Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Godaan Barang Haram


__ADS_3

...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....


...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...


...❤❤❤...


.


.


Tari terbangun lebih dulu, kemudian ia mandi dan bersiap-siap akan menunaikan shalat subuh. Setelah selesai, barulah ia tersadar jika ia sekarang sedang berpura-pura datang bulan.


Dengan cepat ia melepaskan mukena yang ia kenakan, agar tidak diketahui Sandi. Lalu berpura-pura memegangi perut yang sedang sakit, kemudian duduk di sofa yang berada di seberang kasur king size yang sekarang sedang ditiduri Sandi.


Namun Sandi tak kunjung bangun, 'Ah, sia-sia deh udah acting dari tadi.'


Lalu Tari memilih keluar kamar, hari pertama menjadi menantu di keluarga Sandi ia bingung harus melakukan apa.


Ia melangkah ke dapur, dilihatnya Bi Lela, pembantu keluarga Sandi yang sudah tua sedang memasak. Bi Lela inilah yang waktu itu dilihat Tari sedang di maki-maki oleh Sandi karena mengotori kaki Sandi. (Ada di Bab 3: Tari).


Ia pun berniat membantu Bi Lela saja untuk memasak. Pagi-pagi sekali Bi Lela sudah sampai di rumah ini, batin Tari.


Karena Bi Lela memang tidak tinggal di rumah keluarga Sandi, melainkan ia tinggal di rumahnya sendiri. Dan setiap hari pergi pagi, pulang petang.


"Bi Lela, masak apa Bi? saya bantu ya," ucap Tari ramah pada Bi Lela.


Bi Lela yang memang sudah mengenal Tari pun merasa tidak enak. Karena sekarang Tari sudah menjadi menantu di keluarga Sandi.


"Ndak usah Non, biar bibi aja. Bibi udah biasa kok masak sendiri," jawab Bi Lela.


"Kok manggil Non sih, Bi. Biasa juga manggilnya Tari aja."


"Ya kan sekarang Non Tari sudah menikah dengan Tuan Sandi. Jadi Non Tari sudah menjadi majikan Bibi."


Tari membuka mulutnya akan menjawab ucapan Bi Lela. Namun sedetik kemudian.


"Tari!!" Terdengar suara Sandi memanggilnya. Lalu tiba-tiba Sandi sudah berada diambang pintu dapur dengan wajah khas bangun tidur.


"Ya, Mas. Sudah bangun, Mas?" tanya Tari.


"Sini kamu."


Tari mengikuti langkah Sandi tepat di belakang Sandi. Ternyata Sandi mengajak Tari masuk ke kamar. Sandi naik ke atas kasur, dengan bahasa isyarat ia menyuruh Tari juga ikut naik keatas kasur.


"Pijitin kepala Mas, Sayang. Pusing banget, gara-gara gak kamu kasih jatah tadi malam," ucap Sandi, kepalanya lagsung ia rebahkan diatas paha Tari.

__ADS_1


Sebenarnya Tari risih sekali dengan posisi seperti ini. Tapi jika ia menolak lagi, Sandi pasti akan marah. Dengan sangat terpaksa tangannya terulur ke kepala Sandi memijit kepala Sandi dengan pelan. Sandi memejamkan matanya menikmati pijatan tangan Tari di kepalanya.


Setelah setengah jam Tari memijit kepala Sandi, perlahan Sandi membuka matanya. Di tatapnya wajah cantik istrinya. Karena Tari tidak memakai polesan make up apapun pagi itu, bekas luka di sebelah bibir sampai ketelinganya tampak dengan jelas.


Sandi bangun dan duduk berhadapan dengan Tari. Sandi meraba tepat di bekas luka Tari yang disayat oleh Evan, si supir Max.


"Mas belikan salep untuk menghilangkan bekas luka kamu ini ya. Biar wajah kamu kembali seperti semula, cantik. Biar Mas memandangnya makin senang."


Tari yang tidak biasa berhadapan dengan pria seperti itu menjadi canggung. Tubuhnya terasa kaku. Ditambah, ia teringat dengan pelecehan yang dilakukan Sandi waktu itu ketika sebelum menikah.


Meskipun sekarang Sandi sudah menjadi suaminya, tapi bayang-bayang trauma pelecehan itu masih diingatnya dengan jelas. Sedetik kemudian Tari pun mengambil sikap.


Tari tersenyum lebar, seraya sedikit mejauh dari Sandi, ia berpura-pura menjadi gadis ceria. Ya, Tari kini harus pandai beracting ketika hidup berumah tangga bersama Sandi.


"Wah, boleh, Mas. Kalau gak merepotkan," jawab Tari dengan senyum lebarnya.


Sandi merasakan jika Tari terus menjaga jarak dengannya. Tapi hari ini ia malas berdebat, ia berpikir positif. Mungkin Tari menjauh dan menjaga jarak karena dirinya belum mandi dan bau nafasnya terasa tidak enak. Maka ia tetap membiarkan sikap Tari yang seperti itu.


Sandi menghela napasnya pelan, "Yaudah, nanti mas pesankan online ya, buat kamu."


"Terimakasih ya, Mas."


"Ya, sayang. Tapi kamu sabar ya. Soalnya Mas pesankan dari luar negeri," ucap Sandi yang selalu menyombongkan dirinya.


"Sabar dong, Mas. Saya pasti sabar kok nunggunya."


"Mas mandi dulu ya!"


Tari tersenyum dan mengangguk.


Setelah beberapa menit, Sandi telah selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dan dilihatnya Tari sudah tidak berada di kamar.


'Kemana kamu Tari, kenapa menghindar terus?' gumam Sandi sendirian.


Sandi melihat diatas tempat tidur sudah tergeletak baju ganti untuknya.Ternyata Tari sangat pengertian, pikirnya. Tapi tetap saja, gadis itu yang membuat kepalanya nyeri sejak semalam, karena hasrat yang tidak tertuntaskan.


Setelah selesai memakai bajunya, Sandi keluar dari kamar. Ternyata keluarganya sudah berkumpul hendak sarapan. Abang pertama Sandi yang masih belum pulang ke kota juga ikut sarapan kali ini.


Pagi itu terasa sangat ramai, karena keluarga Sandi kehadiran menantu baru yaitu Tari. Dan juga anak bungsu Pak Irsyad dan Bu Hanifa, wahyu dan juga istri.


Terlihat Tari sedang sibuk membantu Bi Lela menyusun makanan di meja makan. Setelah makanan selesai disusun, mereka pun sarapan bersama.


***


Saat ini Sandi sedang berada diluar dengan teman-temannya. Sudah lama sekali ia tidak berkumpul seperti ini.

__ADS_1


Di rumah pun rasanya ia tidak bisa terus-terusan menahan hasratnya karena ia sepertinya ingin sekali bergulat diatas tempat tidur bersama Tari. Akhirnya ia memutuskan keluar saja bersama teman-temannya.


"Berat banget cobaan hidup lo, Bro!" ejek seorang teman yang sangat Sandi kenal.


Sandi tersenyum kecut mendengar ejekan dari temannya itu. Kali ini mereka nongkrong di coffe shop kecil milik teman Sandi, yang tidak jauh dari kampung tempat tinggal Sandi.


Mereka tertawa mengejek Sandi, pasalnya mereka kemarin melihat Sandi tersenyum sangat bahagia bersanding dengan istrinya. Namun, hari ini sangat jauh berbeda.


"Kenapa sih?" tanya teman yang lain.


"Lagi ada tamu bulanan, Bro. Gak dapat jatah gua," jawab Sandi enteng.


"Huahahaha..." serentak mereka semua menertawakan Sandi.


Tampak seorang teman Sandi yang duduk di bangku pojokan seberang sedang menelepon seseorang. Dan tidak lama ia di hampiri oleh seorang pria yang baru datang dari luar dan memberikan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi.


Hal itu tidak luput dari perhatian Sandi. Ia mengetahui bahwa temannya itu sedang bertransaksi barang haram.


Seorang pria yang baru datang tadi memperhatikan Sandi. Netra mereka bertemu beberapa detik. Kemudian pria itu berbisik dengan teman yang meneleponnya tadi. Lalu mereka berdua berjalan mendekati Sandi.


"Nih, pakai ini. Biar fly sejenak pikiran lo, Bro," ucap teman Sandi yang tadi duduk dipojokan.


Sandi sudah tahu itu barang apa. Sandi menggeleng dan menolak dengan sopan. Sejak dulu ia bisa menahan untuk tidak menggunakan barang haram itu. Dan sudah banyak teman yang menawarkannya ketika mereka bekerja di kapal pesiar dan ia bisa menahannya. Sandi yakin, kali ini pun ia bisa menahannya.


Namun, pria yang baru datang tadi. Sandi pun tidak mengenal pria itu. Pria itu menawarkan secara gratis barang haram itu dengan jumlah yang tidak sedikit.


"Ayolah, Bro. Kalau cuma sesekali gak bakal ketagihan. Hitung-hitung sambil nunggu istri lo yang lagi ada tamu bulanannya dan lo gak stres," ucap teman yang duduk dipojokan tadi.


Sandi tampak berpikir, ia menyeruput kopi yang dipesannya. Hingga saat ini pun kepalanya masih terasa pusing sekali. Minum obat sakit kepala pun sudah ia lakukan, namun tidak mempan. Hanya Tari yang dapat mengobatinya.


Tapi ia tidak bisa memaksa Tari, karena ibunya juga sudah melarangnya untuk tidak memaksa Tari. Akhirnya ya seperti ini, tidak ada obat penghilang rasa sakit kepalanya kecuali ia menuntaskan hasratnya.


Pria yang baru datang tadi membisikkan sesuatu ke telinga Sandi. Kembali Sandi tampak berpikir.


.


.


#####


Next>>>>>>>


Semoga terhibur ya..


Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤


__ADS_2