Penjahit Cantik

Penjahit Cantik
Tari Tidak Mau Didekati Max


__ADS_3

...Terimakasih yang sudah mendukung karya author dengan likenya.. tapi jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar ya readers.....


...SELAMAT MEMBACA READERS TERCINTA...


...❤❤❤...


Tadi Max sengaja berulah untuk menginjak kaki Tari dengan kuat, sehingga Tari sangat kesakitan. Kini tangisnya makin kencang, banyak sekali rasa sakit yang dirasakannya.


Max membantu Tari untuk berdiri, "Makanya kamu jangan berjongkok di situ dong, ayo berdiri aku bantu."


Akhirnya Tari berdiri dengan dibantu Max.


"Kamu kenapa berjongkok begitu? ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Max kepo.


"Saya mau ke rumah sakit Kasih Medica, tapi gak ada ojek atau becak motor sejak tadi. Saya mau pesan ojek online tapi ponsel saya lowbat. Terus mau naik angkot, saya gak tahu naik angkot jurusan apa. Jadi saya sedih," ucap Tari dengan beruarai air mata.


Namun tangis Tari lucu di mata Max, hanya karena kendaraan Tari menangis seperti seperti anak kecil yang ditinggal pergi ibunya. Padahal Max tidak tahu apa yang di rasakan Tari sesungguhnya.


"Bagaimana kalau aku antar kamu," ucap Max menawarkan.


Dengan cepat Tari menatap Max, "Yaudah deh, karena anda sudah menginjak kaki saya sampai sakit seperti ini dan saya jadi susah berjalan seperti ini, saya terima tawaran anda."


"Bagaimana kalau manggilnya Max saja, jangan anda-anda," ucap Max seraya tersenyum pada Tari.


Sebenarnya Tari risih sekali dengan pria ini, kalau saja dia tidak menawarkan untuk mengantarkannya ke rumah sakit Kasih Medica tempat bapaknya di rawat, ia malas sekali meladeni orang seperti Max ini.


"Sepertinya umur kita jauh, saya panggil mas saja ya, Mas Max," ucap Tari dengan wajah datar.


Max terkekeh, tapi ia mengangguk setuju. Dan mengulang-ulangi kata Mas Max dalam hatinya sembari terkekeh. "Mas Max, mas Max, mas Max."


***


Tari dan Max kini sudah sampai di rumah sakit Kasih Medica, di perjalanan yang hanya memakan waktu beberapa menit tadi Tari dan Max tidak banyak bicara, tetapi Max berulang kali memandang kearah Tari, memperhatikan wajah Tari. Karena semakin di pandang wajah Tari semakin membuat candu bagi Max. Ia ingin terus memandang wajah cantik natural milik Tari.


Setelah sampai, Tari langsung turun dari mobil Max, dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Lalu Tari berjalan agak terpincang karena kakinya yang diinjak Max tadi.


Sekali lagi, Max hanya bisa memandangi punggung Tari dari dalam mobil. Bagi Max susah sekali mendekati Tari, tadi ia sempat meminta nomor ponsel Tari. Tapi Tari tidak memberikannya dengan alasan ia tidak hapal nomor ponselnya, sedangkan ponselnya sudah mati sehingga tidak bisa bertukar nomor dengan Max.


Ketika Max menanyakan alamat rumahnya, Tari mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain. Ia terus memandangi punggung Tari sampai Tari menghilang dari pandangan matanya. Sebenarnya ia tidak tega menginjak kaki Tari tadi. Tapi Max tidak ada ide lain untuk mendekati Tari.


Max memutuskan untuk pergi dari parkiran rumah sakit Kasih Medica dan kembali ke rumah sakit Setia Sehat untuk menjenguk seseorang.

__ADS_1


Sementara Tari, sekarang sudah bertemu bapak dan ibu tirinya. Bapaknya terkulai lemas di pembaringan rumah sakit, matanya tertutup. Sedangkan ibu tirinya menunggu bapaknya di samping pembaringan bapaknya.


"Bu," sapa Tari pelan.


Bu Rosita menoleh, Tari melihat mata ibu tirinya itu tampak sembab, mungkin Bu Rosita habis menangis. Tari tahu, Bu Rosita sangat menyayangi bapaknya, hanya saja perhatiannya yang sedikit kurang.


"Kamu dari mana saja Tari? dari tadi bapak nanyain kamu terus," tanya Bu Rosita.


"Tapi tadi Tari kan dari rumah Mas Fadly, Bu. Bertemu keluarga Mas Fadly," jawab Tari dengan wajah lesu.


Biasanya Bu Rosita selalu semangat jika membahas Fadly, namun kali ini ia seperti enggan.


"Tadi waktu perjalanan mau pulang, Mas Fadly sama Tari kecelakaan, Bu. Mobil yg dikendarai Mas Fadly nabrak truk gandeng," lanjut Tari, seraya menghapus air mata di sudut matanya yang sudah tumpah.


"Astaghfirullah."


Bu Rosita terkejut, ia langsung berdiri dan memandang Tari dari atas hingga bawah, namun tidak ada luka sedikitpun di tubuh Tari. Bu Rosita mengernyitkan dahinya, ia heran.


"Tari gak ada luka apa-apa, Bu. Yang terluka hanya Mas Fadly. Mas Fadly sekarang di rumah sakit Setia Sehat dan mengalami cidera kepala," ucap Tari, seolah tahu apa yang akan ditanyakan Bu Rosita.


"Ya Allah, Pasti nanti keluarga Fadly bakal nyalahin kamu, Tari," Bu Rosita menutup mulutnya dengan telapak tagannya.


"Bukan nanti, Bu. Tapi sudah. Mereka semua menyalahkan Tari. Mereka benci melihat Tari, kata mereka, Tari pembawa sial bagi kehidupan Mas Fadly. Tari tadi diusir dari rumah sakit Setia Sehat, karena keluarga Mas Fadly tidak mau melihat Tari berada di sana," Tari menuturkan apa yang dialaminya dengan menangis tersedu-sedu.


"Gak, Bu. Mas Fadly belum sadarkan diri."


Bu Rosita mengelus kepala belakang Tari dengan rasa sayang, ia tidak tega mendengar anak sambungnya di perlakukan seperti itu. Meskipun ia dulu juga sering melakukan kekerasan pada Tari.


Tari menyeka air matanya yang entah sudah keberapa kalinya.


"Terus, bapak kenapa lagi, Bu? kok muntah darah lagi?"


"Kata dokter bapak harus segera di operasi, Tari."


Tari menarik napas panjang, "Kata dokter, kapan sebaiknya harus dioperasi Bu?"


"Secepatnya Tari, soalnya kanker di paru-paru bapak sudah menyebar sangat cepat."


Tari berpikir, harus meminta tolong dengan siapa dirinya sekarang. Belum lagi harus membayar uang rumah kontrakan yang sudah menunggak.


"Bu, ibu gak punya kenalan atau saudara apa yang bisa dimintai pertolongan? biar kita pinjam uangnya," ucap Tari pada Bu Rosita.

__ADS_1


Bu Rosita tampak berpikir, "Sepertinya gak ada Tari."


Mereka berdua terdiam dan berpikir kemana harus mencari uang pinjaman. Karena jika harus mengandalkan jahitan dari Tari pasti butuh waktu yang lama. Sedangkan pak Syabani harus segera dioperasi.


"Bagaimana kalau kamu coba pinjam sama Kemal..." Bu Rosita memberi ide.


Tari berkedip menatap Bu Rosita, "Benar juga Bu, biar Tari coba ya."


Tari pun segera keluar dari ruang rawat bapaknya dan bermaksud akan menghubungi Kemal. Setelah sampai luar ia mengeluarkan ponselnya, lalu ia teringat ternyata ponselnya lowbat sejak tadi.


Tari kembali masuk ke ruang rawat inap bapaknya. Bu Rosita melihat wajah Tari dengan ekpresi tidak bisa diartikan.


"Kenapa?" tanya Bu Rosita.


"Baterai ponsel Tari lowbat Bu," jawab Tari dengan lesu.


Bu Rosita menyodorkan ponselnya, "Nih, pakai ponsel ibu."


"Tapi Tari gak hapal nomor ponsel Kemal, Bu."


"Ibu juga gak bawa charger, tadi buru-buru waktu bawa bapak kamu ke sini. Yaudah kalau gitu kamu pulang aja dulu, kamu charger ponsel kamu terus segera hubungi Kemal."


Tari menganguk, mengiyakan perkataan ibu tirinya itu.


"Terus kamu istirahat ya, besok pagi aja kalau mau jengukin bapak kamu lagi. Biar ibu yang jaga bapak kamu di sini."


Sejenak Tari menatap bapaknya. Banyak rasa yang berkecamuk di dadanya sekarang, belum lagi pikirannya yang bercabang. Kemudian setelah pamit dengan Bu Rosita, Tari melangkah ke luar rumah sakit dan pulang ke rumahnya dengan mengendarai becak motor. Karena jika sudah sore seperti ini angkot jurusan ke rumahnya sudah tidak ada lagi.


Setelah sampai di depan rumahnya, Tari sudah disambut dengan bu Hanifa dan Sandi yang berdiri di teras rumah kontrakan itu.


.


.


#####


Next>>>>>>>


Semoga terhibur ya..


Dan semoga suka dengan cerita Penjahit Cantik.. Tetap simak terus cerita abang Fadly yang tampan dan akak Tari yang cantik 😊😊

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/favorit, rate bintang lima, komentar dan votenya. Atas dukungannya author ucapkan Terima kasih yaaaa ❤❤


__ADS_2