
...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....
...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...
...❤❤❤...
.
.
Sore menjelang maghrib Tari keluar dari rumah keluarga Sandi, ia sudah diusir dari sana. Terseok-seok ia berjalan kaki sambil membawa barang-barangnya, tujuannya kini adalah kios jahit yang menjadi tempatnya mencari uang.
Begitu sampai di depan kios jahitnya Tari mengetuk pintu kios itu. Entah mengapa ia yakin jika bapak dan ibu tirinya itu kini berada di dalam kios jahitnya.
Bu Hanifa tidak main-main dengan kata-katanya. Dia sudah mengusir Pak Syabani dan Bu Rosita dari rumah kontrakan yang dimilikinya. Karena Pak Syabani dan Bu Rosita sudah tidak ada di rumah kontrakan yang mereka tempati selama ini.
Tok! Tok! Tok!
Kembali Tari mengetuk kios itu karena tidak ada sahutan dari dalam saat ketukan pertama tadi. Tari mulai gusar dan memikirkan hal yang tidak-tidak.
Dodi dari arah seberang jalan melihat Tari. Ia baru saja menstandarkan motor bebeknya.
"Tari!!!" panggil Dodi.
Tari menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya.
"Bang Dodi... Ada lihat bapak dan ibu saya kesini gak?" tanya Tari seraya berteriak karena Dodi berada di seberang jalan.
__ADS_1
Dodi berlari menyeberang jalan untuk memberitahu Tari.
"Bapak kamu di Klinik Pratama, Tari. Tadi dia muntah darah terus lemas sekali badannya. Jadi warga di sini menyarankan untuk membawa bapak kamu ke klinik biar diinfus dan ada tenaganya. Dan ini abang baru aja pulang dari mengantar bapak kamu," ujar Dodi menjelaskan.
Tari pingsan ia luruh ke lantai, tubuhnya juga sangat lemas dan tak bertenaga. Tubuhnya yang sakit dan terasa remuk karena di cambuk oleh Sandi belum juga hilang. Ia juga di pukuli dan di tendangi oleh Bu Hanifa saat pulang dari rumah sakit. Ditambah lagi saat ini mendengar bapaknya bapaknya sakit muntah darah, sehingga ia pingsan di lantai.
Keesokan harinya Tari terbangun dan membuka matanya. Ia melihat kesekeliling, ia mencoba mengenali tempat dimana ia berbaring sekarang ini, ia berada di sebuah kamar. Kamar itu diperkirakan berukuran 3x2 meter. Perlahan Tari bangun, namun saat akan bergerak ternyata dipunggung tangannya terpasang infus. Tari menebak dirinya sekarang berada di klinik atau rumah sakit.
Tari berjalan menuju pintu dengan sambil membawa cairan infus yang menggantung di tiangnya. Ia membuka pintu kamar itu, saat pintu terbuka tebakannya benar, ia berada di Klinik Pratama. Ia sangat mengenali klinik itu, karena Pak Syabani sering di rawat di klinik itu.
Saat itu Bu Rosita yang sedang duduk di ruang tunggu melihat Tari. Bu Rosita dengan cepat berdiri menghampiri Tari.
"Tari, kamu sudah sadar?" Bu Rosita memeluk Tari. Mereka saling berpelukan dan berurai air mata.
"Bapak dimana, Bu?" tanya Tari setelah melerai pelukan mereka.
Tari melihat bapaknya terbaring lemah, wajahnya sangat pucat karena kehilangan banyak darah saat muntah darah. Namun pada saat itu Pak Syabani masih sadar sepenuhnya. Pak Syabani pun menatap Tari yang masih berada diambang pintu dituntun Bu Rosita.
Pak Syabani tidak mampu melakukan apa-apa ketika mengetahui anaknya menjadi korban KDRT. Ia menyerahkan semuanya pada pihak yang berwajib. Karena ia cukup tahu diri, siapalah dirinya di banding keluarga Sandi. Untuk biaya hidup dan tempat tinggal saja keluarga Sandilah yang menopangnya selama Tari menikah dengan Sandi.
Dan ketika di kabarkan bahwa Tari masuk rumah sakit karena perlakuan kasar Sandi, Pak Syabani shock mendengarnya sehingga kesehatannya yang memang sudah menurun semakin bertambah menurun saat mengetahui itu. Bahkan untuk berjalan saja Pak Syabani harus di papah oleh Bu Rosita.
Tari mendekat ke pembaringan bapaknya. Tangan Pak Syabani terulur ingin memeluk buah hatinya yang menjalani hidup sangat terjal. Ia sedih sebagai orang tua tidak mampu membela buah hatinya.
"Maafkan bapak, Tari. Bapak tidak ada disaat kamu sedang membutuhkan pertolongan bapak. Kamu melalui hidup yang sangat berat ini sendirian, seolah kamu hidup sendiri di dunia ini. Seharusnya ketika kamu disakiti suami kamu, bapaklah yang berdiri paling depan membela dan menolong kamu. Tapi ini justru bapak tidak melakukan apa-apa." Pak Syabani mengucapkannya dengan wajah pucat dan napas yang tersengal-sengal.
"Gak, Pak. Bapak itu bapak yang hebat, Tari tahu tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya hidup susah. Begitu juga dengan Tari. Tari ingin bapak hidup bahagia di hari tua bapak. Bapak sudah sangat menolong Tari, Tari gak hidup sendiri, Tari bahagia karena mempunyai bapak yang hebat seperti bapak," Tari mengucapkannya dengan suara bergetar sambil menangis di pelukan bapaknya.
__ADS_1
Pak Syabani menutup wajahnya, ia menangis tersedu-sedu. Ia malu dengan dirinya sendiri, karena tidak mampu membela buah hati satu-satunya yang begitu disayanginya.
Begitu juga dengan Bu Rosita, Bu Rosita memeluk Tari dari belakang, Bu Rosita sangat terharu. Air mata membanjiri kamar 3x2 meter di klinik itu.
Setelah suasana sudah agak tenang dan tangis sudah reda Tari menyadari bahwa bapaknya terlihat sangat sesak.
"Bapak sesak ya? sebentar ya Tari minta perawat itu untuk memasang oksigen," ucap Tari.
"Biar ibu aja, Tari. Kamu duduk aja," Bu Rosita kasihan melihat Tari yang susah berjalan.
Beberapa saat kemudian, perawat pun memasangkan selang oksigen ke hidung Pak Syabani dan menghidupkan oksigen agar Pak Syabani tidak sesak.
Namun setelah dipasang oksigen pun seperti tidak berpengaruh apa-apa pada Pak Syabani. Napasnya masih sesak, bahkan bertambah sesak.
Tari dan Bu Rosita yang sedang duduk di kursi menyadari hal itu. Mereka berdua berdiri melihat perubahan yang terjadi pada Pak Syabani. Pak Syabani sangat susah bernapas, meski selang oksigen sudah terpasang.
Dengan cepat Bu Rosita memanggil perawat lagi, beberapa perawat masuk kekamar itu dan memeriksa Pak Syabani. Tari panik, ia tidak bisa tenang melihat bapaknya yang sangat sesak begitu. Perawat pun kesusahan untuk melakukan tindakan pada Pak Syabani karena Tari terus memeluk Pak Syabani dan terus menangis.
Salah satu perawat menyuntikkan obat ke cairan infus Pak Syabani. Setelah beberapa saat tidak ada perubahan juga dan Pak Syabani terlihat tidak bernapas lagi wajahnya sangat pucat. Perawat memeriksa detak jantung dan nadi Pak Syabani. Ternyata Pak Syabani sudah meninggal dunia.
Dengan berat hati perawat memberitahukan Tari dan Bu Rosita bahwa Pak Syabani telah tiada. Tari menangis histeris sambil memeluk jenazah Pak Syabani. Cinta pertamanya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
.
.
Next >>>>>>>
__ADS_1