spontan Fadly menarik tubuh Tari masuk kedalam pelukannya, hangat. Itu yang ia rasakan. Namun membuat Tari semakin mengeraskan suara tangisnya.


.


.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2