Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Bertemu Untuk Yang Kedua Kali


__ADS_3

Mungkin memang Arya sedang sangat membutuhkan pekerjaan, sehingga secepat kilat Arya langsung menghubungi Fadly. Saat itu Fadly baru saja keluar dari Hotel mengantar para turis dari Rusia teman Florentina untuk beristirahat. Fadly dan Arya janjian bertemu di depan Hotel.


Dari jauh Arya sudah melihat Fadly, ia pun menghampiri Fadly yang sedang duduk didepan coffe shop. Arya menepuk bahu Fadly, "Hai, bro. Sudah lama menunggu?" tanya Arya.


"Bro, lumayan lah. Dari mana aja sih, lo? Gue cariin ke rumah, lo. Tau gak?" tanya Fadly yang sedikit kesal dengan Arya.


"Iya, gue tau. Sorry ya," ucap Arya sambil tersenyum. Arya mengambil duduk yang berhadapan dengan Fadly.


"Tapi kayaknya gue gak bisa ikut kerja sama lo, bro. Gue lagi ada job," ucap Arya santai.


Fadly terkejut, ia mengerutkan keningnya. Bagaimana dengan turisnya? siapa yang akan memandu rombongan turis-turis yang akan ke Bali dan Lombok?


Arya seperti tahu apa yang dipikirkan oleh Fadly. "Tenang aja bro, nanti ada adik sepupu gue yang bantu lo memandu turis-turis itu," ucap Arya enteng.


"Tapi turis yang ini mau ke Bali Lombok, Ar. Adik lo itu tahu kawasan Lombok juga kan?" tanya Fadly.


"Tahu kok dia, tenang aja," ucap Arya.


Kemudian keduanya kembali melanjutkan cerita dan memesan kopi favorite mereka masing-masing di coffe shop itu.


Keesokan harinya, akhirnya Fadly bertemu dengan adik sepupu Arya yang dikatakannya kemarin ketika di coffe shop. Ternyata adik sepupu yang dimaksud Arya adalah gadis belia cantik yang kemarin membukakan pintu rumah Arya saat Fadly menyambangi rumah Arya.


Fadly dari jauh sudah tersenyum saat bertemu pandang dengan adik sepupu Arya itu. Ketika keduanya sudah berdekatan, gadis belia itu mengulurkan tangannya. Fadly menyambut uluran tangan itu. Mereka pun berjabat tangan.


"Nama saya Divya, Bli," ucap gadis cantik yang bernama Divya itu.


"Saya Fadly," ucap Fadly.


Lalu keduanya melepaskan tangan mereka masing-masing. Fadly tersenyum menatap gadis cantik nan imut didepannya ini. Arya mengatakan bahwa umurnya sudah hampir dua puluh tahun, ia sudah menamatkan sekolahnya. Namun wajahnya sangat imut seperti anak SMP saja.


"Kenapa Bli senyum-senyum terus melihat saya? Apakah saya sangat cantik sehingga Bli Fadly tidak bosan menatap saya?" ucap Divya dengan kenarsisannya.


"Hahaha," Fadly terkekeh geli. "Saya penasaran dengan nama lengkap kamu, seperti Arya punya nama yang panjang banget. Apa nama lengkap kamu juga panjang seperti Arya?"

__ADS_1


Nama orang Bali memang diketahui memiliki nama lengkap yang panjang. Tidak diketahui sejak kapan tradisi pemberian nama panjang mulai ada di Bali, namun orang Bali menghargai dan menjunjung tinggi tradisi, adat dan budaya mereka.


Seperti yang diketahui Fadly, Arya memiliki nama panjang Anak Agung Nyoman Arya Mahendra. Fadly juga pernah bertanya pada Arya mengapa nama-nama orang Bali itu rata-rata sama. Dan jawaban Arya awalnya membuatnya bingung, namun Arya adalah orang yang sangat detail dalam menjelaskan sesuatu sehingga Fadly pun akhirnya paham.


"Oh, yakin dari tadi senyum-senyum sendiri penasaran sama nama saya? Bukan penasaran dengan orangnya?"


Fadly hanya tertawa tidak berniat membalas perkataan Divya yang terlalu percaya diri. Fadly heran mengapa ada seorang gadis lugu yang terlalu memiliki kenarsisan seperti Divya. Walaupun sebenarnya ia tidak menampik bahwa Divya memang memiliki paras yang sangat cantik.


Dari paras wajah ia memang bisa menilai Divya dengan nilai sempurna, namun dari sikapnya Fadly angkat tangan. Divya sama saja dengan gadis biasa yang ia temui, terlalu menampakkan jika dirinya tertarik dengan Fadly. Membuat Fadly menjadi muak dengan sikap Divya.


Tapi demi pekerjaan, Fadly tidak bisa semena-mena mengusir gadis itu dari hadapannya, seperti yang biasa ia lakukan dulu ketika bertemu gadis yang sikapnya sama dengan Divya ini.


Dari semua gadis yang pernah ia kenal, Tari lah yang paling berbeda. Fadly tahu sejak awal bahwa Tari mengaguminya. Namun Tari bersikap biasa saja dan mengagumi Fadly dalam diam. Tapi, hal itulah yang membuat Fadly menjadi penasaran dengan Tari sehingga entah kapan tepatnya, jika ia bertemu dengan Tari jantungnya berdebar-debar dan ada rasa bahagia menyelimutinya. Fadly juga ingin selalu dekat dengan Tari, Ingin memiliki gadis itu seutuhnya. Tidak ingin melihat Tari dengan laki-laki lain.


"Hallo! Bli... Kok melamun?" ucap Divya seraya mengibaskan tangannya didepan mata Fadly.


Fadly kembali kealam sadarnya. Tanpa sengaja tiba-tiba ia mengingat Tari tadi. Fadly menggelengkan kepalanya mencoba mengusir alam lamunannya. Ini waktu yang tidak tepat untuk melamun kan Tari.


"Aku akan mencarimu, Tari. Aku akan mengejarmu kemanapun kamu pergi," ucap Fadly dalam hati.


"Oh ya, hahaha... Maaf Divya, sampai mana obrolan kita?"


Sejenak memikirkan Tari membuatnya lupa akan dunia nyata.


Divya pun menanggapinya dengan tertawa, "Bli tadi menanyakan nama lengkapku, penasaran dengan nama lengkapku?" jawab Divya.


Fadly sedikit mengerutkan keningnya mendengar Divya mengucapkan aku untuk menyebutkan dirinya. Tandanya Divya sudah merasa dekat dengan Fadly, karena tidak menyebut saya lagi. Namun tidak dengan Fadly, ia merasa masih ada jarak antara mereka, entah itu jarak apa tapi Fadly tidak secepat itu bisa mendekatkan diri dengan Divya.


"Oh iya, saya penasaran dengan nama panjang kamu?" ucap Fadly.


"Nama aku tidak sepanjang nama Bli Arya. Hanya tiga suku kata, Ni Made Divya udah sesimpel itukan.." ucap Divya dengan gaya manjanya.


Fadly mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia menatap jam tangannya, sudah jam delapan lebih tiga puluh menit tapi para turis itu belum ada satu orang pun yang menampakkan batang hidungnya.

__ADS_1


Fadly menghela napasnya kasar, "Lama banget Bule-Bule itu bersiap-siap, mau jam berapa lagi nih kita mulai ketempat wisata."


"Mungkin mereka lagi sarapan, Bli. Kita tunggu aja sebentar lagi," ucap Divya.


"Oh iya, kamu udah sarapan, Divya?" tanya Fadly. Fadly sendiri sudah mengisi perutnya pagi-pagi sekali. Ia mempersiapkan semuanya seawal mungkin dan mempersiapkan tubuhnya agar tetap sehat dengan tidak terlambat memasukkan nutrisi kedalam tubuhnya.


"Sudah Bli, aku selalu sarapan pagi sebelum memulai aktivitas," jawab Divya penuh semangat.


"Iya, bagus. Good girl," ucap Fadly sambil tersenyum pada Divya.


Senyum itu lagi-lagi membuat Divya salah paham. Divya mengartikan senyum Fadly dengan arti bahwa Fadly tertarik dengannya, seperti dirinya yang juga tertarik dengan Fadly. Padahal yang sesungguhnya, Fadly sangat muak dengannya.


Tidak lama kemudian, Christopher si Bule gendut, backpacker tua yang kemarin meminta Fadly untuk menjadi tour guidenya itu datang bersama istrinya. Mereka tidak membawa ransel besar mereka, mungkin mereka meninggalkannya di penginapan.


"Hai anak muda," sapa Christopher.


"Hai Chris," sapa Fadly pada Christopher.


"Ini Istriku, Fadly. And ini Fadly Babe, yang aku ceritakan padamu," Christopher memperkenalkan mereka.


Fadly pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, "Fadly," ucap Fadly.


"Aku Irene Kohler, Dude," ucap Irene, si istri dari Bule gendut Chistopher yang menyambut tangan Fadly untuk berjabat tangan.


Tidak lupa Fadly pun memperkenalkan Divya pada sepasang suami istri paruh baya itu.


.


.


To Be Continued...


__ADS_1


Hai ini Divya, versi aku ya gaes 😆


Entah kenapa pas nulis tentang Divya ini bayanganku itu Syifa Hadju 😆😆


__ADS_2