Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Sudah satu jam lebih Fadly menunggu di teras depan rumah kontrakan yang di tempati Tari, bahkan sekarang adzan maghrib sudah berkumandang. Tapi tak seorangpun muncul di rumah itu. Tari, bapaknya ataupun ibu tirinya tidak nampak keberadaannya.


Ia sudah memutuskan panggilan video pada Nyonya Shofia setengah jam yang lalu, Nyonya Shofia sangat marah saat mengetahui Fadly sudah di Indonesia dan pergi ke Desa Pandanan tempat tinggal Tari. Tentu saja Fadly akan menemui Tari.


Fadly tahu, Nyonya Shofia pasti sudah menyuruh orang-orang suruhannya untuk mencari dirinya. Tapi Fadly tidak peduli akan hal itu.


Karena sudah menunggu lama, dan sepertinya tidak ada orang di rumah itu. Fadly pun beranjak pergi. Ia berjalan menuju kios jahit milik Tari.


Ia mencoba bertanya pada tetangga depan Tari yang memiliki warung sembako. Namun tetangganya juga tidak mengetahui kemana keberadaan Tari dan keluarganya. Tapi pemilik warung sembako itu memberitahu Fadly bahwa Pak Syabani sudah meninggal dunia.


Fadly terkejut mendengar hal itu. Sudah hampir satu tahun lamanya ia meninggalkan desa itu begitu saja. Tanpa pamit pada Tari, tentu sudah banyak sekali perubahan yang terjadi. Tapi Fadly berharap semoga cinta Tari padanya tidak akan berubah.


Setelah Fadly sampai di depan kios jahit Tari, ia tak kalah terkejut. Karena bangunan kios yang hanya beberapa meter itu sudah tidak ada dan sudah rata dengan tanah.


Kini Fadly bingung harus mencari Tari kemana. Bertanya pun dengan siapa. Ia frustasi, ingin sekali rasanya berteriak meluapkan kekesalannya.


"Tariiii... kamu dimana?" gumamnya sendirian.


Cukup lama Fadly memandangi tanah kosong yang dulunya adalah kios jahit milik Tari. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak belakangnya. Fadly menoleh, keningnya mengerut. Sepertinya ia mengenal orang yang sedang berdiri dihadapannya sekarang. Orang itu tersenyum kaku padanya.


"Kenapa, Mas kok ngeliatin tanah kosong?" tanya Dodi.


Fadly diam tidak langsung menjawab, Fadly mengamati Dodi dari atas hingga ke bawah. Dulu ia sempat berpikir Tari memiliki hubungan dengan pria ini. Apakah dia mengetahui dimana keberadaan Tari, pikir Fadly.


Dodi melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Fadly, karena Fadly terlihat melamun.


"Mas..."


"Mas..."


"Oh, ya," akhirnya Fadly tersadar.


Dodi tersenyum, "Kenapa, Mas kok ngeliatin tanah kosong? Mau beli tanah?" Dodi mengulangi pertanyaannya lagi.


"Oh, gak pak. Sa-"


"Apakah saya terlihat tua, kok situ manggil saya bapak sih... hehehe..."


"Eh.. gak gitu juga sih, trus saya harus panggil apa?"


"Abang aja deh, seperti orang-orang ajalah, manggil Bang Dodi."

__ADS_1


"Oh... Bang Dodi, ok ok. Kalau gitu kenalin saya Fadly," ucap Fadly sembari mengulurkan tangannya. Lalu mereka saling berjabat tangan.


"Jadi Bang, sebenarnya saya kesini mau menemui Tari, dan saya sangat terkejut ketika mendapati kiosnya sudah rata dengan tanah seperti ini," ucap Fadly.


"Iya, Mas. Ini semua karena ulah mertuanya Tari."


DUAAARR!!!


Seperti disambar petir rasanya tubuh Fadly mendengarnya. Seketika tubuhnya lemas seperti tidak bertulang.


"Jadi... Tari sudah menikah, Bang?" tanya Fadly tidak percaya.


"Eh... iya, Mas. Tari sudah menikah. Palingan juga satu minggu terus dia di siksa sama suaminya, KDRT gitu," ucap Dodi menjelaskan.


"Apa? KDRT?" Fadly semakin lemas.


Dodi menjawabnya hanya dengan menganggukkan kepala.


"Terus setelah kejadian KDRT itu keadaan Tari bagaimana, Bang?"


"Tari dirawat di Rumah Sakit, terus setelah pulang dari Rumah Sakit bapaknya meninggal."


Dodi melihat ada kekecewaan di wajah Fadly, kemudian karena penasaran ia pun bertanya, "Mas Fadly ini temannya Tari ya?"


"Iya, Bang," jawab Fadly singkat.


Dodi mengangguk.


"Kalau boleh tahu, suaminya Tari itu apakah orang dari desa ini juga?"


"Iya, Mas. Orang terkaya di desa ini."


"Oh ya?"


Fadly tersenyum kecut, ternyata kamu matre Tari. Ia mengucapkannya hanya dalam hati.


"Iya, Mas. Orang kaya, tapi terlalu semena-mena terhadap orang yang tidak mampu."


Dodi belum selesai dengan ceritanya, Fadly tahu itu. Dodi menarik napas panjang, kemudian Dodi duduk dipinggir jalan aspal yang menghadap ke tanah kosong yang tadinya tempat berdirinya kios Tari. Fadly terus memperhatikan Dodi. Kemudian Dodi menceritakan kisah Tari dari awal mengapa Tari bisa menikah dengan Sandi. Panjang lebar Dodi menceritakan apa yang diketahuinya tentang kehidupan Tari.


"Jadi, Tari menikah dengan anak pemilik rumah kontrakan yang ditempati Tari dan keluarganya selama ini?"

__ADS_1


"Iya, Mas."


Tiba-tiba Fadly teringat kalau rumah kontrakan itu yang dulu juga ia tempati adalah rumah milik Pak Irsyad. Kepala pelayan yang bekerja di rumahnya.


"Rumah kontrakan itu bukannya milik Pak Irsyad ya, Bang?"


"Iya, Mas. Benar, itu milik Pak Irsyad tapi karena waktu itu Pak Irsyad bekerja di kota, jadi yang mengelola rumah-rumah kontrakan itu ya istrinya. Dan sudah beberapa bulan ini Pak Irsyad kembali lagi ke desa ini, katanya sudah tidak bekerja di kota. Lalu dia terkena serangan jantung karena Sandi di penjara karena serbuk haram dan melakukan KDRT kepada Tari." tutur Dodi.


"Jadi, Pak Irsyad juga sudah meninggal?"


"Iya, Mas."


"Innalillahiwainnailaihiraji'un."


Ternyata dunia ini sungguh sempit, orang yang menikahi Tari ternyata Sandi anak dari kepala pelayannya di rumahnya selama bertahun-tahun. Fadly cukup mengenal baik keluarga Pak Irsyad, ia tidak menyangka kalau Sandi sampai melakukan KDRT kepada Tari. Karena selama ini ia juga mengenal Sandi sebagai orang yang baik. Dan Bu Hanifa, yang Fadly kenal selama ini sangat baik ternyata adalah topeng.


Bu Hanifa terkenal sebagai rentenir di desa pandanan ini dan suka melakukan kekerasan pada siapa saja yang tidak bisa membayar uang yang mereka pinjam. Tari adalah salah satu yang menjadi korban kekerasan Bu Hanifa. Sampai kios jahit milik Tari pun dirobohkan oleh orang-orang suruhan Bu Hanifa.


"Bisa antarkan saya ke rumah Bu Hanifa gak, Bang?"


"Oh, bisa, Mas. Sebentar biar saya ambil motor saya dulu di sana," ucap Dodi sembari menunjuk motornya.


Tidak lama kemudian Dodi kembali dengan membawa motor bebeknya.


"Ayo, Mas."


Fadly naik ke boncengan motor bebek itu. Dodi pun melajukan motornya dengan pelan, karena motornya memang tidak bisa melaju dengan cepat.


Saat diperjalanan Fadly membuka suara, "Dulu saya sempat mengira kalau Tari dan Bang Dodi ada hubungan, sampai membuat saya cemburu," ucap Fadly sambil tertawa.


Dodi pun tertawa geli mendengarnya.


"Tari itu sudah saya anggap adik saya sendiri, Mas. Karena dari sejak dia masih kecil saya sudah kenal dengan dia dan keluarganya. Bahkan dengan ibu kandungnya saya juga kenal. Tapi sewaktu dia dalam kesusahan saya gak bisa membantu, itu yang membuat saya sedih."


"Gak usah sedih, Bang. Mungkin ini semua sudah jalan hidup Tari. Nanti kalau saya jumpa sama Tari, saya akan bawa dia dan membahagia kan dia."


.


.


Next>>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2