
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
Fadly dan Tari masih duduk di Kuliner Alam Cafe. Pesanan makanan Fadly kali ini agak banyak, karena dirinya belum makan sejak siang tadi.
Setelah Fadly menyantap semua makanan yang dipesannya, Fadly mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celananya. Ia mengutak-atik ponsel layar sentuh itu sebentar. Dan beberapa saat kemudian, ia menunjukkan potret dirinya yang berpose memakai toga.
"Pegang dong ponsel aku, kamu scroll aja, trus lihat-lihat foto aku," ucap Fadly sembari memberikan ponselnya pada Tari.
Tari menerima ponsel itu dan melihat ekspresi bahagia saat Fadly wisuda.
"Aku minta maaf ya karena gak menepati janji, aku sibuk banget nyusun skripsi karena sidang dan wisuda waktunya mepet banget. Tapi aku gak lupa kok sama kamu, aku gak lupa juga dengan janjiku sama kamu," tutur Fadly mulai menjelaskan.
Tari beralih menatap Fadly dari layar ponsel, "Terus, kalau gak lupa kenapa gak hubungi saya mas? setidaknya kasih kabar kalau kamu baik-baik aja."
"Cup cup cup.. jangan nangis dong," cicit Fadly sembari mencubit kecil pipi Tari.
Tari menampik tangan Fadly dari pipinya, dan menunjukkan wajah cemberut, "Ihhh apaan sih mas, cubit-cubit. Lagian siapa sih yang nangis."
"Lucu banget sih kamu kalau cemberut gitu hahaha... Ponsel aku hilang, Tari. Ditelan sama nenek lampir," jawab Fadly yang memang berkata jujur.
Tari semakin mengerutkan keningnya, wajahnya masih tetap cemberut, dan membuat bibirnya monyong sedikit. Fadly jadi gemas melihat Tari yang sangat lucu dengan wajah seperti itu.
"Hahaha.. " Fadly tertawa sembari menunjuk wajah Tari yang sangat lucu bila merajuk seperti sekarang ini.
"Serius ya.. " ucap Fadly dengan sedikit membetulkan letak duduknya.
"Satu tahun yang lalu, aku dijodohkan sama anaknya rekan bisnis papaku, tapi aku sama sekali gak mencintainya. Tapi karena gak mau mengecewakan papa dan mama, akhirnya aku coba jalani masa perjodohan kami. Jujur, wanita yang dijodohkan sama papa dan mama itu baik --"
"Cantik gak?" potong Tari dengan cepat. Dengan wajah masih tetap cemberut seperti tadi.
Fadly terkejut dengan pertanyaan Tari yang tiba-tiba itu. Tari menunjukkan sikap posesifnya, tapi Fadly tidak keberatan dengan hal itu. Fadly tersenyum, dan hampir saja terkekeh bila ia tidak menahannya.
"Ya ampun Tari, kok nanya gitu sih?" ucap Fadly, sembari memegang tangan Tari.
__ADS_1
"Ya jawab aja mas, cantik gak?"
"Cantik."
"Yaudah, kenapa cuma kamu bilang dia baik. Kalau ternyata dia juga cantik?"
Fadly kembali tersenyum, sebenarnya ia sangat gemas melihat wajah Tari sekarang ini.
Tari juga tidak bisa menahan rasa cemburunya pada mantan pacar Fadly yang diceritakan Fadly. Wanita cantik, anak pengusaha kaya saja Fadly tidak mencintainya. Bagaimana dengan dirinya yang hanya gadis kampung, baginya wajahnya biasa saja, anak dari orang miskin yang tak punya apa-apa, yang bekerja sebagai tukang jahit kampung.
Tari menatap langit-langit cafe itu untuk menghindari agar air matanya tidak jatuh.
"Tari, yang mau aku ceritain bukan itu. Tapi kamu harus tahu, dia cantik, dan juga baik tapi entah kenapa aku gak bisa jatuh cinta sama dia," tutur Fadly menjelaskan.
"Terus ada wanita lain yang kamu cintai, mas?" tanya Tari yang masih menahan air matanya.
"Iya, ada," jawab Fadly singkat.
Kini mereka saling menatap, mata mereka saling mengunci. Tangan mereka saling bertaut. Tari menatap Fadly, Tari berharap dengan begitu agar Fadly mengetahui apa yang Tari rasakan. Tari menginginkan agar Fadly mengetahui pertanyaannya 'Apakah saya yang kamu cintai, mas? '.
Tapi sepertinya mereka belum dapat menemukan apa-apa dari rasa penasaran dan harapan mereka.
"Terus.. aku lanjut ya, bolehkan?" Fadly berkata dengan sangat lembut, seperti merayu anak kecil yang sedang menangis.
Tari menganggukkan kepalanya.
"Terus karena aku gak cinta sama dia, aku berusaha bilang sama papa dan mamaku kalau aku ingin memutuskan hubungan perjodohan ini. Jadi, ketika papa dan mama sudah sampai dirumah dari Singapura. Aku bilang semuanya ke mereka, awalnya mamaku gak setuju, mama nangis-nangis histeris, karena mama udah sayang banget sama dia. Dan berharap dialah yang jadi jodoh aku kelak. Tapi aku pelan-pelan coba kasih tahu mama, kalau cinta gak bisa dipaksa."
Fadly menjeda ucapannya sejenak dan menatap dalam ke mata Tari. Tampaknya Tari biasa saja dengan cerita Fadly, membuat Fadly yakin akan melanjutkan ceritanya.
"Kalau papa, tadinya aku sama sekali gak tahu apa yang dipikirkan beliau. Tapi akhirnya aku tahu kalau papa berada dipihakku. Papa mencoba bantu aku untuk membujuk mama, agar mama mau mengikhlaskan aku putus dengan dia."
Tari diam mendengarkan setiap kata-kata yang diucapkan oleh laki-laki pujaan hatinya. Sedangkan Fadly menelan ludahnya dan menghela napas panjang, kemudian melanjutkan kembali apa yang ingin diceritakannya.
"Aku gak tahu entah ikhlas atau tidak, setelah berhari-hari, mama akhirnya mengatakan jika aku sendiri yang harus menyelesaikan masalah ini. Mama menyuruh untuk aku datang secara langsung menemui Adelia. Dan mengatakan sendiri jika aku ingin putus."
__ADS_1
Kembali Fadly terdiam.
"Namanya... Adelia, mas?" tanya Tari.
"Ya, namanya Adelia. Dan setelah aku bertemu dengan Adelia dan mengatakan maksud dan tujuan aku ingin bertemu dengan dia, aku berterus terang kalau selama ini aku menjalani hubungan tanpa rasa cinta sama dia. Dia tidak beda jauh dengan mama, malah lebih histeris lagi. Dia tidak mau putus dari aku, dia nangis, awalnya dia memukul aku, dia narik-narik jas yang aku pakai sampe ponsel aku jatuh dan aku gak tahu jatuhnya dimana karena dia terus meronta-ronta gak karuan. Terus gak sampai situ aja, dia memukul-mukul tubuhnya sendiri, dia menyiksa tubuhnya sendiri didepan mataku, seperti orang yang gak waras."
Tari terkejut dengan cerita Fadly, Tari menutup mulutnya. Sebagai sesama wanita Tari bisa merasakan apa yang dirasakan Adelia. Saat itu saja, ketika Fadly bersikap cuek dan dingin, Tari langsung demam dan selera makannya hilang hingga ia kehilangan tenaga. Mungkin berbeda dengan Adelia yang memukul Fadly dan tubuhnya sendiri. Tetapi rasa yang dirasakan pasti sama, sakit.
Kini wajah serius Fadly yang tadi sudah hilang, ia tampak sudah merubah wajahnya dengan sedikit tersenyum.
"Makanya aku bilang sama kamu tadi, kalau ponsel aku ditelan sama nenek lampir. Karena pada saat itu aku lihat Adelia seperti nenek lampir, rambutnya dan bajunya acak-acakan. Make up nya luntur karena air mata. Serem banget tahu gak."
"Mas, kamu tega banget sama Adelia, wanita itu mencintai kamu mas, tapi kamu tega sama dia..."
"Tega bagaimana Tari? aku gak ada ngapa-ngapain dia kok. Aku gak ada balas apapun yang dilakukan Adelia sama aku, aku diam aja."
"Maksud saya, kamu udah mutusin dia secara sepihak sedangkan dia masih cinta sama kamu. Jadi, ya wajarlah dia nangis-nangis histeris gitu. Tapi kamu malah bilangin dia nenek lampir mas," ucap Tari menjelaskan.
Tari menggeleng-geleng dan menatap Fadly tidak percaya.
Fadly sungguh tidak mengerti apa maksud Tari sekarang ini. Ia mengusap wajahnya, dan membuang napasnya.
"Tari, kamu juga harus pikirkan perasaan aku, aku dijodohkan sama wanita yang jelas-jelas tidak aku cintai. Tapi selama ini aku berusaha untuk membuka hatiku agar mencintai dia, tapi hati aku tetap gak bisa jatuh cinta sama dia. Dan aku juga berusaha untuk membahagiakan dia. Seandainya kamu ada diposisi aku Tari, dijodohkan sama orang yang sama sekali tidak kamu cintai, kamu pasti tersiksa karena membohongi diri sendiri," tutur Fadly dengan tegas.
Pernyataan Fadly barusan seolah menampar dirinya. Dulu dirinya pernah dilamar Sandi dan langsung menolaknya dengan sopan karena Tari tidak mencintai pria itu. Sedangkan Fadly, masih berusaha untuk mencintai dan membahagiakan Adelia. Perlahan Tari mengerti perasaan Fadly. Ia menunduk malu karena telah mengatakan jika Fadly tega terhadap Adelia.
#####
Next >>>>>>>
Mohon dukungannya
dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan vote nya untuk babang Fadly dan Tari..
Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤
__ADS_1