Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
SAH


__ADS_3

...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....


...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...


...❤❤❤...


.


.


"Saya terima nikahnya Lestari Syafira binti Syabani maharnya lima puluh gram perhiasan emas dibayar tunai!" ucap Sandi dengan tegas dan dalam satu tarikan napas.


"Sah", jawab semua yang menyaksikan.


Bapak penghulu dan para saksi pun menyatakan sah. Akhirnya Sandi bisa bernapas lega, kini Tari benar-benar menjadi miliknya. Ia tersenyum lebar lalu menatap Tari yang sedang menunduk dengan wajah murungnya.


Tari menyalami punggung tangan Sandi, yang kini sudah sah menjadi suaminya itu. Kemudian Tari beranjak menyalami bapaknya lalu bergantian menyalami ibu tirinya.


Begitu juga dengan Sandi, ia menyalami ayah dan ibunya. Lalu mereka berduapun berpindah dan menyalami mertua mereka.


Pak Irsyad sengaja memanggil ustadz untuk menjadi penasehat pernikahan mereka. Tari dan Sandi mendengarkan ustadz tersebut dengan seksama. Banyak sekali nasehat yang diberikan ustadz tersebut untuk kedua mempelai.


Pernikahan mereka di gelar di rumah Sandi. Setelah akad nikah, mereka pun melangsungkan resepsi pernikahan yang sangat mewah. Halaman rumah keluarga Sandi bahkan hingga sampai keluar pagar pun sudah di sulap menjadi seperti tempat pesta di gedung mewah.


Seluruh keluarga Sandi turut hadir di resepsi pernikahan mereka. Abang Sandi yang tertua yang tinggal di kota juga hadir. Keluarga terdekat sampai yang jauh juga turut hadir.


Namun Tari hanya di dampingi bapak dan ibu tirinya. Tanpa ada sanak saudara yang lain, tanpa ada teman yang diundang. Hanya tetangga yang berada di seberang rumah yang diundang oleh Tari.


Untuk para orang tua, mereka memakai baju seragam yang sama. Pak Syabani memakai baju beskap jawa berwarna hitam dengan potongan agak memanjang hingga menutup bokong. Ada bordiran dengan sentuhan benang berwarna emas di kedua pergelangan tangan. Baju itu sama dengan yang dipakai Pak Irsyad, ayah Sandi.


Begitu juga dengan Bu Rosita dan Bu Hanifa yang memakai baju kebaya sama berwarna kuning keemasan, ada banyak payet swarovski yang menempel di baju keduanya, namun baju mereka memiliki pola yang berbeda.


Baju yang dikenakan Bu Rosita memiliki pola simpel yang panjangnya sejengkal diatas lutut dan potongannya juga rata, memiliki kancing yang berada di depan.


Bu Hanifa memilih pola yang di depannya tampak pendek, dibawah perut, kemudian potongannya memanjang hingga kebelakang. Dan terus memanjang hingga ke betis. Ia tidak mau kalah saing dari Bu Rosita, meskipun ia memiliki tubuh yang lebih besar dari pada Bu Rosita.

__ADS_1


Sementara Tari sendiri sebagai pengantin memakai baju rancangan dari seorang designer, sepasang dengan baju yang dikenakan Sandi. Yang harganya mencapai seratus juta rupiah untuk sepasang baju pengantin.


Tadinya Tari bermimpi ingin menjahit dan merancang bajunya sendiri saat hari pernikahannya. Namun, sepertinya ia tidak punya tenaga untuk menjahit, karena tenaganya sudah terkuras hanya untuk menangisi nasibnya.


Baju akad Tari dan Sandi berwarna putih, mereka akan memakai baju itu hingga tengah hari, untuk sore dan malamnya Tari akan ganti dengan gaun berwarna merah, gaun itu pilihan Sandi, warnanya pun warna favorit Sandi. Lalu Sandi memakai jas yang ngepas di tubuhnya berwarna merah maroon.


Untuk menu makanannya, Bu Hanifa sendiri yang memesankan cateringnya. Banyak sekali menu makanan dan minuman yang spesial yang tersedia di pesta tersebut.


Para tamu undangan banyak sekali yang hadir, Sandi dan Tari beserta kedua orang tua mereka masing-masing menyalami tamu. Senyum kedua pengantin pun tak berhenti mengembang sejak tadi.


Sandi menoleh kearah Tari yang ada disebelah kirinya, "Kamu bahagiakan?"


Tari menampakkan senyum manisnya pada pria disebelahnya yang sekarang sudah sah berstatus menjadi suaminya itu, lalu mengangguk. Tari berhasil memainkan sandiwaranya.


Semua orang tidak ada yang menyangka jika Tari tidak sebahagia yang dilihat orang lain. Senyum di bibirnya sejak tadi dapat menutupi hatinya yang hancur.


Ia tidak bisa mengelak, bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya untuk membatalkan pernikahan ini. Jadi, ia harus berusaha ikhlas menerima keadaan, karena semua itu ia lakukan untuk kesembuhan bapaknya.


"Kamu mau turun dulu dari panggung pelaminan?" Sandi menawarkan.


"Mau beristirahat mungkin, atau kita bisa menikmati hidangan pesta pernikahan kita ini?" ucap Sandi.


"Boleh, Mas. Saya juga sudah lapar, ini kan sudah lewat tengah hari," jawab Tari, kembali dengan senyum manisnya.


Mereka pun turun, akan menikmati hidangan catering yang sangat menggugah selera itu, yang telah di pesan oleh Bu Hanifa. Mereka juga cukup lelah menjadi raja dan ratu dalam sehari, selain banyak para tamu undangan yang mengucapkan selamat, para sanak saudara dan para undangan juga banyak yang berfoto ria dengan mereka.


Sandi menggenggam tangan Tari saat berjalan. Sejak tadi ia tidak bosan-bosan menatap istri cantiknya itu. Sebenarnya ia sudah tidak sabar untuk membawa Tari ke kamar. Tapi ia menghargai ayahnya dan juga Pak Syabani, mertuanya.


Acara pun berlangsung lancar hingga malam hari. Pukul 20.00 WIB.


Pak Syabani dan Bu Rosita sudah pulang sejak sore tadi. Para tamu dan sanak saudara sudah pulang satu-persatu.


Tari sudah berada di kamar pengantin, kamar itu sudah dihias cantik. Sedangkan Sandi masih harus menyapa para tamu undangan yang tidak lain adalah teman-temannya yang ikut bekerja di kapal pesiar perusahaan Dewantara Corp.


Ia sudah gelisah, ingin sekali meninggalkan teman-temannya itu dan menyusul Tari di kamar, tapi tidak mungkin rasanya. Karena mereka sudah menyempatkan untuk datang jauh-jauh menghadiri resepsi pernikahannya dari daerah tempat tinggal mereka masing-masing.

__ADS_1


Disaat Sandi sedang gelisah dan ingin meninggalkan teman-temannya tersebut, pada saat itu juga Lea datang.


Lea datang tidak sendiri, dia mengajak tantenya, Zakia dan juga suami dari tantenya, Galih yang beberapa hari lalu mendarat, karena Galih tidak lain adalah kapten kapal pesiar milik Dewantara Corp. Dia juga mengenal Sandi.


Bukan hanya Zakia dan Galih saja, Lea juga mengajak Andi. Mereka pergi berempat dari Jakarta menuju kampung Pandanan, tempat tinggal Sandi.


Ketika melihat Lea datang, Sandi berlari memanggil semua anggota keluarganya yang sekarang sudah masuk ke dalam rumah.


"Ayah, Ibu. Nona Lea datang dengan Kapten Galih," ucap Sandi memberitahukan.


"Papa kira mereka tidak akan datang. Ternyata Lea yang datang. Yasudah, ayo kita sambut mereka."


"Sandi, panggil istri kamu, biar dikenalkan dengan Non Lea," ucap Bu Hanifa.


"Iya, Bu," jawab Sandi singkat.


Tari yang sedang membersihkan bekas make-up yang tersisa di wajahnya, di datangi Sandi, "Tari, ayo kita keluar. Mas mau kenalkan kamu dengan Bos Dewantara Corp."


Tari tercengang. Ia seketika menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang kapas wajah. Persendiannya seolah tidak bisa bergerak mendengar perkataan Sandi tadi.


Apakah Dewantara Corp. yang dimaksud suaminya itu adalah perusahaan Dewantara milik keluarga Fadly? Tapi, tidak mungkin ada nama Dewantara Corp. lain di negara ini bukan? Tari bergumam dalam hati.


.


.


#####


Next>>>>>>>


Semoga terhibur ya..


Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤

__ADS_1


__ADS_2