Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Sedang Banyak Job


__ADS_3

Selama satu minggu Bastian dan teman-teman menghabiskan waktu berwisata di Bali mereka merasa sangat puas dengan pemandu wisata yang dilakukan Fadly. Mereka bukan hanya menikmati wisata alam Bali tapi mereka juga mengenal budaya-budaya yang ada di Bali berkat Fadly.


Bastian juga sudah memberikan bayaran yang dijanjikannya pada Fadly waktu itu, bahkan ia memberikan bayaran lebih dengan apa yang dijanjikannya. Awalnya Fadly menolak tapi Bastian terus memaksa, dan mengatakan bahwa ini adalah rezeki untuknya.


Dan hari inilah mereka akan kembali ke negara asal mereka. Fadly pun turut mengantar mereka hingga ke Bandara.


"Terimakasih Fadly," ucap mereka pada Fadly, mereka berpamitan pada Fadly satu persatu.


"Ingat Fadly, nomor ponselmu harus selalu aktif. Agar saudara atau temanku yang ingin berlibur ke Indonesia yang membutuhkan tour guide akan aku rekomendasikan dirimu pastinya," ucap Bastian menggunakan bahasa Inggris dengan aksen Amerika yang sangat kental.


"Tentu saja, Bas. Nomor ini akan selalu aktif. Dan hubungi aku kapanpun ada job," ucap Fadly sambil nyengir kuda.


Bastian menganggukkan kepalanya, tanda mengiyakan ucapan Fadly. Keduanya saling berpelukan, lalu mereka berpisah diruang tunggu keberangatan. Fadly kembali ke penginapannya tanpa menunggu rombongan Bastian masuk pesawat.


Fadly berencana menginap dua atau tiga hari lagi di Bali. Ia sudah mempunyai niat untuk kembali menjadi tour guide lagi bagi turis asing yang membutuhkan pemandu dadakan seperti dirinya untuk memandu wisata.


Ia sudah mempunyai ide cemerlang untuk memulai usahanya tanpa campur tangan dari keluarganya. Sebelum dirinya kecelakaan pun memang ia sudah berniat untuk memulai semuanya dari nol bukan? Ya, inilah saatnya ia memulai usahanya. Semoga usahanya berhasil. Ia akan menunjukkan pada orang tuanya bahwa ia mampu hidup tanpa bantuan dari mereka.


"Semoga saja ada Bule yang mencari pemandu wisata. Yah! Syukur-syukur ada dua rombongan. Supaya bisa kasih job ke Arya," Fadly bermonolog.


Saat perjalanan menuju penginapannya, Fadly mendapat panggilan telepon mancanegara. Saat Fadly mengatakan "Hallo". Diseberang sana suara seorang wanita menjawab.


"Hallo, Fadly. Ini aku Flo. Apa kau masih mengingatku?" ucap wanita itu.


Ya, tentu saja Fadly mengingatnya. Dia adalah Florentina, Bule wanita yang ia pandu dua minggu yang lalu. Karena dirinyalah Fadly mendapat petunjuk untuk mencari Tari kepantai Green melalui topi pantai pemberian Florentina, meskipun hasilnya nihil. Mungkin karena baru satu hari mencari sosok anak remaja penjaja topi pantai itu. Nanti setelah merampungkan pekerjaannya dan Fadly mendapat uang yang banyak, ia akan kembali ke pantai Green lagi dan memulai mencari Tari lagi.


Entah itu memang Tari yang dicarinya, atau Tari yang lain ia tidak tahu. Tapi sekarang ini ia ingin fokus mencari uang yang bayak supaya ia tidak takut kehabisan uang lagi seperti beberapa minggu ini.


Jika sudah banyak uang ditangan, pasti akan mudah mencari Tari. Dengan membayar orang tentunya. Ia berharap secepatnya ia mendapat pekerjaan lagi, agar penginapan dan makannya ada yang menanggungnya lagi.


"Hallo, Fadly. Apa kau mendengarku?" ucap Florentina karena lama Fadly tidak menjawabnya.

__ADS_1


"Oh iya, Flo. Maaf, karena aku tadi mengingat ingatmu sebentar," jawab Fadly membuat alasan.


"Oh, begitu, ya. Baru sebentar kau sudah lupa padaku?" goda Florentina.


Terdengar suara tawa dari sambungan telepon mancanegara itu. Fadlypun ikut tertawa mendengar suara tawa dari Florentina.


"Begini Fadly, ada temanku yang berlibur ke pulau Bali. Sepertinya dia membutuhkan tour guide Apa kau bisa memandunya? Apa Bali dengan tempatmu jauh?" ucap Florentina melanjutkan.


Jantung Fadly berdesir, senang menyelimuti hatinya.


"Ah, pas sekali, aku sedang berada di pulau Bali sekarang ini. Baru saja aku memandu turis dari Amerika dan aku baru saja mengantar mereka ke Bandara," ucap Fadly.


"Oh ya, pas sekali. Tapi temanku ada dua rombongan," ucap Florentina.


Yang mana hal itu membuat hati Fadly sangat senang. Ia bersyukur, saat ini bukan ia yang mencari job tapi joblah yang mencarinya.


Jika memang ada dua rombongan, ia bisa memberikan job pada Arya tentunya. Karena temannya itu adalah asli orang Bali, tentu Arya sangat hapal betul tempat wisata mana yang sangat disukai turis lokal maupun mancanegara. Arya yang lahir di Bali, dulu juga sering memandu turis yang berlibur di pulau Dewata itu.


Saat Fadly berbicara melalui sambungan telepon, ada beberapa Bule yang sedang berwisata di Bali tidak sengaja mendengar percakapannya.


"Ah, sangat pas sekali, yang satu rombongan memang ingin berlibur ke Bali kemudian melanjutkan ke Lombok. Sementara rombongan yang lain hanya ingin menikmati keindahan pulau Bali saja," ucap Florentina dari seberang telepon.


Setelah beberapa saat berbicara melalui sambungan telepon, panggilan mancanegara itupun berakhir. Rombongan yang dikatakan Florentina sudah berangkat dan saat ini sedang dalam penerbangan pesawat, dua atau tiga jam lagi akan mendarat di Bandara. Fadly yang akan menjemput rombongan itu nantinya.


Florentina mengatakan, satu rombongan tidak banyak, yang ingin berlibur ke Bali Lombok hanya berjumlah empat orang, sedangkan yang berlibur ke Bali saja berjumlah tiga orang.


Sembari menunggu calon client nya, Fadly akan menyambangi tempat tinggal Arya. Saat akan melangkah, seseorang dari belakang memanggilnya.


"Hai Bro, tunggu," panggil seorang pria Bule.


Fadly nenoleh ke belakang, ternyata yang memanggilnya seorang pria Bule paruh baya yang membawa tas ransel di pundaknya, berambut pirang bercampur putih, berbadan gendut. Pria itu setengah berlari untuk mendekati kearah Fadly.

__ADS_1


Pria gendut itu tersenyum, "Aku tadi tidak sengaja mendegarmu berbicara melalui telepon, aku mendengar bahwa kau seorang tour guide, apa itu benar?"


Pria itu berbicara sambil terengah-engah, karena ia tadi mengejar Fadly. Kaki Fadly yang panjang hanya membutuhkan beberapa langkah saja untuk mencapai empat sampai lima meter. Sedangkan Bule paruh baya itu sampai berlari-lari kecil untuk mengejar Fadly. Karena bertubuh pendek dan gendut, ditambah faktor usia dan juga beban di pundaknya sehingga mempengaruhi lambatnya ia berjalan.


Fadly tersenyum, "Ya, kau benar. Aku seorang tour guide. Apa kau butuh tour guide untuk memandu wisata mu?" tanya Fadly.


"Ah, begini anak muda, apa kau punya sedikit waktu untuk ngobrol denganku?" tanya si pria Bule.


Fadly sedikit tidak enak jika menolak, siapa tahu ini adalah client nya selanjutnya. Jika menolak tentu akan menyinggung hati pria Bule ini. Maka ia pun tidak keberatan memberikan sedikit waktunya untuk Bule gendut di depannya ini. Fadly melihat jam di tangannya, tanda ia hanya memiliki sedikit waktu untuk Bule itu berbicara. Si Bule itu pun tampak mengerti dengan kode yang di berikan Fadly.


"Aku dan istriku berlibur ke Bali tanpa travel, kami berasal dari Swiss. Kami seperti backpacker. Dimasa tua kami, kami ingin menghabiskan waktu berkeliling dunia. Tapi kami tidak punya cukup dana untuk itu semua. Tapi kami nekat melakukannya. Saat ini pun seperti itu, kami tidak tahu harus memulai dari mana destinasi pertama kami. Sebenarnya kami membutuhkan tour guide tapi kami tidak bisa membayar tour guide," ucap pria Bule itu panjang lebar dan diakhiri dengan wajah murung.


"Lalu? Aku harus apa?" tanya Fadly.


Sebenarnya ia tahu tindakan apa yang perlu ia ambil, tapi ia mencoba basa-basi pada Bule tua itu.


"Apa kau bisa membantuku dan istriku untuk memandu wisata kami? Tapi..." Bule tua itu menghentikan ucapannya.


Fadly tidak menaggapinya, ia sengaja menunggu Bule tua itu nelanjutkan ucapannya lagi.


"Tapi aku tidak bisa memberimu imbalan yang mahal," Bule tua itu melanjutkan.


"Tidak apa-apa, kau memberiku sedikit ataupun tidak sama sekali. Aku akan tetap menolongmu," jawab Fadly.


Bule tua itu langsung sumringah. Wajah murungnya sirna sudah ketika mendengar Fadly akan menolongnya.


.


.


To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2