
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Saat ini mereka bertiga masih berada di ruang tamu rumah Tari.
"Kamu mau keringanan yang seperti apa?" ucap Bu Hanifa sinis menatap Tari.
"Beri saya waktu beberapa hari ini, Bu. Atau minimal satu minggu, biar saya kerja cari uang," jawab Tari dengan air mata terurai.
"Kalau kamu jahit pun, upah jahit kamu itu akan lama terkumpul untuk membayar rumah kontrakan ini yang sudah menunggak. Harus berapa lama saya menunggu?"
"Saya akan cari kerja keluar Bu, mungkin saya akan ke kota."
Bu Hanifa dan Sandi terkekeh mendengar ucapan Tari.
"Mau kerja apa kamu? jadi pelacur?" ucap Bu Hanifa enteng.
"Astaghfirullahaladzim," desis Tari.
"San, kamu bilang dia punya pacar naik mobil kan? kemana ya pacarnya? kok gak bisa bantu sih?" ucap Bu Hanifa menyindir Tari.
Kembali ibu dan anak itu terkekeh, seolah mereka berdua senang sekali jika Tari menderita.
"Yaudah gini aja," Sandi mendekat ke tempat Tari berdiri dan merangkulkan tangan kirinya ke bahu Tari.
Dengan cepat Tari bergeser dan menghindar dari Sandi.
"Sok nolak kamu!!!" ucap Bu Hanifa dengan nada tidak suka.
Sandi mengulang kata-katanya, namun kali ini ia tidak merangkul Tari, "Yaudah gini aja, hutang kamu Mas lunasi, mau?"
Tari menatap tak percaya pada Sandi, dan langsung menganggukkan kepalanya berulang-ulang.
Sandi tersenyum senang, "Kamu juga gak usah bayar uang sewa rumah lagi, mau?"
Tari menelan ludahnya dan kembali menganggukkan kepala.
"Tapi kamu harus menikah dengan Mas, mau?"
Kali ini Tari terdiam. "Ya Allah, cobaan apa ini?" gumamnya dalam hati.
"Kenapa? gak mau?" ucap Sandi.
__ADS_1
"Terus kalau kamu gak mau, kamu mau cari uang dari mana? Dari pada kamu melacurkan diri kamu sama orang mending sama Mas aja. Lagian kamu percuma punya pacar bermobil tapi gak bisa bantu," lanjut Sandi.
"Atau jangan-jangan, mobil rental ya yang di pakai pacar kamu itu?" Bu Hanifa menambahkan.
Hening, tidak ada jawaban apapun dari Tari, bibirnya tertutup rapat, namun air matanya terus mengalir deras. Ia menangis tanpa suara. Dadanya terasa sesak.
Sandi seolah memberi kode pada ibunya. Bu Hanifa pun melangkah keluar rumah dan menutup pintu.
Sandi maju selangkah mendekati Tari, lalu berjalan memutari Tari. Ia berhenti tepat di depan Tari, melihat Tari dari bawah hingga keatas. Lalu ia menyentuh pipi Tari, menghapus air mata di pipinya.
Kemudian ia beralih menyentuh tangan Tari dengan ujung jari telunjuknya. Ia menyentuh dari lengan atas sampai ke pergelangan tangan Tari, diulanginya sampai beberapa kali.
Sandi melanjutkan berjalan ke belakang tubuh Tari. Ia mendekatkan dadanya ke punggung Tari dan melingkarkan kedua tangannya kedepan menyentuh kedua tangan Tari. Ia melakukan semua itu dengan gerakan cepat.
Dengan cepat pula Tari melepaskan tangan kekar Sandi yang sangat lancang telah memeluknya dari belakang. Namun seberapa kuat ia mencoba melepaskannya, tenaganya kalah kuat dengan tenaga Sandi.
Tari terus meronta-ronta menggerakkan badannya juga tangannya agar pelukan Sandi terlepas. Bukan, bukan pelukan, lebih tepatnya cengkeraman Sandi. Tubuh Tari bergetar saat Sandi semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Tari, dagunya ia letakkan di bahu kanan Tari. Hingga kini wajah mereka sudah tidak berjarak lagi, bahkan Tari bisa merasakan hembusan napas Sandi.
"Tolong jangan seperti ini Mas Sandi, ini namanya pelecehan. Tari bisa melaporkan Mas Sandi dengan pasal pelecehan," oceh Tari sambil terus mencoba melepaskan kungkungan Sandi.
Tari merinding, Air mata Tari pun sejak tadi tidak berhenti bercucuran.
Dengan sangat lancang Sandi menciumi leher Tari dari belakang.
"Arghhhh!! dasar kurang ajar!!"
Dengan sekuat tenaganya Tari mengayunkan siku tangannya dan mengenai perut Sandi.
"Akkhhh!!" pekik Sandi kesakitan.
Lalu Sandi melepaskan tangannya yang mencengkeram erat tangan Tari. Tidak mau menyianyiakan kesempatan yang ada, Tari dengan cepat menjauhi Sandi.
Detik berikutnya Bu Hanifa masuk dan melihat anak laki-lakinya sudah kesakitan memegangi perutnya dengan posisi berjongkok.
"Kamu apakan anak saya, Tari?" jerit Bu Hanifa, marah.
Seraya menyeka air matanya, tanpa menoleh, Tari menjawab, "Ibu bisa tanya sendiri sama anak ibu."
Bu Hanifa mensejajarkan tubuhnya dengan Sandi.
"San, kamu kenapa? kamu diapain sama gadis miskin ini?" tanya Bu Hanifa pada Sandi.
Tidak ada jawaban dari Sandi. Pukulan siku Tari cukup membuatnya merasa kesakitan, tapi ia mencoba berdiri meski masih tetap memegangi perutnya yang terasa sakit. Bu Hanifa pun ikut berdiri kembali.
Sandi menatap Tari dan memperlihatkan seringai liciknya, "Gak apa-apa, mungkin kamu masih malu ya sama Mas. Tapi nanti kamu bakal ketagihan."
"Bu, biarkan Tari tetap tinggal di rumah kontrakan ini, selama satu minggu," ucap Sandi, lalu menjeda ucapannnya.
"Dan kamu Tari, selama satu minggu kamu kami kasih kesempatan untuk melunasi hutang kamu, ingat! satu minggu. Setelah satu minggu kamu tidak membayar, kami benar-benar akan mengusir kamu dari rumah ini. Kami tidak perduli kamu dan keluarga kamu mau tinggal dimana," kembali Sandi menunjukkan seringai liciknya.
__ADS_1
Tari yang merasa sangat jijik dengan pria dan ibunya yang ada di hadapannya itu, tidak menoleh sedikitpun ke arah mereka. Namun tetap menjawab, "Baik, saya akan berusaha melunasinya sampai batas waktu yang ditentukan."
"Atau seperti penawaran Mas yang pertama tadi, jika kamu sudah lelah mencari uang. Namun tidak ada hasilnya juga, kamu tinggal bilang sama Mas, biar kita menikah dan kamu bisa menjadi istri Mas dan semua hutang kamu lunas. Tentunya, kamu akan menjadi Nyonya Sandi yang kaya, tidak perlu capek-capek kamu jahit lagi. Bapak kamu sakit kan? pasti menantunya yang kaya seperti Mas ini bakal bantu. Tidak seperti pacar kamu itu. Naik mobil, tapi gak jelas mobil siapa, dan lagi pacarnya yang cantik ini butuh bantuan dia entah kemana," oceh sandi.
Sandi mengatakan semua itu dengan wajah dan seringai menjijikan ala pria-pria hidung belang mesum penggoda wanita.
Tari ingin muntah mendengarnya, rasanya mual sekali, "Dan apa kata pria mesum itu? menikah dengannya? MIMPI," gumam Tari dalam hatinya.
"Okelah, untuk malam ini cukup! ayo Bu, kita pulang. Kita tinggal tunggu kabar selanjutnya dari Tari," ucap Sandi oada Bu Hanifa.
Bu Hanifa tersenyum pada Sandi. Lalu sama-sama mereka melangkah ke luar. Setelah Bu Hanifa dan Sandi pergi Tari terduduk lemas di lantai rumahnya. Ia merasa jijik sekali, bukan dengan Sandi tapi dengan dirinya sendiri.
Ia menangis meratapi hidupnya yang penuh kesuraman. Bukan karena dirinya yang putus sekolah yang ia tangisi atau karena ia menjadi tulang punggung keluarga di usianya yang sangat muda.
Tapi kisah hidupnya setelah dewasa, yang ia herankan. Mengapa begini.
"Mengapa seperti ini jalan hidupku, ya Allah!"
Sejak pagi air matanya sudah tumpah, hingga malam seperti ini juga masih harus terperas lagi. Tari terus menangis meratapi kesedihannya. Di otaknya terus berpikir bagaimana ini? kemana harus meminjam uang?
Benar kata Bu Hanifa tadi, jika ia menjahit selama satu minggu ini siang dan malampun, uangnya tidak akan cukup untuk melunasi uang kontrakan yang sudah menunggak ini. Lalu bagaimana lagi cara ia mendapat uang. Tari terus berpikir.
Setelah lelah menangis hampir satu jam, ia pun beranjak membersihkan dirinya yang kotor karena dijamah pria mesum seperti Sandi. Lama ia menghabiskan waktu di kamar mandi, karena ia membersihkan jejak-jejak tangan dan bibir pria mesum itu.
Setelah selesai mandi, ia mencoba kembali menghubungi Kemal.
Tut tut tut!!!
Nomornya tetap tidak aktif, Tari mendengus kesal.
"Kenapa saat dibutuhkan seperti ini bang Kemal susah dihubungi sih? biasanya juga selalu mengganggu istirahat orang setiap malam," Tari berbicara sendiri.
Tari merebahkan tubuhnya diatas kasur, karena tubuhnya sangat lelah, pikiran dan hatinya lelah dengan cepat ia terlelap malam itu.
.
.
#####
Have a nice dream Tari 😁
Next>>>>>>>
Semoga terhibur ya..
Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊
Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤
__ADS_1