Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Lea


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Sekarang sudah mendekati hari bahagia bagi Fadly dan Tari. Pekerjaan Fadly juga sudah ada yang menangani untuk sementara. Ia meminta bantuan dari Bryan untuk menangani usahanya sementara. Saat ini hanya Bryanlah yang bisa dipercaya, mengingat bantuan Bryan untuk usahanya juga amat sangat besar.


Arya sudah tidak dapat membantu lagi karena Arya dengan berat hati harus mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia sangat tidak enak hati dengan kebaikan Fadly dan Tari sang calon istri karena sudah meringankan hukuman untuk Divya, adik sepupu Arya.


Divya, gadis belia yang baru saja beranjak dewasa tidak bisa mengontrol emosinya, ia sangat patah hati. Bahkan hatinya sudah hancur setelah berita tersebar dimana-mana, di media sosial, media cetak, maupun media elektronik yang memberitakan rencana pernikahan Fadly, anak orang terkaya nomor satu di Indonesia.


Apalagi sekarang usaha travel milik Fadly sudah semakin meluas hingga ke Ibu kota Jakarta. Fadly semakin dikenal oleh orang banyak. Dikalangan pengusaha sukses, maupun dikalangan masyarakat biasa.


Sebenarnya bukan hanya Divya yang patah hati. Gadis-gadis yang sudah mengetahui sepak terjang Fadly juga patah hati. Tapi mereka cukup tahu diri, mereka hanya bisa mendoakan Fadly dan Tari saja, semoga keduanya hidup bahagia. Para fans Fadly di media sosial ramai-ramai mrmbuat hashtag patah hati nasional karena ditinggal nikah Fadly.


Tapi tidak bagi Divya, ia tidak rela jika Fadly menikah dengan Tari, ia berniat ingin membvnvh Tari karena sudah terlalu cemburu melihat berita melalui media sosial. Ia mencari tahu rumah Tari yang di berada di desa. Ia sempat kesana, tapi keburu Tari dijemput supir dan dibawa ke Mansion Dewantara dengan pengawalan sangat ketat. Pada saat Tari keluar dengan Fadly, Divya sudah membuntuti mereka. Mengikuti mobil Fadly.


Ia berpikir, inilah saat yang tepat untuk membvnvh Tari. Akhirnya saat ada kesempatan setipis mungkin ia gunakan untuk menabrak Tari. Tapi keberuntungan berada pada Tari, bukan pada Divya. Karena Tari di selamatkan oleh pangerannya. Dan terhindarlah dari kecelakaan maut yang seharusnya mengorbankan Tari.


Karena hal itulah arya mengundurkan diri. Fadly sudah banyak membantu Arya, keluarga Arya dan juga keluarga Divya. Tapi dengan niat jahatnya Divya rela ingin mencelakai calon istri Fadly.


***


Besok adalah hari pernikahan Tari dan Fadly. Tari sudah merampungkan gaun pengantinnya. Seperti impiannya sejak dulu, ia ingin merancang dan membuat gaun pengantinnya sendiri.


Keluarga Dewantara juga sangat heboh menyiapkan pesta pernikahan megah untuk anak laki-laki dikeluarga mereka. Namun yang paling heboh adalah Nyonya Shofia. Ia antusias sekali, seperti tidak ada lelahnya mondar-mandir kesana kemari. Ia tidak ingin ada yang kurang satu hal pun untuk pernikahan anak laki-laki satu-satunya itu.


Bukannya Lea tidak membantu, ia sudah membantu, namun ia minder dengan sang adik yang akan menikah terlebih dahulu ketimbang dirinya, sehingga ia agak sedikit tidak bersemangat. Ia baru saja membaca komen-komenan netizen di media sosial miliknya.


Mereka mengatakan, "Lea kenapa gak nikah duluan? Kalau dilangkahi biasanya kamu akan susah jodoh loh!" Begitulah kira-kira. Hal itu sukses membuatnya tambah tidak semangat untuk memeriahkan pesta pernikahan Fadly.


Pertunangannya dengan pengusaha kaya tempo hari, gagal. Dikarenakan, Tuan Haris haris sendiri memergoki pria itu tengah berselingkuh dengan gadis lain. Seorang ayah adalah pelindung bagi anak-anaknya, khususnya anak perempuan. Oleh sebab itu, Tuan Haris membatalkan rencana pernikahan Lea dengan pengusaha kaya tersebut. Tuan Haris tidak ingin anak gadisnya jatuh ketangan pria yang salah.

__ADS_1


Saat ini sebenarnya Lea sudah memiliki pengganti pria itu. Namun, pria penggantinya tidak kaya. Malah bisa dikatakan kurang mampu. Mereka sudah menjalin hubungan satu tahun. Namun tidak ada yang mengetahui hubungan mereka. Lea takut hubungannya akan dilarang oleh kedua orang tuanya seperti Fadly dan Tari dulu. Maka dari itu Lea lebih baik mengalah saja dari pada ia harus dijodohkan lagi dengan pilihan mama atau papanya.


"Leaaa!" teriak Nyonya Shofia pada Lea.


Lea keluar dari kamarnya dengan lesu. "Iya, Ma.. Ada apa?" jawab Lea. Ia memang tidak pergi ke kantor hari ini. Nyonya Shofia yang menyuruh mereka semua untuk beristirahat dirumah. Karena esok hari mereka harus tampil segar dan menawan dihari pernikahan Fadly dan Tari.


"Buku tamu, sayang. Buku tamu!" seru Nyonya Shofia.


Lea hanya mengernyit, enggan bertanya maksud mamanya itu apa.


"Mama lupa beli buku tamu, duh! Kok bisa sih, barang sepenting itu mama lupa ya?"


Semua yang diperlukan dan dibutuhkan untuk pesta pernikahan Fadly dan Tari, Nyonya Shofia yang mengaturnya. Bisa saja ia memerintah pelayannya untuk menyiapkan segalanya. Tapi tidak ia lakukan hanya demi kepuasannya mengatur sendiri pesta pernikahan anaknya. Nanti ketika Lea akan menikahpun pasti ia akan buat seperti ini juga. Bahkan yang sudah diatur oleh wedding organizer pun ia teliti ulang lagi. Tidak ada yang luput ia perhatikan.


"Sekarang kamu pergi sama Andi beli buku tamu. Pilih yang paling cantik desainnya. Atau video call saja nanti, biar mama yang pilih," perintah Nyonya Shofia.


Ia kembali ke kamarnya, mengambil parfum lalu menyemprotkannya keseluruh tubuhnya. Setelah dirasa cukup, ia keluar dan kembali menuruni anak tangga. Hal itu tentu saja tidak luput dari perhatian mamanya.


"Kamu udah didepan?" tanya Lea melalui sambungan ponsel


"Sudah," jawab singkat seseorang di balik sambungan ponsel tersebut.


Lea sedikit berlari untuk menghampiri orang itu. Saat dilihatnya mobil sudah terparkir siap berangkat, yang ia yakini di dalam mobil tersebut adalah Andi, lalu ia membuka pintu mobil dan menaikinya.


Andi menyambut senyum Lea dengan senyuman hangat. "Berangkat sekarang?" tanya Andi.


"Iya," jawab Lea singkat.

__ADS_1


Siang itu mereka pergi ke toko perlengkapan pernikahan. Beberapa jam kemudian, Lea kembali dengan membawa buku tamu yang telah dipilih langsung oleh Nyonya Shofia. Mereka melakukan video call saat Lea di toko tadi. Wajah Lea semakin berseri-seri, senyum selalu menghiasi bibirnya hingga sore hari. Padahal pagi hari hingga siang sebelum ia pergi untuk membeli buku tamu tadi wajahnya masih tampak lesu.


Sore hari setelah selesai mandi, Lea mendatangi mamanya yang sedang duduk di sofa santai ruang keluarga. Lea melihat Nyonya Shofia sedang memegang buku catatan. Banyak catatan yang sudah di ceklis, yang berarti barang tersebut sudah ada.


"Mama ngapain? Belum selesai lagi?" tanya Lea.


"Sudah sayang, sudah semuanya kok!" jawab Nyonya Shofia masih dengan mata tertuju ke buku catatan.


"Mmm... ditoko yang Lea datangi tadi ada pena cantik, Ma. Kalau mau disamakan desainnya dan hiasannya dengan buku tamunya juga bisa," tutur Lea.


"Oh, ya? Terus kenapa kamu tidak bilang pas disana tadi? Biar sekalian dibeli," Nyonya Shofia agak senewen mendengar penuturan Lea.


"Kalau mama mau beli, yasudah biar aku beli. Aku pergi lagi ketoko tadi sama Andi," ucap Lea antusias.


"Memangnya kamu tidak capek?" tanya Nyonya Shofia.


"Enggak kok, Ma!" jawab Lea.


"Yasudah sana pergi beli. Mama penasaran penanya seperti apa."


"Ok, Ma," ucap Lea sembari mengacungkan jempolnya.


Kemudian ia berlari keluar rumah hendak menemui Andi. Nyonya Shofia memandangi punggung Lea. Sebenarnya sejak beberapa bulan belakangan ia heran melihat tingkah Lea, lebih tepatnya ia menaruh curiga. Karena jika pergi selalu Andi yang menjadi supirnya. Jika bukan Andi, Lea pasti tidak akan bersemangat. Tapi sebisa mungkin Nyonya Shofia mengusir Kecurigaannya itu.


.


.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2