
Tidak banyak percakapan di bab ini..
karena memang di bab ini menceritakan bagaimana pengorbanan Tari untuk sang bapak tercintanya.
Semoga gak bosyen ya readers.. 😊
Yuk! langsung baca..
cekidoot..
Tari menatap Fadly yang terus ikut masuk ke mobil mewah itu. Ada rasa sesak didadanya, kemana mereka akan membawa Fadly pergi? Apakah akan pergi lama? tanya Tari dalam hatinya.
Terus bagaimana dengan dirinya? ia masih ingin menjelaskan kesalah pahaman diantara mereka. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Fadly tidak bisa pergi sekarang. Mata Tari terus menatap Fadly.
Fadly yang sudah masuk ke mobil dan duduk di bangku penumpang melihat keluar jendela di mana ada Tari berdiri. Ia masih kesal dengan Tari, tapi rasanya tidak ingin berpisah jauh dengan gadis penjahit cantik itu.
Tidak sadar air mata Tari sudah jatuh ke pipinya, karena tidak mau hal itu diketahui siapapun dengan cepat ia menyeka air matanya.
Tapi Tari terlambat, hal itu sudah terlihat oleh Bu Rosita. Bukan malah ikut terharu, justru Bu Rosita senang bahwa Tari sedih karena di tinggal oleh Fadly. Menurut Bu Rosita, itu tandanya Tari sudah mulai mencintai Fadly. Atau malah sudah cinta sejak lama.
Bu Rosita berdiri didekat Tari, ia mengelus punggung Tari.
"Fadly perginya gak lama kok, motor sport nya aja gak dibawa. Palingan ntar malam dia sudah diantar lagi dengan anak buahnya," jawab Bu Rosita asal.
Kemudian ia tersadar dengan kata 'anak buah'. Bu Rosita pun menutup mulutnya dengan tangannya.
Tari pun menoleh cepat dan menatap Bu Rosita. Heran dengan jawaban ibu tirinya itu.
Tidak lama setelah Bu Rosita berucap, salah satu anak buah mama Fadly yang disuruh menjemput Fadly membawa keluar motor sport Fadly dan menaikinya.
Dan satu yang lainnya menutup dan mengunci pintu rumah yang ditempati Fadly. Kemudian mereka berdua pergi membawa motor sport itu.
Tidak lama kemudian mobil mewah yang terparkir di depan rumah Tari itu pun pergi membawa Fadly mengikuti motor sport tadi.
Bu Rosita terbengong melihat motor Fadly dibawa pergi juga, ternyata dugaannya salah. Ia pun gusar, ia bertindak terlalu lama.
Sementara itu, Tari sudah kembali ke kamarnya, ingin segera menumpahkan air yang ada dipelupuk matanya. Tiba-tiba ia teringat bapaknya yang sejak tadi lesu juga dengan wajah pucat. Ia juga belum menanyakan bagaimana kondisi bapaknya setelah check up ke rumah sakit tadi. Ia menyeka air matanya yang sudah membasahi wajah mulusnya.
Tari kembali keluar kamar dan menemui bapaknya yang sedang duduk di teras rumah mereka bersama Bu Rosita juga ada di sana.
"Pak, bagaimana kondisi bapak? dan bagaimana hasil check up nya?" tanya Tari.
__ADS_1
"Bapak kamu sakit paru-paru Tari," jawab Bu Rosita.
Dengan cepat bapaknya menyenggol lengan Bu Rosita.
"Kan udah bapak bilang tadi bu, jangan bilang dulu sama Tari," jawab bapaknya, kecewa dengan Bu Rosita.
"Ya Allah pak, sa-sakit paru-paru?" Tari menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. Kembali air matanya jatuh dengan deras.
Baru saja ia melihat Fadly pergi yang akan entah kemana perginya dan sampai kapan akan kembali. Kini ia harus mendengar kabar buruk tentang bapaknya.
Selama ini ia selalu melihat bapaknya minum obat yang diberikan dokter waktu itu dan tidak pernah terlambat meminum obat itu.
Tapi bukannya makin membaik, mengapa bapaknya makin memburuk.
"Sakit paru-paru itu kenapa pak? kan bapak udah minum obat selama tiga bulan ini, kok gak membaik?" tanya Tari.
"Kanker paru-paru lebih tepatnya Tari. Jadi tadi bapak lama di rumah sakit karena banyak yang harus di periksa. Dan setelah keluar hasilnya, ternyata bapak terkena kanker paru-paru," jawab Pak Syabani sedih.
"Astaghfirullah aladzim," Tari tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia langsung memeluk bapaknya dari samping.
***
Malam itu Tari berdoa sangat khusyuk, di sepertiga malam ia meminta kepada sang ilahi robbi agar bapaknya sembuh. Ia juga meminta agar dirinya sehat agar bisa mencari uang untuk pengobatan bapaknya.
Pagi harinya, seperti biasa Bu Rosita menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Hari ini Pak Syabani dan Bu Rosita akan kembali lagi ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan Pak Syabani selanjutnya.
Tari mempercayakan semua itu pada ibu tirinya. Selama ini Bu Rosita cukup baik merawat bapaknya. Oleh sebab itu, biarlah Bu Rosita yang mengantarkan bapaknya ke rumah sakit, sementara dirinya harus mencari uang lebih giat lagi untuk pengobatan bapaknya yang pastinya tidak sedikit jumlahnya.
Memang setelah kepulangan bapaknya dari rumah sakit tiga bulan yang lalu sikap Bu Rosita padanya semakin membaik. Dan pada bapaknya, Bu Rosita tidak pernah terlihat kasar. Bu Rosita benar-benar menyayangi dan mencintai bapaknya.
Setalah selesai sarapan bersama, Pak Syabani dan Bu Rosita pergi ke rumah sakit dengan manaiki becak motor. Sedangkan Tari, ia menyiapkan bekalnya untuk makan siang terlebih dahulu. Kemudian ia pun segera pergi ke kios nya untuk menjahit kain bahan baju yang akan disulapnya menjadi sebuah baju yang seperti pelanggannya inginkan.
Tari tidak ingin memikirkan masalah lain, khususnya Fadly. Hari ini Tari hanya berfokus pada kain-kain yang menumpuk yang akan dijahitnya. Ada juga beberapa baju yang harus ia permak. Ia harus menyulap kain ini menjadi baju secepat mungkin agar keringatnya pun segera terbayar.
Ia terus bertempur dengan tenaga dan pikirannya, bagaimana caranya agar bisa cepat mengumpulkan uang dalam waktu singkat. Agar penyakit bapaknya segera diobati dan bapaknya terselamatkan dari penyakit mematikan itu.
Ia terus menjahit hingga siang, begitu siang tiba ia makan siang. Ia tidak melewatkan makan siangnya, karena ia harus menjaga tubuhnya agar tetap sehat.
Begitu ia menyelesaikan makan siangnya ia langsung menjahit lagi sambil menunggu waktu sholat Dzuhur. Ia tidak mau meninggalkan waktu sedetikpun untuk sekedar duduk-duduk seperti biasa.
Ketika waktu sholat dzuhur telah tiba, ia melaksanakannya, tidak lupa ia memanjatkan doa untuk kesembuhan bapaknya. Dan kemudian ia langsung cepat-cepat kembali menjahit. Sampai waktu sholat berikutnya yaitu sholat Ashar tiba.
__ADS_1
Sampai menjelang Maghrib ia baru pulang ke rumah. Ia membawa kain bahan baju ke rumah untuk ia kerjakan di rumah. Karena di rumah tidak ada mesin jahit, Tari hanya memotong dan membuat pola baju saja di bahan kain itu untuk keesokan harinya ia akan sulap menjadi baju.
Keesokan harinya pun sama seperti itu. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal yang tidak penting, tidak ada waktu untuk menangis dan bersedih, tidak ada waktu juga untuk memikirkan dirinya sendiri. Cukup dirinya sehat saja itu yang terpenting bagi Tari sekarang ini.
Semua waktunya ia gunakan hanya untuk terus bekerja dan menghasilkan uang. Dan ia juga bersyukur orang-orang semakin banyak yang percaya padanya dan menggunakan jasanya menjahit baju.
Dengan seperti itu, kemampuannya kini semakin bertambah. Apalagi ada majalah fashion bekas yang waktu itu ia beli dari Dodi sehingga menambah ilmunya dalam bidang design.
Kemampuan menjahitnya juga semakin lihai dan cepat. Sehari semalam ia bisa menyelesaikan dua baju kebaya dan juga bawahan untuk kainnya. Orang-orang juga banyak yang menilai hasil jahitannya kini lebih rapi dan bagus seperti penjahit professional.
Tidak terasa waktu terus berlalu. Lembar-lembar uang yang ia hasilkan hari demi hari juga sudah terpakai setiap harinya untuk pengobatan sang bapak.
Sudah sebulan waktu berlalu, tetapi ia tidak bisa melupakan Fadly dari ingatannya. Meskipun selama sebulan ini ia terus bekerja dan tidak memikirkan hal lain selain menjahit dan menjahit. Ia rindu pada lelaki itu. Ia rindu pada cinta pertamanya, pada lelaki yang mengambil ciuman pertamanya.
Sudah sebulan juga waktu berlalu semenjak ia mendapatkan kabar buruk tentang penyakit bapaknya dan setelah meminum obat, menjalankan kemoterapi, penyakit bapaknya kini tidak berkurang sedikitpun.
Dokter menyarankan agar Pak Syabani di operasi untuk mengangkat sel tumor dari paru-paru nya. Karena menurut dokter kanker Pak Syabani masih stadium dua, kankernya belum menyebar ke sisi paru-paru yang lainnya. Sehingga masih bisa dilakukan operasi.
Tari kembali harus memutar otak bagaimana caranya ia bisa mendapatkan uang untuk operasi bapaknya.
#####
Next >>>>>>>>>
Mohon dukungannya
dengan tekan like, love/favorite, rate bintang lima, komentar dan vote nya untuk babang Fadly dan Tari..
Atas dukungannya author ucapkan :
Terima kasih
Thank you
Gamsahamnida
Xièxiè
Arigatō
suwon
__ADS_1
😊😊😊