Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Diusir


__ADS_3

...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....


...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...


...❤❤❤...


Mendapat perlakuan kasar seperti itu dari Adelia, Tari langsung berdiri dan balas mendorong bahu Adelia.


"Apa-apaan kamu? saya gak punya salah apa-apa sama kamu ya! jangan perlakukan saya seperti ini!" ucap Tari dengan lantang.


Sejak tadi, mama dan kakak Fadly memang berkata kasar padanya. Mencacinya, menghinanya, merendahkannya dan juga menyalahkan dirinya ketika mengetahui mereka kecelakaan dan yang terluka parah hanya Fadly sedangkan Tari, tidak memiliki luka apapun.


Tetapi mereka tidak memperlakukan Tari dengan kasar seperti Adelia, sampai menjambak rambut Tari, sehingga Tari terjatuh. Tentu Tari tidak senang akan hal itu.


Ia berani pada Adelia karena menurut Tari, Adelia bukan siapa-siapanya Fadly. Dan Adelia juga seumuran dengannya, bukan orang yang lebih tua darinya. Karena jika lebih tua, ia tidak akan mau melawan.


Sementara Adelia terhenyak kaget karena mendapat balasan dari Tari. Adelia tidak menyangka jika Tari berani mendorongnya, karena sejak tadi Tari hanya diam saja saat mama dan kakak Fadly menghinanya. Bukan hanya Adelia, tetapi mama dan kakak Fadly pun juga tidak menyangka ternyata Tari seberani itu.


Namun, Adelia tidak tinggal diam dengan perlakuan Tari padanya. Memang Adelia hanya terdorong sedikit saja tidak sampai terjatuh seperti Tari tadi. Tetapi baginya Tari telah menjatuhkan harga dirinya di depan Nyonya Shofia dan Lea.


"Kamu pantas ya mendapat perlakuan seperti itu, bahkan lebih parah dari itu juga kamu pantas mendapatkannya. Karena kamu Fadly kecelakaan dan terluka parah. Kamu dengar kan penjelasan dokter tadi, Fadly cidera kepala! Kamu tahu bahayanya jika kepala yang cidera?" tutur Adelia dengan emosi.


"Kamu kira cuma Fadly yang mengalami kecelakaan? saya juga ada di dalam mobil itu. Saya juga shock sekarang ini," jawab Tari.


"Hahaha... kamu cuma shock kan? Fadly cidera kepala, dia bisa saja amnesia, koma, bahkan bisa saja nyawanya tidak tertolong. Ini semua karena ada kamu di dalam mobil itu. Karena kamu perempuan pembawa sial."


"Iya benar, kamu perempuan pembawa sial. Kalau memang kamu bukan pembawa sial bagi Fadly tentu kamu yang mengalami luka parah seperti yang dialami Fadly," Nyonya Shofia membela Adelia.


"Mending kamu pergi saja dari sini, sudah salah tapi tidak mau disalahkan!" Lea juga ikut membela Adelia.


Lalu tiba-tiba Tuan Haris keluar dari ruang dokter, "Kalian ini apa-apaan sih? ini rumah sakit, kenapa ribut seperti ini?"


"Ini Pa, perempuan ini. Dia tidak terima disalahkan atas kecelakaan anak kita," jelas Nyonya Shofia.


"Jadi kamu biang kerok keributan ini? kalau begitu kamu sudah tidak ada gunanya lagi di rumah sakit ini. Fadly sudah ada keluarganya yang menjaganya. Saya minta kamu pergi dari sini dari pada cuma buat ribut saja!" ucap Tuan Haris dengan tenang, namun tetap nampak wajah marah dan angkuhnya.


Tari yang memang ingin pergi setelah keluarga Fadly datang, karena ia akan melihat keadaan bapaknya yang juga sakit, akhirnya ia pun pamit.


"Baiklah, saya pamit Pak, Bu, karena saya akan melihat keadaan bapak saya yang juga masuk rumah sakit tadi. Semoga bapak saya baik-baik saja. Nanti setelah itu, saya akan kesini lagi melihat keadaan Fadly," ucap Tari dengan suara lembut.

__ADS_1


"Tidak perlu!" dengan lantang Nyonya Shofia menolak kedatangan Tari lagi.


Yang mendapat anggukan dari semua orang yang ada disitu.


"Ya, benar kata istri saya, kamu tidak perlu kesini lagi," sambung Tuan Haris dengan wajah datar.


"Buat apa kamu ada disini, kalau cuma buat keributan saja," Lea menambahkan.


"Lebih baik kamu segera pergi dari sini!" ucap Tuan Haris.


Sakit, seperti itulah yang dirasakan Tari saat ini. Semua anggota keluarga Fadly menolaknya. Ia pun berbalik dan berjalan keluar. Karena letak IGD dengan pintu keluar sangat dekat, dengan cepat ia sudah berada di parkiran.


Ia berjalan dengan menundukkan kepalanya sembari menumpahkan sesak yang ada di dadanya sejak tadi. Ia menangis, siapa saja orang yang jika berada dekat dengannya maka isaknya pasti terdengar.


Tari terus berjalan menundukkan kepala, sampai ia menabrak seseorang ketika sudah berada di parkiran.


Brukkk!!!


Tari mendongak kan kepalanya dan melihat orang yang ia tabrak. Seorang pria bertubuh tinggi. Pria itu berjalan masuk kearah rumah sakit dan sedang memainkan ponselnya, oleh sebab itu pria itu tidak melihat Tari yang berjalan menunduk.


"Maaf!" ucap mereka bersamaan.


Tari menyeka air matanya, "Saya juga minta maaf, tadi saya jalan menunduk."


Pria itu tersenyum menatap Tari, Tari pun membalas senyum pria itu. Pria itu berwajah blasteran, tampan. Tapi menurut Tari masih lebih tampan Fadly.


Dan sepertinya pria itu tertarik melihat wajah polos gadis di depannya, kemudian pria itu memberanikan diri untuk berkenalan.


"Boleh berkenalan?" ucap pria blasteran itu.


"Namaku Max William, panggil saja Max," lanjutnya seraya mengulurkan tangannya.


Tari menerima uluran tangan Max, mereka berjabat tangan.


"Tari," ucap Tari singkat, dan dengan cepat melepaskan tangannya.


"Sepertinya sedih sekali, habis jenguk siapa?" tanya Max yang mulai sok akrab.


Tari yang hatinya sedang gundah, sangat malas meladeninya. Tari tersenyum tipis, "Bukan siapa-siapa kok."

__ADS_1


"Oh... " Max membulatkan bibirnya.


"Kalau begitu, saya permisi ya. Saya buru-buru," ucap Tari seraya melangkah menjauhi Max.


Max menatap punggung Tari yang lama kelamaan menjauh darinya. Ia tersenyum kecut, "Semoga ada pertemuan berikutnya," gumamnya seorang diri.


Max tidak beranjak dari tempatnya, ia masih berdiri di tempat itu. Masih menatap Tari yang masih dalam jangkauan matanya. Dilihatnya Tari sedang menghubungi seseorang dengan ponselnya.


Setelah itu Max melihat Tari kebingungan, Tari melihat ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari seseorang. Tari berjalan ke kanan, kini mata Max sudah tidak dapat menjangkau Tari lagi, karena tertutup mobil yang berada di parkiran rumah sakit tersebut. Ia pun berjalan cepat, ingin mengetahui apa yang dicari Tari sebenarnya.


Setelah dalam beberapa meter, Max pun melihat Tari, ia mendekat perlahan, ia bersembunyi di balik salah satu mobil setelah jaraknya dan Tari hanya beberapa langkah saja.


Tari lelah mencari ojek atau pun becak sejak tadi, tapi anehnya tidak ada satupun yang terlihat. Ia tidak tahu harus menaiki angkot apa jika harus ke rumah sakit tempat bapaknya di rawat. Tadi ia bermaksud untuk memesan ojek online tapi batrai ponselnya lowbat, sehingga ponselnya mati sekarang.


Tari berjongkok, dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis, lagi dan lagi. Ia berpikir, mengapa hidupnya sangat sulit seperti ini.


Lalu Max keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berpura-pura tidak mengetahui jika Tari berjongkok di tanah. Dan ia sengaja menginjak kaki Tari.


"Aaawww!!!" Tari memekik. Dan langsung mendongak melihat siapa yang menginjak kakinya.


Max langsung berjingkat pura-pura terkejut, "Ya ampun! kamu? maaf! saya tidak melihat jika ada orang disini."


Tari tidak langsung berdiri, ia mengelus sedikit kakinya yang di injak oleh Max yang terasa perih, "Ssssshhh."


Max ikut berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Tari, "Sakit ya? maaf ya!"


.


.


#####


Next>>>>>>>


Semoga terhibur ya..


Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤

__ADS_1


__ADS_2