
Saat ini mereka sudah berada di Mansion Dewantara. Wajah Tari masih terlihat sangat pucat, ia benar-benar sangat shock berat. Tangannya sedikit terkilir akibat Fadly terlalu kuat menariknya. Tapi memang harus begitu, jika tidak kuat mungkin Tari sudah celaka. Tapi nasib baik, Tari hanya terkilir, tidak ada luka lain yang berarti. Bu Rosita mengurut tangan Tari sebisanya dengan amat sangat lembut, karena jika keras sedikit saja Tari akan kesakitan.
Sejak tadi Fadly selalu berada di samping Tari, ia sungguh tidak tega dengan apa yang dialami Tari hari ini. Andai saja ia menuruti kata-kata mamanya, pasti tidak akan terjadi hal buruk semacam ini. Ia menghela napas pelan. Tapi meskipun berada didekat Tari, ia ingin sekali cepat mengetahui siapa orang yang sudah berani ingin mencelakai Tari. Sejak tadi Fadly berbalas pesan melalui ponsel dengan Andi. Karena memang Andi yang mencari tahu informasi itu.
Bukan hanya Fadly yang selalu brerada di samping Tari, Nyonya Shofia dan Lea juga berada di sana, di kamar Tari. Mereka sangat peduli dengan Tari dan tidak tahu apa yang akan dilakukan Fadly jika Tari terluka. Fadly sangat mencintai Tari. Ia rela meninggalkan harta dan segalanya demi Tari. Pernikahan mereka juga tinggal tiga minggu lagi, sungguh tidak terbayang jika terjadi sesuatu dengan Tari.
Selagi Tari masih diurut Bu Rosita, Fadly bisa sebentar meninggalkan Tari, di kamar Tari juga ada Nyonya Shofia dan juga Lea, jadi ia bisa tenang meninggalkan Tari dengan mereka. Ia ingin tahu dengan segera siapa orang yang ingin mencelakai Tari.
Saat membuka pintu kamar, ternyata Andi sudah ada di balik dinding kamar Tari. Lalu Fadly menutup pintu kamar agar perbincangan mereka tidak terdengar oleh yang lain.
"Siapa?" tanya Fadly dengan suara tenang namun wajahnya tampak marah.
"Seorang gadis, Bos. Divya namanya, dia orang Bali," jawab Andi yang sudah tahu maksud pertanyaan Fadly.
Andi sudah mendapat informasi tentang siapa yang ada didalam mobil sedan hitam yang ingin mencelakai Tari. Pada saat kejadian, ia dengan cepat mengikuti mobil itu bersama para sekurity yang ada di Lea Dewantara Hotel.
Andi memang sangat cekatan, bertahun-tahun bekerja di keluarga Dewantara membuatnya menjadi seorang yang serba bisa, ia orang yang pintar. Ia bisa jadi detektif handal dadakan, ia bisa menjadi pengacara dadakan, dokter dadakan, polisi dadakan, semuanya ia bisa demi menolong majikannya yang sangat baik padanya.
Andi pun bukan hanya sekedar supir, ia sudah menjadi sahabat bahkan saudara bagi Fadly. Ia adalah orang kepercayaan keluarga Dewantara saat ini, tidak ada orang luar yang sangat bisa dipercaya kecuali Andi.
"Apa!!" suara Fadly menggelegar. Membuat semua orang yang ada didalam kamar terkejut.
"Tenang Fad," tukas Andi, disaat seperti ini ia memposisikan dirinya sebagai seorang sahabat agar bisa menenangkan Fadly. Dan Fadly tidak keberatan akan hal itu.
"Dimana dia?" tanya Fadly. Tentu saja ia menanyakan Divya.
"Kantor polisi," jawab Andi singkat.
"Kita kesana sekarang!" ucap Fadly sembari menilik ke wajah Andi. Andi hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Sebentar, aku akan pamit terlebih dahulu," ucap Fadly masih dengan wajah dingin. Fadly membuka pintu kamar Tari dan masuk. Tari dan Fadly beradu pandang, tatapan mereka bertemu, dan rasa dingin tiba-tiba menyergap perasaan Tari.
Fadly tersenyum pada Tari, "Aku pamit dulu ya, ada pekerjaan sedikit yang harus aku kerjakan, sebentar saja," ucap Fadly tenang. Tapi setenang apapun, dan semanis apapun senyum Fadly saat itu, Fadly tidak bisa menutupi wajah dinginnya dari Tari, Tari sangat merasakannya.
"Mau kemana, Mas?" tanya Tari.
Tadinya Fadly hanya berdiri, kali ini ia duduk disamping Tari, "Ada urusan yang harus aku selesaikan. Tidak akan lama," jelas Fadly sembari menggenggam tangan Tari.
"Bisakah nanti saja kerjanya, Mas," ucap Tari penuh harap. Sebenarnya Tari tahu Fadly akan pergi kemana. Saat Fadly mengetik pesan di ponselnya, Tari sempat melirik dan membaca pesan singkat itu. Fadly mengatakan dipesan itu, ia akan menunggu saat Tari sudah tenang, kemudian ia akan meninggalkan Tari dengan keluarganya untuk menemui orang yang akan mencelakai Tari saat di hotel tadi.
"Mas! Aku mohon jangan kemana-mana," lagi Tari berucap dengan penuh harap.
Semua mata menatap Tari. Tari tidak ingin Fadly mengotori tangannya untuk orang yang ingin berbuat jahat padanya. Jelas sekali dimata Tari, Fadly sangat marah. Saat mengetik pesan itu, Fadly mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih. Tari sangat paham, Fadly sangat dendam pada orang itu.
"Tidak apa-apa, sayang. Disinikan ada mama, ibu kamu dan kak Lea yang menemani," ucap Nyonya Shofia membujuk. Nyonya Shofia tidak tahu. Ia mengira, Fadly memang benar-benar sedang ada pekerjaan.
Fadly menatap Nyonya Shofia dan Lea secara bergantian. Lea paham maksud dari tatapan itu, Lea beranjak.
"Bu, sepertinya tangan Tari sudah baik-baik saja. Kita turun yuk!" Lea berucap pada Bu Rosita, mengajak Bu Rosita keluar dari kamar Tari.
"Ayo Ma," tambah Lea sembari menggandeng tangan Nyonya Shofia.
Setelah Nyonya Shofia, Bu Rosita dan juga Lea keluar, Fadly menatap lekat mata Tari. "Ada apa? Mengapa kamu ngelarang aku kerja?"
"Kamu gak kerja, Mas!" seru Tari.
Fadly mengernyit, "Maksud kamu?"
"Kamu mau menemui orang yang mencelakai aku kan, Mas?" tebakan Tari benar, tidak meleset sedikitpun.
__ADS_1
Fadly menarik napas dan membuangnya pelan. Ia berusaha mengatur emosinya karena mendengar berita yang dibawa oleh Andi tadi.
"Biarkan proses hukum yang berjalan semestinya untuk gadis itu," tambah Tari.
"Gadis itu?" tanya Fadly heran. Memperdalam kerutan dikeningnya.
"Ya, Mas. Saat mobil itu melintas didepanku, aku melihat seorang gadis dibalik setir mobil hitam itu. Gadis itu menangis. Mungkin ada seseorang yang menyuruhnya untuk mencelakaiku dan dia mendapat uang dari pekerjaannya," ucap Tari asal menebak.
"Gak ada orang yang menyuruhnya, Sayang. Dia melakukan itu atas keinginannya sendiri. Karena mungkin dia cemburu sama kamu," terang Fadly.
"Cemburu? Ma-maksudnya?"
"Aku mengenal gadis itu, dia karyawanku di Bali. Dia pemandu wisata."
Tari hanya diam, ia ingin mendengar kelanjutan cerita dari calon suaminya itu.
Fadly menarik napas perlahan, "Dia menyukaiku, sudah beberapa kali dia menyatakan perasaannya padaku, tapi aku tolak secara perlahan."
Barulah Tari paham mengapa gadis itu ingin mencelakainya. "Seperti yang aku katakan tadi, Mas. Biarkan proses hukum berjalan semestinya untuknya. Kita tidak usah mengotori tangan kita untuk ikut menghukumnya, aku sudah ikhlas memaafkannya, Mas. Kamu lihat kan aku tidak kenapa-kenapa."
Tari mengambil tangan Fadly dan menggenggamnya, lalu menatap mata Fadly dan tersenyum. "Ikhlaskan ya, Mas."
Fadly terpana, sejak tadi ia memikirkan hukuman apa yang akan ia berikan untuk Divya. Dan sekarang, dengan mata memohon, kekasihnya memintanya untuk memaafkan gadis jahat itu.
.
.
To Be Continued...
__ADS_1