Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Perhiasan Dari Sandi


__ADS_3

...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....


...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...


...❤❤❤...


.


.


Setelah dini hari tadi Sandi membuat panik semua anggota keluarganya karena pulang dalam keadaan mabuk berat, dan pagi harinya ketika semua orang sedang sarapan bersama. Ia masih berada di dalam kamarnya tertidur dengan pulas. Siang menjelang sore hari barulah ia terbangun.


Pada saat itu Tari sedang duduk melamun di teras depan rumah. Pikirannya menerawang mengingat orang yang ia cintai kini entah bagaimana kabarnya.


Kini ia sudah menjadi istri orang, apakah salah masih mengingat laki-laki lain? Tapi dirinya bukan hanya mengingat, tapi juga merindukan laki-laki itu. Berdosa kah?


Untuk sekarang keinginannya tidak banyak, cukup tahu kabar Fadly saja sudah membuatnya tenang. Kemudian, ia mengingat kembali kebersamaannya dengan Fadly terakhir kali.


Disaat kecelakaan itu, Fadly melindungi dirinya. Fadly menahan dada Tari dibawah leher dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya Fadly gunakan untuk mengendalikan setir, meskipun setir itu tidak terkendali. Sesayang itu Fadly dengannya.


Lamunan Tari semakin melebar, seandainya saja mereka tidak kecelakaan hari itu, apa yang akan dilakukan Fadly untuk memulai hidupnya, karena Fadly mengatakan pada orang tuanya akan hidup mandiri dan akan memulai hidupnya dari nol tanpa bantuan kedua orang tuanya. Tari penasaran akan hal itu.


"Tari!!" seseorang telah membuyarkan lamunanya.


Suara seorang wanita paruh baya yang sangat ia kenali memanggilnya dari dalam rumah. Tari pun bergegas beranjak dan masuk ke dalam rumah menemui Bu Hanifa.


"Sandi sudah bangun, dia nyariin kamu," ucap Bu Hanifa.


"Kamu ini jadi istri kok sok sibuk sendiri sih? suaminya dikamar dia malah sibuk tidak menentu. Kamu menghindari Sandi ya!!!" sambung Bu Hanifa dengan suara meninggi di akhir kalimat.


"Gak, Bu. Tadikan mas Sandi tidur, jadi saya keluar sebentar sekedar cari angin. Hanya diteras saja kok gak kemana-mana," jawab Tari.


"Yaudah sana lekas masuk, gak usah banyak menjawab kamu! Sandi dari tadi nyariin kamu."


"Baik, Bu."


Tari berlalu dan meninggalkan Bu Hanifa.


Ceklek


Tari membuka pintu kamar. Terlihat Sandi duduk di sofa seberang tempat tidur. Sandi kini terlihat lebih segar. Tari bisa menebak, mungkin Sandi baru saja selesai mandi.


"Maafin mas ya, tadi malam mas gak pulang, malah pulang pagi. Dan membuat kamu jadi tidur sendirian. Habisnya kalau mas lihat kamu bawaannya n*f5u terus. Dan kamu masih belum bisa melayani mas lagi. Jadi mas menghindar saja," ucap Sandi.


Sungguh manis sekali kata-kata pria itu, seandainya pria yang mengucapkannya adalah Fadly, pasti kini Tari sudah menampakkan senyum malu-malunya. Dan pasti hatinya sangat bahagia. Sayangnya orang yang mrngucapkan itu adalah orang yang paling tidak diharapkan Tari.

__ADS_1


Tari mendudukkan bokongnya di sebelah Sandi. Kemudian Sandi mendekat dan mencium pipi Tari. Tari tidak membalas sedikitpun.


Kemudian Sandi beranjak dari duduknya, ia mengambil sesuatu dari dalam lemari.


"Ini buat kamu," Sandi menyerahkan dua buah kotak bludru, yang satu berwarna merah dan satu lagi berwarna biru.


Tari mengernyit dan mendongak menatap Sandi yg masih berdiri seolah meminta jawaban apa isi dari kotak-kotak tersebut.


Sandi kembali duduk di tempatnya yang tadi, dan kembali mengulurkan kotak-kotak tersebut pada Tari.


"Buka saja," ucap Sandi.


Tari menerimanya dan langsung membuka kotak bludru pertama berwarna merah. Setelah dibuka ternyata isinya adalah perhiasan emas. Ada gelang dua buah, cincin dan kalung lengkap beserta liontinnya.


Tari masih menunduk menatap perhiasan-perhiasan tersebut.


"Itu mahar yang mas sebut waktu ijab qabul, kamu lupa buat menyimpannya waktu itu kan? Itu ibu yang simpankan. Kamu juga kenapa gak minta?" ucap Sandi menjelaskan.


Tari bingung mau menjawab apa, tangannya gemetar, baru kali ini ia memegang perhiasan sebanyak itu. Dan itu memang sudah menjadi hak nya. Karena perhiasan itu adalah mahar yang diberikan Sandi padanya.


Tari tersenyum, "Terimakasih ya, Mas."


"Sama-sama sayang."


Lalu Tari beralih menatap kotak bludru berwarna biru, kotak itu lebih kecil dibanding kotak merah tadi.


"Ini? kamu buka saja."


Tari membuka kotak itu perlahan. Lalu tampaklah sebuah cincin indah dengan hiasan berlian ditengahnya.


"Ini?"


"Ini cincin hadiah dari keluarga Dewantara, khusus buat kamu kata mereka."


Sandi mengambil semua perhiasan itu dari dalam kotaknya, dan ia pakaikan ke Tari.


"Kamu tampak makin cantik pakai perhiasan ini," ucap Fadly.


Tari berdiri, ia ingin melihat penampilannya dicermin ketika memakai perhiasan. Sekarang ia melihat dirinya sendiri seperti Bu Hanifa, yang bagaikan toko emas berjalan. Sebenarnya Tari ingin tertawa, tapi pasti Sandi akan bertanya, ia tidak mau Sandi marah karena Tari mengejek ibunya.


Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya pada perhiasan-perhiasan ini, karena sepertinya ia tidak berselera untuk memakai semua perhiasan-perhiasan itu.


"Mas, saya pakai ini saja, ya," ucap Tari seraya menunjuk cincin.


Tari hanya ingin memakai cincin saja tidak ingin memakai yang lain. Ia sungguh tidak biasa memakai perhiasan, apalagi perhiasan sebanyak itu.

__ADS_1


Ia berniat akan menyimpan perhiasan-perhiasan itu dan akan digunakan untuk kebutuhannya suatu hari nanti. Mungkin nanti ia bisa minta perhiasan lebih banyak lagi pada Sandi untuk investasinya kedepan. Karena ia tidak tahu kehidupan kedepannya seperti apa.


"Kenapa tidak kamu pakai semua saja seperti ibu?" ucap Sandi.


Tari ingin tertawa mendengar hal itu diucapkan oleh Sandi. Namun lagi-lagi ia tahan.


Tari tersenyum, "Saya ingin seperti kak Ranti, Mas. Dia juga gak memakai perhiasan banyak jika di rumah."


Sebenarnya Tari hanya mencari alasan saja mengatakan hal itu agar Sandi tidak memaksanya untuk menjadi toko emas berjalan seperti ibunya. Nyatanya, kadang Ranti, kakak ipar dari Sandi itu juga memakai perhiasan emas yang berlebihan. Meskipun terlihat jarang.


"Yaaa, terserah kamu sajalah," akhirnya Sandi mengalah.


Lalu Tari membuka satu persatu perhiasan yang menempel ditelinganya, dilehernya, dijarinya dan ditangannya. Pada saat itu Sandi berdiri di belakang Tari, memeluk Tari dari belakang dan menciumi leher Tari. Tari merinding, ia merasa risih sekali. Ingin sekali rasanya lari pada saat itu juga. Tapi, menolak bagaimanapun Sandi tetaplah suaminya. Sandi berhak atas dirinya.


Ketika ingin melanjutkan aksinya, ponsel Sandi berdering. Ia mendengus kesal, ada saja yang mengganggu, begitulah pikirnya. Ia berjalan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.


Ketika dilihat siapa yang meneleponnya, Sandi terkejut dan lekas menggeser layar untuk tidak menerima panggilan telepon itu. Setelah itu ia mengetik pesan dengan cepat dan langsung mengirim pesan tersebut. Lalu dengan cepat pula ia menonaktifkan ponselnya.


Tari melihat gelagat aneh dari Sandi, namun ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang dilakukan Sandi.


Sandi kembali mendekati Tari, memeluknya dari belakang. Tari pura-pura tersenyum, padahal dirinya sangatlah risih dipeluk Sandi seperti ini.


Sandi memegang bagian sensitif Tari, "Apa disini masih belum bersih?"


Dengan cepat Tari melepaskan tangan Sandi dari area sensitifnya, "Belum, Mas."


"Hmm, yasudah kalau begitu mas izin ya untuk tidak pulang lagi malam ini. Kalau mas tidur di rumah sama kamu, mas gak bakal tahan lihat kamu. Pengen menerkam kamu terus," ucap Sandi sambil terkekeh.


Tari menanggapinya dengan senang hati, ia pun ikut terkekeh karena saking senangnya. Ia bersorak dalam hati, bebas lagi untuk malam ini.


"Iya, Mas. Gak apa-apa kok. Lagian di rumah kan ramai. Tapi kamu harus izin juga sama ibu. Nanti ibu khawatir seperti semalam."


"Siap, bos!" ucap Sandi sambil mencium pipi Tari.


Tari terkekeh, bukan karena dicium oleh Sandi. Tapi karena Sandi tidak akan mengganggu tidurnya lagi malam ini.


.


.


#####


Next>>>>>>>


Maaf baru bisa up lagi setelah sekian lama 🙏🙏

__ADS_1


Semoga Kisah Tari dan Fadly menjadi salah satu kisah yang dinanti-nantikan up-nya bagi para pembaca..


Untuk para pembaca, Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤


__ADS_2