Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Pucuk Di Cinta Ulam Pun Tiba


__ADS_3

Sudah dua minggu ini Tari tidak ada berkeliling ikut menjajakan topi pantai. Para remaja yang menjajakan topi kini semakin banyak, sehingga ia tidak perlu repot-repot lagi ikut turun ke pantai untuk menjajakan topi hasil buatan tangannya.


Semua itu berawal dari Rian, remaja laki-laki yang tinggal di sebelah rumah kontrakan Tari. Rian adalah remaja putus sekolah karena sejak umurnya lima belas tahun sudah ditinggal mati oleh ayahnya. Adiknya ada dua orang yang masih kecil-kecil, membuat ibunya tidak sanggup membiayai sekolahnya.


Dengan kedatangan Tari sebagai tetangganya, Rian sangat terbantu. Karena dengan mengambil topi dari Tari dengan harga murah lalu ia jual kembali dan mengambil keuntungan sesuka hatinya. Kemudian ia jajakan berkeliling dipantai, ia mendapat keuntungan yang banyak. Ia pun bisa membantu meringankan beban ibunya yang mengurus adik-adiknya.


Apalagi saat ini Tari tidak hanya menjahit topi, tapi juga ada kain pantai yang ia buat.


Dua minggu yang lalu saat ia berbelanja bahan kain untuk membuat topi, di sebuah toko bahan kain, si penjual kain menawarkan bahan untuk membuat kain pantai.


Para turis lokal maupun asing sering menggunakan kain pantai untuk menutup bagian yang terbuka saat sedang berjalan-jalan di pantai, karena di pantai hanya menggunakan bikini, mungkin ada yang tidak nyaman maka alternatifnya adalah memakai kain pantai.


Si penjual bahan kain di pasar itu memberikan ide pada Tari untuk membuat kain pantai. Tari pun tertarik untuk mencoba membuatnya.


Saat sudah selesai di buat, lalu dibawalah kain pantai itu oleh Rian. Awalnya Rian hanya membawa satu kain pantai, setelah kain pantai laku terjual. Ia kembali ke rumah Tari dan mengambil lagi kain pantai lebih banyak untuk ia jual.


Tari bersyukur, sekarang penghasilannya dari hari ke hari semakin meningkat. Meskipun waktu istirahatnya semakin berkurang, tapi memang inilah tujuannya. Bisa meningkatkan penghasilan, agar bisa menciptakan lapangan kerja bagi tetangga dan orang-orang terdekatnya.


Sejak Tari dan Bu Rosita pindah kedaerah pesisir pantai itu, dan bertetanggaan dengan Rian. Membuat Rian dan keluarganya bisa menikmati juga hasil jerih payah Tari.


Karena sedikit banyaknya penghasilan Tari pasti ia menyisihkan untuk ia sedekahkan pada Tina. Tina adalah ibu dari Rian. Sering diberi uang maupun makanan oleh Tari, membuat Tina tidak langsung berpangku tangan.


Tina yang bisa mengoperasikan sedikit mesin jahit, sering datang membantu Tari. Jika Tari sedang duduk dan membuat pola topi, maka Tinalah yang duduk didepan mesin jahit membantu Tari menjahit.

__ADS_1


Meskipun tidak secepat dan sebagus jahitan Tari. Tapi itu sudah lumayan membantu Tari. Tari juga sebenarnya ingin menambah mesin jahitnya, tapi waktu itu ia sedang menabung dan sekarang sepertinya tabungannya sudah cukup untuk membeli mesin jahit baru.


Tari berniat mempekerjakan Tina saja, karena Tina sering menolak pemberian Tari. Tina juga mengatakan ia tidak enak pada Tari yang terus-terusan memberinya uang atau makanan pada keluarganya.


Ya, dulu juga Tari merasa seperti itu. Berpacaran dengan Fadly yang seorang anak konglomerat, tidak lantas membuatnya menjadi cewek matre dan terus-terusan meminta pada pacarnya itu. Ia pun punya harga diri agar tidak dipandang rendah orang lain.


Tapi seberapapun ia menjunjung harga dirinya, selama ia masih miskin orang lain tetap tidak menghargainya. Berbeda dengan sekarang, taraf hidupnya telah meningkat orang lain pun segan padanya.


***


Fadly sudah setuju untuk membantu Bule tua itu dan juga istrinya tentunya. Bule tua yang gendut itu diketahui namanya adalah Christopher kohler dan istrinya, Irene Kohler. Sepasang suami istri paruh baya itu sudah berada di penginapannya.


Mereka meminta Fadly mencarikan penginapan yang murah-murah saja di Bali ini. Fadly membawa mereka ke penginapan yang Fadly sendiri juga ternyata menyewa satu kamar disana.


Pernah ketika kuliah dulu Fadly diajak Arya ke kediamannya. Rumah di perkampungan Bali yang sangat asri dan sejuk karena memang rumah Arya berada di dataran tinggi. Perkampungan itu sederhana, namun sangat nyaman dan hangat karena para tetangga disana seperti saudara meskipun nyatanya tidak ada hubungan darah sekalipun.


Tok! Tok! Tok!


Fadly mengetuk pintu rumah Arya. Tidak butuh waktu lama, pintu pun langsung terbuka. Yang membukakan pintu adalah seorang gadis cantik, wajahnya ayu khas orang Bali yang lembut. Fadly sejenak menatap gadis itu, gadis itu hanya terdiam dengan wajah datarnya, namun tetap terlihat cantik. Beda dengan Fadly yang memasang wajah tersenyum sejak pintu di buka.


"Permisi, saya mau mencari Arya. Apa Arya ada di rumah?" tanya Fadly membuka suara.


"Bli Arya sedang tidak ada di rumah. Apa Bli sebelum kesini tidak menghubungi Bli Arya?" jawab gadis itu dan diakhiri dengan kalimat tanya.

__ADS_1


"Oh, saya sudah menghubunginya berulang kali, tapi nomor ponselnya sedang tidak aktif, makanya saya kesini biar bertemu langsung dengan Arya," ucap Fadly menjelaskan.


Gadis tadi masih saja berwajah datar. Fadly memperkirakan gadis di depannya ini masih berusia belasan tahun, karena wajahnya masih sangat polos.


"Kalau begitu apa Bli mau menunggu Bli Arya disini? Palingan juga sebentar lagi Bli Arya pulang," ucap gadis itu menawarkan


Fadly menatap jam yang ada dipergelangan tangannya. Ia mulai berpikir, bagaimana kalau Arya akan lama? Ia sebentar lagi harus ke Bandara menjemput turis yang akan ia pandu. Sepertinya ia tidak bisa menunggu Arya lebih lama lagi.


Fadly tersenyum pada gadis itu, "Sepertinya saya tidak bisa menunggu Arya, saya minta tolong saja jika nanti Arya pulang beritahu dia segera telepon Fadly."


"Baik Bli, nanti akan saya sampaikan pesannya," ucap si gadis cantik sambil tersenyum membalas senyum Fadly.


Sejenak Fadly terpana menatap kecantikan gadis belia itu, tapi Fadly bukan type lelaki yang mata keranjang, ia pun hanya sambil lalu saja memperhatikan wajah cantik gadis itu. Lalu ia pun pamit dan langsung pergi ke Bandara menjemput rombongan turis teman dari Florentina itu.


Sungguh hari ini ia benar-benar sibuk. Pucuk dicinta ulam pun tiba, tadinya ia hanya berdoa meminta pekerjaan selanjutnya agar bisa menambah uang di dompetnya saat ini, agar penginapan dan biaya makannya gratis dari turis yang ia pandu. Tapi sepertinya bukan hanya isi dompetnya yang bertambah, tapi isi tabungannya juga bakal menggembung.


Salah satu turis yang akan Fadly pandu menghubunginya. Turis itu mengatakan mereka telah sampai dan sudah menunggu di lobby Bandara.


Fadly yang memang sudah sampai sejak tadi dan menunggu mereka pun mencari mereka berkeliling. Akhirnya dengan ciri-ciri yang mereka sebutkan, Fadly menemukan mereka dan langsung membawa mereka ke penginapan untuk beristirahat. Karena esok harinya baru akan dimulai destinasi pertama Mereka.


.


.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2