Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Ingin Bertemu


__ADS_3

Tari hanya mengucapkan maaf dan cepat ia berpamitan pada Bu Hanifa karena Malas sekali Tari berdebat dengan Bu Hanifa.


Terakhir ketika ia sudah sampai di depan pagar rumah Bu Hanifa. Bu Hanifa mengingatkannya untuk jangan telat membayar uang kontrakan.


Sambil berteriak ia berkata "Jangan mentang-mentang bapak kamu sakit kamu cari alasan nunggak bayar kontrakan ya, Tari".


Tari membuang nafas kasar dan hanya menjawab "iya bu" dengan malas.


Karena Tari juga tidak pernah menunggak membayar kontrakan selama ini, dan setahunya bapaknya dulu juga tidak pernah menunggak, tapi entah kenapa Bu Hanifa mengatakan seperti itu.


Setelah dari rumah Bu Hanifa, sebenarnya ia berniat ingin langsung kembali ke rumah sakit. Tapi hatinya berkata lain, ia ingin pulang sebentar sekedar melihat rumah dan juga tak lain adalah melihat seseorang yang selama dua hari sudah berbaik hati pada keluarganya. Dan membuat hatinya berbunga-bunga. Ia berharap semoga ia dapat bertemu tetangga tampannya itu.


Toh hanya sebentar berjalan kaki dari rumah bu Hanifa kini ia sudah sampai di depan rumahnya yang sudah ia tinggali selama tiga belas tahun itu.


Ya, sudah selama itu keluarganya hidup mengontrak. Dulu ketika awal menikah Pak Syabani dan Bu Aini, bapak dan ibu kandung Tari itu memiliki rumah sendiri. Tepat di belakang kios jahit Pak Syabani.


Namun ketika Usia Tari delapan tahun, ibunya terserang penyakit berbahaya. Ada benjolan di payudara Bu Aini. Setelah di periksakan ternyata ibunya terkena kanker payudara.


Oleh sebab itu banyak biaya yang harus dikeluarkan Pak Syabani. Ia menjual semua hartanya. Setelah tidak ada lagi harta yang bisa digunakan, terakhir rumahnyalah yang ia korbankan untuk istri tercintanya.


Tidak ada pilihan lain, karena Pak Syabani tidak mungkin menjual kios jahit yang menjadi ladangnya untuk mencari uang.


Setelah rumah dijual, mereka tinggal mengontrak di rumah Bu Hanifa. Tinggallah kini hanya kios jahit yang tersisa.


Mengingat itu, Tari sangat sedih. Karena sedikit sekali kenangannya bersama ibu kandungnya.


Cukup lama ia berdiri di depan teras rumahnya, namun yang diperhatikan adalah pintu rumah tetangga tampannya itu.


Ingin sekali ia mengetuk, dan melihat laki-laki itu, hanya melihatnya saja, tapi setelah itu apa yang ingin dikatakannya? Ia tidak menemukan alasan yang tepat.


Baru satu hari ini saja ia tidak melihat tetangga tampannya itu, tapi ia sudah rindu. Cukup hanya melihatnya saja pun tidak apa-apa bagi Tari. Padahal sebelumnya juga tidak pernah seperti ini.


Bahkan tadinya Tari enggan mengenal tetangga tampannya itu. Mengingat bagaimana pertemuan pertama mereka, tetangganya itu terkesan sombong dan jutek. Tapi setelah ia mengenalnya ternyata jauh berbeda.


Baginya tetangganya itu baik, sangat menyenangkan, perhatian, bicaranya lembut, banyak sekali sifat baiknya. Dan tambah lagi kini hatinya mulai merasakan hal aneh ketika tidak melihatnya.

__ADS_1


Tapi akhirnya Tari menyerah. Ia tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk mengetuk rumah itu dan bertemu penghuninya. (Horor banget ya.. 😂😂)


Ia melirik jam yang ia kenakan di tangan kirinyanya. Ternyata sudah sore, ia memukul dahinya. Sudah lama sekali ternyata ia meninggalkan bapaknya di rumah sakit sendirian. Semoga bapak tidak kenapa-kenapa pikirnya sambil berjalan keluar dari teras rumah.


Ia tidak jadi bertemu sang tetangga, bahkan masuk ke rumahnya sendiripun ia membatalkannya, ia memutuskan kembali ke rumah sakit. Sebenarnya saat ini ia sangat ingin bertemu, hanya sekedar ingin bertemu saja. Tidak ada kata-kata yang ingin diucapkannya.


***


Akhirnya Tari lega setelah tiga hari empat malam bapaknya dirawat di rumah sakit, bapaknya pun membaik. Dokter sudah mengizinkan bapaknya pulang.


Sebelumnya Tari juga melakukan serangkaian pemeriksaan apakah dia tertular penyakit bapaknya atau tidak.


Setelah hasil tes keluar, Tari bersyukur karena hasilnya negatif. Artinya dia bebas dari penyakit TBC.


Bapaknya pun kini sudah nampak tidak lemas lagi dan bisa berjalan. Tapi, batuknya masih belum sembuh.


Tari berharap setelah meminum obat yang diberikan Dokter bapaknya bisa sembuh total dan tidak sakit-sakit lagi.


Selesai sudah Tari membereskan barang-barang mereka yang akan dibawa pulang. Mereka pun keluar dari rumah sakit itu.


Ketika akan membuka pintu rumah, pintu sudah terbuka. Ternyata Bu Rosita ada di dalam. Sudah tiga hari Tari dan bapaknya tidak tahu keberadaan Bu Rosita. Tapi sekarang dia muncul kembali di rumah itu. Tari dan Pak Syabani terkejut melihatnya.


"Ibu dari mana aja? tiba-tiba menghilang, tiba-tiba datang lagi," Tari bertanya dengan ketus.


Tari sudah muak sekali dengan segala tingkah Bu Rosita. Bukannya ia tidak mau melawan perbuatan kasar ibu tirinya itu. Tapi ia hanya menghormati bapaknya saja. Yang selalu melarangnya untuk melawan pada orang tua.


Bapaknya menasehati Tari agar tidak membalas semua perbuatan kasar yang ia terima dari siapa pun. Biarlah Allah yang membalaskan, kita tinggal duduk dan melihat apa yang di tuainya.


Karena jika orang menabur kebaikan, maka kebaikanlah yang di tuai. Begitu pula sebaliknya, jika orang menabur angin, maka badailah yang akan di tuainya.


"Ibu gak tau bapak dibawa ke rumah sakit, malam itu ibu cari-cari kamu dan bapak tapi gak ada. Dan perawat yang di klinik itu bilang katanya bapak sudah dirujuk ke rumah sakit, tapi dia gak tahu rumah sakit mana. Maafin ibu ya pak," jelasnya sambil menunjukkan wajah sedih.


"Maafin ibu juga ya Tari," sambungnya lagi.


Tari membuang nafas panjang, baru kali ini di dengarnya ibu tirinya itu mengucapkan maaf.

__ADS_1


Entah apa maksud Bu Rosita dengan semua ini, ia malas memikirkannya. Dilihatnya, bapaknya pun tersenyum seperti telah memaafkan Bu Rosita.


"Aku antar ke kamar ya pak. Bapakkan baru pulang dari rumah sakit, jadi harus banyak istirahat," ucap Bu Rosita sambil memegangi pundak suaminya.


Tari jengah melihatnya. Memang selama ini ia tidak pernah melihat Bu Rosita berlaku kasar kepada bapaknya. Paling hanya sekedar mengomel saja jika ia sedang butuh uang dan bapak tidak bisa memberikannya.


Setelah bapak dan ibu tirinya berlalu masuk ke dalam kamar, sejenak ia mamatung di tempat dan berharap. Semoga ibu tirinya bisa berubah menjadi baik seperti dulu dan bisa berdamai dengan dirinya.


Ia melangkah masuk ke kamar. Sekarang masih siang, Tari ingin merebahkan badannya sebentar. Tari sangat lelah sekali sekarang ini. Setelah beberapa saat memejamkan mata, perutnya terasa lapar.


Ia teringat ternyata sejak pagi belum masuk sesuap nasipun ke perutnya. Dengan malas ia menuju dapur, maksud hati ingin memasak sesuatu untuk dimakan.


Setelah berada di dapur dan membuka tudung saji yang berada di meja, keningnya mengkerut.


'Ibu masak?' gumamnya sendirian.


Diambilnya piring dan dengan santai ia makan. Akhirnya setelah sekian lama ia merasakan kembali masakan ibu tirinya. Ia hapal betul rasa masakan ibu tirinya itu, terasa gurih dan sedikit agak manis. Ia tersenyum senang. Ia terus berharap, semoga ibu tirinya terus menyenangkan seperti ini.


Ketika sedang menikmati makanan yang dimasak Bu Rosita, Bu Rosita keluar dari kamar dan menghampiri Tari.


"Enak gak masakan ibu?" tanya Bu Rosita sambil tersenyum.


"Enak bu, masih seperti yang dulu tidak berubah. Kenapa kok tumben sekali ibu masak?" tanya Tari dengan menatap ibu tirinya.


Yang ditatap hanya tersenyum. Lalu tiba-tiba mereka berdua dikejutkan dengan suara pintu seperti didobrak.


Mereka saling berpandangan.


"Bapak.... "


#####


Bersambung..


Terimakasih sudah membaca.. Semoga suka dengan ceritanya ya readers 😊😊

__ADS_1


__ADS_2