
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
Ketika sampai di depan rumahnya, sang pria penguntit langsung disambut pelukan hangat oleh ayahnya Pak Irsyad suami dari Bu Hanifa, orang terkaya di kampungnya.
Ya, pria penguntit itu adalah Sandi. Ia sudah kembali sebulan lamanya dikampung kelahirannya. Sang ayah yang seorang kepala pelayan di rumah keluarga Dewantara kini sudah pensiun dan ia izin mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Padahal sebenarnya Tuan Haris Dewantara tidak ingin Pak Irsyad mengundurkan diri. Tetapi Pak Irsyad yang merasa sudah sangat tua ingin berkumpul saja bersama anak, istri dan cucu nya dimasa tuanya.
Pak Irsyad merentangkan tangannya menyambut anak bungsunya, Sandi. Yang disambut juga sama, mereka saling berpelukan.
Pak Irsyad setiap tahun pulang ke rumah jika hari raya Idul Fitri tiba. Sedangkan Sandi yang pekerjaannya berlayar sebenarnya bisa pulang selama enam bulan sekali, tetapi ia sudah dikontrak oleh perusahaan Dewantara yang memiliki kapal tersebut. Jika kapal pesiar satu sudah mendarat, maka ia akan ikut kembali berlayar dikapal pesiar berikutnya.
Oleh sebab itu Sandi hanya bisa pulang selama dua tahun sekali.
Ayah dan anak itu cukup lama berpelukan melepas rasa rindu mereka. Sudah empat tahun mereka tidak berjumpa. Setelah pelukan terlepas, ternyata Pak Irsyad sudah meneteskan air matanya.
"Ayah nangis?" tanya Sandi keheranan.
"Ayah terharu nak, ternyata ayah sudah setua ini dan tidak melihat tumbuh kembang kamu dan abang-abang kamu sedari kecil," jawab Pak Irsyad.
Bu Hanifa pun menimpali, "Ayah, sudah-sudah ibu juga jadi ikut terharu nih lihat ayah nangis begitu. Padahal kan ibu tadi udah berhenti nangis. Ini masa harus nangis lagi."
"Iya, Yah. Yaudah yuk kita duduk," ucap Sandi, seraya mengajak ayahnya duduk dikursi ruang tamu.
Malam ini, di ruang tamu rumah besar itu mereka berkumpul. Anak kedua Pak Irsyad dan Bu Hanifa, yaitu Dian yang ikut tinggal di rumah itu juga berada disitu. Dian sudah menikah dengan istrinya, Ranti. Dari hasil pernikahannya ia sudah memiliki satu anak laki-laki berumur tujuh tahun yang bernama Riski.
Hanya Wahyu, si anak sulung saja yang tidak ikut berkumpul karena ia tinggal di kota yang jaraknya jauh dari kampung tempat tinggal Bu Hanifa. Namun, Pak Irsyad sering janjian dan bertemu Wahyu bersama istrinya di kota. Karena jarak tempat tinggal mereka dekat.
Setelah melepas rindu di ruang tamu. Bu Hanifa mengajak mereka semua untuk makan malam.
"Ibu dari siang sudah menyiapkan makanan spesial untuk kita semua. Sekarang kita makan malam yuk!" ajak Bu Hanifa pada suami, anak, menantu dan cucunya.
Mereka semua pun beranjak, termasuk Pak Irsyad. Ia menggendong cucunya, Riski. Dan menciumi pipi Riski yang tampak agak gembul itu.
"Yah, Riski berat loh, gak usah digendong-gendong," ucap Dian pada ayahnya.
__ADS_1
"Gak apa-apa, ayah masih kuat kok," jawab ayahnya.
Lalu mereka semua menuju meja makan dan makan malam bersama. Setelah selesai makan, sepertinya mereka semua belum cukup untuk berbicara banyak, sehingga mereka kembali berkumpul di ruang keluarga.
"Jadi, Sandi. Kamu kapan akan menyusul kedua abang mu yang sudah berkeluarga? Sekarang bukan ayah saja yang semakin tua, kamu juga," Pak Irsyad membuka percakapan mereka. Dan ditanggapi tawa dari mereka semua.
Keluarganya tidak ada yang mengetahui jika Sandi sudah menikah beberapa kali. Sandi hanya mengatakan pada keluarganya jika ia belum ketemu jodoh yang tepat, oleh sebab itu ia tidak segera menikah hingga sekarang.
"Wajah kamu tampan, nak. Malah dari abang-abang kamu, kamu anak ayah paling tampan. Tapi kenapa kamu yang paling lama dapat jodoh," tambah sang ayah.
"Justru karena tampan itu, Yah. Sandi jadi banyak pilih. ya kan, nak?" ucap Bu Hanifa membela Bungsunya.
"Hahaha.. pilih apa sih bu? orang pilihannya saja jatuh ke Lestari, si tukang jahit itu," Dian ikut menimpali.
Sandi hanya tersenyum mendapat cibiran dari abangnya.
"Lihat abang mu ini, yang kata ayah tidak tampan. Tapi bisa dapat gadis kota seperti kak Ranti. Yang gayanya modis, cantik, dan pastinya gak kampungan seperti Lestari itu," kembali Dian menambahkan.
Ranti yang mendapat pujian dari suaminya itu pun menatap sekilas pada suaminya dan tersenyum senang.
"Ah, sudahlah gak usah bahas itu dulu ya Yah, Bang," ucap Sandi yang enggan membandingkan Tari dengan kakak iparnya itu.
Warna kulitnya pun lebih putih dan bersih kulit Tari dari pada Ranti. Sedangkan Tari tinggal di daerah pinggiran kota, pulang dan pergi ke kiosnya dengan berjalan kaki. Dan bila hendak pergi kemana-mana hanya menggunakan ojek, yang tentunya terpapar sinar matahari secara langsung.
Sangat jauh berbeda dengan Ranti yang tidak pernah terpapar sinar matahari. Karena ia menggunakan mobil bila akan keluar rumah.
Tapi Sandi tidak mau secara langsung mengatakan itu pada abangnya, karena ia tidak ingin menyakiti hati kakak iparnya. Biarlah Dian mengatakan apa tentang Tari, yang pasti hatinya sudah tertaut dengan gadis penjahit itu sejak tiga tahun yang lalu.
Dan Sandi juga sudah sangat terobsesi dengan Tari. Bagaimanapun ia harus bisa membuat Tari menjadi istrinya. Tapi, sudah sebulan ini ia menguntit gadis itu. Dan ternyata Tari sudah mempunyai kekasih.
Tidak punya kekasih saja Tari menolak dirinya. Apalagi sekarang, Tari sudah mempunyai kekasih yang sepertinya Tari sangat mencintainya. Ia tahu dari tatapan mata Tari pada laki-laki itu.
Malam pun sudah semakin larut, Riski dan bundanya sudah lebih dulu masuk ke kamarnya karena sudah mengantuk. Tidak lama kemudian, Dian menyusul anak dan istrinya ke kamar mereka.
Tinggallah di ruang keluarga itu Pak Irsyad, Bu Hanifa dan Sandi.
"Memangnya kamu benar-benar sangat mencintai Lestari yang disebut abang mu tadi," tanya Pak Irsyad pada putra bungsunya.
__ADS_1
Pak Irsyad sengaja menanyakan itu ketika Dian sudah tidak ada.
"Iya, Yah," jawab Sandi singkat.
"Terus kenapa kamu gak lamar gadis itu?"
Sekilas Sandi melirik pada ibunya. Apakah ia harus mengatakan pada ayahnya jika ia sudah melamar gadis itu, namun gadis itu menolaknya.
Ada rasa gengsi bila harus mengatakan yang sejujurnya. Meskipun pada ayahnya sendiri. Lagi-lagi Sandi melirik ibunya, ingin meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan ayahnya.
Bu Hanifa yang dilirik seolah bisa membaca pikiran anaknya. "Gadis ini matre yah, dia itu tukang jahit. Bapaknya juga dulunya tukang jahit langganan ibu. Dulu Sandi pernah melamarnya, tapi dia maunya minta uang lamaran yang banyak gak mau kalau cuma sedikit. Jadi ibu larang Sandi untuk dekat-dekat lagi sama gadis itu. Tapi Sekarang bapaknya sakit-sakitan, jadi mungkin dia akan menerima lamaran siapa saja laki-laki yang cepat melamarnya."
Sandi tercengang dengan jawaban ibunya, sebenarnya ia sedikit tidak suka dengan jawaban ibunya yang menjelekkan Tari seperti itu. Tapi, ia tidak ada pilihan lain. Hal itu sudah diucapkan ibunya. Sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu, selalu berlindung di ketiak sang ibu.
"Wah, gak bisa dijadikan istri itu perempuan seperti itu," ucap Pak Irsyad.
"Tapi bagaimana lah Yah, putramu sangat mencintainya," lagi-lagi Bu Hanifa yang mengambil alih jawaban itu.
"Ya, kalau memang kamu mencintainya, kamu harus benar-benar mendidiknya nanti saat jadi istri kamu," ucap Pak Irsyad, sedikit memberi petuah pada Sandi.
"Jadi, menurut ayah bagaimana? apa aku harus terus mengejar dia atau berhenti saja?" tanya Sandi.
"Kalau menurut ayah, ya kamu harus mengejar perempuan itu, kalau kamu benar-benar mencintainya. Kamu buktikan kalau kamu mencintai dia. Bukan hanya sebatas kata cinta saja."
"Begitu ya, Yah?"
Pak Irsyad tersenyum dan mengangguk melihat tingkah anaknya yang sedang jatuh cinta. Pak Irsyad tidak tahu padahal dibelakang mereka semua Sandi adalah ahli dari mengejar para wanita meskipun dengan paksaan.
***
Pagi harinya, karena ia gengsi pada ayahnya, Sandi berniat mendatangi Tari. Pagi ini ia datang ke rumah Tari dengan membawa mobil. Tidak seperti dulu yang selalu membawa sepeda motor saja.
#####
Next >>>>>>>
Semoga terhibur ya..
__ADS_1
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤